Sunday, March 18, 2018

Dewasa Bukan Kepastian, Dewasa Itu Pilihan, Dewasa Itu Tuntutan




Oleh : Fitriana (Siswi SMKN 3 Banjarmasin)


Widih. Kata dewasanya direpetisi mulu tuh nyampe tiga kali. Man-temon, kira-kira apa sih yang muncul dalam benak dan terlintas bebas di pikiran kita kalau denger about “Dewasa”? Bagaimana dengan gaul? Galau? Idealis? Perubahan fisik plus mental? Bukan anak-anak? Bukan remaja? Tuir? Eits, maksudnya tua hehe. Pasti banyak dong ya segala bentuk pemikiran yang mendarat terus terbang jauh melintas melewati batas cakrawala dan bertebaran di sana. Waduh. Nyontek KBBI, yok. Tapi nyontek gak boleh dijadikan sebagai kebiasaan lo. Jadi, Menurut KBBI, dewasa adalah sampai umur; akil balig(bukan kanak-kanak atau remaja lagi); telah mencapai kematangan kelamin; matang(tentang pikiran, pandangan, dan sebagainya).


Sekarang kita koreksi satu-satu deh. Apakah benar dewasa itu tentang sampainya umur alias udah bukan remaja apalagi anak-anak? Dewasa itu cuma buat yang udah tua, ya? Bener gak sih dewasa itu tentang tercapainya kematangan kelamin? Let’s cekidot lirik-lirik realita di sekitar lingkungan kita. Banyak saat ini kita temui remaja yang berpakaian as like orang tua. Dandan menor mulai dari pakek bedak sekilo kayak tepung di wajah sampai leher, whitening gigi biar matching sama muka. Katanya sih biar gak kayak antman. Gak ketinggalan tuh lipstik drakula terpoles di bibir tebal menggoda. Alis yang gak kalah tebelnya sama sinchan. Belum lagi tren-tren plastik merajalela. Ini baru penampilan kids zaman now sekuler. Belum lagi tingkah laku mereka yang luar biasa nyeleneh bahkan membuat merinding. You know lah ya what I mean, Ok. Begitu pula sebaliknya yang tua malah gak mau kalah sama yang muda. Tingkah laku kekanak-kanakan. Pakai pakaian trendi ala anak masa kini seolah-olah mereka masih muda. Usia tak mengapa, makanya sekarang ada tuh yang namanya ABG tua. Uh....Ngeri-ngeri tak sedap kalau ngeliat fakta yang serba kebalik di zaman yang katanya now ini. 


Man-temon pasti bertanya-tanya nih, kok banyak sih di sekitar kita yang begitu? Terus dewasa itu apa dong? Kita udah liat kan fakta di sekitar kita yang menunjukkan dewasa tidak hanya masalah usia. Usia kita terus saja bertambah, kita semakin tua, tapi usia tidak menjamin yang namanya pendewasaan. Belum tentu dengan bertambahnya umur kita juga turut tumbuh dewasa. Mengapa? Karena sesuai dengan judul yang penuh repetisi tadi lo. Dewasa bukan kepastian, dewasa itu pilihan, dewasa itu tuntutan. 


Dalam hidup, tentunya kita pernah dituntut untuk memilih. Misal sohib memilih antara ikut kajian-kajian Islam atau milih gaul bebas with teman yang katanya gahol. Nah, itu pun termasuk pilihan. Maka dari itu, pilihlah pilihan yang sekiranya mampu membawa kita ke surga. Memilih untuk melakukan ahsanul amaliah yang mana ada 2 syarat yang harus dipenuhi. Pertama, niat karena Allah dan Rasulullah. Kedua, caranya sesuai dengan yang telah disyariatkan. Perihal milih-memilih, ada beberapa hal yang membuat kita justru salah dalam memilih, diantaranya:


1. Diri sendiri berupa pemikiran alias mindset. Gak sedikit yang berpikiran duh aku udah terlanjur begini. Mustahil mengkaji Islam dengan keadaanku yang seperti ini. Mustahil bagiku untuk hijrah. Padahal gak gitu ya, sohib. Pemikiran yang kayak begini harus dibasmi dan diubah. Kita harus berkembang gak cuma stagnan di situ aja. Apalagi kalo udah dikuasai malas, malas belajar, malas menggali kemampuan. Padahal di usia remaja banyak potensi pada diri yang bisa digali dan dikembangkan. Kembali lagi, ini pilihan. 


