Wednesday, March 14, 2018

Kepribadianmu adalah Identitasmu



Oleh : Hamsina Halik (Anggota Komunitas Revowriter)

Sebagai manusia tentu kita perlu identitas. Karena, identitas itulah orang akan mengenal kita. Identitas bisa berupa kartu pengenal macam KTP dan SIM, tapi bisa juga berupa kepribadian yang dimiliki oleh seseorang. Mungkin pernah terdengar, ketika ada yang bertanya tentang si Fulanah, tapi tak ada yang mengenalnya. Tapi, ketika disebutkan bahwa fulanah itu yang pakai kerudung, pakai gamis, orangnya kalem dengan tutur bahasa yang lembut nan halus serta sering mengisi kajian atau Fulanah itu yang pakaiannya minim banget suka keluyuran kalau malam, ngomongnya kasar dan tak punya adab. Nah, barulah paham fulanah  mana yang dimaksud. Jadi, kepribadian itu identik dengan identitas seseorang.

Seperti apa kepribadian itu? Ada yang mengatakan bahwa kepribadian itu dinilai dari baik tidaknya penampilan seseorang, semakin bagus penampilannya semakin bagus pula kepribadiannya. Atau ada juga yang berkata  kepribadian seseorang bisa dilihat dari sisi intelektualnya. Semakin tinggi pendidikan seseorang dan kedudukannya pasti kepribadiannya sangat bagus. Orang yang memiliki teman banyak,  pasti punya pribadi yang baik karena banyak orang yang menyukainya dan mau bergaul dengannya. Orang yang rajin beribadah,  suka menolong,  gemar berinfak dan bersedekah pasti memiliki kepribadian yang baik. Begitulah, kebanyakan menilai kepribadian itu  seseorang itu dari luarnya dan kebaikan hatinya. Padahal, bukanlah penampilan fisik dan kebaikan seseoranglah yang menentukan kepribadiannya seperti apa, melainkan  dilihat dari bagaimana pola pikir dan pola sikapnya serta bagaimana ia menyelaraskan pola pikir dan pola sikap ini. Inilah unsur pembentuk kepribadian seseorang.

Namun,  terkadang di dunia saat ini masih sering dijumpai orang yang memiliki 'kepribadian aneh'.  Entah,  itu ada disekitar atau orang terdekat, mungkin pernah mendengarnya dari orang lain atau mungkin pernah membacanya dalam berita-berita dikoran maupun berita online.

Lalu, seperti apakah kepribadian aneh ini?

Kita pernah melihat seorang muslim rajin ibadah, tahajudnya sangat rutin,  rajin baca qur'an,  tapi dalam kehidupannya tidak lepas dari perkara riba,  mulai dari kredit rumah,  kredit kendaraan,  kredit elektronik,  kredit ini itu.

Ada juga seorang muslimah memiliki sifat santun dan baik tapi bekerja di sebuah  minimarket yang menjual khamr. Atau seorang laki-laki muslim yang jujur bekerja sebagai satpam, namun yang dijaga adalah lokalisasi judi. Atau seorang artis yang muslim tidak pernah lupa shalat wajib,  tapi tidak menutup aurat,  bergaul bebas,  pacaran dan sebagainya. Atau kita pernah mendapati seorang ustadz tapi terjerat kasus penipuan.

