Friday, March 16, 2018

Islam Kece Bikin PD




Oleh: Ratu Ika Chairunnisa
Pernah nggak merasa minder saat melihat banyaknya kekurangan diri, sembari saksikan segenap potensi orang lain yang mengagumkan? Merasa orang lain begitu memesona. Takjub dengan beragam bakatnya. Akhirnya merasa diri tak miliki kemampuan apa-apa. Sudahlah orang lain lebih cantik, tubuh proporsional, dari keluarga baik-baik, dikaruniai harta melimpah, prestasi akademik mengagumkan. Pintar bicara. Jago menulis. Banyak disanjung orang lain. Sedangkan kita? Dari keluarga tak berpunya, untuk makan pun susah. Fisik biasa saja. Prestasi tak begitu istimewa. Opini dengan lisan masih terbata. Tulisan jua masih jauh tertinggal dari yang lainnya. Aah, minder, minder dan minder akhirnya.

Aku juga pernah kok merasakannya. Dulu sering minder saat melihat orang lain yang banyak harta. Banyak disanjung bak putri raja. Minder juga saat melihat wanita-wanita cantik di luaran sana yang begitu mudah bergaul dengan sesama, bisa bicara di depan umum dengan indah dan memesona. Tapi itu dulu sebelum hijrah. Karena ternyata Islam mampu merubah segalanya. Saat Islam mulai mengalir di seluruh aliran darahku, mengisi setiap hembusan nafas hidupku, dan mendekap erat setiap langkahku. Perlahan, segala pikir, rasa dan laku ku ikut serta berubah. Aku jadi sadar bahwa Islam itu sempurna tanpa cela. Islam kece dan mampu bikin kita PD. Islam mampu pecahkan setiap masalah kehidupan dunia. Tanpa melihat warna kulit, suku, bangsa, pangkat, harta, rupa, dan sejenisnya. Karena Allah memang tak pandang kita dari atribut keduniawian atau sekedar fisik semata.

Aku semakin terpesona dengan kehebatannya. Saat tahu bahwa dulu Islam mampu payungi dunia dengan indah kemilau aturannya. Saat itu, manusia tak dikerdilkan hanya karena rupa, harta, tahta dan semua perhiasan dunia. Semua sama. Sama-sama berhak diatur oleh aturan-Nya. Semua serupa. Berhak diayomi oleh Khalifah sang Kepala Negara. Semua dianggap rakyat yang wajib diurusi setiap kebutuhannya. Bahkan non muslim pun mendapat keadilan dan sejahtera. Ya.. Semua itu ternyata fakta. Bukan sekedar ilusi sang perindu kata "sejahtera" yang ternyata jauh harap dari nyata. Semua tercatat indah dalam lembaran sejarah kisah kegemilangan Islam yang menguasai 2/3 dunia. Sebagai pusat peradaban dan kiblat segala trend Dunia. Dan ideologi Islam lah ruh yang mampu buat Islam menjadi raksasa peradaban 13 abad lamanya. Raksasa tanpa perlu menindas yang lemah. Besar tanpa harus mendzolimi negara kecil lainnya. Mayoritas tanpa menganggap yang berbeda sebagai minoritas di Negerinya. Adil dan toleran dengan bukti nyata, bukan sekedar slogan pembunuh identitas muslim yang sebenarnya.

Saat menikmati tetes demi tetes ilmu Islam, tak henti-hentinya diri ini dibuat takjub dengan segala detail aturan Islam yang sempurna. Ternyata semua masalah dari yang kecil hingga cakupan Negara dan politik dunia, Islam punya solusinya. Ada aturan terkait ibadah, akhlak, pakaian dan makanan. Juga bagaimana Islam tuntaskan masalah pengelolaan sumber daya alam. Pengentasan kemiskinan. Cara mengatasi banjir, macet, dan kroni-kroninya. Membasmi segala penyakit sosial masyarakat. Hukum pidana yang adil dan memberi efek jera. Termasuk politik dalam dan luar Negeri pun lengkap aturannya. Keren kan?

