Wednesday, November 8, 2017

Perpustakaan Ujung Tombak Membangun Peradaban

Oleh : Pristian Surono Putro, AMK ( Perawat RSUD Setjonegoro, Wonosobo. Founder KomunitAs SUka BAca/ KASUBA Wonosobo ( dalam rintisan ), Anggota Perpustakaan Daerah Kabupaten Wonosobo  )

Pendahuluan
-
Apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata “ perpustakaan “? Secara umum akan tergambar dalam benak perpustakaan adalah sebuah tempat yang didalamnya penuh dengan tumpukan buku berjajar rapi di dalam rak. Dari sini kita bisa melihat ada dua komponen perpustakaan, komponen pertama Buku, dan atau beragam karya dalam bentuk tulisan lainnya baik itu majalah, dan Koran. Sementara  komponen kedua adalah tempat, gedung, atau ruangan untuk menampung berbagai buku, dan beragam karya tulisan , serta tempat untuk merawat, mengelompokkan buku dalam berbagai tema, serta tempat untuk menyajikan berbagai buku agar bisa dinikmati masyarakat sebagai sajian kepustakaan. Melihat komponen di atas maka perpustakaan didefinisikan menurut kamus besar bahasa Indonesia sebagai tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku, dan sebagainya,  koleksi buku, majalah, dan bahan kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dan dibicarakan.
-
Dari definisi di atas maka perpustakaan bisa kita kategorikan sebagai benda mati. Lantas bagaimana sebuah benda mati bisa dikatakan sebagai ujung tombak membangun peradaban ? Perpustakaan sebagaimana sebuah senjata bernama tombak, pisau, panah, dan lain sebagainya adalah sebuah alat. Perpustakaan tentunya didirikan bukan sekedar untuk berdirinya perpustakaan itu sendiri, bukan pula sekedar untuk menunjukkan gagah-gagahan  bahwa disebuah daerah tertentu ada sebuah perpustakaan. Namun sekali lagi perpustakaan adalah alat , alat untuk membangun peradaban. Maksudnya bagaimana ?
-
Antara perpustakaan dan peradaban
-
Menurut kamus besar bahasa Indonesia Peradaban berarti  kemajuan ( kecerdasan, kebudayaan ) lahir batin : bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkatnya, hal yang menyangkut sopan santun,budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. Sementara dalam definisi yang diajukan oleh pemikir asal palestina, Taqiyuddian An Nabhani dalam Bukunya yang berjudul Nidzam Al islam, peradaban didefinisikan sebagai  sekumpulan mafahim ( ide, gagasan ) tentang kehidupan. Dari dua definisi di atas kita bisa melihat bahwa Peradaban adalah sekumpulan persepsi, cara pandang,  Cara berfikir, ide, gagasan dalam memandang kehidupan. Jadi berbicara peradaban adalah berbicara tentang dunia ide, dunia gagasan, dan pada titik inilah perpustakaan menjadi tempat subur untuk menyemai beragam ide dan gagasan. Alat penyemaian gagasan-ide itu  berupa beragam buku yang tertata rapi di perpustakaan. Perpustakaan  yang berupa benda mati ini akanmenjadi hidup dengan manusia yang hadir di perpustakaan untuk membaca, mempelajari, membicarakan,serta menganalisis berbagai ide dan gagasan.
-
Di perpustakaan inilah kita mengenal dan mengetahui beragam pemikiran para cendekiawan dunia,termasuk kita menjadi paham bagaimana para founding fathers ketika mereka berusaha untuk membangun peradaban Indonesia masa depan. Layaknya jendela dunia perpustakaan menjadi tempat kita mencari tahu yang akhirnya memunculkan beragam pengetahuan serta meningkatkan kecerdasan literasi ( baca-tulis ) kita. Dalam peranan perpustakaan sebagai alat membangun peradaban ini kita bisa melihat bagaimana sebuah peradaban terlahir di dunia ini.
-
Antara Peradaban Barat dan Peradaban Islam
-
Peradan barat bertumpu pada ide sekularisme yakni memisahkan agama ( Kristen )  dengan kehidupan. Pertanyaannya bagaimana barat menjadikan perpustakaan sebagai pusat untuk membangun peradabannya ?Peradaban barat pada masa dark age ( abad kegelapan ) , yakni Pada abad pertengahan di negara-negara barat yang didominasi gereja, akses menuju perpustakaan menjadi sesuatu hal yang eksklusif yang secara khusus hanya menjadi milik kaum Grejawan serta bangsawan. Tercatat  di Inggris ( 628-690 M ) misalnya beberapa tempat didirikan beberapa perpustakaan di daerah Yorth, Canterbury, Wearmouth, dan jarrow.  Sedangkan di Perancis dan Jerman, Perpustakaan menyatu berada di dalam gereja-gereja.Saat itu kunci pengetahuan secara eksklusif dimiliki Gerejawan, dan pemikir mandiri di luar institusi Gereja. Mereka yang memiliki banyak pengetahuan inilah yang menjadi pemimpin dan memiliki tempat terhormat di masyarakat.
