Sunday, March 18, 2018

Ironi Tuntutan Perempuan di Hari Perempuan




Oleh: Wati Umi Diwanti*


Salah satu tuntutan kaum feminis saat aksi Woman March lalu adalah otoritas terhadap tubuh. Atas nam HAM mereka dengan bangga mengusung ide yang dituangkan dalam berbagai poster.  “Auratku otoritasku”, “Tetekku Bukan Urusanmu.” bahkan yang lebih seram lagi adalah “Selangkang*anku bukan urusan negara*. Di lain poster mereka  juga menuliskan “bukan tubuhku yang porno tapi otakmu yang jorok”.

Maka jelas yang mereka minta adalah tak ada aturan apapun termasuk agama yang boleh memaksa mereka untuk berbuat terhadap tubuh mereka. Apalagi jika sampai agama masuk ranah negara. Mereka tak terima. Disisi lain bisa diartikan semua kasus pelecehan yang mereka hujat itu murni akibat kesalahan kaum pria. Yang tidak bisa jaga otak saat melihat aurat wanita.

Tak akan ada asap jika tak ada api. Tak akan bertebaran kasus pelecehan jika aurat tak gentayangan. Ingin selamat dari pelecehan tapi tubuh dijadikan pemandangan gratisan. Ingin terjamin kesejahteraan tapi negara tak boleh ambil peran. Padahal negaralah institusi yang harusnya menjadi penjamin kesejahteraan juga keamanan. Tentunya dengan menjadikan Islam sebagai dasar pengaturan.

Kenapa harus tubuh wanita yang ditutupi. Karena sangat tidak mungkin kalo mata lelaki yang harus ditutup. Mereka punya kewajiban mencari nafkah, mencari ilmu, berdakwah dan lainnya. Tidak mungkin semua dilakukan di rumah. Dan lebih tidak mungkin lagi membuat lelaki normal untuk tidak tertarik dengan aurat wanita. Karena itu adalah pemberian Allah Swt yang ditujukan untuk melestarikan manusia.

Wanita dimuliakan di rumahnya. Saat ia menjalankan peran utamanya sebagai istri dan ibu dengan baik. Serta amal wajib lainnya semisal sholat, puasa, menuntut ilmu dan berdakwah ia jalankan. Maka baginya pintu syurga terbuka lebar. Adapun kebutuhan dan hak-haknya sudah menjadi tanggungan walinya dan negara.



Jikapun perempuan ingin berkontribusi lebih di luar kewajiban. Selagi dalam perkara yang dibolehkan dan mampu terikat aturan. Tidak ada larangan! Maka dimana diskriminasinya Islam? Di mana bahayanya jika negara mengadopsi Islam? Justru dengannyalah sebaik-baik penjagaan dan pemenuhan hak perempuan yang saat ini dicari bisa  terpenuhi.


Sebagaimana terjadi di masa Rasulullah dan khalifah-khalifah sesudahnya. Semua kebutuhan perempuan terpenuhi. Suaranya pun sangat diperhitungkan. Keamanan dan kemuliaannya sangat dilindungi. Negara tak segan menurunkan pasukan dalam jumlah besar. Hanya demi membela kesucian satu orang perempuan.

Demikianlah Islam memperlakukan perempuan. Jika sekarang perempuan justru berada dalam kondisi yang berkebalikan. Jelas bukan karena penerapan Islam. Justru karena Islam ditinggalkan. Baik oleh individu terlebih negara.

Karenanyalah Rasulullah tak sekedar mencukupkan Islam sebatas seruan yang bersifat personal. Rasul menegakkan daulah (negara) Islam di Madinah sebagai wadah penerapan Islam secara sempurna. Disanalah khasiat aturan Islam sebagai pemberi rahmat seluruh alam terkabulkan. Maka jika saat ini ada perempuan memperjuangkan nasibnya dengan menjauhi agama (Islam), sungguh kesalah besar. Menolak yang dicari!

*Pengasuh MQ. Khadijah Al-Qubro, Revowriter Kalsel

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!