Ya.. Islam akan selalu keren jika ia menjadi ideologi aku, kamu dan semua umat muslim dunia. Saat Negara menjadikan Islam tak cuma sekedar ritual plus penghias dunia saat sesuai dengan kepentingan individu juga penguasa saja. Tapi, semestinya menjadi nyawa bagi setiap kebijakan pemerintah dan negara. Tak terpisah antara agama dengan sendi kehidupan lainnya.
.
.
Maka, saat ideologi Islam berupaya terus dikokohkan. Gatal yang terasa saat hanya disimpan sendirian. Walhasil, menyebarkannya menjadi satu-satunya pilihan. Karena memang ianya adalah sebuah kewajiban, bukan pilihan. Awalnya memang rasa minder masih ingin merapat mesra gontaikan langkah. Rasanya diri tak pantas mengemban amanah mulia. Terlebih saat teman-teman seperjuangan jauh lebih berkualitas dari kita. Ah, mungkinkah kita layak dan bisa menjadi pengemban ideologi Islam yang sempurna? Padahal diri tak pandai berkata yang sanggup goncangkan kesombongan dalam jiwa. Tak jua bisa menulis yang mampu balikkan pemahaman bathil hingga pergi jauh dari pengembannya.

Tapi diri kembali diingatkan. Bahwa saat kita menggenggam ideologi Islam. Harusnya kita PD dan bangga. Karena apa yang kita bawa adalah kebenaran. Bahkan sebenarnya ia adalah solusi yang sudah teramat dirindu dan dibutuhkan umat. Bukan ancaman. Bukan pula hal memalukan. Maka, tak ada alasan untuk minder, malu, dan beragam alasan lainnya. Bayangkan, saat seseorang diberi amanah besar oleh seorang kepala negara adidaya dunia. Pasti yang ada dalam benaknya ia kan merasa bangga dan amat bahagia. Merasa ikut percaya diri karena bisa dipercaya oleh kepala negara yang disegani oleh seluruh dunia. Maka, saat kita diberi amanah oleh Allah, berupa kewajiban mengemban mabda Islam ke seantero semesta. Sudah semestinyalah kita jauh lebih percaya diri dengan apa yang kita bawa, dan bangga karena Allah yang membebankan amanah itu pada pundak kita, hambanya.

Karenanya, cukuplah Islam sebagai kekuatan terbesar tuk kita bisa tetap tegak berdiri. Tak lagi peduli dengan beragam kelemahan dan hinaan manusia seberapapun derasnya membanjiri. Fokus saja tuk terus gali potensi agar Islam bisa kembali cahayai bumi. Bukankah seorang Bilal bin Rabbah saja bisa demikian mewangi namanya hingga ke langit dan tetap semerbak di bumi? Melampaui segenap pusaran zaman yang ada. Bahkan terompahnya sudah lebih dulu terdengar di surga sebelum ruhnya sampai disana. Padahal fisik, harta dan kedudukannya hina menurut kaca mata manusia? Ya, karena Allah hanya melihat seberapa keras upaya dan proses kita tuk taat dan berkontribusi besar dalam Islam. Allah tak peduli rupawannya fisik dan tingginya kedudukan kita di mata manusia. Ia pun tak lihat seberapa besar hasil yang dengan mudah terindera oleh mata. Tapi, proseslah yang buat kita bisa berbeda-beda kadar pahala, bahkan dosa. 

Maka, tak peduli meski orang lain jauh lebih terlihat hebat secara hasil dari kita. Yang lebih penting adalah seberapa hebat proses yang sudah kita lalui hanya tuk mempersembahkan seluruh yang kita bisa tuk dapatkan ridho-Nya.

Seberapa letih perjalanan kita hanya tuk rayu Allah agar berhak jadikan kita penghuni surga-Nya. Karena sesungguhnya setiap kita itu istimewa. Setiap diri pasti punya potensi masing-masing yang tak sama. Hanya saja semua kembali pada pilihan kita, mau serius untuk mengasahnya atau justru biarkan ia tersia tanpa upaya.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!