Thursday, March 22, 2018

Kamukah, Orang Hebat Itu?

Oleh: Hamsina Halik, A. Md (Anggota Komunitas Revowriter)


Nampak dalam kehidupan ini orang-orang yang sukses, menurut pandangan kita mungkin. Ketika mendapati orang yang memulai bisnis dari nol, modal seadanya, tertatih-tatih melangkah, sedikit demi sedikit hingga akhirnya mencapai titik kesuksesan, kita bangga dan berkata, "Wow, dia hebat!". Padahal, dibalik kesuksesannya mungkin saja ada kegagalan yang pernah dihadapi dan upaya untuk bangkit kembali.


Seorang trainer dan motivator yang awalnya tak bisa berbicara sepatah kata pun, bahkan hanya ada tangisan kecil ketika diminta untuk berbicara didepan umum disebabkan ketakutannya tak bisa berkata-kata, akhirnya menjadi seorang trainer dan motivator dengan retorika yang mengagumkan. Tak ada lagi tangisan. Tak ada lagi ketakutan. Hanya kepercayaan diri dan keyakinan yang penuh kepada Allah SWT bahwa apa yang disampaikan ini mampu memotivasi seseorang untuk menjadi lebih baik. Mungkin saat itu kita akan berkata, "Ma syaa ALLAH, hebat ya!". Padahal, dibalik semua tak terpikirkan bagaimana usahanya untuk mencapai tingkat tersebut.


Atau mungkin pernah mendapati seseorang yang kita pun mungkin tak mengenalnya. Namun, karena suatu hal membuatnya terkenal. Semua orang membicarakannya. Hasil karyanya yang bermanfaat bagi orang lain, menjadi inspirasi dan motivasi, telah membuatnya meraih popularitas. Seperti seorang penulis, misalnya. Tentu kita akan merasa takjub dan bangga, padanya. Hebat, begitulah kata yang pantas. Padahal, untuk meraih popularitas itu tak semudah membalikkan telapak tangan.


Begitulah, terkadang kita bangga dan takjub terhadap orang-orang dengan kesuksesan dan keberhasilan mereka meraih mimpinya. Ada rasa ingin demikian. Rasa yang mereka capai ketika berada diatas puncak kesuksesan yang begitu indah dan menyenangkan, serta membahagiakan. Bagaimana tidak? Seolah-olah dengan mudahnya mereka meraih dan menemukan kebahagiaan itu. Kira-kira anggapan kita seperti itu jika dengan langsung melihat hasilnya tanpa mencari tahu prosesnya.


Benarkah ini yang dinamakan kehebatan pada diri seseorang? Seperti apa kehebatan yang sebenarnya itu?


Imam Syafi’i berkata bahwa kehebatan seseorang itu terletak pada tiga perkara;
Pertama: Kemampuan menyembunyikan kemelaratan, sehingga orang lain menyangkamu berkecukupan karena kamu tidak pernah meminta, dan selalu merasa syukur.


Bersyukur adalah sesuatu yang harus dimiliki oelhe seroang hamba yang beriman. Dengan adanya rasa syukur, tentu ia akan merasa cukup dan tak berkekurangan. Tak pernah terlintas dalam benaknya sedikitpun untuk meminta. Sehingga, nampak dihadapan orang-orang bahwa dia sangat berkecukupan. Merasa cukup karena ada Allah yang akan mencukupkan kebutuhannya.


Kedua: Kemampuan menyembunyikan amarah, sehingga orang mengiramu merasa ridha, karena tampak wajah yang ceria.

Marah adalah salah satu bentuk dari gharizah al baqa', marah muncul karena ada yang memicunya. Namun, bagi seorang yang beriman tentu akan lebih baik jika ia mampu mengelola amarahnya itu, tak menampakkan hingga membuat dirinya kalap. Jika, sebaliknya maka orang akan menganggap dia tak ridho dengan sesuatu yang terjadi atau yang menimpa dirinya.
Rasulullah saw. bersabda:
Artinya: “Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah“. (HR. Bukhari dan Muslim)


Ketiga: Kemampuan menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengiramu selalu senang, karena tertutup dengan amal sholeh.
Ketika mengalami kesulitan, ia mampu menyembunyikannya. Menyembunyikan penderitaannya dari orang lain. Sehingga orang-orang menganggap tak terjadi apa-apa padanya, baik-baik saja. Padahal, apa yang ia rasakan adalah kesulitan dan kesusahan yang sangat. Namun, tak nampak dari wajahnya, selalu berusaha senang dan bahagia dihadapan orang-orang.

 
Sudahkah kita memiliki kriteria orang hebat diatas?
Wallahu a'lam..


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!