Sunday, December 31, 2017

Aliansi Mahasiswa Muslim Bersuara Gelar Aksi Refleksi Akhir Tahun

Aliansi Mahasiswa Muslim Bersuara Gelar Aksi Refleksi Akhir Tahun

RIH, Press - Kondisi negeri yang semakin dirundung masalah setiap tahunnya termasuk tahun 2017 ini, menggelitik puluhan mahasiswa dari berbagai Universitas dan organisasi membentuk satu pergerakan Aliansi Mahasiswa Muslim Bersuara untuk menggelar Aksi Refleksi Akhir Tahun.

Aksi yang dimulai sejak pukul 9.30 WITA (30/12/2017) ini dilakukan dengan berjalan dari pertigaan kampus baru UHO menuju Perempatan Eks.MTQ kendari.

Masa aksi menilai bahwa perlu diadakan aksi refleksi akhir tahun untuk memberikan informasi dan mengingatkan masyarakat bahwa kondisi negara saat ini semakin terpuruk dengan berbagai masalah. Mulai dari masalah politik, ekonomi, sosial, budaya dan yang lainnya.

"Refleksi akhir tahun sangat perlu dilakukan, untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa kondisi negara saat ini sangat bobrok, banyak masalah yang dihadapi mulai dari masalah politik, ekonomi, budaya, sosial dan masih banyak lagi masalah yang masyarakat juga harus tau." pungkas Syawal sebagai penanggungjawab aksi.

Selain itu juga, masa aksi menilai bahwa harus ada solusi tuntas atas setiap persoalan yang menimpa negeri ini. "Masyarakat sudah muak dengan janji janji penguasa untuk menangani masalah yang terjadi, malah rezim saat ini semakin mendatangkan masalah. Mulai dari kriminalisasi ulama, ajaran Islam dimonsterisasi, koruptor semakin menjadi jadi, aset negara dijual, TDL mahal dan yang lainnya, ini tidak cukup dengan sekedar janji. Makanya kita mengangkat tema 2017 Indonesia Semakin Bobrok, Syariah Islam Sebagai Solusi". Lanjut Syawal.

Masa aksi juga menjelaskan bahwa masalah negeri ini semakin menjadi jadi akibat rezim dan negara ini masih mengambil sistem warisan penjajah yang berasal dari manusia, sehingga tidak mampu menyelesaikan masalah yang ada.

"Kami melihat negeri ini semakin bobrok karena selain rezim saat ini tidak pro dengan rakyat juga siastem yang dipakai merupakan sistem warisan penjajah yang merupakan buatan manusia sendiri. Dari situlah kami tawarkan satu solusi yang sudah terbukti tapi belum pernah dicoba pada masa ini, yaitu KHILAFAH. Hanya itu yang bisa menyelesaikan persoalan negeri ini." Tambahnya lagi  (gaf/red)

Hari Ini, Raport Kalian dibagikan Nak

Hari Ini, Raport Kalian dibagikan Nak

RemajaIslamHebat.Com - Bismillah. Tiap akhir semester awal, akhir pembagian raport diberikan pihak sekolah melalui guru kepada orang tua.

Deretan angka-angka itu menggambarkan penilaian hasil belajar anak sekian bulan.

Adakah orang tua yang masih perlu kecewa jika anaknya berkembang tidak sesuai harapan di raport?

Adakah orang tua yang begitu gembira ketika hasil belajar anaknya jauh melampaui harapan?

Semoga kita semua bukan orang tua yang tidak terlalu keburu kecewa? atau berpuas diri atas segala prestasi yang anak raih.

Jika kita termasuk ortu yang masih menilai anak dari deretan angka-angka, itu artinya masih terbelenggu pola asuh lama, zaman old. Dimana deretan angka begitu menjadi penting buat mengukur prestasi anak.

Deretan angka tinggi akan tidak sebanding, jika perilaku akhlak belum mencerminkan dengan baik. Lihatlah kini, bagaimana dampaknya bertahunan nilai akademik begitu dijunjung untuk menilai kemampuan seseorang. Sedangkan kemampuan lainnya menjadi seolah terbelakang.

Perhatikan dengan benar, wahai ayah, wahai ibu. Aspek lain penilaian akan ketrampilan dan keahlian yang anak kalian miliki. Bisa jadi ketrampilan dan kecerdasan majemuk belum ada nilainya di raport. Hingga anak mu belum terukur kemampuannya secara menyeluruh.

Jadilah orang tua yang adil dalam menilai kemampuan anak. Hingga anak tidak merasa cemas akan prestasi akademis yang tidak dimiliki. Anak hanya menjadi cemas, jika ia telah menyakiti temannya disekolah.

Jadilah orang tua yang bijak dalam mengenali kebaikan anak. Hingga anak tidak perlu sedih, saat mendapati dirinya berbeda tidak mengikuti segala hal yang sedang trend kekinian.

Jadilah orang tua yang rendah hati dalam mengakui kelebihan perilaku baik anak . Hingga anak tidak buru-buru ingin dianggap berprestasi hanya karena nilainya tertinggi.

Bersabarlah wahai orang tua untuk ingin menggegas anak meraih secepat mungkin hasil belajar yang baru bisa diukur angka-angka.

Bergegaslah justru mendidik anak, agar karyanya dinikmati menyeluruh, yang tetap memperhatikan benar akhlak muslim dalam keseharian. Dan mampu memberikan seluasnya manfaat.

Berilah asupan kasih sayang, tuntunan moral dan agama yang baik, hadirkan apresiasi dan berikan penghargaan atas perilaku baik anak.

Bukankah kita merindukan kelak, hadirnya pemimpin shalih, ayah yang perhatian dan penyayang, ibu cerdas santun, suami istri rendah hati dan pembelajar cerminan didikan moral, agama ortu sebelumnya.

Dan bagaimana mungkin itu yang akan didapat jika kita hanya memburu prestasi anak dari deretan angka-angka semata.

Penulis : Mbak Nurliani
-baru saja ambil raport

#JadilahOrangtuaNow
#MemperhatikanKelebihanAnak

Melatih Anak Memahami Peran Dimasa Mendatang

Melatih Anak Memahami Peran Dimasa Mendatang

RemajaIslamHebat.Com - Bismillah. Saat kemarin matapena yang disampaikan oleh abah Ihsan Baihaqi Bukhari di bintaro. Ada 1 hal yang sangat membekas di benak saya, ajarkan anak kalian sifat kemaskulinan untuk anak laki2 dan sifat feminitas kepada anak perempuan. Hal ini sangat erat kaitannya dengan figur orang tua yang dikenal anak-anak dalam keseharian.

Pernahkah anak laki-laki melihat ayahnya membetulkan genteng, memasang kembali kran air yang bocor, memperbaiki perlengkapan rumah tangga, membuat kandang ayam, dan mengerjakan sekian pekerjaan kemaskulinan itu hadir dari dalam rumah?

Pernahkah anak perempuan kita diajarkan pekerjaan rumah standar kebiasaan dalam memasak, membuat kue, mencuci baju, menjahit sederhana dan perihal sejenis itu hingga menjadi terbiasa?

Kemudian anak-anak melihat itu biasa dikerjakan orang tuanya, anak ikut membantu dari hal yang paling mudah, dan ringan. Namun kelihatan di mata anak. Oh ini contoh pekerjaan orang dewasa yang bisa dilakukan saat dirumah. Bahkan kadang bergantian. Tampak wajar saja, namun kekokohan terhadap perannya sudah matang di awal.

Anak-anak yang terbiasa melihat orang tua melakukan pekerjaan rumah, saling bantu membantu, dan didampingi serta dipahamkan sebatas apa peran gender itu hadir insya Allah persoalan gemulai, kemayu, salah peran akan tidak mudah menghampiri di masa mereka dewasa.

Selain tentu pemahaman aqidah, kemudian memahami batasan pergaulan, menunjukkan peran kemaskulinan dan feminitas sesuai gender pada anak sangat penting. Anak-anak perlu paham, ini loh nanti kelak dewasa apa yang akan kalian lakukan. Ada contoh, dan meninggalkan pengalaman yang berkesan.

Sehingga anak-anak paham betul, sebatas mana perannya itu. Bukan tumpang tindih,  pengambil alihan tanggung jawab, atau lepas kendali karena sejak lama anak-anak jarang atau bahkan tidak mengenali apa dan bagaimana mereka harus menjalani perannya.

Jadi mari orangtua rancanglah kegiatan yang dapat membentuk anak itu dari dalam rumah kita. Melalui kegiatan-kegiatan yang mendorong peran mereka bisa mengerti sesuai gendernya. Anak laki perlu dipahamkan kelak dirinya menjadi seorang pemimpin, pengambil keputusan, menjadi seorang suami dan ayah bertanggung jawab. Dilatih tugas-tugasnya sejak masa pra baligh, agar siap memikul beban dan amanah yang seharusnya. Tidak menjadi gagap, mudah bosan dan bingung apa yang harus dilakukan dimasa depannya nanti.

Demikian pun dengan anak perempuan, latih mereka kelak menjadi istri yang qonaah, pandai berhitung mana yang sesuai kebutuhan, ajarkan bagaimana menjalani peran seorang ibu sebelum peran yang lainnya, menyiapkan diri dan tubuhnya menghadapi kehamilan, serta mengasuh anak-anak. Cekatan dalam mengerjakan pekerjaan rumah serta tetap terampil merawat diri dan tubuhnya.

Ketrampilan semacam ini, darimana anak dapatkan kalau bukan dari dalam rumah mereka sendiri. Diberi tahu, diajarin, dilatih hingga kemudian terbiasa mengerjakan sesuatu. Tidak mudah merasa kesulitan, serta pandai mencari cara solutif dalam menyelesaikan masalah. Satu kebiasaan baik membutuhkan waktu 4 tahun hingga manusia menjadi terbiasa dan terampil. Jadi orang tua tak perlu cepat menyerah saat ketika melatih anak, tak langsung segera bisa. Dicoba lagi terus dan didampingi hingga menjadi kebiasaan baik.

Tampak ideal, betul. Namun perlu dilatih, dibiasakan agar anak-anak nanti paham saat pelaksanaannya dalam kehidupan berumah tangga mereka. Kalaupun nanti tak seideal itu, minimal anak-anak yang kelak menjadi orang dewasa itu paham perannya sebatas mana, dan walaupun kelak membutuhkan bantuan/support orang lain, mereka tetap menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.

Bukankah peninggalan terbaik itu merupakan pendidikan orang tuanya yang diberikan dari dalam rumah selama bertahun-tahun? Jika ya, tunggu apa lagi. Lets do it,  parents

“Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”. (an-Nisa’: 9)

Penulis : Mbak Nurliani

#DidikAnakSadarPeran
#TugasOrangTua

Dakwah Bukan ‘Ceramah’

Dakwah Bukan ‘Ceramah’

Oleh : Ustadzah Desi Yunise

Ustadz Abdus Shomad, LC.MA dalam sorotan. Materi dakwahnya memang banyak menyentuh sisi kerusakan negeri ini. Ajakan para pejabat agar berjuang untuk dakwah dan agama Allah.  Ustadz selembut es krim ini tak luput dakwahnya dihalang halangi.   Ada lagi  Ustadz Felix Siauw bermata sipit.  Materi dakwahnya tak.jarang mengkritik kebijakan rezim ini.  Akhir akhir ini, kajiannya  sering dipersekusi.  Dua  ustadz inilah yang sedang memenuhi timeline jagat medsos dalam negeri.
.
Pembubaran dakwah  bukan hal baru di dunia  perdakwahan.  Bahkan perilaku penjegalan dakwah adalah penyakit turunan sejak jaman jahiliyah.  Kita tentu masih ingat khan tokoh, seperti Abu Jahal, Abu Lahab? Bahkan Si  penjegal dakwah ini disebut terang terangan oleh Alquran “Tabbat yadaa abi lahabiwwatab-celakalah kedua tangan Abi Lahab”.  Allah SWT yang menyebutnya celaka! Yang begitulah yang namanya dakwah.  Bukan dakwah namanya jika tak ada penghalangnya.
.
Dakwah memang bukan ceramah biasa.  Bukan cerita yang ramah ramah.  Materi dakwah tak terbatas yang hanya menyenangkan dan menentramkan.  Dakwah adalah merubah.  Dakwah fokus pada yang ingin diubah.  Pada hal hal yang masih jahiliyah.  menyerang sesuatu yang salah, di tengah masyarakat.  Mengubah dari yang tidak Islam menjadi Islam.  Merubah dari yang tak Islami menjadi Islami.  Rasulullah SAW merubah isi kepada manusia . Perubahan pola pikir  jahiliyah menjadi pola pikir Islam.  Pola sikapnya pun ditata sesuai pola sikap islam.  

Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, lalu jika tidak bisa maka dengan lisannya, lalu jika tidak bisa maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemah iman” (HR  Imam Muslim dari Sahabat Abu Said Alkhudry ra.).
.
Inilah esensi dakwah, yaitu merubah.  Perubahan menuju masyarakat ideal, sesuai tuntunan nabi, diridhoi ilahi.  Masyarakat dalam bimbingan wahyu pun agar bahagia di dunia dan akhirat.  Kehidupan dipenuhi oleh nilai nilai suci dan mulia. 
.
Sebagian pelaku maksiat beranggapan bahwa suatu perbuatan  adalah sebuah hak pribadi, bebas bertingkah laku,sepanjang tak mengganggu.  Anggapannya bahwa jikaada yang maksiat itu urusan pribadi nya dengan tuhan.  Tak ada kaitannya dengan manusia lain.   Anggapannya salah, karena ia hidup dalam komunitas sosial yang disana ada interaksi.  Interaksi antar manusia dalam masyarakat  diikat oleh pemikiran, perasaan dan aturan yang sama.  Karena itulah masyarakat bisa menjadi unik dan spesial dan bisa menjadi masyarakat yang kacau balau.  Contoh masyarakat unik dan spesial bentukan Rasulullah saw di madinah al munawaroh.  Sebuah masyarakat agung lagi mulia.  Setelah sebelumnya tenggelam dalam kubangan jahiliyah.

Maka dari itu,  dalam sebuah kapal yang isinya banyak orang tak bisa berfikir semaunya sendiri. Tak bisa berbuat seenaknya sendiri, pun tak bisa membuat aturan sendiri.  Karena dalam masyarakat pasti bersentuhan dengan orang lain.  Disinilah pentingnya dakwah untuk menjaga biduk masyarakat dari badai dahsyat yang menenggelamkan.  Badai maksiat yang serupa dengan tornado.  Dakwah harus mencela  zina, miras, prostitusi, korupsi, riba, seks beba, LGBT.  Pun jika ada tindakan pejabat yang khianat, dusta, zalim harus dilawan.  Agar masyarakat terjaaga dalam perasaannya.  Jangan sampai masyarakat mati rasa.  Agar biduk masyarakat  ini selamat.   Pun sebaliknya perbuatan baik harus dipuji, agar senantiasa terdorong berbuat kebaikan.  Masyarakat mencintai  hal-hal yang baik.  Karena itulah yang menjaga umat ini. 
.

Sabda Rasulullah SAW:

“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493).
.

Maka bersyukur masih ada ulama ulama yang mau berdakwah menuju perubahan.  Karenanya masyarakat masih bisa terjaga.   Ulama begini yang menjaga biduk masyarakat tak tenggelam.  Bagi  kalian para penikmat maksiat, jangan  bilang jika tindakan kalian merupakan hak individu yang tak boleh diurusi.  Karena manusia hidup di  bumi  milik Allah.  Sungguh tak pantas hidup di bumi milik Allah tapi menyalahi titahNya.  Sebagaimana nasihat abdurrahman al-Jauji, ‘bila kau bermaksiat kepada allah, janganlah engkau tinggal di negeriNya!”.  So,  Maksiat , No way!

#Revowriter#ideowriter
#Jelangnerbitinbuku
#KomunitasIbuPeduliGenerasidanKeluarga
#KIPSA

Toleransi itu, Lakum Diinukum Waliyadiin

Toleransi itu, Lakum Diinukum Waliyadiin

RemajaIslamHebat.Com - "Ahh, gak enak dong kalo gak datang."
"Dia kan, teman saya."
"Dia tetangga dekat saya. Gak mungkin saya gak berkunjung."
"Saya harus datang. Kan dia atasan saya."
"Kan kita harus saling menghormati."

Demikian beberapa pembenaran yang sering dilontarkan sebagian kaum muslim, saat perayaan keagamaan umat lain. Semisal perayaan Natal dan Tahun Baru. Mereka merasa tidak enak hati jika tidak berkunjung dan turut mengucapkan selamat. Bahkan mereka sering kali melakukannya atas nama toleransi. Begitukah toleransi menurut Islam?
.
Sebagai seorang muslim, kita wajib tunduk pada hukum-hukum syariat Allah SWT. Aturan-aturan-Nya kita laksanakan, sementara larangan-larangan-Nya kita tinggalkan. Tanpa terkecuali, sebagai perwujudan keimanan kita pada Allah SWT.
.
Terkait toleransi, sesungguhnya Islam punya aturan tersendiri. Sebagaimana tercantum dalam Al Quran, surat Al Kafirun ayat 1-6, "Katakanlah (Muhammad), " Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu buka  penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku."
.
Asbabul Nuzul (sebab-sebab turunnya) surat Al Kafirun ini, saat beberapa tokoh kaum musyrikin Mekah mendatangi Rasulullah, Muhammad SAW.
.
Mulanya mereka menawarkan harta, tahta juga wanita kepada Nabi yang mulia. Mereka melakukannya agar Rasulullah SAW mau menghentikan dakwah Islam beliau. Mereka berfikir bahwa Muhammad SAW pasti akan tertarik dengan tawaran mereka. Namun, Rasulullah SAW sama sekali tidak tertarik.
.
Kaum musyrikin terus membujuk Nabi SAW. Setelah bujukan-bujukan sebelumnya tidak berhasil, selanjutnya mereka menawarkan kompromi beribadah.
.
Mereka menyatakan akan mengikuti ibadah menyembah Tuhannya Muhammad SAW. Tapi di lain waktu, mereka juga meminta Muhammad SWA untuk mengikuti peribadatan mereka.
.
Melalui turunnya surat Al Kafirun tersebut, Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk menolak dengan tegas kompromi ibadah yang ditawarkan kaum musyrikin. Karena Allah telah memberi hari raya yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.
.
Maka toleransi dalam Islam adalah membiarkan umat lain memeluk keyakinan dan menjalankan ibadah mereka masing-masing. Bukan lantas berarti kita dibenarkan mengikuti perayaan dan ibadah umat lain dengan dalih toleransi.
.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." (HR Abu Dawud).
Wallaahu a'lam bisshawaab.
.
.
#revowriter
#ideowriter
#yuknulis

Sumber:

Fb: Yunita Gustirini

Friday, December 29, 2017

Krisis Sosial Institusi Keluarga

Krisis Sosial Institusi Keluarga

Oleh: Wulan Amalia Putri, SST
(Staf pada Dinas Sosial Kab. Kolaka)

Seorang anak berusia 5 tahun, dengan kondisi tangan dan kaki diikat oleh ibunya, disemprotkan Cairan Racun Pembunuh serangga hingga anak tersebut tewas, sebelum sempat mendapatkan perawatan oleh tim medis.

Seorang bayi, ditusuk oleh ibunya hingga tewas di rumahnya sendiri. Lalu, seorang tenaga medis aktif, menembaki Istrinya hingga tewas. Di sisi lain, terjadi penikaman seorang istri kepada suaminya sendiri dan naasnya, sang suami pun tewas. Rangkaian peristiwa sadis ini bukanlah sebuah adegan sinetron kejar tayang yang kerap disaksikan di beberapa stasiun televisi. Peristiwa di atas adalah realitas sosial kekinian yang terjadi dalam institusi keluarga. Lalu jika interaksi sosial dalam keluarga sudah sedemikian brutalnya, patut dipertanyakan, fenomena sosial seperti apakah yang tengah melanda institusi keluarga dewasa ini?

Pertanyaan kritis di atas sangat patut kita ajukan. Sebab, andai saja peristiwa pembunuhan anggota keluarga -yang pelakunya adalah anggota keluarga itu sendiri-terjadi pada satu tempat saja dan bukan merupakan peristiwa berulang, maka hal tersebut terlalu prematur untuk dikategorikan sebagai masalah sosial. Realitasnya bahwa peristiwa seperti ini bukanlah sebuah peristiwa kasuistik yang langka, jamak kita temukan dalam keseharian bahkan kerap mewarnai headline media massa. Demikian pula bahwa realitas brutal ini meresahkan secara sosial dan tentunya ini menjadi masalah sosial yang memerlukan analisa serta solusi.

Desakralisasi Institusi Keluarga

Perkembangan waktu, perkembangan ilmu pengetahuan dan luasnya akses cakrawala berpikir memungkin ter-reduksinya suatu pemahaman. Pun demikian dengan internalisasi pemahaman tentang keluarga. Generasi 70’an atau 90’an melihat keluarga sebagai institusi sakral yang tiap bagian dari instuitusi itu layak untuk menerima apresiasi dan penghormatan.

Peran suami sebagai kepala.keluarga masih begitu kental hingga satu tatapan matanya dapat diterjemahkan sebagai larangan atau kebolehan bagi istri dan anak-anaknya. Satu sentuhan seorang ibu bisa menjadi penawar bagi segala kegundahan seorang suami dan penawar kenakalan anak-anak. Demikian pula, satu senyuman seorang anak bisa menggagalkan keinginan  orang tuanya untuk berpisah. Secara umum, kerap kita saksikan satu keluarga berkumpul untuk shalat secara berjamaah, dilanjutkan dengan sesi sungkeman lalu membaca Al Qur’an atau Juz Amma bersama-sama. Pemandangan yang teduh dan menenangkan secara sosial.

Lambat laun, pola hidup seperti ini dirasa tidak sejalan dengan tekanan ekonomi dan resolusi pemenuhan kebutuhan yang berkejar-kejaran. Satu per satu peran dalan keluarga mulai mengecil porsinya. Bukan hanya suami yang bekerja penuh waktu, kini istripun keluar untuk bekerja penuh waktu dan pengasuhan seorang anak dialihkan pada sosok Baby Sitter. Ayah, ibu dan anak.bertemu di penghujung waktu tanpa sempat meluapkan perasaan-perasaan terhadap peristiwa yang dialami seharian. Jadilah rangkaian ini sebagai suatu rutinitas. Hasilnya, rasa memiliki antara anggota keluarga sangat kurang. Rasa kepeduluan sangat tipis. Kebutuhan akan silaturahmi semakin sedikit, meski di hari lebaran.

Sebaliknya, masalah yang dihadapi di luar rumah menjadi semacam bahan peledak yang siap menghentak saat terjadi gesekan dalam keluarga. Anak keseringan ngompol, kebutuhan ekonomi meroket, gaji tidak dapat memenuhi kebutuhan, istri lelah, suami lelah, kran komunikasi keluarga tidak lancar, hingar bingar sosial media yang menggiurkan, menjadi sumbu api yang menghancurkan keluarga. Konflik menjadi antitesis dari semua permasalahan ini. Keluarga tidak lagi menjadi pencetus solusi. Keluarga tidak sakral lagi.

Disfungsi Keluarga, Krisis Sosial

Keluarga adalah unit terkecil di masyarakat yang menjadi tempat terbentuknya Nilai-nilai Kehidupan. Para ahli sepakat bahwa keluarga, paling tidak, memiliki 8 fungsi antara lain.adalah fungsi biologis, ekonomis, psikologis, pendidikan, religius, sosialisasi dan fungsi rekreatif.
Keluarga dewasa ini begitu mengalami disfungsi. Dari fakta yang diuraikan di atas dan masih banyak fakta lain yang secara visual kita saksikan, menunjukkan bahwa fungsi yang dilaksanakan oleh keluarga sangatlah kecil. Hampir-hampir hanya menyisakan fungsi bilogis dan pendidikan.

