Tuesday, March 27, 2018

Ibu Tangguh Untuk Generasi Tangguh




Oleh : Dina Prananingrum, S.T
(Pemerhati Generasi, Pengasuh Kajian Parenting Majelis Cinta Dirosah, Member Revowriter)

Siapa yang tak mengenal Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel? Yang di usia 8 tahun sudah hafidzh Qur'an dan di usia 23 tahun mampu mewujudkan bisyarah Rasulullah tentang penaklukan Konstantinopel. 

Atau Imam as Syafi'i yang di usia 7 tahun hafidz Qur'an mampu menghasilkan karya hebat yang sampai saat ini karyanya menjadi rujukan umat Islam.

Tentu sebagian besar umat Islam mengenal sosok-sosok hebat penoreh peradaban emas tersebut. Terutama bagi seorang ibu tangguh, mungkin merekalah salah satu contoh teladan yang menjadi harapan bagi anak-anaknya agar kelak menjadi anak sholeh, generasi yang siap melanjutkan tanggung jawab kepemimpinan umat. 

Namun, sebagai ibu sudahkah melakukan upaya nyata secara sungguh-sungguh dalam mewujudkan keinginan menjadikan anak-anaknya sebagai generasi yang sholih? Sudahkah sebagai ibu memiliki rancangan dan berupaya keras untuk mewujudkannya?

Mewujudkan generasi yang sukses dan tangguh. Generasi pemimpin dan pejuang. Generasi yang memberikan kontribusi besar untuk peradaban mulia nan gemilang. Peradaban Islam yang akan membawa rahmat untuk seluruh alam. 

Para ibu tentu membutuhkan azzam (komitmen) yang kuat untuk mengeksekusi setiap rancangan. Pastinya lelah yang didapat ketika sedang berusaha mewujudkan harapan. Namun, bagi seorang ibu tangguh ia harus selalu yakin ketika perjuangan itu dilakukan secara sungguh-sungguh, pertolongan Allah akan menyertai dan hasilnya pun akan berbuah manis. 

Mendidik anak memang bukan perkara mudah, tapi juga tidak sesulit yang dibayangkan. Apalagi tantangan yang dihadapi ditengah kehidupan saat ini dimana aturan yang dipakai bukan aturan dari Sang Pencipta, melainkan aturan yang sengaja memisahkan agama dari kehidupan. Aturan yang malah mengajarkan pribadi muslim untuk menentang ajaran Sang Pencipta. Pintu maksiat terbuka lebar sebagai pengantar jalan ke neraka. 

Tak heran banyak ditemui ibu yang tega menyiksa bahkan sampai membunuh anaknya. Mengajak anaknya bunuh diri. Membakar anaknya hidup-hidup. Sampai tega menjual anak kandungnya dengan harga murah hanya karena alasan ekonomi. Apalagi ibu yang memukul dan memarahi anaknya mungkin kerap terjadi.

Tak hanya itu, potret generasi yang terpapar pornografi. Kecanduan gadget dan narkoba. Terbius pergaulan bebas. Terjebak kriminalitas sampai gaya hidup hedonis, individualis, dan materialis mudah sekali dijumpai.

Bagi seorang ibu tangguh tantangan ini harus mampu ia jawab. Ibu harus punya visi misi yang jelas dalam mendidik generasi. Sebagai ibu yang sekaligus merupakan guru pertama dan utama bagi anak-anaknya, wajib memiliki perhatian yang lebih besar terhadap kesuksesan dan kebahagiaan hakiki anak-anaknya. Sebuah kesuksesan dan kebahagiaan yang sifatnya bukan sesaat di dunia saja, tapi kesuksesan dan kebahagiaan di akhirat negeri abadi kelak. 

Maka, bagi seorang ibu sudah selayaknya harus selalu menambah ilmu sebagai bekal kehidupan, khususnya ilmu dalam mendidik anak (parenting). Namun, bukan sekedar parenting biasa. Tapi haruslah parenting yang berbasis aqidah Islam yang menjadikan Islam sebagai landasan berfikir dan kepemimpinan berfikir. Sehingga setiap langkah mendidik anak selalu dalam petunjuk Allah, sesuai dengan sunnah Rasulullah. 

Juga senantiasa menghadirkan kesadaran bahwa ibu adalah hamba Allah yang setiap perbuatan akan dicatat dan dihisab oleh Allah kelak. Sehingga ibu seharusnya selalu menyadari bahwa semua perbuatan dalam rangka mendidik anak harus selalu terikat dengan hukum-hukum Allah yaitu syariat Islam. Sembari terus meningkatkan dan mengokohkan kualitas kepribadian Islam, yaitu pola fikir dan pola sikap nya sesuai dengan aqidah Islam.  

Ibu tangguh harus berupaya sedini mungkin menginstalkan Al Qur’an dalam benak fikiran anak-anaknya. Menghujamkan semangat kepahlawanan Rasulullah dan para sahabat kedalam jiwa mereka. Menjadikan ibu sebagai role model terbaik, sosok pionir dalam ketaatan dan ibadah, terdepan dalam beramal sholih dan dakwah. Terbaik dalam berakhlaqul karimah dan terhebat dalam menuntut ilmu.
Ibu juga harus senantiasa ingat bahwa ibu selalu dalam pengawasan Allah.  Ingat jika setiap anak adalah amanah, titipan dari Allah yang harus dijaga dengan baik. Diperlakukan dengan istimewa, dididik dengan cinta. Karena anak sejatinya adalah tabungan bagi kehidupan orang tuanya. Jika berhasil mendidik anak menjadi anak yang sholeh, akan menjadi jembatan bagi orang tuanya menuju ke surga. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang berbunyi: 

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Dalam mendidik anak yang juga tidak boleh dilupakan oleh ibu adalah berdoa untuk kemudahan dalam mendidiik mereka. Dan senantiasa berdoa untuk kebaikan anak-anak dan memohon perlindungan bagi mereka dari pengaruh buruk. 

Ibu yang ahli ibadah InsyaAllah akan melahirkan anak-anak yang ahli ibadah. Begitupun ibu yang ahli ilmu akan melahirkan anak-anak yang ahli ilmu. Ibu pejuang akan melahirkan anak-anak pejuang. 

Maka, sudah selayaknya ibu terus berbenah menyusun dan mengevaluasi strategi untuk mewujudkan harapan melahirkan sosok para generasi pemimpin. Jika upaya sungguh-sungguh ini berhasil, kelak akan lahir generasi yang memiliki kepribadian Islam yang unik. Generasi yang terdepan dalam memperjuangkan agama Allah. Generasi pemimpin yang akan menerapkan Islam dan mengembannya ke seluruh dunia untuk meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Mengembalikan kejayaan umat Islam menjadi umat pertama di dunia sebagai sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk umat manusia.




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!