Wednesday, March 14, 2018

Marah Tanda Keimanan



Oleh: Hany Handayani Primantara (Anggota Komunitas Revowriter)

Marah, adakah manusia yang tidak pernah marah? Sepertinya tidak ada. Setiap manusia pasti pernah marah. Wajarlah itu manusiawi namanya, sebagaimana sabda Rasul: "Setiap anak Adam pasti merasakan marah". Termasuk Rasul, saya dan juga anda, dengan catatan kalau anda manusia ya.


Marah merupakan salah satu penampakan ghorizah baqo, ini bukan sejenis hewan menyeramkan seperti gozila. Ghorizah baqo adalah salah satu naluri yang dimiliki setiap insan manusia diantara naluri lainnya. Nah selain marah sebenarnya banyak bentuk penampakan ghorizah baqo' yang lainnya yakni rasa takut, ingin dipuji, keinginan menguasai, ingin dihargai, ingin dihormati, sejenis egoisme gitu deh.

Kembali ke pembahasan marah. Sebenarnya dalam Islam marah itu diatur tidak sih? Karena secara keberadaan, marah itu hal yang lumrah dilakukan manusia, karena kalau tidak pernah marah itu namanya malaikat. Yupss... Sebagai seorang muslim sejati sudah seharusnya kita mengaitkan segala aktivitas kita dengan tuntunan Syariah. Karena Syariah adalah aturan hidup bagi setiap Muslim maka otomatis apa yang mau dilakukan mesti bin kudu liat prembule kitab suci Al-Quran dulu.
Benar sekali bahwa Islam mengatur segala urusan kita sebagai manusia tak terkecuali marah. Sebelum kita lanjut bagaimana pandangan Islam tentang marah, kita lihat dulu yuk bagaimana marah dalam pandangan masyarakat saat ini. Marah dikonotasikan sebagai aktifitas yang buruk alias tidak baik untuk dilakukan. Maka sebagian orang menghimbau untuk menghindari marah. Apalagi kalau marah-marah tidak jelas.
Ya, marah adalah aktifitas atau bisa dikatakan akhlak yang buruk bagi sebagian orang. Dilihat dari dampaknya pun tidak ada bagus-bagusnya. Yang ada malah menambah musuh dan menambah hal-hal yang tidak bermanfaat. Itu definisi dari sebagian masyarakat saat ini.

Lalu bagaimana Islam mengatur masalah marah? Pertama: marah adalah naluri manusia yang secara fitrah normal adanya. Kedua: marah bisa jadi akhlak yang baik tapi bisa juga jadi akhlak yang buruk. Nah looo... Kok bisa??? Seakan plin plan ya,,, eiitsss... Lanjut dulu bacanya, jangan dipotong-potong karena nanti bisa salah persepsi. Jadi gini...

Abu Dzar al-Ghifari melaporkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ada di antara kalian yang marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Apabila kemarahan tersebut belum juga reda, berbaringlah.” (HR. Ahmad bin Hanbal)

Rasulullah SAW bersabda, “Marah itu berasal dari setan. Sementara setan diciptakan dari api dan api hanya dapat dipadamkan dengan air. Karena itu, jika di antara kalian ada yang marah segeralah berwudhu.” (HR. Ahmad bin Hanbal).

Ada lagi, Abu Hurairah ra melaporkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang kuat bukan diukur dengan bertarung. Orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini adalah sedikit dalil bagi marah yang tidak dianjurkan alias marah yang berasal dari setan. Seperti apa contohnya: marah karena tidak diberi pinjaman uang (nah siapa yang suka begini?), Marah kalau disinggung masalah jodoh (duh jadi baper deh), marah jika anak-anak rewel (saya banget ini mah), marah jika kita dipukul, dikhianati, ya semacam itulah.

Marah yang dianjurkan memang ada ya? Ada, begini contohnya: jikalau ada yang menistakan ajaran Islam, kita harus marah. Jikalau ada yang menghina Rasul kita harus marah. Jikalau ada yang persekusi ulama, kita pun harus marah. Jikalau ada saudara kita sesama muslim yang dibantai juga kita harus marah. Jadi intinya marah yang dianjurkan adalah marah yang selalu dikaitkan dengan Islam, Rasul, kaum muslimin dan para ulama.

