Sunday, March 18, 2018

Ketika Kebebasan Diapresiasi, Islam Didiskriminasi




Oleh : Maylia Murni, S.Pd (Pegiat Remaja Smart Club Cirebon, Anggota Komunitas Revowriter)

Sobat, gimana perasaanmu melihat fakta-fakta kerusakan generasi saat ini? Terkejut, marah, sedih, atau sederet perasaan lain bisa mewakili kecamuk hati kita. Belum kering luka kita melihat generasi muda yang terbawa arus liberalisme seperti free sex, aborsi, narkoba, dan kenakalan-kenakalan remaja lainnya serta ancaman LGBT yang semakin masif.

Kondisi ini diperparah dengan arus kebebasan tanpa batas yang semakin diapresiasi. Awal bulan ini menjadi gongnya para feminis untuk menyuarakan kembali paham-paham kesetaraan gender dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional bertepatan tanggal 8 Maret. Dalam aksi Women’s March 2018 di Jakarta, mereka mengusung 8 isu utama, salah satunya menghentikan intervensi negara dan masyarakat terhadap tubuh dan seksualitas warga negara. Yang semakin membuat miris ketika membaca berbagai tuntutan mereka yang tertulis pada poster yang dibawa. "Aurat Gue Bukan Urusan Loe! Stop Victim Blaming! Stop Pelecehan Seksual!" , "Bukan Rok Kami yang Salah, Tapi Otak Kalian yang Mini!" , "Perempuan Tak Melulu Bervagina" , "Berjilbab Oke, Tak Berjilbab Juga Kece" begitulah berbagai propaganda yang mereka bawa dalam aksi ini.

Bahkan aksi kebebasan ini diapresiasi oleh pemilik tampuk kekuasaan di bumi pertiwi ini loh. Melalui akun twitternya beliau menyampaikan ucapan selamat mengikuti Women’s March, dalam rangka Hari Perempuan Dunia tgl 8 Maret (berdikarionline.com). Padahal aksi ini jelas berbahaya bagi aqidah kaum muslim. Bagaimana tidak, mereka menyerukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat Islam. Bagaimana mungkin seorang perempuan (maaf) tidak bervagina? Bagaimana bisa aurat kita bukan urusan orang lain? Bagaimana bisa seorang muslimah yang tidak berjilbab atau menutup auratnya dikatakan kece?

Inilah paradigma berfikir yang salah kaprah. Mereka menempatkan kebebasan dan HAM sebagai legitimasi atas segala perilaku mereka. Mereka bebas berekspresi sesuka hati walaupun melanggar norma-norma masyarakat, adat istiadat bahkan agama (Islam) demi menuntut hak-haknya yang merasa direnggut dari dirinya karena adanya aturan-aturan agama. Misalnya Islam mewajibkan menutup aurat bagi muslimah yang telah baligh, bagi aktivis feminis ini adalah bentuk pengekangan berekspresi bagi wanita. Belum lagi masalah waris, kaum feminis merasa dirugikan dengan pembagian harta waris dalam Islam karena jumlahnya lebih sedikit dibanding pria. Ditambah eksistensi diri diluar rumah, kaum feminis menyerukan perempuan untuk berdaya dengan menyetarai laki-laki dalam mencari nafkah. Sehingga perempuan banyak dijadikan komoditi ekonomi. Liat saja berbagai lowongan pekerjaan banyak yang menuntut wanita untuk mengekploitasi kecantikannya dengan embel-embel syarat  "wanita berpenampilan menarik". Berbagai iklan di televisi tidak luput dari pengeksploitasian perempuan, dan berbagai contoh lainnya. Ini sejatinya yang merusak generasi kita melalui paham-paham sekuler dan serba bebas yang semakin ditancapkan dibenak kaum muslimin.


Islam Memuliakanmu

Dear, apa yang feminis minta, Islam telah memberikannya bahkan jauh berabad-abad lamanya sebelum gerakan itu ada. Islam menempatkan perempuan sebagai makhluk-Nya yang mulia. Seorang Ibu disebut oleh Rasulullah SAW sebanyak tiga kali, sementara Ayah hanya satu kali, ini menunjukan penekanan kemuliaan menjadi seorang Ibu. Menutup aurat ketika keluar rumah dan hanya menampakan wajah dan telapak tangan adalah bentuk penjagaan Islam terhadap kehormatan perempuan. Begitupun Islam mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom dengan melarang berkhalwat dan berikhtilat semata-mata untuk menjaga kemuliaan dan kehormatan perempuan. Serta berbagai aturan dan perintah lain yang memuliakan dan menjaga kehormatan perempuan.

Allah SWT telah menciptakan makhluk-Nya dengan sebaik-baiknya. Perempuan dan laki-laki memang memiliki fitrah yang berbeda. Tidak hanya fisik, tapi juga psikologi yang berbeda. Karena itu perannya didalam kehidupan pun berbeda. Laki-laki diciptakan dengan fisik yang kuat dan bermental baja, karena kewajibannya pun berat menjadi pemimpin serta mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sedangkan perempuan diciptakan dengan penuh keindahan, kelembutan dan kasih sayang, karena kewajibannya menjadi ummu wa robbatul bait yang akan melahirkan serta mendidik generasi-generasi penerus perjuangan Islam. Maka, hadirnya bukanlah untuk bertanding dan menyaingi laki-laki, tapi untuk bersanding dan membersamai kaum laki-laki. Kendati memiliki hak dan kewajiban yang berbeda, laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam hal ketaatan. Baik laki-laki maupun perempuan wajib menjalankan syariat-syariat Islam karena kedudukannya sama dihadapan hukum syara'. Jelas ini bukanlah diskriminasi, tapi ini adalah sebuah harmonisasi yang indah dalam sebuah masyarakat. Wallahu A’lam bish-Showab.


Berikut identitas diri saya,
Nama                : Maylia Murni
Tempat, Tgl. Lhr : Cirebon, 5 Mei 1994
Status               : Sarjana Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang
Alamat              : Jl. Merpati VI No.223 Kota Cirebon
No.HP/WA        : 085880778700/ 085755180454
Email                : maylialfatih@gmail.com



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!