Monday, March 19, 2018

Hedonis bikin Habis



Oleh : Suti Khotimah S. Kom (Anggota Revowriter)


Akhir Januari 2018 silam kita dikagetkan dengan berita seorang sopir taksi online yang tewas mengenaskan dengan leher terpenggal. Belakangan diketahui ternyata pelakunya adalah dua orang remaja berstatus pelajar sebuah SMKN di daerah Semarang. Mereka beraksi dengan berpura-pura memesan jasa korban. Menurut pengakuan para pelaku,  motif tindakan sadis yang mereka lakukan adalah untuk menguasai barang-barang korban, berupa smartphone dan mobil yang rencananya akan dijual dan hasilnya dapat mereka nikmati untuk berfoya-foya.
Ada pula kasus pembunuhan seorang nenek di Pekanbaru yang ternyata dilakukan oleh cucunya sendiri.  Motif pelaku hampir serupa dengan kasus sebelumnya. Berawal dari rasa jengkel karena korban tak menuruti keinginan pelaku yang meminta uang, akhirnya pelaku nekat membunuh korban. Kemudian pelaku membawa seluruh perhiasan emas yang dimiliki oleh korban. Bersama kekasihnya pelaku menjual emas-emas tersebut, hasilnya sebagian dipakai untuk pesta narkoba. 

Ngeri membaca kasus-kasus di atas.  Padahal itu baru sedikit kasus yang diangkat. Diluar sana, kasus serupa  masih banyak terjadi. Dari kasus-kasus ini, kita memiliki gambaran tentang dunia remaja yang saat ini sangat dekat dengan gaya hidup hura-hura.  Saking melekatnya,  demi mendapatkan semua itu, remaja yang pendek akal akan menempuh dengan segala cara.  Tak perduli salah benar. Selagi itu bisa memuluskan niatnya mendapatkan kesenangan,  maka akan dilakukan.  Atau dengan kata lain,  dunia remaja kini dalam pasungan gaya hidup hedonisme. 

Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

Maraknya remaja yang terjangkiti virus hedonis,  tak lepas dari pengaruh lingkungan sekitar yang memang telah terwarnai sistem hidup kapitalisme yang berakidah memisahkan agama dari kehidupan (sekulerisme). Hedonisme merupakan salah satu nilai yang teradopsi dari sistem ini. Sikap hedonis muncul karena salah mengartikan makna kebahagiaan, sehingga terjebak pula pada kesalahan sikap dalam memenuhinya. Lantas apa makna kebahagiaan yang benar? 
Sebagai ummat muslim kita wajib berbangga.  Islam tak hanya berfungsi sebagai agama,  lebih dari itu Islam juga berfungsi sebagai ideologi yang memiliki pandangan-pandangan kehidupan yang khas sesuai dengan aqidah Islam. Dalam Islam bahagia dimaknai meraih keridhoan Allah. Seseorang dikatakan bahagia ketika ia bisa meraih keridhoan Allah,  penciptanya. Langkah meraih keridhaan dilakukan dengan jalan ketaatan,  mentaati seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh laranganNya. Dengan memahami makna kebahagiaan secara benar,  kita akan mewujudkannya dengan langkah yang benar pula sesuai dengan syariat Islam.

Siapa yang tak kenal Ali bin Abi Thalib ra. Dan Muhammad Al Fatih. Secuil contoh pemuda yang memaknai kebahagiaan secara benar.  Hingga mereka mampu menggapai kebahagian itu dengan cara yang Allah ridhoi yakni mengisi masa muda dengan hal-hal produktif sesuai dengan syariat Islam. Ali ra mengisi masa mudanya dengan bekerja keras menuntut ilmu dan tsaqafah Islam. Dengan bimbingan Rasulullah saw, ali ra tumbuh menjadi pemuda cerdas,  berwawasan luas hingga kelak mendapat julukan mulia dari rasulullah yaitu pintu ilmu. 

Serupa dengan ali ra, sosok Muhammad Al Fatih menempa masa remaja dengan menuntut ilmu dan mempersiapkan dirinya sematang mungkin, untuk mewujudkan visi menjadi panglima perang penakluk konstantinopel. Terdidik dengan visi tersebut,  membuat Al Fatih bersungguh-sungguh melayakkan diri. Melakukan berbagai upaya seperti mempelajari berbagai bahasa dan mendalami taktik dan strategi perang. Hasilnya beliau hafal 8 bahasa dan diusia 12 tahun menjadi remaja yang matang politik. Usaha keras yang berbuah manis,  hingga kelak Allah izinkan Al Fatih muda menjadi salah satu panglima terbaik sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah 825th sebelumnya. 

Inilah sosok-sosok pemuda yang berhasil mengisi masa remaja sesuai dengan tuntunan Islam dan terbentuk dalam penerapan sistem Islam. Meraih kebahagiaan hakiki bervisi ukhrawi, bersudut pandang Islam. hingga tak terjebak pada langkah menggapai kebahagiaan yang salah.  

Kebahagiaan semu berbalut nafsu,  hanya akan membuat diri meluncur pada kehancuran masa depan. Motto "muda foya-foya,  tua kaya raya,  mati masuk syurga" hanyalah alat kampanye hedonis untuk membius kaum muda hingga terbentuk remaja minim produktifitas dan minus prestasi. Atau dengan kata lain,  hedonis bikin kaum muda habis. Jadi musti dicampakkan. Dan itu berarti pula, Sistem Islam yang membawa pada kejayaan musti diterapkan. Mari temans,  kita perjuangkan! 



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!