Sunday, March 18, 2018

MCA, Gerakan Terorganisir ?



Oleh: Risnawati, STP
(Staf Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kolaka)


Sebelumnya Polisi telah melakukan penangkapan kepada kelompok Saracen yang diduga sebagai kelompok yang menyebarkan ujaran kebencian di media sosial. Kini Polisi baru saja merilis kasus hoax dan ujaran kebencian yang disebut-sebut dilakukan sebuah kelompok “terogranisir” bernama The Family Muslim Cyber Army (MCA)
Seperti dilansir dalam JawaPos.com - Fenomena Muslim Cyber Army (MCA) masih menjadi sorotan publik. Banyak kabar yang menyebutkan bahwa kelompok ini telah terbentuk sejak bertahun-tahun silam. Ada pula yang mengaitkan dengan kepentingan politik.
Menanggapi hal itu Peneliti Media Sosial Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Iswandi Syahfutra mengatakan, berdasarakan penelitiannya, MCA terbentuk karena didasari identitas religius.



Identitas tersebut muncul saat banyak umat Islam merasa terganggu, lantara saat itu terjadi kasus penodaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. 
"Ada identitas religius yang terganggu melalui kasus Almaidah 51, dari situlah MCA muncul. Muslim Cyber Army Muncul Karena Umat Islam sering Diganggu" ungkap Iswandi kepada JawaPos.com, Minggu (4/3).


Hasil temuan itu tentu membantah bahwa MCA telah muncul bertahun-tahun silam, pasalnya kasus penodaan agama yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta itu baru terjadi sekitar tahun 2017.
Iswandi juga membantah bahwa terbentuknya kelompok penyebar berita bohong (hoax) di media sosial dan masyaarakat, didasari kepentingan politik.
Dilansir juga dalam www.Portal-Islam.id- Kalau menyimak apa yang disampaikan Direktorat Cyber Mabes Polri, kelompok family MCA ini sangat serius dalam memproduksi hoax dan ujaran kebencian di media sosial. Mereka bahkan sudah membentuk devisi-devisi. Bahkan disebut mempunyai akademi tempur dan sniper alias penembak jitu.organisasi mereka juga sudah lama eksis, karena menurut polisi ada yang sudah amggota selama lima tahun? Penjelasan polisi ini cukup mengagetkan para pengiat medsos.




Aktivis Muhammadiyyah dan juga pengiat medsos Mustafa Nahrarwardana sampai kaget dan bingung dengan pengakuan ini. Sebab yang namanya MCA bukanlah sebuah organisasi resmi, namun sebuah fenomena sosial yang mencuat ke permukaan menjelang Pilkada DKI 2017. Bila dihitung mulai hiruk pikuk saat jutaan umat Islam turum ke jalan pada saat terjadi penistaan agama oleh mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), maka MCA umurnya MCA belum sampai dua tahun. Bersamaan dengan itu muncul fenomena gerakan sosial para aktivis medsos muslim yang menjadi backbone Aksi Bela Islam (ABI). Mereka itu kebanyakan generasi muda muslim yang terdidik dan melek teknologi. Mereka adalah generasi native digital yang semangat (ghiroh) keagamaannya sedang naik-naiknya. 


Para aktivis ini jumlah sangat besar dan membuat tim sosmed pendukung Ahok yang sebelumnya sangat digdaya menjadi tak berdaya. Mereka seperti gerombolan lebah yang mendengung, menyerbu dan menyengat aun-akun lain yang diidentifikasikan sebagai musuh Islam. Saking besarnya jumlahnya banyak yang menyebutnya sebagai Mega Muslim Cyber Army (MCA). 



Kendati besar, mereka sama sekali tidak terorganisir. Tidak ada namanya pengurus, struktur organisasi, kantor, apalagi markas komando. Nama MCA atau MMCA juga berasal dari para pengamat dan media. Mereka hanya disatukan oleh sebuah concern bersama berupa advokasi terhadap umat. Khusus dalam Pilkada DKI adalah menangnya cagub dan cawagub Muslim. Meskipun tidak terstruktur apalagi terorganisir, kekuatan MCA ini memang sungguh dahsyat. Keberhasilan konsolidasi dan pengerahan jutaan orang dalam beberapa ABI, harus diakui dapat terwujud karena kekuatan medsosdan gigihnya para pengiat MCA.


Polisi harus bisa mengungkap siapa sebenarnya kelompok yang menagku sebagai family Muslim Cyber Army ini? Jangan sampai berkembang isu liar lagi menyesatkan, kasus ini merupakan upaya membungkam kelompok-kelompok yang kritis dan bersebrangan dengan pemerintah. Apakah mereka kelompok kepentingan lain yang mengaku sebagai MCA untuk meraih keuntungan secara finansial? Atau kelompok yang mengadu domba anta umat beragama dengan menghebuskan isu SARA? Kalau mereka benar pengiat medsos, jejak digitalnya gampang dilacak. “Kata Hersubeno Arief sebagai konsultan media dan sosial politik.


