Thursday, January 11, 2018

Tausiyah Subuh : Khilafah Ajaran Islam.!!!

Tausiyah Subuh : Khilafah Ajaran Islam.!!!

RIH, Press. Kendari 07 Januari 2017,
Seruan Khilafah begitu lantang terdengar disalah satu Masjid terbesar di BTN Kendari Permai, Kecamatan Kambu.

Setelah melakukan Shalat Tahajud, dan Subuh berjamaa bersama masyarakat diwilayah tersebut, Koalisi Ummat Penjaga Islam meyelenggarkan kuliah subuh yang bertemakan "Khilafah Ajaran Islam" yang disampaikan oleh Ust. Muh. Yasin.

Sedikitnya seratus lebih jamaa yang melakukan shalat subuh berjama'a mendengarkan tausiyah yang disampaikan dengan penuh hikmat tersebut.

Tidak sedikit dari jama'a yang memberikan respon positif terhadap dakwah khilafah yang tengah berkembang pesat hingga saat ini.[Kendari Bertaqwa]

STOP MENISTA ISLAM!

STOP MENISTA ISLAM!

Oleh: Ainun Dawaun Nufus (pengamat Sospol)

Untuk ke sekian kalinya umat Islam diuji iman dan kesabarannya, umat dihadapkan pada propaganda negatif maupun pelecehan terhadap ajaran Islam. Adapun kasus terbaru yang menimpa 2 komika di Indonesia yang dituding melecehkan agama dan menghebohkan warganet. Diharapkan kasus ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh artis Indonesia khususnya, maupun masyarakat umumnya agar selalu berhati-hati dalam berujar

Beberapa  umat Islam pernah diuji oleh ujaran Basuki Tjahaja Purnama, dan ini membangkitkan kesadaran besar umat Islam untuk menuntut keadilan. Adapun di barat, beberapa tahun lalu propaganda keji dan permusuhan terhadap Islam pernah dilakukan Terry Jones, pendeta (pastor) senior Gereja Dove World Outreach Center di Gainesville, Florida, Amerika Serikat, menyerukan ke seluruh gereja dunia dan warga Amerika untuk terlibat memperingati Tragedi 11 September 2001 (Penghancuran Gedung Kembar WTC) dengan menjadikannya sebagai “International Burn a Koran Day” (Hari Membakar Alquran Internasional).

Pendeta Terry Jones, sebagaimana dilansir News.au, menuduh Islam dan hukum syariah bertanggung jawab atas aksi terorisme terhadap World Trade Center di New York pada 11 September 2001. “Islam adalah setan. Agama itu menyebabkan jutaan orang masuk neraka; agama menipu; agama kekerasan…,” katanya saat wawancara dengan CNN.

Saat para penguasa Muslim ingin merawat kedamaian, termasuk di negeri ini, harusnya mencontoh para khalifah dulu. Dahulu Prancis pernah merancang pertunjukan drama yang diambil dari hasil karya Voltaire. Isinya bertema, “Muhammad atau Kefanatikan”. Di samping mencaci Rasulullah saw., drama tersebut menghina Zaid dan Zainab. Ketika Sultan Abdul Hamid, Khalifah Khilafahan Utsmani saat itu, mengetahui berita tersebut, melalui dutanya di Prancis, beliau segera mengancam Pemerintah Prancis supaya menghentikan pementasan drama tersebut. Beliau mengingatkan bahwa ada “tindakan politik” yang akan dihadapi Prancis jika tetap meneruskan dan mengizinkan pementasan tersebut. Prancis akhirnya membatalkannya.

Tidak berhenti sampai di situ. Perkumpulan teater tersebut lalu berangkat ke Inggris. Mereka merencanakan untuk menyelenggarakan pementasan drama itu di Inggris. Mengetahui itu, Khalifah Abdul Hamid pun mengancam Inggris. Inggris menolak ancaman tersebut. Alasannya, tiket sudah terjual habis dan pembatalan drama tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan (freedom) rakyatnya. Setelah mendengar sikap Inggris demikian, sang Khalifah menyampaikan, “Kalau begitu, saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul kita! Saya akan mengobarkan jihad akbar!” Pemerintah Inggris pun ketakutan melihat keseriusan ancaman sang Khalifah. Mereka segera melupakan sesumbarnya tentang kebebasan. Pementasan drama itu pun akhirnya mereka batalkan juga (Lihat: Majalah al-Wa‘ie, No. 31, 2003).

