Monday, March 26, 2018

Cita-cita Besar Si Mungil

Oleh : Sunarti (Anggota Revowriter)



Umurnya baru sekitar 1,5 tahun, sudah berjalan tegak dan sudah "tatag" telapak kakinya. 


Memang bicaranya belum begitu banyak,  tapi sudah beberapa kata dia ucapkan. Baru satu suku kata,  moh,  mbah,  nis,  wes, mom,  aem,  num. 



Kemauannya tinggi luar biasa. 
Terlihat dari upayanya untuk meraih benda-benda di sekitarnya dengan kemampuan yang dimilikinya.  
Salah satu semangatnya adalah memakai sandal milik orang dewasa.  Betapa dia berusa memasukkan kakinya yang mungil dengan susah payah. Setelah berhasil dipakainya, dia berdiri dan melangkahkan kaki. 


Secara logika orang dewasa,  dia akan jatuh karena tumpang tindih kebesaran sandalnya. Tapi ternyata tidak,  dia berjalan berhati-hati sembari mengatur kaki dan sandal yang dipakainya agat tidak saling tindih.  


Masyaallah,  dia bisa berjalan jauh dengan sandal ukuran dewasa,  bahkan bisa menaiki dan menuruni tanjakan tanpa terjatuh. 
Luar biasa Nak,  kamu belajar jalannya  !



Semangat yang luar biasa dimiliki oleh seorang anak balita. Meskipun kadangkala tidak bisa dimengerti orang tua,  tapi ini pembelajaran yang nyata. Dia berusaha tetus sampai apa yang dituju bisa diraihnya. Tak pernah putus asa walau kadang geloyoran, tapi tetap menjaga kesembangan,  hingga dia tidak terjatuh.


Ditambah mandi peluh,  dia tetap menjaga langkahnya,  ke satu arah. Sambil dilihatnya teman di belakangnya untuk diajak bersama. Meski dengan satu anggukan atau lambaian tanganmu, kau isyaratkan temanmu menyertaimu. 
Berjalan dan berjalan dengan kehati-hatian.

Sebuah cita-cita membutuhkan upaya yang nyata dari orang yang mengidamkannya. 


Cita-cita mulia tidak akan didapat hanya dengan berangan-angan semata.


Kebanyakan orang justru berangan atau bercita-cita setinggi langit tapi tidak ada upaya yang dilakukan. 
Memang,  sebuah keberhasilan itu suatu keadaan yang bisa jadi adalah Qadla' Allah. Namun banyak yang lupa hukum kausalitas,  sebab akibat. 


Di zaman now,  misalnya,  banyak yang mengagungkan aturan buatan manusia. Sehingga membutuhkan banyak aturan-aturan yang dinilai harus sesuai dengan perkembangan zaman. 


Pergaulan bebas salah satunya.  Beberapa kelompok pengusung ide kebebasan menganggap ide-ide yang tidak sejalan dengan peradaban Barat,  dianggap tidak modern. Mereka dengan getol memperjuangkan ide kebebasan di tengah-tengah kehidupan umat.


Cita-cita mereka untuk memasukkan peradaban di tengah-tengah kaum muslimin merupakan cita-cita yang tinggi, melihat latar belakang kaum muslimin yang memiliki ketangguhan dan kekuatan dalam berbagai hal. 



Kekuatan aqidah, kesamaan perasaan,  pemikiran dan peraturan yang sudah mendarah daging di dalam dada kaum muslimin. 
Selain memiliki hal-hal tersebut,  juga memiliki kekuatan militer yang tangguh dan pantang menyerah. Jiwa-jiwa yang mengharapkan syahid,  sudah tertanam kuat sejak masa Rosulullah SAW membawa Islam.


Orang-orang pencetus dan pengemban ideologi sekulerisme berusaha terus dan terus untuk menggempur kekuatan kaum muslimin. 



Dimulai dari th 1800an,  mereka sudah berusaha untuk menggempur kekuatan fisik kaum muslimin.  Namun upaya-upaya ini gagal. 
Dan kegagalan ini tidak membuat mereka mundur.  Mulailah perencanaan demi perencanaan mereka susun sembari mencari kelemahan kaum muslimin. 


Hingga suatu ketika mereka menemukan kelemahan kaum muslimin yang terletak pada kesatuan pemikiran yaitu aqidah Islam. 



Mereka sangat paham jikalau kesatuan ini runtuh,  maka runtuhlah seluruh peradaban kaum muslimin.  Maka dari itu mereka menemukan jalan untuk menjauhkan kaum muslimin dari aqidahnya, dengan jalan menjauhkan aturan Allah dengan aturan dunia (sistem ekonomi,  keuangan,  pergaulan dan tata negara). 


Sedikit-sedikit namun pasti kaum muslimin mulai meninggalkan Islam sebagai sebuah aturan. 


Aturan Allah hanya digunakan pada aturan yang menyangkut hubungan manusia dengan Allah (ibadah) saja 



Hingga sekarang mereka masih kuat menggenggam cengkeramannya di seluruh dunia. 


Mereka terus berusaha dengan berbagai cara, agar tetap berlangsung sistem ajaran mereka. 


Menilik tangguhnya mereka mengemban ide sekulerisme, hendaknya menjadi cambuk bagi kita kaum muslimin. 



Mereka yang tak kenal lelah menyampaikan ide sekulerisme (yang sudah jelas berakibat kerusakan), masih percaya diri. 
Lantas bagaimana kita yang kaum muslimin justru tidak memahami tentang kondisi ini  ?


Bukankah sikap yang tangguh,  pantang menyerah harus kita miliki untuk melawan hegemoni mereka  ?



Apakah kita tak mau belajar dari cita-cita balita mungil ? 
Di mana perasaan kita sebagai muslim melihat kerusakan di zaman now  ?


Sebagai kaum muslimin,  hendaknya kita bangga dengan peradaban Islam yang mulia.



Ibarat seorang anak kecil yang harus belajar dan belajar untuk bisa menghadapi kenyataan dunia,  maka demikianlah sikap yang harus similiki oleh kaum muslimin.  Meskipun sekarang tampak sangat sulit,  namun harus tetap memiliki semangat yang kuat untuk bangkit. Karena yang sulit belum tentu tidak bisa,  tinggal bagaimana kita mau berperan di mana dan berusaha sekuat apa. 

Sudah bukan saatnya lagi berselisih masalah fiqih dan ushul fiqih,  perbedaan golongan atau organisasi.  

Sudah waktunya bersatu dan bahu membahu,  mempererat silah ukuwah untuk mengemban peradaban Islam dan mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah umat di seluruh dunia. Inilah seharusnya yang menjadi cita-cita besar kaum muslimin di seluruh dunia. 
Waallahu alam bisawab. 



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!