Monday, March 19, 2018

Islam Ideologis, Tak Cukup hanya Agamis



Oleh: Dwi Rahayuningsih, S.Si (Pendidik dan aktivis Revowriter)


Banyak diantara kita yang menganggap bahwa masuk surga itu gampang. Cukup dengan shalat, puasa, sedekah, dan ibadah mahdhah lainnya. Bahkan seseorang dinilai sholeh ketika dia rajin shalat, rajin puasa senin kamis, rajin infak, sedekah, sabar dalam menghadapi masalah. Bahkan saking sabarnya tidak bereaksi apa-apa ketika melihat kemungkaran di depan mata. Diam saja ketika melihat Islam dihina, sabar ketika ulama dikriminalkan.



Ketika ditanya apa yang harus kita lakukan dengan kondisi saat ini? Jawabnya cukup satu kata "sabar". Kemudian dia mengeluarkan dalil "sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar". Lah emang iya kan? Ada yang salah? Tidak. Tidak ada yang salah dengan dalil itu. Tapi pemaknaan sabar itu yang kurang tepat. 


Bukankah yang seperti ini adalah orang yang dikatakan agamis? Merasa bahwa dengan amalan nafilah sudah cukup bekal menuju surga. Buktinya dia tidak merasa berdosa ketika memakan harta riba. Tidak malu ketika keluar rumah tidak menutup aurat, padahal ketika sholat terlihat rambut satu helai saja langsung mengulangi shalatnya. 
Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya yaitu masalah aqidah dan ibadah. Mengatur urusan manusia dengan dirinya sendiri, yaitu masalah makanan, pakaian, dan akhlak. Serta mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, yaitu muamalah dan uqubat (sanksi). 


Sebagai individu muslim, menjadi agamis saja tidaklah cukup. Jika yang dimaksud agamis disini adalah penerapan Islam dalam skala individu seperti ibadah mahdhoh. Mana mungkin seseorang bisa dikatakan agamis sementara perintah menutup aurat tidak dilaksanakan? Tidak mungkin juga dikatakan agamis jika dia masih makan harta riba, tidak mau beramar ma'ruf nahi munkar dan mengabaikan hukum syara' yang lain. 



So, tidak cukup mengamalkan Islam hanya dari sisi ibadahnya semata. Karena masih banyak hal lain yang harus diamalkan juga. Islam bukan sekedar agama ritual seperti agama-agama lain. Tapi Islam adalah ideologi, yang memiliki fikrah dan thariqah untuk diterapkan. 
Penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan yang akan menjadikan Islam lebih tinggi dibanding sekedar penerapan sebatas individu. Dan ini membutuhkan adanya sebuah institusi yang akan menerapkan hukum syara' dalam bentuk perturan perundang-undangan yang bersumber dari Al Qur'an dan Sunnah. 



Karena sebagai ideologi, Islam tidak cukup hanya berhenti pada diri sendiri. Namun perlu disebarkan ke seluruh dunia melalui pengembanan dakwah. Sehingga cahaya Islam akan terpancar ke seluruh alam. Inilah yang dimaksud dengan Islam Rahmatan Lil 'alamiin. 

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!