Baik itu nuclear family (keluarga inti) ataupun extended family (keluarga besar), disfungsinya sama saja. Keluarga menjadi tempat legal untuk.menjalankan.fungsi biologis, lalu anak-anak disekolahlan. Orientasi terbesarnya adalah untuk kehidupan yang layak. Sayangnya, makna kehiddupan yang layak diukur  dengan pencapaian materi semata, bukan pada pencapaian nilai.hidup sang anak. Sekolah bertaraf internasional mencukupkan usaha dan pelaksanaan fungsi keluarga.

Akibatnya, fungsi psikologis sebagai suatu fungsi penyaluran kasih sayang, ekspresi, daya asertif ataupun self concept (konsep diri), menjadi terabaikan. Pun demikian dengan fungsi religius, sosialisasi atau bahkan fungsi rekreatif.

Padahal, secara definisi, keluarga seharusnya menjadi pemberi dan penguat value (nilai) hidup seseorang. Kepekaan, kepedulian sosial dan ukhuwah seharusnya didapatkan pertama kali dari keluarga. Fungsi sosialisasi dalam keluarga mengambil peran penting dalam hal ini. Namun kenyataannya, jangankan untuk mempedulikan dan menyambung ukhuwah dengan orang lain, hubungan atau bonding antar anggota keluarga saja sangat tipis.
Di sisi lain, masyarakat yang individualis dan sistem negara yang cenderung demokratis hedonis seolah sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Masyarakat menjadi tidak peka karena mereka sendiri sibuk dengan pemenuhan kebutuhannya.

Tidak dapat disangkal bahwa pemerintah telah banyak mengeluarkan kebijakan yang bersinggungan dengan ketahanan keluarga. Tetapi yang disayangkan adalah bahwa kebijakan-kebijakan tersebut lemah dari sisi operasional dan pendanaan. Regulasi tinggallah sebagai pengisi buku dan forum-forum masyarakat, sedikit yang menjelma dalam wujud pelayanan prima.

Desakralisasi dan disfungsi institusi keluarga mengantarkan pada krisis sosial keluarga. Ini menjadi masala sosial kemasyarakatan yang penting untuk diselesaikan.

Kembali ke Fitrah

Harus berapa banyak lagi nyawa yang terkorbankan untuk menjadi martir bagi perubahan dan perbaikan keluarga, masyarakat dan negara ini. Jika upaya demi upaya telah kita tempuh dan kebijakan demi kebijakan telah dilegalisasi, sebagai manusia biasa, bijak kiranya jika kita bertanya tentang sejauh mana kita menghadirkan Tuhan Semesta Alam, Allah SWT dalam  kehidupan keluarga, masyarakat dan bernegara kita. Sang Rabb dalam Al qur’an telah menyatakan bahwa pernikahan sebagai benih terbentuknya keluarga adalah mitsaqan Ghalizan (perjanjian yang kuat). Maka se-yogyanyalah kita sebagai bagian dari keluarga semakin kenyadari fitrah tersebut. Ataukah kurang jelas seruan Allah SWT dalam Al.Maidah (50), “apakah hukum jahiliyah yang lebih kalian kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin.”
Krisis sosial ini bukan tidak mungkin disebabkan oleh jauhnya kita dari Sang Pencipta. Mari tanyakan pada hati dan pikiran kita!

Tuesday, December 26, 2017

Rihlah di Kota Sunan Jogjakarta

Rihlah di Kota Sunan Jogjakarta




Oleh : Salam el Fath 


Pada akhir Mei 2016 lalu, saya berkesempatan berkunjung di Kota Yogyakarta bersama seorang sahabat alumni STEI Hamfara, Jogjakarta. Fadhil Isnandar namanya. Kami berdua dipertemukan oleh Allah SWT di suatu tempat yang penuh barokah yang Allah melimpahkan rahmat di dalamnya. Tempat tersebut ialah Ma'had Syaraful Haromain, Bogor, Jawa Barat. Kami berdua santri angkatan pertama di sana. Di bawah asuhan Hadharutus Syekh Hafidz Abdurrahman, MA, seorang Ulama Besar di negeri ini. Beliau juga adalah penulis buku-buku dalam berbagai bidang keilmuan. Dari sekian banyak buku paling fenomenal yang beliau tulis, ada 3 judul buku yang saya anggap sebagai buku paling bergizi dan berenergy tentang tsaqofah Islam. Ketiga judul buku tersebut adalah USHUL FIQIH (Membangun Paradigma Tasyri'), Diskursus Islam Politik dan Spritual, dan Bantahan Terhadap Ilmu Kalam dan Filsafat Islam. Ketiga buku tersebut adalah tulisan beliau yang belum pernah saya temukan bandingannya dengan buku-buku tsaqofah Islam yang pernah ditulis oleh Ulama Indonesia abad ini. Selain ketiga buku tersebut, masih banyak buku yang beliau tulis, yaitu buku-buku yang berkaitan dengan bahasa Arab, Ekonomi, dan Peradaban Islam (Khilafah). 

Itulah sekilas tentang perjumpaan saya dengan sahabat yang tertandai di atas. Di sini saya tidak ingin bercerita tentang keduanya. Bukan tentang sahabat tersebut yang telah memiliki perut buncit (bertambah kesejahteraannya) karena telah menikah. 😂 dan bukan pula tentang guru kami yang telah ku tuliskan sedikit biografinya. Yang ingin ku tuliskan di sini adalah mengenai pengalaman saya ketika berada di kotanya Sunan Kalijaga, Jogjakarta. 

Di akhir Mei 2016 itu, tepatnya pasca ujian semester di Ma'had Syaraful Haromain, saya dan teman saya yang telah ku sebutkan di atas memutuskan untuk rihlah (Jalan-jalan melihat ciptaan Allah) ke Kota Jogjakarta. Saat itu saya masih tinggal di Tanah Abang, Jakarta Pusat (bekerja sebagai tukang pak-pak barang 😁). Beberapa hari sebelum keberangkatan menuju Jogja, saya beli tiket Kereta Api. Setelah membeli tersebut, saya kemudian menghubungi beliau (beliau teman saya itu loh, yang udah nikah.. Hehehe..), saya katakan padanya bahwa saya telah membeli tiket untuk keberangkatan hari Rabu. Tapi ternyata, tahukah anda pemirsa, teman saya itu tidak jadi berangkat bareng saya di kereta yang sama, karena terdapat alasan berbagai hal, akhirnya beliau memutuskan untuk berangkat satu hari setelah keberangkatan saya menuju Jogja. Padahal ya pemirsa, di Jogja itu tidak seorang pun dalam benak saya yang ku kenal. Saya bingung, aduh, gimana nih. Mau tidur dimana saya..? Hal itu terus membuat saya berfikir sepanjang perjalanan di kereta. Tapi karena itu tadi, teman saya ini baik banget orangnya. Beliau meminta kepada adik kelasnya di STEI Hamfara agar menjemput saya di stasiun kereta. Wah, tenanglah hati saya. 

Sampai di Jogja sekitar pukul 16.00 Wib, Rabu Sore. Ketika saya hendak turun di kereta, saya kemudian berdo'a, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan yang ada di negeri ini, dan hamba memohon pada-Mu semua kebaikan yang ada di dalamnya" (ini do'a wajib bagi saya saat hendak menginjak tanah di negeri yang baru). Sembari menunggu jemputan, saya kemudian mencari Masjid terdekat untuk melaksanakan shalat qhosar, zuhur dan ashar. Hal ini juga menjadi kewajiban bagi saya ketika data di negeri yang baru, sebelum beraktivitas di negeri tersebut, saya selalu pamit dulu pada yang punya bumi, Allah SWT, dengan cara melaksanakan shalat 2 raka'at. Tapi karena saya belum shalat zhuhur dan ashar, maka saya hanya melaksanakan shalat zhuhur dan ashar, sedangkan shalat 2 raka'at tidak lagi saya lakukan. 

Selesai shalat, saya langsung beriang beriang gembira ketika pertama kali melihat Delman secara live di depan Masjid. 😂 maklum agak udik, soalnya sejak kecil saya hanya melihat Delman di televisi. Itu pun karena ada tengga saya di kampung yang punya televisi memutar lagu anak-anak yang salah satu lagunya memiliki lirik " Naik kereta api, tut.. tut.. tuut...... Naik Delman ku turut di muka" 😂😂
Saya sempat selfie membelakangi Delman, foto itu sengaja ku lakukan untuk ku sampaikan kepada mas Fadhil bahwa saya sudah menginjak tanah Jogja. Dan dia pun mengapload foto itu di grup WA, Ma'had Syaraful Haromain. Hal itu membuat saya benar-benar syok, ingin rasanya berselfie lagi agar diapload lagi di grup. Hahaha...😂😂😂

Teman beliau yang akan menjemput belum juga tiba, katanya masih ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya diarahkan agar berjalan-jalan terlebih dahulu di Malioboro. Woww.... Saya langsung senang, karena tempat tersebut adalah tempat yang telah ku bersitkan dalam hati sejak masa kanak-kanak, yakni ketika saya mendengar lagu secara berulang-ulang setiap pagi dengan nyanyian, "Di Malioboro, bapakku bilang...." (Lagu-lagu masa kecil itu ternyata bisa menjadi azam yang kuat sehingga Allah ijabahi ketika dewasa. Bayangin apa jadinya jika lagu anak-anak sekarang liriknya kaya gini, "Ku halim duluan, sudah tiga bulan, karena pacaran kita gelap-gelapan.." Pemirsa bisa bayangin seperti apa hasilnya ke depan. Dan fakta hari ini, bahkan anak SD sekalipun sudah ada yang melahirkan seorang anak, di sekolah pula. GIla nggak tuh... 😠.,,, maka perdengarkanlah lagu kepada anak-anak anda pemirsa yang bisa menimbulkan azam kesholihan kepada mereka. Kalau mau seperti saya agar ia bisa naik kereta api, naik delman, lihat strawberry, pohon cemara. Maka boleh juga, tinggal di perdengarkan aja lagu "Naik kereta api tut tut tuuut... dan sebagainya.. Hehehe.. ) 

Lanjut ya pemirsa, dikit lagi kok., :) 

Berjalanlah saya menyusuri jalanan Jogja, sembari melihat-lihat bangunan-bangunan yang bernuansa nusantara. (sambil melihat Delman berlalu lalang juga tentunya.. 😁), saya pun beberapa kali bertanya pada orang-orang yang berpapasan denganku di jalan, saya bertanya kepada mereka tentang keberadaan Malioboro. Ada yang bilang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dan ada juga yang mengatakan naik becak lebih baik. Nah,,, kebetulan di depan saya telah berjalan satu unit becak mengarah ke saya, maka ku panggillah pemilik becak itu, sembari saya mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang yagg telah bersedia menunjukkan jalan. (Perhatikan, itu adalah bagian dari adab ketika bertanya kepada orang.. ☺️) 
Saya kemudian bertanya kepada bapak pengemudi becak, "Maaf pak, kalau ke Maliboro berapaan ya..?" (saya lupa beliau jawab berapa dan saat sampai di sana saya bayar berapa, tapi seingat saya, aku membayar beliau lebih dari upah yang beliau minta. Mengapa saya memberi upah lebih dari yang beliau minta..? Hal itu ku lakukan karena sepanjang perjalanan di atas becak menuju Malioboro, bapak itu telah bercerita tentang putrinya yang hafidzah Al-Qur'an dan saat ini menjadi mahasiswa Sastra Arab di UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Pokoknya cerita beliau sangat inspiratif bagi saya. Seingat saya aku pernah menuliskan cerita beliau tersebut di sini, cuman lupa pict apa yang saya gunakan sebagai latar belakangnya) lanjut.... 

Saya meminta bapak pengemudi becak untuk menurunkan saya di titik nol (titik nol adalah salah satu tempat yang biasa disebut oleh warga di sana, tepatnya di Bank Indonesia yang juga berdekatan dengan Istana Negara, terkait detilnya, monggo ke Jogja... 😁) 
Sepanjang jalan Malioboro, saya melihat keramaian yang begitu luar biasa. Dengan berbagai macam pernak pernik khas Jogja, ornamen Nusantara yang menghiasi beberapa pusat perbelanjaan di sana, pakaian batik, jajanan khas Jogja dan sebagainya yang tidak cukup uangku untuk mencicipi semuanya...😁
Telah membuatku takjub dan teringat lagi akan nyanyian masa kecilku, "Di Malioboro, bapakku bilang...." Dan setelah beberapa melihat-lihat keramaian jalanan Malioboro, kemudian muncul pesan di handphone saya. Sebuah pesan whats app dari utusan mas Fadhil yang menjadi penjemput saya agar dibawa ke STEI Hamfara. Sampai di sana sudah menjelang shalat magrib. Saya bertemu dengan salah satu sahabat saya sekaligus adik kelas saya waktu di Mts Al-Munawwaarah, Onewaara, Buton. Saya baru menyadari jika ternyata dia kuliah di kampus yang keren masya Allah dan luar biasa itu. 