Jelas, hakikat drama di atas sama dengan hakikat berbagai penghinaan terhadap Islam dan umatnya saat ini. Karena itu, semestinya sikap para penguasa Muslim sejati dalam merespon berbagai penghinaan itu juga sama dengan keberanian Khalifah Abdul Hamid di atas.[Sumber]

Tuesday, January 9, 2018

Pembunuhan Siswi SMK Malang : Potret Buram Pendidikan Sekuler

Pembunuhan Siswi SMK Malang : Potret Buram Pendidikan Sekuler

Oleh : Hanik Syukrillah

Beberapa hari yang lalu terjadi pembunuhan sadis yang menggemparkan warga Kabupaten Malang, Jawa Timur. Fenna Selinda Rismawati, (16), siswi kelas X jurusan mesin SMK Brantas Karangkates, Sumberpucung, diduga digorok temannya sendiri, perempuan inisial NFM, 18, warga Donomulyo, Sabtu (29/12) sepertidikabarkan di radar malang (30/12/17). Adapun alasan pembunuhan karena diejek miskin dan korban menjalin hubungan dengan pacarnya.

Sebenarnya apa yang terjadi dalam pendidikan kita hari ini. Diakui atau tidak pendidikan hari ini memiliki banyak permasalahan yang pelik. Potret buram pendidikan terlihat semakin nyata. Kegagalan membentuk karakter siswa yang selama ini didengungkan menuai hasilnya. Pelajar adalah penerus estafet masa depan, sangat riskan ketika tidak dilakukan perbaikan yang sistematis dan terarah. Ini adalah hasil bertumpuk-tumpuknya permasalahan pendidikan yang tidak kunjung selesai mulai dari kurikulum, pengelolaan pendidikan, kenakalan remaja yang semakin menjadi dll.    

Paradigma pendidikan sekuler menjadi akar permasalahan karena memisahkan antara agama dengan kehidupan, sehingga siswa berfikir ketika melakukan tindakan buruk tidak ada yang mengawasi dan tidak ada kekhawatiran ketika melakukan kemaksiatan sampai membunuh sekalipun. Hanya karena diejek miskin dan pacarnya diambil bisa membuat seorang pelajar walau seorang perempuan berbuat nekat membunuh temannya. Ketika pelajaran agama hanya dijadikan sebagai syarat untuk lulus ujian, bukan sebagai aturan dalam kehidupan. Kita akan mendapati para siswa menjadi kumpulan pelajar yang kering secara rohani dan miskin pengetahuan agama sebagai tuntunan hidup.

Akibatnya, para siswa jadi kehilangan arah dalam hidup dan terbentuk menjadi manusia-manusia sekuler-liberal, maka bersiap-siaplah menemui permasalahan remaja berikutnya akibat lemahnya kepribadian mereka. Islam memiliki paradigma sendiri dalam mengurusi masalah pendidikan formal.

Pendidikan Islam mengatur agar membentuk generasi berkepribadian Islam. Pola tingkah laku para peserta didik dibentuk berdasarkan akidah Islam dan tingkah lakunya dibentuk agar senantiasa mengikuti tuntunan syariah, baik dalam pola pikir maupun pola sikap. Para peserta didik juga dibentuk agar menguasai saintek untuk mengarungi kehidupan dan mengembangkan inovasi. Pada tingkat pendidikan tinggi, para peserta didik dibentuk pula untuk menjadi pakar dan inovator lebih lanjut. ..

Secara singkat, pendidikan Islam membentuk seorang cendekiawan yang juga faqih dalam ilmu-ilmu keislaman.[]