Sunday, March 18, 2018

Ghouta Membara (Lagi), Hanya Khilafah Solusinya




Oleh: Wati Umi Diwanti*


Bukan 1, 10 atau 100. Sudah 1000 lebih nyawa melayang di Ghouta. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) menyebutkan pertempuran yang telah memasuki hari ke-21 itu telah menelan 1.099 korban jiwa (m.republika.com, 11/02/18). Namun hingga saat ini belum ada pembelaan berarti oleh dunia. Sebagian mereka hanya bisa mengecam bahkan sebagian lainnya hanya berdiam. Jikapun ada bantuan, hanya sebatas saluran makanan dan obat-obatan.

Menderitanya Ghouta bukan pertama kalinya. Bahkan di kota dan negeri muslim lainnya pun kerap terjadi. Aleppo, Gazza, Rohingya, siapa yang tak tahu beritanya? Roket-roket diluncurkan meluluhlantakkan tempat kediaman. Akses layanan publik dan rumah peribadatan pun tak luput dari serangan.

Sementara bantuan obat dan makananpun sering mengalami hambatan. Dan jikapun lancar, apa gunanya? Diobati tapi kemudian dibom kembali. Luka lagi, obati lagi dan dibiarkan untuk diserang kembali. Terus dan terus berulang.

Sungguh tidak habis pikir kenapa bisa tak ada satupun negara bahkan yang bergelar adidaya mampu menghentikan serangan brutal tak bermoral ini. Dengan melabeli gerakan oposisi sebagai teroris. Menjadi pembenaran untuk menumpahkan darah warga sipil. Termasuk perempuan dan anak-anak rak berdosa. Yang seharusnya dilindungi justru dibunuhi.

Dewan Keamanan PBB mati gaya. Seolah tak ada cara kecuali gencatan senjata. Dan itupun hanya meminta tanpa kuasa memaksa. Padahal korbannya sudah ribuan manusia. Dunia pun terlihat santai saja. Apakah karena korbannya adalah muslim?

Jauh berbeda jika korbannya non muslim. Jangankan seribu, hitungan jari saja dunia ribut tak terhingga. Inikah yang dinamakan nilai universal. Sistem yang katanya mampu meberikan jaminan HAM bagi siapa saja. Ah, kami tak percaya. Hingga saat ini tak satupun buktinya dapat kami jumpa.

Lalu, salahkah jika umat ini merindukan sosok pemimpin dunia yang benar-benar mampu melindungi umat manusia. Seorang pemimpin yang pandangannya jauh ke negeri akhirat. Yang kekuasaannya semata untuk memenuhi seruan Sang Penguasa Jagat. Menjadi penyelamat seluruh umat. Dengan berpegang teguh pada syariat.

Perpaduan sosok bertaqwa dan sistem sempurna buatan Sang Pencipta. Sistem Khilafah namanya! Sebagaimana para khalifah sepeninggal Rasulullah sudah membuktikannya. Manusia hidup dalam jaminan keamanan dan pemenuhan kebutuhan. Pemimpin yang tak cuma mengecam atau sekedar kirimkan makanan. Namun sigap turunkan pasukan. Menghentikan setiap kezhaliman.

Dalam Islam jangankan seribu, satu nyawa saja melayang tanpa hak, wajib dituntut balas. Jangankan sampai ratusan wanita terzolimi, satu wanita digoda saja negara turunkan pasukannya. Hingga tak satupun yang berani semena-mena.

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ.
Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim. (As-Sunanul-Kubra lin-Nasâ`i)

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Baqarah: 190)

Untuk itu, wahai penguasa negeri muslim. Penuhilah seruan Allah untuk menjadi perisai umat. Dan itu tak  mungkin diwujudkan dalam sekat nasionalisme.  Lepaskanlah dinding ashobiyah itu. Bersatulah dalam ikatan aqidah. Jadikan syariah sebagai tuntunan. Rasulullah sebagai panutan. Wujudkan kembali khilafah Islamiyah ala minhajin nubuwwah. Niscaya tak hanya Ghouta yang selamat. Tapi seluruh umat diseluruh penjuru jagat.


إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

*Pengasuh MQ.Khodijah Al-Qubro, Revowriter Kalsel-Martapura



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!