Thursday, March 22, 2018

Ghenosida di Langit Ghouta

Oleh : Rasmawati Asri (Aktivis Dakwah Remaja)


Sejarah mencatat bahwa Penggunaan gas klorin oleh pasukan Jerman di Ypres, Belgia, pada tahun 1915 menjadi salah satu alasan penyusunan Protokol Jenewa 1925. Ini adalah perjanjian internasional pertama yang melarang penggunaan senjata kimia dalam perang. Suriah menandatangani protokol pada 1968, sementara AS tidak meratifikasi sampai 1975. Namun kesepakatan ini tak mampu mencegah sejumlah negara untuk memproduksi dan menggunakan senjata ini.


Meskipun senjata kimia tidak sulit dan mahal dibuat, tapi praktek penggunaannya justru lebih rumit. "Jauh lebih rumit melepaskan senjata kimia dibanding senjata lain," kata David Roberts, Direktur Royal United Services Institute for Defence and Security Studies berbasis di Qatar. (Radio.alfatah.net)


Pada kasus serangan di Ghouta, persenjataan kimia yang digunakan adalah klorin. Serangan ini sampai menutupi langit di Ghouta Timur dan penembakannya difokuskan pada tempat persembunyian. Serangan ini terus-menerus terjadi pada warga sipil, akibatnya anak-anak dan para wanita menjadi korban yang tidak berdosa. 


 Serangan kimia kedua terjadi di kota Arbin di Ghouta di pinggiran kota Damaskus setelah serangan pertama senjata kimia yang menggunakan klorin, ini adalah yang paling parah yang terduga terjadi dalam hitungan hari. Dengan menggunakan klorin yang sangat berbahaya dan membuat ratusan warga terbunuh, dari 1.099 korban tewas tersebut termasuk di antaranya 227 anak dan 154 perempuan.


Pada tempat penampungan dan masjid bawah tanah dan tempat persembunyian orang, karena pengeboman yang terus-menerus," Abdelmalik Aboud, seorang aktivis di kota Douma, dalam wawancara dengan Aljazirah, Ahad (11/3).


Fakta diatas menjelaskan bahwa serangan kimia memang sudah lama dilarang dalam peperangan. Tapi bukan berarti negara penjajah seperti Amerika dan sekutunya tidak memproduksinya, terbukti bahwa perjanjian di Jenewa tahun 1925 tidak mampu mencegah pembuatan senjata kimia. Bahkan negeri penjajah memproduksi senjata kimia untuk melawan negeri-negeri muslim seperti Suriah, Gaza, Palestina, Irak, termasuk Ghouta. Padahal Rasulullah saw. Bersabda. Dari Abu Darda radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wasallam bersabda : “Sesungguhnya tempat berlindung kaum Muslimin pada hari huru hara adalah di Ghouta, sebelah kota yang disebut sebagai Damaskus. Tempat itu adalah salah satu tempat terbaik wilayah Syam.” (HR. Ahmad No. 21725, Abu Dawud No. 4298)


Hadist diatas menyebutkan bahwa Ghouta adalah tempat terbaik saat terjadinya hari huru hara, tapi yang terjadi sekarang Ghouta beserta kaum muslimin didalamnya dihabisi nyawanya oleh negara penjajah.


Sungguh bahwa saudara-saudara kita di Ghouta membutuhkan bantuan, bantuan yang bahkan lebih dari bantuan logistik, yaitu bantuan tentara dari seluruh kaum muslimin dipenjuru dunia, tapi apa daya pemimpin-pemimpin kaum muslim tetap diam, seolah tidak terjadi apa-apa pada saudara seimannya. 


Sekat nasionalisme yang membuat kaum muslimin dipenjuru dunia tidak bisa membantu saudara-saudara muslim di Ghouta. Para pemimpin negeri-negeri muslim seolah menganggap bahwa itu adalah konflik internal suatu negara yang tidak perlu ikut campur. Padahal Rasullullah saw telah bersabda "Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang Muslim. (HR at-Tirmidzi dan an-Nasa'i)


Besarnya nilai nyawa seorang Muslim di sisi Allah sangatlah besar, sampai-sampai kehancuran duniapun jauh lebih ringan daripada terbunuhnya nyawa seorang muslim. Tapi Bagaimana dengan berjuta-juta jiwa kaum muslimin yang telah tewas akibat serangan dari negeri penjajah? Tidakkah ini berarti bencana besar bagi kaum muslimin di seluruh dunia?. Inilah akibat jika kaum muslimin telah dipecah dan terkotak dengan sekat negara. 



Hanya Islamlah yang mampu menyatukan dan melindungi kaum muslimin dalam satu kepemimpinan. Sebab dalam Islam keamanan ada ditangan kaum muskimin, maka jika terjadi ketidak adilah terhadap saudara sesama muslim maka muslim yang lainnya pasti akan ikut melindungi. 
Wallahu a'lam bishowab

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!