Sunday, March 18, 2018

Generasi Hebat Peduli Umat



Oleh : Dini Prananingrum (Pemerhati Generasi & Anggota Komunitas Revowriter)


Ooo, Astaga Apa yang sedang terjadi, Astaga.....hendak kemana semua ini, bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli, mudah putus asa dan kehilangan arah

Ada yang pernah dengerin lagu ini ga Sob? Lagu jaman old yang ngehits banget di jamannya. Hmmm... bukan mau bahas siapa penyanyi ya, tapi liriknya itu lho yang bikin nyesek dan menohok banget seakan menggambarkan realita generasi sekarang. 

 Memang tidak semuanya sih generasi muda seperti gambaran lirik lagu tersebut, tapi tren setiap tahunnya menunjukkan semakin maraknya generasi muda yang bertindak amoral, menjadi pengekor hedonisme barat dengan lebih suka hura-hura, pacaran, seks bebas, memakai narkoba, genk motor, klitih bahkan tega membunuh. Tidak mau peduli dengan dampak perbuatan amoral mereka yang merugikan banyak pihak, yang penting happy dan jadi trensetter. 

Lihatlah remaja yang mudah terpengaruh tren yang sebenarnya sangat berbahaya. Contohnya klitih dikalangan pelajar. Belum lama ini sebanyak 24 orang gerombolan klitih dari kalangan pemuda dan pelajar yang tengah nongkrong di Gang Hastina Demangan Gondokusuman Yogyakarta tertangkap petugas kepolisian, Kamis (15/03/2018) dini hari. Dari puluhan orang tersebut beberapa diantaranya kedapatan membawa senjata tajam berupa pedang, clurit dan sabuk berkepa gir serta minuman keras. Diduga gerombolan ini hendak berbuat onar dan akan melakukan penyerangan kepada kelompok yang dianggap musuh mereka (KRJogja.com). Fenemona klitih  dikalangan pelajar ini semakin menguatkan potret generasi ababil yang mengalami krisis identitas, kehilangan arah dan jati dirinya. 


Remaja rapuh mudah putus asa pun semakin banyak dijumpai kini. Akhir desember 2017 ditemukan kasus percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh seorang remaja di di Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul dengan cara menusuk dadanya dengan pisau dapur. Yang ga kalah miris Sob, di awal Maret 2018 seorang pemuda (RNC) tewas bunuh diri di Depok. Kelakuan dua remaja putus asa ini dikarenakan penyebab yang sama, yaitu rasa sakit hati setelah putus cinta.
Menurut Arist Merdeka Sirait, Ketua umum Komnas Perlindungan Anak, dari maraknya kasus bunuh diri pada anak dan remaja, penyebab terbanyaknya adalah urusan putus cinta remaja, frustasi akibat ekonomi, anak yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis dan masalah sekolah.

Sekulerisme Menjangkiti Remaja

Miris ga sih Sob lihat kondisi seperti itu? Jangan berfikir mumpung masih muda saatnya hura-hura dan suka-suka tanpa aturan. Hmmm kalo pola pikirnya seperti itu jangan deh ya, ini namanya pemborosan tidak bermanfaat bin tidak ada gunanya sama sekali malah bisa jadi nyumbangin dosa saja. 


Remaja zaman now banyak yang masih berprinsip “ini gue, terserah gue”, tubuh-tubuh gue terserah mau diapain, mulut-mulut gue terserah mau nenggak apa, yang rugi kan gue sendiri”. Waduh kalau seperti ini prinsipnya, bisa darurat tingkat dewa nih negeri. Sikap individualis yang menjangkiti remaja lahir dari sekulerisme (paham yang memisahkan agama dari kehidupan) yang mengakibatkan remaja hilang kepekaannya, cuek bebek dengan sekitarnya, mudah putus asa hingga krisis identitas. 


Kurikulum pendidikan yang sekuler dan pergaulan remaja yang serba bebas ala liberal telah berhasil meracuni remaja muslim dengan kebebasan bertingkah laku dan berpendapatnya, yang semakin menambah deretan remaja minus dari pribadi yang berkarakter mulia, menjauhkan dari ketakwaan pada RabbNya dan penyumbang masalah negara.

Generasi Peduli Umat

Sob, kita ini mahluk sosial yang selalu hidup berdampingan dengan orang lain, sehingga tidak bisa hidup “semau gue”. Saat membutuhkan yang lain, maka sudah pasti kita akan berinteraksi dengan siapapun. Sama ketika kita melakukan kemungkaran pasti dampaknya tidak hanya akan menimpa diri kita sediri tapi juga orang lain, bahkan mungkin keluarga kita sendiri. Dalam QS Al-Anfal : 25, Allah swt berfirman: ”Dan peliharalah diri kalian dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” Ayat ini menegaskan bahwa kemunkaran yang merajalela tidak hanya akan berakibat buruk kepada para pelakunya saja, tetapi juga keseluruhan masyarakat akan terkena adzab-Nya jika tidak berusaha merubah kemunkaran tersebut. Aiih syeremm banget kan Sob? 


Rasulullah SAW juga pernah memberikan sebuah ilustrasi tentang pentingnya mengubah kemungkaran yang kita lihat dalam sebuah masyarakat. Beliau mengumpamakan sebuah masyarakat sebagai sebuah kapal beserta para penumpangnya. Suatu ketika, beberapa orang yang berada di geladak dasar kapal hendak melubangi kapal untuk bisa mengambil air laut tanpa harus susah payah naik ke geladak atas. Jika seisi kapal membiarkan tindakan ini, pasti kapal tersebut akan karam. Bukan hanya beberapa orang yang melubangi kapal saja yang akan tenggelam, tetapi semuanya akan ikut tenggelam. Tetapi jika rencana melubangi kapal itu dicegah, akan selamatlah seluruh penumpangnya. Demikianlah kira-kira permisalan bagi kemunkaran dalam sebuah masyarakat (Hadits An-Nu’man bin Basyir yang dikenal dengan Hadits As-Safinah ’Hadits Kapal’ riwayat Al-Bukhari).


Nah Sob, dengan segala potensi yang kalian miliki sebagai generasi muda, sudah saatnya potensi tersebut digunakan untuk hal-hal positif, lebih perhatian terhadap orang lain dan kondisi di sekitar kalian. Sibuk mendekatkan diri pada Allah. Mengkaji Islam kaffah, Qiyamul La’il dan dhuha menjadi aktivitas keseharian, berkumpul dengan kelompok yang senantiasa mengajak pada kebaikan, serta dakwah amar ma’ruf nayhi munkar menjadi habbits kalian. Agar masa muda kalian bernilai manfaat dan berbuah SurgaNya. So.....yuks move on Sob, jadi generasi hebat peduli ummat, calon pemimpin peradaban gemilang.

Wallahu A’lam Bishowab



Berikut bioadata saya : 
Nama : Dini Prananingrum. ST 
Alamat : Kota Yogyakarta
Aktivitas : Pemerhati Generasi, Pembina Pengajian Keluarga Sakinah Yogyakarta serta Anggota Komunitas Revowriter 
No HP : 085764092009


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!