2. Lingkungan baik itu teman, keluarga, masyarakat, bahkan negara.
Ada gak di sini yang suka terpengaruh sama lingkungan? Dikatain begini baper alias bawa perasaan bukannya bawa perubahan. Terkadang di saat kita memilih untuk menjadi pribadi yang dewasa ada aja tuh cibiran dari lingkungan kita. Nah, di sini pentingnya kita hanya mengikuti ukuran Allah bukan ukuran manusia. Singkatnya sih gitu.

Wah ada kata negara tuh mengundang aroma nostalgia masa lalu tuk kembali menyeruak. Menyorot balik yang terjadi di masa lalu, negara kita sekarang memakai sistem kapitalisme yang menjadi cikal bakal isme-isme lainnya dikarenakan dulu founding fathers negara kita memilih untuk menggunakan hukum buatan manusia bukan hukum Allah. Padahal kita semua harus mengakui keterbatasan akal yang dimiliki oleh manusia. Seharusnya kita menggunakan hukum yang diciptakan oleh Allah karena Allah yang mengetahui fitrah kita sebagai manusia. Allah turunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi kita. Coba perhatikan, betapa tebalnya Al-Qur’an. Mungkinkah kitab setebal itu hanya mengatur tentang shalat, puasa, zakat, haji, dan perkara ibadah lainnya? Jawabnya tidak. Di dalam sana juga ada perintah menutup aurat, menjauhi perbuatan zina, qisash, dll. Semua perintah dan larangan dari Allah harus kita taati seluruhnya karena Islam bukan agama prasmanan yang menyenangkan diambil, sedangkan yang tidak disuka ditolak mentah-mentah dengan berbagai dalih. Apalagi kalau udah termasuk kategori mengancam kekuasaan, yang namanya ajaran Islam langsung dikriminalisasi sampai bikin Islamophobia menjangkiti muslim itu sendiri.
 
Oke, man-temon udah tau dong ya bahwa Islam tidak sesempit itu. Islam itu komprehensif. Islam mengatur dari bangun tidur hingga bangun negara. Islam juga mengatur dari masuk wc hingga masuk ke liang kubur. Makanya, udah waktunya bagi kita untuk segera berislam secara kaffah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah/2:208 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Kembali lagi nih ke materi awal yakni dewasa. Intinya dewasa itu adalah kematangan pikiran, pandangan, mental, dan fisik sehingga kita dapat menyikapi segala sesuatu problematika dalam hidup. Menjadi dewasa tidak ditentukan oleh usia melainkan pilihan bagi kita dan sekaligus tuntutan. Nah, kita yang saat ini menjabat sebagai remaja sudah semestinya menuntut diri kita sendiri untuk memilih pilihan sekiranya kita kepingin tumbuh dewasa gak sekedar usia aja. Kita sebagai generasi Islam tentunya memilih tumbuh dewasa dengan membawakan identitas keislaman, memilih tumbuh dengan hati yang terpaut peribadatan kepada Allah. Maksudnya kita sebagai generasi Islam semestinya memilih aktivitas yang bernilai ibadah daripada yang mubah apalagi maksiat. Perkara ibadah dalam Islam tidak hanya tentang shalat, puasa, atau dikit. Melainkan juga aktivitas manusia yang bisa mendatangkan pahala dan ridho Allah. Misalnya menuntut ilmu Islam di kajian Islam untuk memperdalam tsaqofah Islam. Kegiatan yang demikian pun dapat bernilai ibadah asal memenuhi 2 syarat ahsanul amaliah.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!