Monday, March 26, 2018

Jerat Rindu dalam Belenggu

Oleh : Sunarti (Anggota Revowriter)



Dalam diam aku berangan

Kala sepi aku bermimpi

Saat nyeri menyiksa hati

Bergumamku bercampur pilu


Berlalu hari tanpamu

Bergulir rindu padamu

Berpacu detak nafasku

Terhempas bersama pedihku

Ehemm.... 
So sweet, 

Yah, begitu contoh ungkapan orang yang sedang merindu. 

Iya apa tidak ya, teman ?
Iya memang !

Layaknya kawula muda dimabuk cinta, zaman now ternyata juga melanda emak-emak. 

Disadari atau tidak, memang sudah menjadi demam rindu. 

Kalau memang rindunya kepada kekasih halal, tidak menjadi persoalan. Tapi kalau rindunya, bukan pada pasangan halal berarti dosa. 

Iya, kan Sob, Mak ?


Banyak kasus lho, yang berakhir dengan tragis. Yang Embak-embak remaja misalnya, banyak yang LKMD. 
Ssstt apa itu ?
Lamaran Keri Meteng Dhisik.
Terus ada yang lebih parah lagi, sampai melahirkan, bayinya dibunuh dan dibuang. 
Ada siswa yang melahirkan di sekolah.


Yang emak-emak juga begitu. Banyak kasus yang menimpa emak-emak bersuami, mengakhiri rumah tanggana di persidangan.  
Banyak alasan memang yang diajukan di meja hijau.
Dan banyak juga yang berakhir tragis.


Ada istri yang dibunuh suami, ada suami yang dibunuh istri, atau ada orang tua yang membunuh anak. Istri selingkuh, suami selingkuh, dan berderet kasus lain yang menimpa rumah tangga. 


Intinya kaum hawa sedang dilanda demam rindu yang terlarang. 


Tak jarang kasus berawal dari gadget. 
Banyak orang menyebutnya dengan "setan gepeng". 
Masuk akal juga, kenapa dinamakan setan gepeng. 
Dari bentuknya yang gepeng yang bisa melalaikan seseorang akan kewajibannya. Baik remaja putri maupun emak-emak. 
Yang remaja berawal dari "say hello", sama kayak emaknya. Hanya beda usia saja. 
Berlanjut hubungan antar benda gepeng tersebut hingga terasa nikmat. 
Yah, ada bumbu-bumbu dari setan yang mempermanis atau membuat gurih. Dah klop, pokoknya. 


Dorongan untuk melampiaskan naluri nau' semakin berkembang seiring dengan pemicu di sekitarnya. 
Puisi romantis, lagu-lagu romantis, film romantis hingga cerita romantis, kontent porno, semua membangkitkan rangsangan. Akhirnya cinta terlarangpun bagai tanaman yang sudah tumbuh subur, dipupuk kemudian disiram, jadilah berkembang dan berbuah. 
Fantasi-fantasi akan indahnya kebersamaan muncul dengan leluasa. 


Bagai gayung bersambut, hubungan pun berlanjut. 
Setan gepeng menjadi penghubung utama dalam komunikasi hingga terjadilah komplikasi penyakit cinta.
Terjadilah yang namanya kemaksiatan. 


Semakin hari kasusnya semakin menjadi, akibat tak takut jerat jeruji besi. 
Betul !
Dari sisi hukum, tidak ada yang membuat efek jera. 
Ketika yang melakukan kemaksiatan merasa malu dan menyesalpun sifatnya hangat-hangat tahi ayam. 
Di sisi lain seandainya pelampiasan gharizah nau' itu dilakukan suka sama suka, tidak akan ada yang kena jerat hukum. Dan itu dianggap bukan berzina. 
Karena larangan zina ada dalam Islam, bukan dalam sistem sekuler. 
Sepertinya, kemaksiatan akan bertambah parah di zaman now. 


Islam mengajarkan tata cara pelampiasan gharizah nau' dengan menikah.
Untuk yang sudah menikah, jelas dengan pasangan halalnya, bukan dilampiaskan kepada orang lain. 
Bagi yang belum mampu menikah, Islam mengajarkan untuk berpuasa. Karena dengan berpuasa karena Allah, akan dapat menahan nafsu birahi.
 
وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendiri ( bujangan ) di antara kalian dan orang-orang shaleh diantara para hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka dalam keadaan miskin, Allah-lah yang akan menjadikan kaya dengan karunia-Nya [ QS. An-Nur (24): 32]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita demikian, sebagaimana diriwayat-kan oleh al-Bukhari dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu. Ia menuturkan: “Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemuda yang tidak mempunyai sesuatu, lalu beliau bersabda kepada kami:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

‘Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).'”[5]


Negara punya peranan penting memproteksi tontonan, lagu-lagu dan sosial media yang menghadirkan konten yang merangsang hawa nafsu. Membatasi sarana dan prasarana yang merangsang gharizah nau'.  
Juga dalam memberikan kemudahan fasilitas menikah. 
Kemudian di dalam tataran hukum, Islam menerapkan sanksi yang tegas bagi pelaku zina, yaitu dera bagi yang belum menikah dan rajam sampai mati bagi yang sudah menikah.


Allah Subhanahu wa Ta’alal berfirman

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مَائَةَ جَلْدَةٍ وَلاَتَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. [An Nur : 2]

Hal ini juga disebutkan dalam banyak hadits. Antara lain :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

خُذُوا عَنِّي خُذُوا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ

Ambillah dariku, ambillah dariku. Sesungguhnya Allah telah memberi jalan yang lain kepada mereka, [2] yaitu orang yang belum menikah (berzina) dengan orang yang belum menikah, (hukumnya) dera 100 kali dan diasingkan setahun. Adapun orang yang sudah menikah (berzina) dengan orang yang sudah menikah (hukumnya) dera 100 kali dan rajam. [3]


Sebenarnya, ajaran Islam yang seperti ini, tidak dalam rangka membelenggu rindu, tapi untuk menyalurkan rindu pada suatu perbuatan yang dihalalkan oleh Allah. 


Untuk menjaga pergaulan, mnejaga kehormatan, menjaga nasab dan untuk kemaslahatan seluruh manusia. 


Wallahu alam bisawab

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!