Thursday, November 16, 2017

Senja Yang Menua

RemajaIslamHebat.Com - Perempuan itu tertatih menyusuri jalan kota yang masih ramai.  Tubuhnya sedikit terhuyung kekanan menahan beban tubuh anak kecil yang digendongnya. Tak ada seorangpun yang perduli,  meski ia nampak sering meringis kelelahan.

Anak kecil bermata bulat dengan kulit sedikit legam terpanggang sangar matahari itu menangis kehausan. Usianya masih 3 tahun dan ibunya telah mengajaknya berjibaku dengan asap kendaraan dijalanan.

Perempuan itu masih berjalan menawarkan barang dagangannya. Kaos kaki,  gantungan kunci, pensil serta bolpoint. Barang-barang yang sangat jarang dibutuhkan orang dijalanan. Bisa jadi, pembelinya hanya kasihan melihat peluhnya yang menetes dan tak benar-benar membutuhkannya.

Pernah ia mencoba menawarkan gorengan yang diambil dari Pak Manto,  penjual gorengan yang tak jauh dari perempatan lampu merah tempatnya berjualan. Namun Pak Manto akhirnya keberatan,  karena gorengan yang tak laku dijualnya dikembalikan dalam keadaan kotor karena terjatuh.

Ia juga pernah berputus asa dan hendak beralih menjadi pengemis seperti perempuan yang tinggal disebelah kontrakannya. Hidupnya terlihat lebih enak. Uang sebanyak 300-400rb selalu ia bawa pulang hampir setiap hari.

Berbeda dengan dirinya yang seringkali hanya membawa pulang uang sekedar cukup membeli nasi dan sayur terong untuk dia dan anaknya. Entahlah mana yang lebih halal,  dirinya yang mencari uang dengan berjualan atau tetangganya yang menengadahkan tangan.

Anak perempuan yang digendongnya kembali merengek kehausan. Ia menyeka peluh yang menetes. Meletakkan anak perempuannya ditrotoar lalu membuka botol air yang ia bawa dari rumah.

"Bu,  anaknya autis ya? " seorang perempuan berusia sekitar 30 tahun mendekatinya. Perempuan itu tak menjawab,  hanya memandangi anak perempuan yang pandangannya menerawang menyusuri jalanan.
Ia mengangkat bahu,  menjawab pertanyaan perempuan berbaju putih itu dengan singkat.

"Bu,  duduk disana yuk.  Disini panas. Ini saya punya makanan buat ibu. Temani saya ngobrol dibangku itu. " perempuan itu menyerahkan sekotak makanan yang diambil dari dalam tas ranselnya.

Perempuan itu menurut,  ia menggendong anak perempuan berbaju kuning itu.

"Nama saya Sarah. Anaknya umur berapa ya bu?"

"Tiga tahun." perempuan itu menjawab sambil menyuapi anaknya yang terlihat sangat kelaparan.

"Mau gak bu,  anaknya saya bawa ke Yayasan Mutiara Hati?" tanya Sarah sambil memberikan sebotol air mineral pada perempuan itu.

Perempuan itu menatap Sarah ketakutan,  ia menghentikan suapan pada anaknya.

"Enggak mbak,  saya memang miskin. Tapi Saya nggak mau jual anak saya." Dia memeluk anaknya erat.  Anak perempuan itu hanya bisa diam pasrah dalam pelukan ibunya.

"Bukan bu,  tidak untuk dijual. Tapi diterapi agar anak ibu bisa mandiri kelak. Dan siang harinya ibu bisa bekerja tanpa terbebani dengan anak ini." Ucap Sarah mencoba menenangkan perempuan berkaos kelabu yang telah robek pada beberapa bagiannya.

Hati Sarah bergerimis.  Dia memperhatikan wajah perempuan dihadapannya, beban kehidupan telah meninggalkan banyak guratan pada wajah perempuan itu. Usianya mungkin masih sepantaran dengan Sarah, namun terlihat 10-15 tahun lebih tua.

"Maaf bu,  kalau suaminya kerja apa? " Sarah merendahkan volume suaranya khawatir ada hal yang akan menyinggung perempuan itu.

Dan benar saja,  sepasang mata itu merinai menjatuhkan tetes-tetes kepedihan yang lama tersimpan dalam hatinya.

"Suami saya pergi entah kemana mbak. Dia tidak mau merawat anak ini. Keluarganya pun sudah tidak mau. Katanya anak saya ini cacat." suaranya terbata menahan debam luka hidupnya.

Sarah tak mampu lagi menyembunyikan gerimis dalam hatinya. Ia memeluk anak perempuan yang sedari tadi hanya diam memandang satu titik tertentu.

Tangis yang ia tumpahkan bukan hanya untuk kepedihan perempuan itu. Namun juga kepedihan hatinya atas kehilangan Meilin dalam hidupnya.

Anak perempuan yang didiagnosis autis oleh dokter sekaligus mengalami kegagalan jantung sejak lahir. Meilin sudah pergi menuju kehidupan lain,  namun duka kehilangan belum mau melepas cengkramannya pada hati Sarah.

Kini iapun memilih tinggal sendiri, jauh dari keluarganya yang selalu menyalahkan Sarah atas kelahiran Meilin. Ia dianggap menjadi aib keluarga. Suaminya pun sudah menikah lagi karena menganggap ia telah memilih seorang perempuan yang tak memiliki rahim yang baik.

Sarah masih memeluk anak perempuan itu. Ia menumpahkan kerinduannya terhadap Meilin.

Senja telah beranjak menua, menggerus detik-detik waktu yang terus melaju.

Jika memiliki anak "tidak normal" adalah sebuah aib, maka Sarah tetap akan meminta kepada Tuhan untuk hanya memberikan Meilin baginya.

Karena ia percaya,  Tuhan sedang mengajarkan kesabaran kepadanya lewat Meilin. Kesabaran yang harus berbalut ketangguhan menghadapi sorotan tajam serta mulut culas beberapa orang yang merasa hidupnya telah normal dan sempurna. Ketangguhan yang harus diselimuti kepasrahan karena harus melalui serangkaian terapi yang seolah tak terlihat ujungnya.

Menjadi "tidak normal" bukanlah sebuah aib,  ia hanyalah jalan lain yang diberikan Tuhan. Bukankah Tuhan lebih tau yang terbaik?

#Pelataran Masjid Qomama

Sumber:

Fb: Desy Febrianti


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!