Thursday, March 15, 2018

Istiqomah : Berat di mula, Indah di akhir



Oleh : Sri Indrianti (Pemerhati Sosial dan Generasi – Tulungagung)


Suatu kali kami ke rumah teman yang lumayan jauh jaraknya dari rumah kontrakan kami. Kalau tidak salah sekitar 15 km. Cuaca yang mendung tidak menyurutkan niat kami untuk pergi. Di jalan hujan mulai turun rintik-rintik namun kami tetap istiqomah tidak memakai jas hujan. Motor terus bergerak ke utara. Tiba-tiba hujan di wilayah itu langsung deras. Dengan tergesa-gesa kami meminggirkan motor untuk memakai jas hujan. Motor kemudian melanjutkan perjalanan terus bergerak ke utara. Ternyata semakin ke utara cuaca makin terang. Dan jalanan di wilayah itu kering seakan-akan tidak terjadi hujan. Karena kegerahan akhirnya kami meminggirkan motor untuk melepas jas hujan. Kami kembali melanjutkan perjalanan ke utara. Selang beberapa menit semakin ke utara semakin mendung. Dan.... bresss . Hujan deras tak terelakkan lagi. Kami meminggirkan motor untuk memakai jas hujan lagi. Akhirnya jas hujan istiqomah dipakai sampai ke tempat tujuan.

Ketika sampai di tempat tujuan berpikir ternyata benarlah kata banyak orang kalau istiqomah itu sulit. Sebagaimana memakai jas hujan tadi, andaikan kami terus istiqomah memakai jas hujan tentu tidak akan banyak waktu yang terbuang dan baju tidak terlalu basah. Begitu juga ketika manusia memutuskan untuk berhijrah dengan perilaku yang lebih baik dari sebelumnya maka diperlukan sikap senantiasa istiqomah.
Ketika manusia berhijrah maka tidak serta merta tidak akan mendapatkan ujian dari Allah. Justru Allah akan menambah ujian bagi manusia yang berhijrah. Apakah manusia tersebut bisa senantiasa istiqomah walaupun banyak diterpa ujian ataukah sebaliknya dia mudah goyah.

Wajar yang namanya manusia terkadang tergiur untuk kembali pada kehidupan lama karena dinilai banyak mendatangkan kenikmatan. Langkah yang bisa kita lakukan dengan kembali mengingat bahwa Allah senantiasa mengawasi tindak laku kita. Karena sadar bergerak dalam pengawasan maka muncul sikap kesadaran bahwa setiap tindak laku harus disandarkan pada ketetapan Allah. Langkah berikutnya yang bisa dilakukan yaitu bersahabat dengan orang-orang yang akan memperkuat keimanan. Toh, kalau kita sedang berada dalam kekufuran dan kejumudan maka akan ada orang-orang yang mengangkat kita dari jurang kekufuran dan kejumudan.
Bersabarlah sebentar atas jalan terjal yang kita lalui karena insya allah akan ada kenikmatan di penghujung jalan yang kita tempuh. Sebagaimana bila kita ingin menikmati keindahan pantai maka terbentang jalan yang berkelok-kelok. Namun lelahnya berkendara seketika terbayar lunas dengan suguhan keindahan pantai dari Pemilik Kehidupan.

Yuk kita terus saling mengingatkan dalam kebaikan agar kita bisa istiqomah berhijrah sampai ajal menjemput dan kelak bisa berkumpul di jannah-Nya.

Penulis : Sri Indrianti
               Pemerhati Sosial dan Generasi - Tulungagung



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!