Wednesday, March 21, 2018

Ghouta Sekarat, Bangkitlah Sobat!!



Oleh: Erna Ummu Azizah (Komunitas Peduli Generasi dan Umat)

Sobat, pernah ga sih melihat anak-anak kecil menangis, tubuhnya terluka, orangtuanya telah tiada. Dia menatap ke kanan dan ke kiri tapi ga ada satu pun orang yang ia kenal, sementara luka di tubuhnya meneteskan darah, air matanya pun terus mengalir, memanggil-manggil ayah bundanya..Ya Allah Ya Robb rasanya ga kuat ngebayangin..gimana kalau si kecil itu adalah adik kita, saudara kita..
Dan ternyata gambaran itu bukan cerita khayalan lho, Sob..

Ini kisah nyata saudara kita di Ghouta. Mereka saat ini tengah terzolimi oleh orang-orang yang kejam, tak punya belas kasihan. Bayangin aja Sob, dengan dalih memburu pemberontak, mereka dibombardir siang malam tanpa henti, ga cuma mortir dan peluru, bahkan senjata kimia pun harus menembus tubuh-tubuh mungil tak berdosa. Mereka kesakitan, tersiksa seolah mati perlahan. Bayan Rehan, seorang guru, kepala Women's Office Douma dan aktivis hak perempuan berbagi pengalaman mengerikan antara hidup dan mati selama berlindung di bawah tanah saat Ghouta Timur digempur serangan udara. "Jika kalian ingin membunuhi kami, cepatlah, kami sakit menunggu giliran kematian," tulisnya dalam
sebuah artikel opini di CNN, Selasa (27/2).

Tak hanya itu, bahkan beredar gambar-gambar korban kezoliman yang bikin miris, sekuat-kuatnya hati pasti tak akan sanggup menahan tangis. Ada gambar tangan seorang ayah memegang erat tangan
anaknya ketika dibom. Gambar itu berupa potongan tangan tanpa tubuh. Gambar itu menjadi saksi kebisuan dunia akan apa yang dilakukan penjahat perang rezim Bashar Assad dan Putin (Rusia). Gambar itu bukti hilangnya rasa kemanusiaan di kalangan sebagian besar dunia. Dunia diam seribu bahasa, begitu pun penguasa-penguasa muslim. Tidakkah hati mereka tergerak untuk menolong kaum muslim di Ghouta, ataukah benar mata dan hati mereka telah mati oleh kekuasaan duniawi.

Padahal Rasulullah pernah bersabda:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kelembutan dan kasih sayang di antara mereka ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota sakit, maka seluruh anggota turut merasakannya dengan tetap
berjaga dan demam.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Inilah yang terjadi kala cahaya itu redup. Cahaya Islam yang seharusnya menyinari seluruh penjuru alam. Cahaya yang telah merubah kejahiliyahan menjadi peradaban yang cemerlang. Cahaya yang telah 
memanusiakan manusia, sehingga hati yang begitu keras menjadi lembut, penuh cinta dan kasih sayang. 

Ya, cahaya itu kini telah redup, bahkan hampir padam. Hingga dunia akhirnya dipenuhi kegelapan. Kezoliman demi kezoliman pun dipertontonkan.

Dan kita generasi muda, akankah kita pun diam saja?

Wahai pemuda Islam, bangkitlah!! Kalianlah generasi penerus kaum muslim. Di tangan kalianlah cahaya itu akan bersinar terang kembali. Jangan terlena dengan nikmat dunia, jangan larut dengan kesenangan 
yang fana. Singsingkan lengan baju kalian, jadilah agen perubahan. Buatlah cahaya itu terang kembali. Lakukan apa yang bisa kalian lakukan. Bukalah lisan-lisan kalian untuk menyampaikan kebenaran. Jangan 
diam, karena kezoliman akan terus ada, bukan kerena banyaknya orang jahat, tapi diamnya orang-orang baik.

Kaum muslim butuh perisai yang akan menjaga dan melindungi setiap tetes darah mereka. Dialah sang khalifah, pemimpin amanah penerap Islam kaffah. Janji Allah Sang Pencipta alam semesta dan juga 
kabar gembira Rasulullah bahwa akan tegak kembali khilafah 'ala minhajjin nubuwwah. Semoga kitalah generasi yang akan mewujudkannya. Hingga tak ada lagi cerita Ghouta sekarat. So, bangkilah Sobat!!




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!