Atau mungkin saja hal itu terjadi pada diri kita sendiri. Itulah disebut sebagai 'keanehan', disatu sisi mereka muslim,  tapi disisi lain tidak mencerminkan seorang muslim. Atau dengan kata lain memiliki kepribadian ganda.
Apa yang salah ? Mengapa terjadi yang demikian?
Mereka itu sebenarnya muslim tapi hanya menjadikan Islam sebagai dasar dalam pola pikirnya,  sementara pola sikapnya tidak. Sementara kepribadian pada setiap manusia sesungguhnya terbentuk dari pola pikir (‘aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah). Pola pikir adalah cara yang digunakan untuk memikirkan sesuatu, yakni cara mengeluarkan keputusan hukum tentang sesuatu, berdasarkan kaidah tertentu yang diimani dan diyakininya.  Sedangkan pola sikap adalah cara yang digunakan seseorang untuk memenuhi kebutuhan naluri (gharizah) dan kebutuhan jasmani (hajat al ‘adhawiyah), yakni upaya memenuhi tuntutan tersebut berdasarkan kaidah yang dimani dan diyakininya. Jika kaidah yang digunakan untuk ‘aqliyah dan nafsiyah seseorang jenisnya sama, siapapun dia, maka akan melahirkan kepribadian yang  khas dan unik.
Karena kepribadian manusia ini tidak ada kaitannya dengan penampilan manusia dan semua itu hanya kulit luarnya saja. Maka, kepribadian manusia hanya bisa dinilai dari pemikiran dan perilakunya. Perilakulah (pola sikap) yang menunjukkan tinggi-rendahnya derajat manusia. Sementara perilaku manusia tergantung bagaimana pemahaman (mafahim)nya, yang terbentuk dari pemikirannya. Walhasil, perilaku manusia terkait erat dengan pemahamannya dan tidak bisa dipisahkan. Perilaku manusia muncul karena adanya dorongan  untuk memenuhi kebutuhan jasmani  dan nalurinya yang kemudian membentuk kecenderungan yang dipengaruhi oleh mafahimnya. Inilah yang akan membentuk kepribadian manusia. 
Jika mafahimnya berasal dari islam maka ia akan memenuhi kebutuhan jasmani dan nalurinya sesuai dengan koridor Islam. Dengan kata lain,  jika dia Muslim dan pemahamannya Islami (bersumber dari akidah Islam) maka kepribadiannya berpotensi menjadi Islami. Sebaliknya, jika dia Muslim tetapi pemahamannya tidak Islami (tidak bersumber dari akidah Islam) maka secara pasti kepribadiannya tidak Islami; apalagi jika dia orang kafir.
Sebagaimana disebutkan diatas bahwa nafsiyyah (pola sikap) seseorang sangat dipengaruhi oleh mafahimnya, yang bersumber dari keyakinan/akidah yang dimilikinya. Mafahim pula yang  membentuk ‘aqliyyahnya sekaligus membentuk dan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap nafsiyyahnya. Contoh: pada zaman Rasulullah SAW saat belum diturunkannya ayat  khamr diharamkan, kaum Muslim  zaman itu terbiasa meminumnya. Namun, ketika wahyu Allah yang mengharamkan khamr turun (QS al-Maidah [5]: 91), seketika kaum Muslim meninggalkannya. Bahkan diriwayatkan, saat itu banyak jalanan di kota Madinah basah karena khamr yang ditumpahkan/dibuang oleh kaum Muslim saat itu.
Begitupun saat wahyu yang mewajibkan kaum Muslimah mengenakan kerudung/khimar (QS an-Nur [24]: 31) dan jilbab (QS al-Ahzab [33]: 59) turun; seketika itu kaum Muslimah menutup seluruh tubuhnya dengan kedua jenis pakaian tersebut.
Menyatunya pola sikap dan pola pikir seseorang inilah yang disebut sebagai kepribadian unik. Yaitu,  orang-orang yang berpegang teguh pada aturan-aturan hidup (ideologi) tertentu,  baik Islam maupun selain Islam.  Karena,  itu akan mudah bagi kita untuk mengenali mana seorang muslim yang berpegang teguh pada aturan Islam dan selain Islam.
Sama seperti contoh-contoh diatas, seorang satpam yang jujur dan menjaga tempat yang halal, muslimah yang santun dan baik, seorang ustadz, sang ahli ibadah, artis muslim yang tidak pernah alpa shalat, mengambil mafahim untuk pola sikapnya dari Islam. Sehingga dapat kita sebut mereka memiliki pola sikap yang islami (nafsiyah islamiyyah). Akan tetapi, jika dalam pola pikirnya mereka mengambil mafahim dari selain Islam, seperti Kapitalisme dengan asas sekularismenya yaitu memisahkan agama dari kehidupan,  maka bisa jadi mereka berkerja ditempat yang menjual khamr, melakukan penipuan, bertransaksi dengan riba, legalisasi perjudian,  mengumbar aurat, berzina,  untung rugi  yang menjadi  standar dalam pola pikirnya bukan lagi halal-haram. Maka dapat kita simpulkan pola pikirnya bukanlah pola pikir Islam (aqliyah islamiyyah).
Sebagai seorang muslim seharusnya menjadikan Islam sebagai dasar dalam mafahimnya, baik itu pola sikap  ataupun pola pikirnya, dan cukup satu mafahim,  tidak lebih. Berkepribadian unik adalah pilihan terbaik karena itu adalah identitas seorang muslim  yang sebenarnya.

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!