Selain dia, saya juga bertemu dengan sahabat saya yang berasal dari Palestina. Seorang pemuda yang pernah berkelahi alias berantem dengan tentara zionis Israel, Husein namanya. Dia berusia satu tahun lebih muda dari saya. Pertemuan kami berdua juga di Ma'had Syaraful Haromain, Bogor. (Makanya ku bilang juga apa, ma'had kami itu ma'had yang penuh berkah dan rahmat Allah melimpah di sana. Dan salah satu rahmat Allah SWT itu adalah bertemunya saya dengan seorang pemuda Mujahid Palestina yang juga jago winchun. Anda tahu kan pemirsa, apa itu Winchun..? 
Winchun adalah sejenis olah raga bela diri China yang dipopulerkan oleh sebuah film yang berjudul Yip Man. Pernah nonton kan filmnya..? Kalau belum, segeralah nonton tentang betapa kerennya jenis olah raga bela diri tersebut). 

Kami bertemu di Masjid Kampus STEI Hamfara, Jogjakarta. Setelah panggilan adzan dan iqomah pertanda shalat akan segera didirikan dikumandangkan, kami pun berdiri dengan rapi dan rapat bersama para mahasiswa STEI Hamfara. Kami diimami oleh Mujahid Palestina tersebut. KAGETNYA, pasca sebelum melaksanakan shalat magrib berjama'ah, saya dibisiki oleh beliau agar menyampaikan kultum setelah selesai shalat magrib di hadapan para mahasiswa super tersebut. Saya kikuk, kaget, bingung, pokoknya perasaan saya campur diaduk-aduk oleh bisikkan itu. Saat itu saya merasa tidak layak untuk berbicara di hadapan para mahasiswa yang dalam mindset saya telah tertanam bahwa mereka ini adalah para mahasiswa Super Hebat Luar Biasa Masya Allah. Bagaimana tidak, mereka didiklah langsung oleh para pakar sekaligus pejuang Islam terpercaya di negeri ini. Dwi Condro Teiono, Ph. D, Jubir HTI Muhammad Ismail Yusanto, KH. Muhammad Siddiq al-Jawiy, dan lain-lain. Selaib itu para mahasiswa tersebut adalah para mahasiswa yang sekaligus pejuang Islam yang begitu indah dan berwibawa, dari di antara mereka juga terdapat panghafal Al-Qur'an 30 juz, 18 juz, dan sebagainya. Selain itu, juga terdapat penulis beberapa buku yang saya bersyukur karena sempat tidur se-asrama dengannya. Kalau tidak salah ingat, Muhammad Amin namanya. Teman kamarnya Abdurrahman M. 

Pokoknya saat itu saya bingung, seakan ada sebuah gunung yang sedang menimpaku. Aku bingung, merasa tak mampu, tidak layak, dan tidak tidak lainnya yang ingib menyatakan bahwa saya belum bisa. Shalat magrib pun usai, salah seorang mahasiswa naik ke podium menjadi protokol alias MC. Nama saya pun dipanggil untuk mengisi kultum. Sembari menghilangkan berbagai ke-nerfesan yang saya alami, aku pun berdiri di atas podium dan menyampaikan beberapa hal yang menurut saya pasti sudah diketahui oleh para mahasiswa tersebut. Saya pun mulai dengan pembukaan sebagaimana para ustadz saat mengisi tausiyah pada umumnya. Dalam beberapa point yang saya sampaikan tersebut yakni sebagai berikut, 

"Saudara-saudara sekalian adalah orang-orang yang telah mengamban amanah yang sangat besar. Yakni sebuah amanah yang dimana ketika Allah menawarkannya kepada langit dan bumi, kedua makhluk tersebut menolaknya, kepada gunung-gunung, hewan, bahkan semua makhluk yang ada di muka bumi ini tidak bersedia memikulnya. Tapi kepada anda sekalianlah Allah pikulkan amanah ini sebagai sesuatu yang besar dan memuliakan. Itulah Al-Islam. Dengan Ekonomi Islam yang anda sekalian pelajari di sini, teman-teman semua akan menjadi rujukan dan penyebar sistem ekonomi Islam yang mulia. Karena anda di sini tidak hanya mempelajari ilmu ekonomi Islam, tapi anda sekalian juga mempelajari sistem ekonomi Islam yang jarang bahkan mungkin tidak diajarkan sama sekali oleh kampus-kampus ekonomi di seluruh Indonesia. Hal ini mencerminkan bahwa andalah yang akan membangkitkan peradaban di masa depan, dan anda pulalah yang akan menjadi pemimpin-pemimpinnya. Allah SWT telah berfirman, Kuntum khoiro ummatin, ukhrijats linnaas... Selama teman-teman sekalian istiqomah dalam perjuangan ini, maka bisa dikatakan bahwa umat terbaik saat ini tiada lain adalah anda sekalian. Karena sekali lagi, anda semualah yang akan menjadi pencerah tentang ekonomi Islam yang benar kepada kaum Muslimin yang lain... "

Kira-kira seperti itulah apa yang saya sampaikan dalam kultum waktu itu. Saya menggunakan kata" anda" bukan "kita" dalam kultum itu, karena saya tidak merasa layak untuk masuk dalam tataran mahasiswa super hebat itu. Kurang lebih demikian apa yang sampaikan, entah terdapat kekurangan atau kelebihan kata dalam menyampaikan. Tapi pointnya kira-kira demikian. Yakni tentang amanah besar yang dipikul dan tentang para mahasiswa yang akan menjadi pencerah di tengah-tengah masyarakat dengan ilmu yang telah mereka pelajari di kampus sederhana namun luar biasa tersebut.

Saya pernah berdiri di atas gedung tinggi STEI Hamfara tersebut dan melihat pemandangan indah dari atasnya. Dari sana terlihat Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang berdampingan. Saya pun mengambil gambar kedua gunung yang sedang bercanda ria tersebut dari kejauhan (di atas gedung Hamfara), saya tidak berani mendekat, karena sebagai jomblo, saya harus sadar diri soal itu. 😂😂😂

Terima kasih telah membaca sepenggal kisah tentang perjalanan ku di Jogjakarta, Mei 2016 lalu. :)

Monday, December 25, 2017

Menyoal LGBT dalam Pandangan Islam

Menyoal LGBT dalam Pandangan Islam

Oleh : Randi Rahmad (Devisi Kastra UHO)

Kelompok sekular-liberal mengkampanyekan LGBT (lesbian, gay, bisexual, transgender) sebagai salah satu gaya hidup di zaman modern kini. Padahal faktanya LGBT itu adalah kemaksiatan sejak masa purba ribuan tahun lalu. Kemaksiatan yang menyebabkan umat Nabi Luth ditenggelamkan oleh Allah Swt ke dalam bumi dengan sangat mengenaskan.
.
Sebagai pelajaran bagi seluruh umat manusia, Allah Swt mengabadikan peristiwa menakutkan tersebut dalam al-Quran. Allah Swt berfirman:
.
“Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (dijungkirbalikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar.” (QS. Hud: 82).
.
Terkait ayat tersebut, di dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan salah satu riwayat dari Muhammad Ibnu Ka'b Al-Qurazi. Beliau mengatakan bahwa kota utama kaum Luth ada lima, yaitu Sodom, Sa'bah, Su'ud, Gomorah, dan Dauha. Kota-kota tersebut dijungkirbalikkan oleh Allah Swt lalu diiringi dengan hujan batu dari tanah yang terbakar.
.
Azab dahsyat tersebut ditimpakan kepada kaum Nabi Luth sebagai balasan atas kemaksiatan mereka yang sudah melampaui batas. Yaitu kebiasaan homoseksual yang dilakukan oleh kaum tersebut. Sebuah kemaksiatan super keji yang binatangpun tidak ada yang mau melakukannya.
.
Menurut hasil penelitian mutakhir para arkeolog, diperkirakan lokasi Kota Sodom dan Gomorah tersebut terletak di wilayah Tall el-Hammam, Yordania. Tepatnya di lembah Sungai Yordan, sebelah utara Danau Mati. Sodom diyakini sebagai kota yang sangat besar, makmur, dan menjadi pusat perdagangan utama di masanya.
.
LGBT yang berupa kemaksiatan keji itu kini mulai dirilis ulang. Bahkan ada gerakan internasional untuk mengkampanyekan dan melegalkan kemaksiatan tersebut. Khusus di wilayah Asia misalnya, United Nations Development Programme (UNDP) telah merancang penguatan LGBT melalui program yang mereka namakan Being LGBT in Asia.
.
Pada web resmi UNDP (asia-pacific.undp.org) disebutkan bahwa “Being LGBT in Asia is a regional programme aimed at addressing inequality, violence and discrimination on the basis of sexual orientation, gender identity or intersex status, and promotes universal access to health and social services”. Artinya itu sebuah program terencana untuk menguatkan dan mempromosikan LGBT di Asia.
.
Program tersebut menargetkan empat negara, yaitu Indonesia, Filipina, Thailand, dan Cina selama empat tahun dari 2014 hingga 2017. Anggaran yang mereka siapkan juga cukup besar mencapai 8 juta dolar AS atau sekitar Rp. 107,9 miliar.
.
Karenanya gerakan LGBT itu bukan sekedar komunitas, namun sudah bermetamorfosis menjadi alat propaganda global ideologi liberalisme-sekularisme. Umat Islam sudah semestinya mewaspadai ancaman dan dampaknya. Sebab ideologi liberalisme-sekularisme itu akan mengerdilkan hukum agama Islam (syari’ah) dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Wallahua’lam bi ash-shawab.[]

4 benefits of playing in nature to grow child flower

4 benefits of playing in nature to grow child flower

RemajaIslamHebat.Com - Along with the development of age and technology, children are getting away from the free nature. Increasing the fear of parents against disease and danger playing outside is also another big factor. Though, throughout human history, children grew up in a free environment. ..

The Child's body is already designed to be ready to adapt in the wild. That's why there's a lot to offer nature's therapy for children. ...

Know Natural Therapy (Ecotherapy) Natural Therapy is also known as environmental therapy, green therapy, and other similar terms. This therapy has been proven able to improve the mood, reduce anxiety, stress, and depression, and improve child fitness. In Nature's therapy, children are driven to spend time in parks, gardens, green spaces, beaches, mountains, and other natural environments. While being in a free nature, the child is also recommended for a physical act like playing and exploring the environment. ...

You don't need to request a special therapist or register a child in a particular program, though. Nature's therapy can be done with the family. Like the holidays to the mountain and the beach or by playing in the open park every afternoon. ..Still, is this really useful? Apparently, a number of research has proven to play in the natural nature to produce various positive effects for physical and mental health. What's the benefit?

1. Fix child sleep patterns

A Natural Solar Beam helps the children stay fresh during the day and make it easier to sleep at night. An effective treatment for sleeping problems at night is with the morning sun display therapy that can set circadian rhythm. ...Rhythms or a biological clock is the work of biological organs. This circadian rhythm has also set up the cycle of waking and human sleep.

2. Increase energy .

A study that was loaded in the journal of environmental psychology in 2010 discovered that being in nature increases the spirit, happiness, and energy. ...In addition, playing outside and doing challenging activities such as climbing, jumping, or running is proven to increase fitness, bone strength, and the flexibility of child muscle. ...Children who spend more time in nature as well as more often move and exercise more than a child who is more quiet in the house. The World Health Organization (who) encourages children of 5 to 17 years to perform physical activity while it's heavy for at least an hour per day.

