Monday, November 13, 2017

Pertanggungjawaban, Alih-alih Pembuktian

Oleh : Nafila Rahmawati

Tidak, ini bukan soal persidangan atau kasus hamil di luar nikah. Ini tentang menelanjangi diri sendiri, mengukur niat dan kesediaan kita dalam merefleksi diri.

Generasi millenial (yang lahir dalam kurun rentang tahun 1980-1995, CMIIW) adalah kita yang tengah menjadi orang tua dan dibesarkan oleh gaya parenting pendahulu. Gaya parenting transisi dari zaman keprihatinan pasca perang dunia kedua, kepada satu kondisi masyarakat dengan tatanan yang lebih modern.

Kita, dibesarkan dengan masih mewarisi kekakuan parenting yang menomorsatukan keberhasilan ketimbang proses.

Kita, seringkali dinilai "baru berhasil" menjadi manusia seutuhnya ketika telah menduduki pekerjaan mentereng dengan gaji dua digit, rumah seisinya tanpa status kontrak, dan sekian pencapaian duniawi lain yang kasat mata.

Kita, tanpa sadar lantas menjadi orang tua yang mengedepankan pembuktian ketimbang pertanggungjawaban. Dan jika tetap buta, akan mengulang siklus yang sama pada anak-anak kita.

=====

Pembuktian bisa jadi sah, atau menggelisahkan. Ketika seorang anak manusia memilih untuk menghadirkan bukti fisik tentang jangkauan eksistensi dirinya, ia akan mendulang (bisa jadi) segala cara agar tetap menjadi kabar yang dibawa angin. Agar tetap didengar manusia lainnya.

Sementara pertanggung jawaban, adalah tingkat tertinggi dalam fase hidup manusia yang melatihnya melakukan hal terbaik dan terbijaksana sebagai jawaban atas perannya.

Dimanakah kita berdiri?
Sudah melangkah jauh dalam pertanggungjawaban, atau hanya sekedar pembuktian?

=====

Seorang Ayah, akan mengumpankan beban pekerjaan di pundaknya sebagai suatu tanggung jawab alih-alih sekedar pembuktian pada rekan kerja atau atasannya.

Ia akan punya seribu alasan, untuk membawa pulang sisa pekerjaan dari kantor, agar dia bisa lembur ketika anak dan istri telah tidur.
Ia lembur tanpa membiarkan keluarganya kehilangan sosok Ayah darinya.
Ia bertanggung jawab dengan jatah perannya, tanpa merasa perlu membuktikan lebih pada pemirsa di sekelilingnya

Seorang wanita yang baru menjadi ibu muda, akan dengan riang dan ikhlas menjalani pilihannya untuk tetap bekerja atau di rumah saja. Karena terminologi "berdaya" tidak hanya diukur dari berapa rupiah yang mampu dihasilkan.

Ia tetap menunaikan tugas memasaknya demi mengawal nutrisi keluarga meskipun harus meracik bahan di pagi buta.
Ia tetap belajar segala macam ilmu pengasuhan meskipun kemudian ia ketinggalan tutorial make up kekinian.
Ia bertanggung jawab dengan jatah perannya, tanpa merasa galau memerlukan pembuktian untuk terlihat sebagai ibu super sempurna

Sepasang orang tua dengan anak pertama mereka, akan dengan penuh pertimbangan memilihkan asupan pendidikan anak sesuai visi misi keluarga dan kebutuhan anak.

Mereka berbagi ilmu tentang stimulasi indrawi anak, belajar bersama mulai dari laktasi hingga sekolah anak yang banyak opsi, menabung bersama untuk investasi literasi ketimbang gadget yang rentan adiksi.
Mereka membesarkan dengan tanggung jawab, tanpa terintimidasi getar pembuktian akselerasi milestone yang menjangkiti orang tua muda

=====

Dimanakah kita berdiri di awal pekan ini?
Di jantung pertanggungjawaban atau hanya pada permukaan pembuktian?

Pertanggungjawaban akan mengantarkan kita pada refleksi peran dan keikhlasan dalam dedikasi. Sementara pembuktian hanyalah gurat keakuan yang kurang lebih merasa haus pujian.

Pertanggungjawaban akan melunasi kewajiban peran kita dalam melodi passion yang mengalun pelan namun pasti, mencermati agungnya amanah yang diberikan Tuhan. Sementara pembuktian seringkali dibumbui rasa terburu untuk diakui, rasa ingin bergegas dan rawan menciderai rekan karena diburu ambisi.

Pertanggungjawaban akan mengembalikan kita pada kapasitas dan fungsi kodrati. Sementara pembuktian akan menyesatkan kita pada atribut materi yang tidak berujung untuk dihuni.

Pertanggungjawaban dan pembuktian sama-sama akan menghasilkan sesuatu yang nyata. Namun menjalaninya akan membuat kita paham, bahwa ada paramater berbeda yang mengasah kita agar lebih bijaksana.

Anak-anak kita tidak bisa memilih terlahir dari siapa. Jangan biarkan mereka menyesal telah dibesarkan oleh kita, jangan biarkan mereka gagal menikmati peran masa depannya hanya karena kita terbiasa menagih keberhasilan duniawi sebagai pembuktiannya alih-alih menghargai proses sebagai tanggung jawabnya.

Karena ketika hari telah berakhir, Tuhan akan memintakan pertanggungjawaban ketimbang pembuktian.[Nafila Rahmawati]

 


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!