Jika marah yang tidak dianjurkan saja ada dalilnya, lantas ini marah yang dianjurkan ada dalilnya tidak? Jelas ada. Karena kalau kita bicara syariat harus pakai dalil. Dalil yang pertama tentang menjaga kemuliaan Islam. Hal ini bukan berarti Islam tidak akan terjaga tanpa kita ya, jangan suka balik-balik kalimat karena tidak semua yang dibalik itu artinya sama.
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ [مَنْصُورِينَ] لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ [حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ] وَهُمْ كَذَلِكَ

“Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak di atas kebenaran [mendapat pertolongan (dari Alloh)], orang-orang yang menghina mereka tidak bisa membahayakan mereka, sampai datang keputusan Alloh [qiyamah tegak], dan mereka tetap berada pada kondisi tersebut.” (Muttafaq ‘alaih; Musnad Ahmad; Sunan At-Tirmidzi; Sunan Ibnu Majah)

Kedua, kita pun harus menjaga junjungan nabi kita Muhammad SAW sebagai bukti cinta dan sayang kita terhadap Rasul. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66].

Ketiga, kenapa ulama yang dipersekusi kita yang marah? Karena Allah meninggikan derajat para ulama sebagai orang yang berilmu. Maka kita sebagai muslim harus menghormati mereka dan marah adalah salah satu penjagaan kita terhadap kewibawaan para ulama. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam menganjurkan untuk memuliakan para ahli ilmu Islam. Memuliakan ulama adalah karakter khas pengikut beliau.
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلْ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Bukan dari golongan kami, orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan mengasih sayangi yang lebih muda dan mengetahui hak-hak ulama kita.” (Shohih Al-Jami’ no. 5443, Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 96). Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bahkan mengeluarkan orang yang tidak menghargai para ulama dari jajaran umat Islam,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِيْ مَنْ لَمْ يُجِلْ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا

“Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda dan menghargai ulama kita.” (Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 101)

Keempat, nyawa satu orang Muslim itu sangat berharga. Sampai-sampai Rasul menganalogikan nyawa satu orang muslim yang mati karena kedzaliman itu bagaikan nyawa seluruh kaum Muslim.
Dari Abu Ad-Darda`, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيْهِ رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ] كَانَ لَهُ حِجَابًا مِنْ النَّارِ[

“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya (se-Islam) Allah Azza wa Jalla menghindarikan wajahnya dari neraka pada hari qiyamah.” Dalam riwayat lain, “Akan ada baginya penghalang dari neraka.” (Shohih Al-Jami’ no. 6262, 6263)
Subhanallah...

Ada hal yang ingin saya garis bawahi disini. Jadi dalam Islam patokan marah itu BAIK atau BURUK bukan dari sisi BERMANFAAT atau TIDAKNYA bagi kita melainkan dilihat dari sisi BAIK BURUK DALAM PANDANGAN SYARIAH. Banyak kaum Muslim yang terkecoh mengikuti standar baik buruk orang kebanyakan. Jadi melihat hal ini (MARAH) sebagai sesuatu yang buruk karena anggapan banyak orang. Padahal tidak demikian adanya.

Marah juga bisa dijadikan bukti atau tanda keimanan seorang muslim. Ya, karena standar marah baik dan buruknya dilihat dari sisi syariat maka kemarahan seorang muslim ketika syariat Islam diinjak-injak atau dinistakan merupakan bukti cintanya kepada Islam. Aneh jika ada yang mengaku muslim tapi malah tidak marah ketika kemuliaan Islam dijatuhkan, aneh jika dia mengaku muslim namun justru merasa legowo dan nerimo (istilah jawanya) ketika di negeri Muslim yang lain sedang dibantai hingga syahid. Astagfirullah....

Semoga dengan adanya catatan kecil ini bisa jadi renungan bersama bagi kita agar kita tidak lantas mudah marah atas apa yang terjadi pada diri kita namun juga tidak bisa untuk tidak marah atas apa yang menimpa Islam dan kaum muslim saat ini. Karena sekali lagi "Marah" bukan hanya dikonotasikan negatif dalam Islam namun juga positif yakni merupakan tanda keimanan seorang muslim sejati. Bukan hanya sekedar Muslim KTP.
Wa'allhualam bi showab...

Profil Singkat:
Nama lengkap: Hany Handayani Primantara
Tempat, tanggal lahir: Serang, 18 Febuari 1988
Alamat: Jalan Kano 16 no 3 Perumahan Kelapa Dua Tangerang
No hp/Wa: 0895627337917
Email: bundajihad5@gmail.com
FB: Hany Handayani Primantara
IG: bundajihad



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!