3. Training concentration ...

According to attention to restoration theory by Rachel Kaplan and Stephen Kaplan, the urban environment requires the child's brain to really focus on one job at a time. As a result, attention span or the deficit range of child will be drained quickly. Instead, in the child's free nature will be trained to focus the attention without difficulty. In addition, a study in the American Journal of preventive medicine finds that the children who play outside the house show an increase in creativity, skills solving problems, same working skills, and self-discipline. In addition, the kid with ADHD is proving more focused after playing outside the house.

4. builds confidence ..

When playing in nature, the child will be faced with a variety of unexpected things before. This is where the child's ability to decide and measure the risk will be trained. .

Like when playing on the beach kid saw a crab. At First, the little one might get scared. However, if it is taught that crabs are not dangerous during not being disturbed, long-time children are capable of building courage and confidence to explore the environment even if there is.

In Nature, the child will learn to recognize all kinds of risks such as falling or bitten by insects and think of how to avoid such risks.[]

Friday, December 22, 2017

Kemenangan di Pelupuk Mata Anak-anak Palestina

Kemenangan di Pelupuk Mata Anak-anak Palestina

Oleh : Salam el Fath

Anak-anak Palestina sejak masih dalam kandungan hingga kanak-kanak, mereka telah diajarkan oleh Ibu mereka bahwa kelak kemenangan akan tiba.

Hal inilah yang mengakar kuat dalam benak kepala mereka, sehingga sekalipun mereka masih berusia 5 tahun, anak-anak Palestina telah meyakini hal itu dan tidak pernah tersimpan rasa gentar di hati-hati mereka dalam menghadapi para tentara zionis Israel.

Selain keyakinan tentang kemenangan yang berada di hadapan mata, para Ibu di Palestina juga telah menanamkan di benak kepala para mujahid mudanya, bahwa yahudi tidak memiliki negara. Wilayah yang mereka tinggali saat ini adalah tanah milik kaum Muslimin, bukan tanah mereka.

Oleh karena itulah, ketika ada seorang wartawan yang mengiming-imingi hadiah kepada anak-anak Palestina agar mereka mengakui negara Israel, para Mujahid tersebut dengan spontan dan bangga menjawab bahwa Israel bukan negara, itu adalah tanah milik Palestina. Tanahnya kaum Muslimin. Lalu hadiah itu pun dibiarkan begitu saja.

Iman anak-anak di Palestina telah terjaga. Mereka tidak membutuhkan harta demi menjaga keyakinan mereka pada Allah, Rasul-Nya, dan hak-hak mereka. Walau itu harus pertaruhkan nyawa. Maka tak heran pula jika para tentara la'natullah Israel bukan hanya membunuh kaum Muslimin yang berusia dewasa, tapi anak-anak juga mereka bunuh karena ketakutan mereka jika anak-anak itu besar dan bangkit melawan mereka.

Bagi anak-anak Palestina, kematian bukanlah sesuatu yang mereka takutkan. Tapi adalah seberupa hadiah yang telah disiapkan oleh Allah bagi mereka. Maka tak ada rasa takut dalam diri mereka untuk melawan, karena di hadapannya telah melihat kemenangan (Surga).

Maha Benar perkataanmu yaa Rasulullah, kiblat Iman saat ini adalah di bumi Syam (Palestina).[]

Special supplies before a household life for muslimah

Special supplies before a household life for muslimah

Special supplies before a household life for muslimah: .

1. Learn to take care of the body and beautify appearances. .

One of the muslimah forms to her husband is always keeping up appearances, trying to always appear beautiful and attractive in front of her husband. .

With a good look at the body and beautify the appearance in front of your husband, will be able to increase the taste of the love of his wife. . Learn how to take care of the body, learn how to dress up and appear in front of the husband to be one of the supplies that must be prepared all .

2. Clever Set house. .

The second thing that must be prepared is a good place to set up a house, is a muslimah after marriage, of course at home being the mother of the household prepares everything at home for husband and The need to be prepared is everything related to this kind of getting used to cleaning the house so it looks neat, learning to cook because by enjoying the meal of the wife certainly will be something special for a husband. .

In addition to the things that are still related to organizing houses as well as building a good relationship with neighbors and people in the neighborhood. .

3. Good parenting and caring for kids. .

Umar ibn Khattab says one of the rights of the child was chosen by his father, the mother of his father, the main reason that mother would become a teacher and a school for Mother has a great role for the successful children of the world and the afterlife. .

So that they may take care of the children of the world, and when they are pregnant, when they are delivered to the day of birth. Of course, the science of the intricacies must be learned by the future mothers before marriage..[]

Idolamu : Bisa Jadi Surga atau Nerakamu

Idolamu : Bisa Jadi Surga atau Nerakamu

Oleh : Salam el Fath

Idola bukanlah klaim bibir, tapi pada hati yang diikuti perbuatan di kehidupan nyata. Jika yang diidolakan adalah Nabi Muhammad SAW, maka pasti perilakunya akan patuh dan mengikuti sang idola.

Para ulama berkata:

Azhari berkata: “Arti cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.”

Al-Baidhawi berkata, “Cinta adalahkeinginan untuk taat."

Ibnu Arafah berkata, “Cinta menurut istilah orang arab adalah menghendaki sesuatu untuk meraihnya.”

Al-Zujaj berkata, “Cintanya manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati keduanya dan ridha terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw.”

Itulah makna cinta pada Allah SWT dan sang idola. Namun jika yang diidolakan adalah artis korea, artis bola, dan artis selebrita, maka shalat boleh lewat, belajar boleh tinggal, membantu orang tua boleh diabaikan, yang terpenting adalah nonton film korea, nonton bola, dan nonton film kesukaan karena pemainnya artis idola.

Maka di sinilah peringatan dan ancaman itu, Allah SWT berfirman :
ِ

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal). Q.S. Al-Baqarah : 165.

Siapa yang diidolakan oleh seseorang, maka ia akan bersama orang yang diidolakannya di Akhirat kelak.

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kiamat. Ia berkata, “Kapan terjadinya kiamat ya Rasulullah?” Rasul berkata, “Apa yang telah engkau siapkan untuknya?” Laki-laki itu berkata, “Aku tidak menyiapkan apa pun kecuali sesungguhnya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasul saw. berkata, “Engkau bersama apa yang engkau cintai.” Anas berkata; Kami tidak pernah merasa bahagia dengan sesuatu pun yang membahagiakan kami seperti bahagianya kami dengan perkataan Nabi, “Engkau bersama apa yang engkau cinta”, Anas kemudian berkata, “Maka aku mencintai Nabi, Abû Bakar, dan Umar. Dan aku berharap akan bersama dengan mereka karena kecintaanku kepada mereka meskipun aku belum bisa beramal seperti mereka.” (H.R. Mutafaq�un 'Alaih).

Jadi, siapa idola kamu saat ini, dialah temanmu di Akhirat nanti. Sebaik-baik teman duduk adalah Al-Qur'an, sebaik-baik teman bergaul adalah sahabat taat, dan sebaik-baik idola adalah Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Thursday, December 21, 2017

Dear, Dakwah ini ada Karena Cinta

Dear, Dakwah ini ada Karena Cinta

Oleh : Ana Nazahah

Dear sahabat hijrah yang dirahmati Allah, berbaik-baiklah dalam menyampaikan kebenaran. Pun dalam menerima.

Tidak sepantasnya jika ada yang mengingatkan, kita malah saling berdalih dan berdebat antar saudara.

Masalah apakah kita adalah Kpopers atau bukan, janganlah hal tersebut menjadi pemecah persahabatan dan persaudaraan sesama Muslim diantara kita. Tenanglah dulu dalam menyikapinya.

Jangan sampai masalah idola menghancurkan persatuan kita sebagai sesama saudara.

Dear sahabat hijrah, Ingatlah di yaumil akhir nanti, saat tak ada lagi pertolongan  dan tempat bernaung dari manusia seluruhnya, Allah akan payungkan dua saudara yang saling mencinta.

Nasehat itu ada bersebab masih ada cinta. Tak mungkin menasehati sesama jika tidak ada cinta.

Jika pun bukan karena cinta cepat lambat akan terlihat jua. Siapa yang menyimpan pura, siapa pula sahabat yang setia yang senantiasa memberi cinta.

Jika terkesan kasar dan berlaku semena dalam ucapan tak terjaga, itu karena emosi yang muncul karena papa. Dan ketahuilah marah juga salah satu tanda cinta. Jika sudah tak peduli lagi,  mana pula emosi ada.

Jadi apa yang harus dilakukan untuk sesama saudara?, sampaikan dengan ma'ruf. Dan yang menerima, ambil nasehat dengan lapang dada. Karena semua toh untuk kebaikan kita bersama.

Ingatlah Semua ada karena cinta. Tentunya bukan cinta yang menawarkan ilusi dan kebahagiaan semu fatamorgana.

Lalu cinta yang bagaimana dan seperti apa?. Mari sama² belajar lebih keras lagi dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT Sang pemilik Cinta.

Hilangkan prasangka dengan meletakkan dasar cinta hanya pada Allah semata. Karena hanya dengan mencintai Allah saja cinta bersama saudara terasa nyata.

Ukhty, Ana uhibbuki fillah, keep hamasah, salam hijrah.[]

Tuesday, December 19, 2017

Tolak Pembekuan Kepengurusan KOPMA dan LDK, ini Pernyataan Sikap Aliansi Mahasiswa Bersuara

Tolak Pembekuan Kepengurusan KOPMA dan LDK, ini Pernyataan Sikap Aliansi Mahasiswa Bersuara

RemajaIslamHebat.Com - Persekusi dan pembungkaman aktivis dakwah yang terus dilakukan oleh pihak kampus baik birokrasi dan DEMA IAIN Kendari Menjadikan ALIANSI MAHASISWA BERSUARA Meggelar Aksi. berikut pernyataan sikapnya :

Pernyataan Sikap
ALIANSI MAHASISWA BERSUARA
AKSI DAMAI TOLAK PEMBEKUAN KEPENGURUSAN KOPMA DAN LDK
(Birokrasi dan DEMA I jangan jadi Perpanjangan tangan Rezim)

Dakwah merupakan kewajiban yag telah dibebankan oleh Allah kepada umat islam baik itu secara pribadi dan juga secara kelompok ( jamaah). Melaksanakan aktivitas dakwah merupakan perkara  yang mulia dan pelaku nya akan mendapaatkan pahala begitu juga sebaliknya tidak  berdakwah  merupakan    kemaksiatan dan akan dihitung sebagai perbuatan dosa terlebih membubarkan  lembaga dakwah merupakan dosa besar yang akan di mintai pertanggung jawaban kelak di akhirat. LDK dan KOPMA hadir di IAIN Kendari sebagai lembaga intra kampus adalah representasi  dari seruan Allah
dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung. (QS.Ali Imran :104)
Disisi lain menyampaikan pendapat dihadapan umum, berkumpul dan berserikat merupakan hak warga Negara yang dijamin oleh konstitusi. Namun, Melihat dinamika Birokrasi kampus akhir-akhir ini dengan masifnya persekusi yang dilakukan pihak kampus terhadap aktivis dakwah kampus mulai dari skorsing, larangan mahasiswa untuk masuk dalam organisasi semisal LDK, menghalang-halangi aktivis dakwah kampus untuk melakukan dakwah islam secara kaffah serta yang paling terbaru adalah bagaimana kampus melalui surat hasil rapat pimpinan tertanggal 4 okt 2017 yang ditujukan kepada DEMA I dan SEMA I untuk pembekuan kepengurusan KOPMA dan LDK. Tidak ketinggalan bagaimana tindakan DEMA I yang dalam hal ini seharusnya menjadi lembaga yang mengkoordinasi lembaga-lembaga intra kampus dengan indepedensinya, namun saat ini telah menjadi perpanjangan tangan birokrasi yang ditandai dengan keluarnya SK pembekuan kepengurusan terhadap lembaga KOPMA dan LDK sebagai kelanjutan dari surat hasil rapat pimpinan yang dikeluarkan oleh Warek III tanpa ada alasan yangjelas dan  rasional baik secara hukum syara maupun secara administratif KBM IAIN Kendari kecuali hanya menjadi perpanjangan tangan birokrasi.
Jelas ini merupakan kesewenang-wenangan dan kemaksiatan yang dilakukan pihak birokrasi kampus juga DEMA IAIN Kendari dalam hal melakukan pembekuan kepengurusan terhadap LDK dan KOPMA. Olehnya itu kami yag tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bersuara menyatakan:

1. Menyerukan kepada Birokrasi kampus untuk tidak lagi mempersekusi aktivis dakwah kampus yang menyampaikan islam secara kaffah dan tidak menjadi corong rezim represif

2. Menyerukan kepada Birokrasi (WAREK III) dan DEMA IAIN Kendari untuk Mencabut pembekuan kepengurusan LDK dan KOPMA

3. Menyerukan kepada DEMA IAIN Kendari untuk tidak menjadi perpanjangan tangan birokrasi, dan tetap pada khittahnya sebagai Lembaga yang mengkoordinir lembaga kemahasiswaan yang independen

4. Sekiranya seruan kami tidak diIndahkan maka kami akan terus menggalang massa dari berbagai elemen mahasiswa untuk menuntut hal ini dan akan menempuh jalan Hukum, serta kami akan melakukan kampanye diseluruh kampus dan sekolah Se SULTRA atas kediktatoran ini.

