Thursday, March 15, 2018

Antara Rok Mini dan Emansipasi



Oleh: Dwi Rahyuningsih, S.Si (praktisi pendidikaan dan aktivis revowriter)


Zaman now perempuan ndekam di rumah itu gak gaul. Yang kerjanya Cuma ngurus anak, nganter anak sekolah, dan berkutat dengan seabrek pekerjaan rumah tangga lainnya itu ketinggalan zaman. Apalagi jika keluar rumah harus menggunakan pakaian syar’i dengan jilbab dan kerudung. Fyiuh…nggak kukuh. Sudah panas, ribet, gak ngetren pula. Sekarang itu zamannya pakai rok mini, perawatan wajah biar kinclong, gigi dipasang kawat berduri (ups, emangnya apaan?) maksudnya gigi pakai kawat biar makin rapi, alis dilempeng-lempengin biar cetar, pipi dimerah-merahin biar manis, deelel.

Kalo ada yang yang ngasih tau muslimah itu wajib menutup aurat, jawabnya: “aurat gue bukan urusan loe!” jika ada yang mengatakan jangan pakai rok mini, kasihan mata laki-laki harus ternoda setiap hari. Jawabnya: “bukan rok gue yang mini, tapi otak loe yang mini!” Saat dinasehati bahwa Islam itu memuliakan perempuan, jawabnya: “kami tidak butuh dimuliakan, kami butuh dimanusiakan!”

Nah lo, tuntutan macam apa ini? Kok minta perlindungan dari pelecehan seksual, tapi dikasih solusi nutup aurat jawabnya “tubuh gue otoritas gue”. Hadeh…trus maunya mpok tu apaan? Banyak sekali alasan yang keluar dari bibir manisnya jika diingatkan tentang aturan Allah. Karena mereka menganggap yang memahami hakekat perempuan adalah perempuan itu sendiri. Allah hanya boleh mengurusi perkara ibadah, untuk yang lain-lain gak boleh ikut campur.


Sejarah Rok Mini

Masalah rok mini telah menjadi kontroversi sejak lama lo. Pada tahun 2013, Parlemen Uganda mengesahkan Rancangan Undang-undang kontroversial yang diajukan oleh Menteri Etika dan Integritas, Simon Lokodo tentang pelarangan tentang larangan rok mini dan apapun yang bermuatan seksual termasuk video musik. 

Catellammare di Stabia, kota pesisir Italia, juga memiliki peraturan yang memasukkan rok mini dan beberapa jenis pakaian seksi dianggap berperilaku antisosial. Upaya ini dialakukan untuk membantu memulihkan kesopanan perkotaan dan memfasilitasi keberadaan masyarakat sipil yang lebih baik. 

Padahal negara tersebut bukan negeri yang menerapkan syari’at Islam. Lah, di Indonesia? Justru meminta rok mini dibebaskan untuk dipakai. Padahal yang kita ketahui, Indonesia dulu sangat menjunjung tinggi adat kesopanan. Kebebasan berpakaian, berperilaku, berpendapat, dan beragama, lahir dari ideologi kapitalis sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya menjadi urusan individu dengan Tuhan, sementara urusan yang lain tidak boleh dicampuri aturan Tuhan.

Nah, tuntutan kaum hawa yang berkoar-koar tentang kebebasan tadi adalah salah satu point dari tuntutan kesetaraan gender yang dianggap emansipasi. Wanita harus setara dengan pria. Jika pria boleh bekerja di ruang public kenapa perempuan tidak? Kenapa perempuan selalu menjadi pihak yang dibawah. Laki-laki selalu lebih unggul dari perempuan dalam hal apapun. Padahal Allah telah memberikan peran berbedda pada laki-laki dan perempuan karena memang keduanya beda.


Islam Memuliakan Perempuan

Dalam Islam, perempuan tidak hanya sekedar dimanusiakan, tapi lebih dari itu lo. Jika mereka menuntut untuk dimanusiakan, lah emangnya selama ini kemane aje mpok? Ketinggalan kereta ya? He he he. Dalam Islam perempuan memiliki derajat yang tinggi. Bahkan Rasulullah mengatakan dalam Hadistnya bahwa orang yang harus dimuliakan pertama kali adalah Ibu, kemudian Ibu, kemudian Ibu, baru Bapak. Tuh kan, bener…masih kurang? Nih penulis kasih dalil lain yang menyebutkan keistimewaan perempuan. 

Berbuat baiklah pada para wanita. Karena wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Jika engkau mencoba untuk meluruskannya (dengan kasar), engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, tetap saja tulang tersebut bengkok. Berbuat baiklah pada para wanita.” (HR. Bukhari no 3331 dan Muslim no 1468)

Dalam hadist lain juga disebutkan:

Dan janganlah engkau memukul istrimu di wajahnya, dan jangan pula menjelek-jelekkannya serta jangan melakukan hajr (mendiamkan istri) selain di rumah.” (HR. Abu Daud no 2142. Syaikh Al Banani mengatakan hadist ini hasan shahih).

Bahkan dalam Islam, wanita diibaratkan perhiasan

Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalehah.” (HR. Muslim)

So, masih kurang apakah Islam dalam memuliakan perempuan? Apakah hukum jahiliyah yang mereka inginkan, yang jelas-jelas merendahkan martabat perempuan dengan  cara eksploitasi? Emansipasi yang ditawarkan oleh sistem kapitalis hanya lip servis semata. Seperti racun berbalut madu. Manis di luar namun mematikan jika dimakan. Karena hanya Islam yang yang sempurna yang memilki hukum sempurna dari Sang Maha Sempurna Allah SWT.  
  
Yuk, berfikir cerdas! Jangan mau dicekoki dengan ide-ide sesat dan menyesatkan. Be smart muslimah, hidup mulia dengan Ridlo allah SWT.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!