Demokrasi; Nyata Rusaknya!

Maraknya peredaran hoax saat ini setidaknya dipicu oleh dua motif, yaitu ekonomi dan politik. Ada situs-situs yang memang sengaja dibuat dengan tujuan mendapatkan kunjungan sebanyak mungkin dengan membuat berita penuh sensas, pada ujungnya pengelola akan mendapatkan uang dari pihak Google. Selain itu, motif untuk menjatuhkan lawan politik, baik tokoh maupun kelompok juga marak. Hal semacam ini tentunya bisa memecah belah umat dan bangsa.   

 Di alam demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat seperti sekarang ini, menghilangkan berita hoax di tengah-tengah masyarakat ibarat memotong rumput liar yang senantiasa muncul meskipun sudah dipotong berulang kali. Upaya pemerintah untuk menangkal berita hoax tidak akan berjalan efektif. Mengapa ? Karena akar permasalahannya yaitu sistem demokrasi-kapitalisme masih dibiarkan diterapkan di tengah-tengah masyarakat kita. Sistem ini begitu menjunjung tinggi kebebasan, termasuk kebebasan berpendapat.   


Dengan dibukanya kran kebebasan berpendapat dalam sistem demokrasi, orang bebas menyebarkan informasi apa saja. Tidak ada batas yang jelas antara berita yang benar dan yang salah karena standar kebenaran berada di tangan manusia yang sifatnya relatif. Akibatnya, banyak ambiguitas dalam menilai mana informasi yang layak sebar atau sebaliknya.   


Pandangan Islam

Islam sebagai dien yang sempurna, tentunya mengatur juga masalah ini. Di dalam al-Qur’an telah jelas diterangkan bahwa berita bohong atau hoax adalah modal orang-orang munafik untuk merealisasikan niat kotor mereka,
Tanpa adanya ketakwaan individu, kontrol dari masyarakat, dan penjagaan oleh negara sebagai pelayan rakyat, maka keberadaan berita hoax akan senantiasa mengiringi sejarah perjalanan suatu masyarakat. Ketiga hal ini hanya ada dalam sistem Islam dimana individu, masyarakat dan negara berjalan di atas satu koridor yang sama, yaitu keimanan kepada Allah SWT. Semuanya harus tunduk pada aturan Al-Khaliq dalam seluruh aspek kehidupan sebagai konsekuensi keimanan mereka kepada-Nya.   


Di dalam sistem Islam, edukasi terhadap masyarakat, khususnya literasi digital, melalui sistem pendidikan yang dilakukan negara akan mendidik individu masyarakat dalam memilah berita atau informasi berdasarkan standar yang jelas dan pasti, yaitu aqidah Islam.


Tidak terkecuali bagi insan media. Mereka harus memiliki framing yang jelas ketika menyajikan berita, yaitu berdasarkan sudut pandang Islam. Ada kode etik jurnalis yang harus dipatuhi sehingga berita yang disebar adalah berita yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan, serta tidak bertentangan dengan hukum syara. Masyarakat juga akan mengontrol berita-berita yang beredar karena aktivitas amar ma'ruf berjalan. Begitu pun dengan negara. Negara melalui Departemen Penerangan akan mengawasi media massa dan media sosial sehingga berita-berita yang beredar di tengah-tengah masyarakat adalah berita yang benar dan tidak bertentangan dengan aqidah dan hukum-hukum Islam.  

Jika media massa, termasuk media sosial, melakukan tindakan pidana maka negara dapat memberikan sanksi berupa ta'zir (hukuman yang tidak ditentukan kadarnya oleh syariah), kecuali pidana qadzaf (menuduh berzina) yang termasuk kategori hudud (hukuman yang ditetapkan kadarnya oleh syariah). Beberapa tindakan pidana itu adalah melakukan provokasi (tahridh), penghinaan (sabb), memfitnah (iftira'), menuduh berzina (qadzaf), menyebarkan gambar porno dan menyebarkan berita bohong.


Walhasil, Media massa dalam Islam akan menjadi alat konstruktif untuk memelihara identitas keislaman masyarakat, di samping sebagai sarana dakwah yang akan menampilkan kemampuan dan kekuatan Islam dalam mewujudkan islam rahmatan lil'alamin. Ini semua tentunya akan terwujud ketika sistem Islam diterapkan oleh sebuah institusi negara yang bernama Daulah Khilafah Islamiyah. Wallahu'alam bi ash-shawab

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!