Hanya kepada Allah lah kami berserah diri dan memohon ampun.
ttd

korlap aksi
Hikma Sanggala

Mengetahui Akar Masalah Palestina dan Solusinya

Mengetahui Akar Masalah Palestina dan Solusinya

Oleh : Hardi Jofandu (Blogger)

1. Akhir abad ke 18, tanah Palestina masih dalam kekuasaan Khilafah Utsmani (Ottoman). Meskipun Khilafah saat itu melemah, bahkan dijuluki 'sick man of eroupe', tak seujung kuku tanah Palestina terusik : belum ada pengusiran, apalagi pembantaian. Saat itu, umat Islam hidup terhormat, bahkan mengendalikan politik dunia Internasional.

2. Pada saat yang sama, Kaum Yahudi di seluruh dunia masih mengalami penindasan dan pengusiran. Saat itu, terjadi anti semitisme (tepatnya anti jews) di Eropa. Contoh, di Prancis, Louis IX (1226-1270), memerintahkan pengusiran semua orang Yahudi dari kerajaannya, sesaat setelah Louis berangkat menuju medan Perang Salib ; di Rusia, sebagai akibat dari kebencian yang disebarkan oleh gereja Kristen Ortodoks Rusia, kaum Yahudi dikucilkan dan diusir dari Rusia dalam kurun waktu mulai abad ke-15 sampai dengan tahun 1722 ; Abad ke-15 menyaksikan pembantaian besar-besaran kaum Yahudi dan Muslim di Spanyol dan Portugal. Pada tahun 1483 saja, dilaporkan 13.000 orang Yahudi dieksekusi atas perintah Komandan Inqusisi di Spanyol, Fray Thomas de Torquemada. Dll.

3. Melihat penindasan terhadap kaum Yahudi di Eropa, maka seorang wartawan asal Budapest, Theodore Herzlt tergerak hatinya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dengan mengamati fakta dan sejarah masalah lalu, maka ia menyimpulkan bahwa persoalan anti - Yahudi, hanya bisa teratasi apabila kaum Yahudi punya negara. Negara itulah yang akan menyatukan dan menjaga kaum Yahudi.

4. Maka tahun 1894, Herzlt membukukan isi pemikirannya tersebut dalam sebuah buku, 'Der Judenstat', judulnya. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, Herzlt sangat yakin dan berjuang sungguh-sungguh. Bahkan dalam buku 'Old New Land', ia menulis 'If you will it, its a no dream (jika engkau ingin itu, itu bukan mimpi) . Ungkapan ini menunjukkan bahwa dalam menegakkan negara Yahudi, Herzlt tak main-main.

5. 2 Tahun berselang, tahun 1896, Herzlt bersama teman karibnya Neolanski berkunjung ke Istanbul, untuk menemui Khalifah Abdul Hamid II. Kedatangan mereka tentu bukan untuk rekreasi, namun untuk meminta tanah Palestina ke Khalifah. Tidak tanggung-tanggung, mereka memberikan iming kepada Khalifah. Namun, tawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh Khalifah.

6. Penolakan tersebut ternyata tidak membuat semangat Herzlt surut. 5 tahun berselang, 1902 delegasi Herzlt kembali mendatangi Khalifah, Abdul Hamid II. Kali ini mereka menyogok Khalifah dengan : memberikan hadia sebesar 150 juta Poundsterling untuk pribadi Sultan, membayar semua utang Khalifah yang mencapai 33 juta Poundsterling, membangun kapal Induk untuk menjaga pertahanan pemerintah Utsmani yang bernilai 120 juta frank, memberikan pinjaman tanpa bunga sebesar 35 juta Poundsterling dan membangun sebuah Universitas Utsmani di Palestina.

7. Tawaran mereka lagi-lagi ditolak oleh Abdul Hamid. Dengan sangat tegas, Abdul Hamid berkata :

"Aku tidak akan melepaskan walaupun segengam tanah ini (Palestina) karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat. Umat ini telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyirami tanah ini dengan darah mereka. Yahudi silahkan menyimpan harta mereka. Jika Khilafah Islam dimusnahkan pada suatu hari, mereka boleh mengambil tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku hidup, aku lebih rela menusuk tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islam. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selama kami masih hidup!"

8. Sejak penolakan tersebut, kaum Zionis yang dimotori oleh Herzlt, mengubah strateginya. Mereka bersepakat bahwa untuk mendapatkan tanah Palestina Khilafah Utsmani (Ottoman) harus dihancurkan. Untuk merealisasikan cita-citanya, kaum Zionis mendapatkan dukungan dari Inggris.

9. Sedikit informasi : untuk mendapatkan dukungan Inggris, kaum Zionis menggunakan 2 cara. Pertama : menjerat leher Inggris dengan hutang dan ribanya melalui Lord Rotchild. Kita tahu, Rotchild adalah bankir Yahudi ternama di Eropa. Dia memutar uangnya, dengan riba tentunya untuk menghutangi negara-negara yang membutuhkan biaya besar, termasuk Inggris. Ketika leher Inggris sudah terjerat hutang dan ribanya, Rotchild pun akan mudah meminta tanah untuk bangsanya.

10. Kedua : Membantu Inggris dalam hal persenjataan melalui Dewan Umum Zionis, Chaim Weisman. Kita tahu, Chaim Weisman adalah seorang kimiawan. Untuk urusan persenjataan, dialah ahlinya.

11. Tahun 1904, Herlzt meninggal dunia. Meskipun bapak Zionis ini meninggal, perjuangan menegakkan negara Israel terus berlanjut. Perjuangan tersebut dilanjutkan oleh teman seperjuangan Herzlt, Chaim Weisman dan Lord Rothcild.

12. Perlu diketahui, kondisi Khilafah saat kaum Zionis datang meminta tanah Palestina sangatlah melemahnya. Saking melemahnya, Khilafah dijuluki 'sick man of eroupe', atau negara yang sakit. Meski Khilafah saat itu melemah, tak seujung Tak seujung kuku tanah Palestina terusik.

13. Nafas segar Palestina tak bertahan lama. Malapetaka akhrinya datang atas nama perang Dunia 1(1914 - 1918). Khilafah yang saat itu melemah terjebak mengikuti perang ini dan terpaksa masuk dalam aliansi sentral, yakni bersama Jerman dan Austria - Hongaria, melawan aliansi sekutu, yakni Prancis, Inggris (Britania Raya) dan Rusia. Puncaknya, aliansi sentral mengalami kekalahan yang memalukan. Khilafah kalah!

14. Sebagai konsekuensinya, wilayah Khilafah Utsmani dibagi-bagi melalui perjanjian Sykes - Picot (16 Mei 1916). Perjanjian ini adalah perjanjian pembagian wilayah Khilafah ke Inggris dan Prancis.Dalam perjanjian ini, wilayah Palestina dibawah kendali Inggris (Britania Raya).

15. Tanggal 2 November 1917, Sir Arthur James Balfour selaku Perdana Menteri Inggris mengirimkan surat kepada Lord Rotchild, pemimpin Komunitas Yahudi di Inggris untuk dikirimkan ke federasi Zionis. Intinya, surat itu berisi janji pemerintah Inggris untuk memberikan tanah air bagi Yahudi di Palestina. Nah, peristiwa inilah kemudian yang disebut Deklarasi Balfour.

16. Singkatnya, untuk mewujudkan janji tersebut, Inggris melalui LBB (Liga Bangsa-bangsa) menerbitkan mandat for Palestine. Setelah mandat ini disahkan, terjadilah imigrasi Yahudi besar-besaran ke Palestina : sekitar 90.000 orang Yahudi. Dalam salah sumber, disinilah cikal bakal pembantaian Palestina bermula.

17. Tahun 1945, terjadilah pemboman Hiroshima dan Nagasaki di Jepang yang menandakan bahwa Perang Dunia 2 berakhir. Berakhirnya perang ini menjadikan Amerika Serikat sebagai negara adidaya baru. Karenanya, Amerika mengubah LBB menjadi PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa). Melalui PBB inilah target pendirian negara Israel semakin dekat.

18. Tanggal 29 November 1947, PBB membuat Resolusi 181 (UN Partition Plan). Secara kasar resolusi membagi dua wilayah Palestina : 55% untuk Kaum Yahudi dan 45% untuk Palestina. Satu tahun setelahnya, 14 Mei 1948, diproklamirkanlah kemerdekaan Israel. Sejak saat itu, eksistensi Israel sebagai sebuah negara pun diakui dunia., sedangkan Palestina tidak diakui.

19. Dari urain diatas, setidaknya ada beberapa poin yang penting tuk diketahui :

Pertama: Palestina dulunya adalah wilayah Khilafah, yang artinya milik seluruh umat Islam.

Kedua : Sejak Khilafah masih mewujud, tanah Palestina tidak bisa diusik, bahkan dalam keadaan Khilafah melemah sekalipun, kaum Zionis penjajah tak bisa berbuat apa-apa. Mengusik segenggam tanahnya saja, tak bisa!

Ketiga: Tanah Palestina jatuh ketangan penjajah (Inggris dan Prancis) setelah Khilafah kalah pada perang Dunia 1. Perjanjian yang mengatur pembagian wilayah Khilafah ini adalah perjanjian Sykes - Picot, yang namanya diambil dari Diplomat Inggris Sir Mark Sykes dan Diplomat Prancis, Francois George Picot.

20. 3 poin penting diatas memberikan kita sebuah gambar bahwa Khilafah memang penting untuk menjaga kaum Muslim. Maka tak ada solusi lain untuk menyelesaikan masalah Palestina, kecuali Khilafah.Wallahu a'lam.[]

Monday, December 18, 2017

Inilah Beberapa Ponpes Tertua di JA-TIM

Inilah Beberapa Ponpes Tertua di JA-TIM

RemajaIslamHebat.Com - Saudara-saudariku...Inilah beberapa ponpes (Pondok Pesantren) Tertua dan Terbaik di Jawa Timur yang diklasifikasikan berdasarkan tahun pendirian dan perkembangannya yang hingga saat ini masih tetap bertahan dan tidak tergerus perubahan zaman meski sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun.

Berikut  ini beberapa Pondok Pesantren Terbaik di Jawa Timur :

1). Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur (berdiri tahun 1718)

Sidogiri dibabat oleh seorang Sayyid dari Cirebon Jawa Barat bernama Sayyid Sulaiman. Beliau adalah keturunan Rasulullah r dari marga Basyaiban.

Ayahnya, Sayyid Abdurrahman, adalah seorang perantau dari negeri wali, Tarim Hadramaut Yaman.

Sedangkan ibunya, Syarifah Khodijah, adalah putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati.

Dengan demikian, dari garis ibu, Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.

Sayyid Sulaiman membabat dan mendirikan pondok pesantren di Sidogiri dengan dibantu oleh Kiai Aminullah.

Kiai Aminullah adalah santri sekaligus menantu Sayyid Sulaiman yang berasal dari Pulau Bawean.

Konon pembabatan Sidogiri dilakukan selama 40 hari. Saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang tak terjamah manusia dan dihuni oleh banyak makhluk halus. Sidogiri dipilih untuk dibabat dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini tanahnya baik dan berbarakah.

2). Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Gading Malang Jawa Timur (berdiri tahun 1768)

Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Malang didirikan oleh KH. Hasan Munadi pada tahun 1768. PPMH juga dikenal dengan nama Pondok Gading karena tempatnya berada di kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Bahkan nama yang terakhir lebih masyhur dikalangan masyarakat.

KH. Hasan Munadi wafat pada usia 125 tahun. Beliau mengasuh pondok pesantren ini selama hampir 90 tahun. Beliau meninggalkan empat orang putra yaitu: KH. Isma'il, KH. Muhyini, KH. Ma'sum dan Nyai Mujannah. Pada masa itu, Pondok Gading belum mengalami perkembangan yang signifikan.

Setelah KH. Hasan Munadi wafat, Pondok Gading diasuh oleh putera pertama beliau yang bernama KH. Ismail. Dalam menjalankan tugasnya yaitu membina dan mengembangkan pondok pesantren, generasi kedua ini dibantu oleh keponakannya sendiri yaitu KH Abdul Majid. Karena tidak mempunyai keturunan, maka KH. Ismail mengambil salah seorang puteri KH. Abdul Majid yang bernama Nyai Siti Khodijah sebagai anak angkat. Puteri angkat ini kemudian beliau nikahkan dengan salah seorang alumni Pondok Pesantren Miftahul Huda, Jampes Kediri Yaitu KH. Moh. Yahya yang berasal dari daerah Jetis Malang.

3). Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan Madura Jawa Timur (berdiri tahun 1787)

Pondok Pesantren Banyuanyar bermula dari sebuah langgar (musholla) kecil yang didirikan oleh Kyai Itsbat bin Ishaq sekitar tahun + 1787 M/1204 H. Beliau adalah salah seorang ulama kharismatik yang terkenal dengan kezuhudan, ketawadhuan dan kearifannya yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh masyarakat dan pengasuh pondok pesantren di Pulau Madura dan Pulau Jawa.

Pada awal berdirinya, Pondok Pesantren Banyuanyar hanya berlokasi di atas sebidang tanah tegalan yang sempit dan gersang yang kemudian dikenal dengan sebutan “Banyuanyar”. Di lokasi inilah Kyai Itsbat mengasuh para santrinya dengan penuh istiqomah dan sabar, sekalipun sarana dan fasilitas yang ada pada saat itu jauh dari kecukupan. Setelah wafat, beliau meninggalkan amanah suci pada generasi penerusnya yaitu cita-cita luhur untuk mendirikan sebuah pondok pesantren yang representatif yang mampu menjawab tantangan zaman dan tuntutan umat.

Nama Banyuanyar diambil dari bahasa Jawa yang berarti air baru. Hal itu didasari penemuan sumber mata air (sumur) yang cukup besar oleh Kyai Itsbat. Sumber mata air itu tidak pernah surut sedikitpun, bahkan sampai sekarang air tersebut masih dapat difungsikan sebagai air minum santri dan keluarga besar Pondok Pesantren Banyuanyar.

4). Pondok Pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur (berdiri tahun 1830)

Setelah Bagus Darso (nama kecil KH. Abdul Manan) menyelesaikan pelajarannya di Pondok Tegalsari Ponorogo, beliau lantas mendirikan pondok di daerah Semanten [2km arah utara kota Pacitan], Namun dikemudian hari pondok tersebut akhirnya dipindah ke Tremas.

Usaha pertama kali yang dilakukan untuk membangun tempat pengajian sudah barang tentu mendirikan sebuah masjid (terletak agak ke sebelah timur dari masjid yang sekarang). Dan setelah santri-santri dari jauh yang sebagian berasal dari bekas santri-santrinya di Semanten mulai berdatangan, maka dibangunlah sebuah asrama pondok di sebelah selatan masjid. Sudah barang tentu keadaan masjid dan asrama pondok pada waktu itu masih sangat sederhana sekali, atapnya masih menggunakan daun ilalang dan kerangka lainnya masih banyak yang menggunakan bahan dari bambu.

Perkembangan Pondok Tremas pada masa itu sumber dananya diperoleh dari mertuanya, yaitu Demang Tremas Raden Ngabehi Honggowijoyo, karena membangun pondok adalah memang merupakan tujuan utama dari Raden Ngabehi Honggowijoyo untuk mengambil Bagus Darso sebagai menantu.

5). Pondok Pesantren Langitan Tuban Jawa Timur (berdiri tahun 1852)

Pondok pesantren Langitan berdiri pada tahun 1852. Ponpes ini adalah pesantren yang sangat berpengaruh di daerah Surabaya ke arah barat menjangkau kabupaten Bojonegoro, Gresik, Cepu, Tuban serta Lamongan. Figur yang sangat mempunyai kharisma tinggi di pesantren ini adalah adalah KH Abdullah Faqih yang turut berkiprah di kancah politik Nasional. Hal inilah yang menambah dikenalnya pesantren Langitan ini.

6). Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan Jawa Timur (berdiri tahun 1861)

Syaikhona (Syaichona) Kholil mendirikan sebuah pesantren di daerah Cengkubuan, Bangkalan. Setelah putrinya, Siti Khatimah, dinikahkan dengan keponakannya sendiri, yaitu Kiai Muntaha (Muhammad Thaha); pesantren di desa Cengkubuan itu kemudian diserahkan kepada menantunya tersebut. Dan Kiai Khalil sendiri, pada tahun 1861 M., mendirikan pesantren lagi di daerah Kademangan, hampir di pusat kota; sekitar 200 meter sebelah Barat alun-alun kota Kabupaten Bangkalan. Letak pesantren yang baru itu, hanya selang 1 kilometer dari pesantren lama dan desa kelahirannya. Pesantren yang terakhir ini kemudian dikenal sebagai pesantren Syaikhona Kholil.

Dari pesantren di Kademangan inilah KH. Khalil bertolak menyebarkan Islam di Madura sampai Jawa. Pada mulanya beliau membina agama Islam di sekitar Bangkalan. Baru setelah dirasa cukup baik, mulailah beliau merambah ke pelosok-pelosok yang jauh, hingga menjangkau seluruh Madura. 

7). Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur (berdiri tahun 1899)

Pondok Pesantren Tebuireng didirikan oleh Kyai Haji Hasyim Asy’ari pada tahun 1899 M. Pesantren ini didirikan setelah ia pulang dari pengembaraannya menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren terkemuka dan di tanah Mekkah, untuk mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya.

Tebuireng dahulunya merupakan nama dari sebuah dusun kecil yang masuk wilayah Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Letaknya delapan kilometer di selatan kota Jombang, tepat berada di tepi jalan raya Jombang – Kediri. Menurut cerita masyarakat setempat, nama Tebuireng berasal dari “kebo ireng” (kerbau hitam).[1] Versi lain menuturkan bahwa nama Tebuireng diambil dari nama punggawa kerajaan Majapahit yang masuk Islam dan kemudian tinggal di sekitar dusun tersebut.

Dusun Tebuireng sempat dikenal sebagai sarang perjudian, perampokan, pencurian, pelacuran dan perilaku negatif lainnya. Namun sejak kedatangan K.H. Hasyim Asy’ari dan santri-santrinya, secara bertahap pola kehidupan masyarakat dusun tersebut berubah semakin baik dan perilaku negatif masyarakat di Tebuireng pun terkikis habis. Awal mula kegiatan dakwah K.H. Hasyim Asy’ari dipusatkan di sebuah bangunan yang terdiri dari dua buah ruangan kecil dari anyam-anyaman bambu (Jawa: gedek), bekas sebuah warung yang luasnya kurang lebih 6 x 8 meter, yang dibelinya dari seorang dalang. Satu ruang digunakan untuk kegiatan pengajian, sementara yang lain sebagai tempat tinggal bersama istrinya, Nyai Khodijah.

Organisasi NU tersebar di seluruh provinsi di Indonesia dengan lebih dari 400 cabang, tetapi pengurus-pengurus wilayah NU yang kegiatan usahanya cukup nyata antara lain adalah yang berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.[2] Saat ini, keberadaan Pondok Pesantren Tebuireng telah berkembang dengan baik dan semakin mendapat perhatian dari masyarakat luas.

8). Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur (berdiri tahun 1914)

Awalnya areal Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo adalah hutan belantara yang membentang dari Gunung Baluran sampai wilayah Asembagus. Hutan belantara itu dikenal sangat angker karena disamping dihuni oleh binatang buas, juga dedemit. Saat itu penduduk tidak ada yang berani memasuki hutan tersebut.

Pada tahun 1328 H / 1908 M, Kiai Syamsul Arifin atas saran Habib Hasan Musawa dan Kiai Asadullah dibantu putranya, As’ad dan beberapa orang santri yang menyertai dari Madura, membabat dan merambah hutan tersebut untuk didirikan sebuah pesantren dan perkampungan.

Upaya keras Kiai Syamsul Arifin akhirnya terwujud. Berdirilah sebuah pesantren kecil yang hanya terdiri dari beberapa gubuk untuk difungsikan rumah, musalla dan asrama santri yang waktu itu hanya beberapa orang.

Sejak tahun 1914, pesantren kecil itu berkembang bersamaan dengan datangnya para santri dari wilayah sekitar Karesidenan Besuki. Tahun itu pula kemudian dijadikan tahun berdirinya Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah. Setiap perayaan ulang tahun selalu dirujuk pada tahun itu.

Saat ini pesantren ini berkembang pesat dengan memiliki santri 15.000 orang yang berasal dari seluruh Indonesia dan luar negeri.

9). Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur (berdiri tahun 1926)

Pondok ini merupakan pelopor dan inovator pembuat pesantren modern yang terinspirasi oleh Sir Syed Ahmad Khan founder Aligarh Muslim University di India yang melakukan modernisasi pendidikan Islam. Dahulu ponpes ini bernama Ponpes Darussalam Gontor, dan setelah dirubah namanya menjadi Pondok Modern Gontor yang membuat pesantren ini menjadi institusi pendidikan Islam yang sering ditempati oleh masyarakat Islam perkotaan yang dulu enggan belajar di pondok pesantren karena terkesan tua.

Pondok pesantren modern Gontor mempunyai ciri khas tersendiri yatu memiliki kedisiplinan yang tinggi, pembiasaan dalam mengucap bahasa Arab dan Inggris yang sering digunakan dalam bahasa sehari-hari serta kerapihan mengenakan pakaian yang selalu memakai dasi saat bersekolah, dan masih banyak yang lainnya. Di sini pun para santri belajar tentang kisah hijrah Nabi Muhammad, kerajaan Islam di Indonesia serta sejarah perkembangan agama Islam di Eropa.

Secara keseluruhan, sistem yang dipakai di Pondok Modern Gontor berjalan dengan baik dan sangat sukses. Karena kesuksesannya tersebut, sistem yang dipakai di Pondok Modern Gontor ini menciptakan tren baru dikalangan pesantren-pesantren di Indonesia.

10). Pondok Pesantren Bata-bata Pamekasan Madura Jawa Timur (berdiri tahun 1943)

Pondok pesantren Mambaul Ulum Bata Bata didirikan oleh RKH .Abd Majid bin Abd Hamid bin RKH Itsbat, Banyuanyar pada tahun 1943 M / 1363 H. Kepemimpinan RKH Abd Majid berlangsung selama 14 tahun terhitung mulai tahun 1943 M sampai dengan 1957 M. Beliau Wafat pada tanggal 6 Syawal 1364 H/ 1957 M dengan jumlah santri yang telah mencapai 700 orang.

Selama dua tahun (1957–1959 M) Pondok pesantren Mambaul Ulum Bata Bata mengalami kekosongan kepemimpinan. Hal ini disebabkan karena putera beliau, RKH Abd Qadir masih belajar di Mekah dan menantunya, RKH Ahmad Mahfudz Zayyadi (Ayah RKH Abd Hamid, Pengasuh sekarang) sudah menetap di pondok pesantren Nurul Abror, Alasbuluh, Wongsorejo, Banyuwangi. Bahkan, kekosongan yang cukup lama ini menyebabkan lokasi pesantren banyak ditumbuhi rumput hingga setinggi lutut.

