Bimbing Fitrah Dengan Fikrah



Oleh : Iranti Mantasari, BA.IR (Founder Ruang Muslimah Menulis)

 
Setiap manusia pasti memiliki sepaket fitrah yang memang dianugerahkan oleh Allah kepada kita ciptaanNya yang sempurna. Rasa kantuk, lapar, haus yang tercakup dalam kebutuhan jasmani (hajatul ‘udhawiyah); rasa ingin dicintai dan mencintai, ingin menjadi yang utama di antara banyak orang, ingin menyucikan sesuatu yang dianggap lebih darinya (yang tercakup dalam gharaiz) kesemuanya merupakan hal-hal alami yang dimiliki manusia. Seluruhnya juga akan menuntut kita untuk memenuhi dorongan fitrah tersebut, karena jika tak dipenuhi bisa berdampak negatif pada diri dan jiwa manusia, seperti gelisah bahkan mengancam nyawanya. Fitrah pada manusia ini mutlak adanya, tak bisa dicabut namun hanya bisa dialihkan.
 
 Hal yang tak kalah penting yang dimiliki oleh manusia adalah akal. Akal menjadi pembeda manusia dengan ciptaan Allah lainnya, termasuk dengan malaikat yang sejatinya selalu taat pada Allah. Ia jugalah yang membuat Allah menjadikan manusia sebagai khalifah fil ardh atau khalifah di muka bumi. Ketika manusia menggunakan akalnya secara maksimal untuk berpikir, maka akan terbentuklah sebuah fikrah atau pemikiran. Fikrah ini sepatutnya dijadikan manusia sebagai ‘pemimpin’ sebelum ia melakukan segala sesuatu. Tugas pemimpin secara umum seperti yang kita tahu adalah untuk membimbing dan mengarahkan pasukan di bawahnya untuk melakukan suatu perbuatan.

Sebagai seorang Muslim, sudah merupakan keharusan bagi kita untuk menjadikan aqidah Islam sebagai landasan di seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam aspek berpikir. Berpikirnya manusia menggunakan landasan Islam akan menghasilkan sebuah pemahaman yang mendalam bahwa segala sesuatu di dunia tak boleh terlepas dari napas Islam. Pemikiran dan pemahaman Islami inilah yang diperlukan manusia dalam menjalani kehidupannya. Pemenuhan fitrah-fitrah manusiawi juga mutlak harus didasarkan pada bimbingan dari pemikiran dan pemahaman ini. Sekali saja aktivitas pemenuhan fitrah itu keluar dari koridor fikrah Islam, maka bisa dipastikan seluruh pemenuhannya hanyalah berdasar hawa nafsu semata.
Fikrah yang bersih, suci, dan lurus ini tidak didapatkan dengan diri kita yang senantiasa berkubang pada pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam. Tidak murninya fikrah seseorang akan berdampak pada tidak luhurnya perbuatan seseorang itu. Islam memerintahkan kita agar senantiasa menjadikan syariat sebagai barometer dalam melakukan suatu perbuatan. Saat manusia hendak memilih untuk melakukan suatu perbuatan atau bahkan memilih untuk meninggalkan sesuatu, di saat itulah peran fikrah ini dibutuhkan. Fikrah Islam yang lurus akan membimbing manusia untuk menyandarkan keputusannya pada wahyu Ilahi. Sebaliknya, ditinggalkannya fikrah Islam ini berpotensi membuat manusia memenuhi fitrahnya di jalan yang salah bahkan mampu mengikis nilai kemanusiaannya.

Maraknya fenomena perzinahan dalam kehidupan bermasyarakat saat ini adalah contoh nyata pemenuhan fitrah yang tak dibimbing oleh fikrah Islam. Laki-laki dan perempuan merasa bahwa mereka sah-sah saja melakukan perbuatan itu dengan alasan untuk memenuhi fitrah manusiawinya. Dengan dalih saling menyukai dan menyayangi –yang sebetulnya itu adalah hawa nafsu- mereka membolehkan diri mereka untuk melakukan perbuatan hina itu. Padahal sudah kita ketahui bahwa Islam memberikan batasan yang jelas dan sanksi yang tegas terakit interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.
 
Pemenuhan fitrah tanpa bimbingan fikrah ini juga sejatinya merupakan salah satu misi dari musuh-musuh Islam yang bertujuan untuk menjauhkan kaum Muslimin dari agamanya sendiri. Mereka menghembuskan ide-ide bathil bahwa setiap fitrah yang ada dalam manusia itu harus dipenuhi bagaimanapun caranya. Dari hembusan ide yang demikianlah, fikrah Islam secara perlahan tapi pasti berusaha digantikan dengan fikrah yang berasaskan kebebasan ataupun kepuasan materil semata. Allah dan agama tak perlu ikut campur dalam aktivitas pemenuhan fitrah ini, keduanya cukup mengatur ibadah secara individual. Sayangnya, banyak dari kaum Muslimin yang akhirnya menelan ide tersebut secara menyeluruh.

Manusia, khususnya umat Islam sudah sepatutnya menyadari bahwa keberadaan fikrah dalam dirinya merupakan perkara yang krusial untuk dijaga kemurniannya. Fikrah yang wujudnya tak nampak ini sangat rentan untuk disusupi ide-ide merusak seperti di atas. Oleh karena itu, kaum Muslimin telah digariskan dan dijelaskan bahwa setiap aktivitas pemenuhan fitrah itu tak boleh dipisahkan dari fikrah yang menjadikan aqidah Islam sebagai landasannya. Fikrah ini tentu didapatkan dari proses pengkajian Islam secara mendalam dan menyeluruh, pengkajian Islam dari akar hingga daunnya, bahkan pengkajian mengenai aqidah hingga syariah. Wallahu a’lam bishshawwab.[]

Post a Comment

0 Comments