Untuk mengisi kekosongan itu, RKH Abd Hamid Bakir (Putera RKH Abd Majid, pengasuh PP Banyuanyar) pulang-pergi Banyuanyar-Bata Bata untuk memberikan pembinaan pada dua pesantren sekaligus. Beliau dibantu oleh beberapa tokoh penting lain, diantaranya adalah KH. As’ad (Timur Sumber), KH. Ahmad Faqih (Toronan) dan KH Ahmad Zahid (Pakes). Pada masa itu, banyak santri yang juga menimba ilmu pada kyai-kyai di sekitar pondok pesantren termasuk diantaranya adalah KH. Barmawi (Gudang, Panaan).

SEMOGA MANFAAT

Penulis : Ustadz Abu Nana

Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar

Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar

RemajaIslamHebat.Com - Saudara-saudariku....selain menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia, Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah yang didirikan sejak abad ke-18 di Sidoarjo Jawa Timur itu telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri NU di negeri ini.

"Pondok pesantren ini telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama seperti KH M Hasyim Asy'ari, KH Asy'Ad Samsul Arifin, KH Ridwan Abdullah pencipta lambang Nahdlatul Ulama, KH Alwi Abdul Aziz, KH Wahid Hasyim, KH. Cholil, KH. Nasir (Bangkalan) KH.Wahab Hasbullah, KH. Umar (Jember), KH. Usman Al Ishaqi, KH. Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), KH. Dimyati (Banten, dan lain-lain," kata Pengasuh Ponpes Al-Hamdaniyah, M Hasyim Fahrurozi.

Selain banyak melahirkan ulama besar, pesantren yang terletak di desa Siwalan Panji Buduran Sidoarjo itu terbilang pesantren tertua di Jawa Timur setelah pesantren Sidogiri Pasuruan. Pesantren yang didirikan tepatnya pada tahun 1787 M oleh KH Hamdani itu sampai sekarang masih menjadi catatan sejarah bagi bangsa ini.

"Salah satu ulama besar yang pernah menuntut ilmu agama atau menjadi santri di pesantren ini yakni KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. KH Hasyim Asy'ari menjadi santri di pesantren Al-Hamdaniyah ini sekitar 5 tahun lamanya," ulas Gus Hasyim sapaan akrab M Hasyim Fahrurozi.

Untuk mengenangnya, hingga saat ini kamar pendiri Nahdlatul Ulama di pesantren Al-Hamdaniyah itu masih tetap terawat seperti dahulu. "Kamar KH Hasyim Asy'ari ini sengaja tak pernah dipugar, tetap seperti dahulu agar menjadi pelajaran bagi santri bahwa untuk menjadi tokoh besar tak harus dengan fasilitas mewah," tegas Gus Hasyim.

Tidak hanya menjadi santri, lanjut Gus Hasyim, bahkan KH Hasyim Asy'ari juga pernah diangkat menjadi menantu oleh Kiai Ya’qub, pengasuh pesantren waktu itu. "Sayangnya, pernikahan itu tidak berlangsung lama. Karena nyai Khodijah, istri KH Hasyim Asy'ari wafat lebih dahulu di Makkah, saat tengah mengandung, dan jenazah nyai Khodijah disemayamkan di Makkah," tukas Gus Hasyim.

Tempat para pejuang kemerdekaan berkumpul

Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah didirikan sejak tahun 1787 oleh KH Hamdani, ulama besar asal Pasuruan.

Kini usia Ponpes Al-Hamdaniyah telah mencapai usia 228 tahun atau dua abad lebih.

KH Hamdani sendiri merupakan seorang ulama keturunan Rasulullah, yakni silsilah ke-27.

“Dulu asalnya daerah ini rawa dan oleh beliau (KH Hamdani) berdoa minta kepada Allah SWT, semoga tanah yang asalnya rawah bisa menjadi tanah,” ungkap Gus Hasyim Fahrur Rozi.

Pondok ini masih memiliki bentuk bangunan yang masih asli dan unik.

Terutama keunikan bangunan para santrinya. Berdinding anyaman bambu dan diberi jendela pada setiap kamarnya serta bangunan yang disangga dengan kaki-kaki beton, membuat asrama santri ini nampak seperti rumah Joglo. Bahkan ada beberapa asrama santri yang kondisinya sudah memprihatinkan. Namun, Pengasuh pondok masih mempertahankan keunikan pondok tertua di Jawa Timur ini.

Setiap asrama dibagi dalam beberapa kamar yang diisi dua hingga tiga santri dengan ukura ruangan 2 x 3 meter. Di dalam kamar kecil itulah, tempat para santri belajar dan beristirahrat.

“Selain mengajarkan berbagai ilmu agama, pondok ini pernah menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Menjadi tempat pertemuan antara presiden Soekarno, Bung Hatta, Bung Tomo yang pada akhirnya melahirkan Laskar Hizbullah,” kata Agus Muchlis Asyari, wakil pengasuh Ponpes.

Namun sayang, keunikan pondok ini yang juga sebagai kunci sejarah dan warisan kebudayaan tertua belum mendapat perhatian dari pemerintah maupun pihak-pihak terkait.

Harusnya, pondok tertua seperti Ponpes Al Hamdaniyah ini dilestarikan dan dijaga keasliannya.

Menurut riwayat, pada waktu KH. Hamdani membangun Pondok, dia mendatangkan kayu dari daerah Cepu Jawa Tengah dengan dinaikkan perahu besar/kapal.

Namun ditengah jalan perahunya pecah berantakan. Akan tetapi Allah Maha Besar, kayu-kayu tersebut berjalan sendiri melewati sungai dan berhenti persis di depan area Pondok.

Di Pondok ini, dulu juga sering dibuat pertemuan tokoh-tokoh Nasional pada Zaman Revolusi, diantaranya adalah Ir. Soekarno, Bung Hatta, KH. Wahab Hasbullah, KH. Wahid Hasyim, KH. Idham Cholid, Hamka, Bung Tomo, dan tokoh-tokoh besar lain.

Adapun urutan kepengurusan Pondok adalah sebagai berikut:

Periode II: KH. Ya’qub dan KH. Abd Rohim (Putra dari KH Hamdani) 

Periode III: KH. Hasyim Abd Rohim dan KH. Khozin Fahruddin,

Periode IV: Kiai Faqih Hasyim, KH. Sholeh Hasyim, dan KH. Basuni Khozin.          

Periode  V: KH. Abdulloh Siddiq dan KH. Haiyi Asmu’i.

Periode  VI: KH. Rifa’i Jufri, KH. Abd Haq, dan KH. Asmu’i . 

Periode VII: Hingga Tahun 2013 KH. Asy’ari Asmu’i, KH. Mastur Shomad, KH. Abd Rohim Rifa’i, dan Agus Taufiqurrochman R.

BAROKALLOHU FIKUM

Fb: Abu Nana

Sunday, December 17, 2017

Persekusi Dakwah, ini Surat Terbuka untuk DEMA IAIN Kendari

Persekusi Dakwah, ini Surat Terbuka untuk DEMA IAIN Kendari

Oleh : YP (Aktivis Dakwah Kampus)

Bismillah...

Sehubungan dengan apa yang telah terjadi dikampus biru IAIN Kendari pada saat ini "persekusi dakwah Islam" oleh Dewan Mahasiswa (DEMA) saya sangat menyesalkan...,

Saya sadar bahwasannya sejak beberpa tahun lalu saya menginjakkan kaki kanan ini untuk pertama kali memasuki gerbang kampus Islam terbesar di Sultra ini , saya sangat bangga dan cinta terhadapnya..

Saya telah banyak belajar disini mulai dari Ilmu umum, hingga Ilmu Khusus yang telah menjadi materi pokok kampus ini, Saya melihat mahasiswa diajarkan banyak pengetahuan luar biasa yang sebelumnya mereka tidak pernah dapati di Sekolah Menegah Atas. Mahasiswa setiap hari dijejali dengan berbagai Ilmu agama, dididik akhlaknya, aqidahnya oleh para dosen yg mereka selalu sabar menghadapi masasiswa, tujuannya agar mampu menjadi cendekiawan muslim dan menjadi agent of change ditengah-tengah masyarakat yang tercermin dari ajaran Islam itu sendiri. ..

Namun apa yang terjadi akhir-akhir ini saya melihat dengan sudut pandang jernih bahwasanya mahasiswa yang mencoba berdakwah ditengah-tengah civitas akademika dgn maksud untuk menyadarkan umat serta meninggikan kalimatiLlah dan mencoba mengangkat Izzul Islam wal Muslimin malah dipersekusi oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA). ..

.Saya tidak mengerti bahkan banyak mahasiswa bertanya-tanya kenapa DEMA berbuat demikian, padahal kita pahami bersama bahwasannya DEMA seharusnya bersifat protektif terhadap mahasiswa, apalagi berkaitan dengan dakwah Islam. ...

Kita telah banyak belajar kepada pendahulu-pendahulu kita, yang mencoba mempersekusi dakwah Islam, mereka berakhir dengan tragis dan mengenaskan. ...

Belajarlah pada Abu lahab Mereka menghalang-halangi dakwah Islam, sehingga mereka meninggal dalqm keadaan mengenaskan, tangan Abu lahab membusuk dan terpotong dan jasadnya tertolak oleh bumi. ..

Karena mereka mencoba menghalang-halangi dakwa Islam. Kemudian Namrud, mati karena sakit kepala akibat dimasuki oleh seekor nyamuk melalui telinganya. Setiap kali ia menjerit, doktor pribadinya memerintahkan dipukul kepalanya untuk mengurangi kesakitannya. Setelah lama bergelut dengan sakratul maut, akhirnya beliau mati dalam keadaan tersiksa dan terhina. Begitu juga dengan Firaun yang mati lemas di dalam laut. ...

Belajarlah pada Mustafa kemal attaturk la'natullah 'alaih... ..

Dia meninggal mengenaskan, bahkan jasadnya pun ditolak pula oleh bumi. ...

Dan masih banyak lagi contoh manusia-manusia yang menolak dakwah atau menghalang-halangi dakwah Islam, mereka meninggal dlm keadaan ...

Yang jelasnya saat ini DEMA institut tidak lagi independen,, ...

Dengan mudahnya mereka diatur-atur oleh rezim melalui birokrasi untuk mempersekusi para pengemban dakwah Islam yang senantiasa memperjuangkan Hukum-hukum Allah (Syariah dan Khilafah) Ketahuilah Allah tidak akan pernah diam ketika ada kaum yang mencoba memadamkan cahaya Islam yang diemban oleh para aktivis dakwah. Allah SWT berfirman :َ

Artinya : “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (Q.S. At-Taubah [9] : 32).

Imam Ash-Shabuni dalam tafsirnya Shafwatut Tafaasiir menjelaskan bahwa mereka, yakni orang-orang kafir dari kalangan orang-orang musyrik dan ahli kitab, menginginkan untuk memadamkan cahaya Islam dan syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dengan mulut-mulut mereka yang hina. ...

Dengan sekadar perdebatan yang mereka buat dan perkara-perkara yang mereka buat-buat. Padahal Islam adalah cahaya (syariah) yang telah Allah SWT ciptakan untuk makhluk-Nya sebagai cahaya penerang. ..

Ketahuilah... Pengemban dakwah tidak akan pernah surut untuk berjuang menegakkan kalimatiLlah, walaupun nyawah ini terpisah dari Raga,,,

karena ini merupakan suatu kewajiban dan perintah dari Allah, Dan pahamilah penghalang dakwah selalu akan berakhir tragis...!

Oleh karena itu,, Sebelum terlambat dan sebelum seruan yang terakhir....

Saya menyeru agar DEMA! Berpihaklah kepada para pengemban dakwah dan jangan lagi kalian mau diatur-atur oleh pihak birokrasi untuk mempersekusi para pengemban dakwah Islam, jika kemudian hari kalian tdk mau berakhir dengan tragis sebagaimana para pendahulu kalian....

Saya berdoa semoga kita semua selalu dilindungi oleh Allah SWT. Akhukum. . ...

(sedang perjalanan pulang usai berburu maisyah) Wallahu 'alam.

Editor : Hardi Jofandu (Admin)