-
Pada abad pertengahan ini memang dunia kepustakaan Barat sangat terbatas, dan ilmu pengetahuan juga mengalami kemandegan disebabkan intervensi gereja yang mendominasi kehidupan. Ilmuwan barat sekelas Galileo dan Copernicus menghadapi tiang gantungan hanya karena melakukan penilitian dan hasil penelitiannya itu berbeda dengan doktrin gereja. Hal ini menimbulkan perlawanan dikalangan para fisosof dan cerdik cendekia untuk meruntuhkan dominasi gereja. Perlawanan para pemikir-filosof inilah yang melahirkan Renaisans.
-
Maka pasca abad pertengahan Saat barat mengalami Renaisans atau kita sering menyebut dengan abad pencerahan, yakni ketika dominasi gereja hanya untuk di ranah prifat spiritual semata ( Sekularisme ), sejak saat itu Barat mengalami kemajuan dalam berbagai bidang. Termasuk perpustakaan pun mengalami perkembangan pesat sebagai pusat peradaban. Renaisans ditandai dengan menggali berbabagi pemikiran Yunani kuno, berbagai manuskrip, literature yunani kuno dikaji ulang. Alhasil munculah pusat-pusat buku yang tidak lain adalah perpustakaan, seperti di Italia, Roma, Florence, dan Naples. Dan induk perpustakaan barat saat itu adalah berada di perpustakaan Gereja Canterbury dengan koleksi 1800 jilid buku.
-
Betapa Barat sangat memahami pentingnya pengetahuan dalam membangun peradabannya, sehingga pada masa Imperialisme-kolonialismeklasik ( penjajahan fisik ) barat menjarah berbagai macam manuskrip, tulisan, buku, dan berbagai macam literature yang ada di negeri-negeri Islam. Di museum nasional Inggris ada 15.000 manuskrip turats ( kitab ) klasik berbahasa arab. Menurut Prof.DR. Muhammad Isa Ash Shalihiyah mneyatakan bahwa lebih dari 30 dari 72 ruangan yang berada di museum Inggris berisi peninggalan Mesir yang dicuri, begitu juga di Perancis. Selain itu ada sekitar 10.000 manuskrip dari yaman yang berada di perpustakaan Miroziyana italia, 3000 manuskrip berada di perpustakaan kongres Amerika, serta 2000 manuskrip di Perpustakaan Inggris.  Dan ribuan manuskrip dari Irak berada dalam perpustakaan Negara-negara barat, khususnya di Amerika dan Inggris.
-
Sementara pada masa sekarang Kita ambil contoh beberapa perpustakaan besar di Negara-negara barat, misalnya inggris mempunyai British museum ( perpustakaan nasional inggris ), selain itu juga ada perpustakaan Oxford dan Cambridge dua perpustakaan kampus terkenal di Inggris. Sementara Negara perancis punya Biblioteqhue nationale, Amerika punya Library Of Congres, sementara Belanda punya Koninklijk Bibliotheek. Yang kesemuanya itu merupakan beberapa contoh peprustakaan ternama yang dikenal dunia.  Dari berbagagai referensi yang kaya akan ilmu pengetahuan peradaban barat mengalami kegemilangan.
-
Sedangkan peradaban islam sudah bukan rahasia umum lagi saat masa-masa jayanya menjadi mercusuar peradaban dunia. Bahkan Jauh sebelum peradaban barat bangkit ( Renaisans ), saat masa kejayaan islam perpustakaan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Selain itu beragam ilmuwan  Muslim dalam berbagai bidang bermunculan bak jamur di musim hujan. Sebutlah Al Biruni yang ahli fisika dan kedokteran, Jabir Bin hayyan ahli kimia, Al Khawarizmi yang ahli matematika, Al Kindi pakar dalam bidang filsafat, Al fargani pakar astronomi, Al Haythami pakar dalam bidang optic, Ibnu Sina sang bapak ilmu Kedokteran Modern, Ibnu Khaldun seorang sosiolog ulung, Imam madzhab yang empat ( Abu hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, Ahmad bin hanbal ) yang ahli hukum , Abas Ibnu Firnas peletak konsep dasar pesawat terbang, Az zahrawi penemu pisau bedah dan alat bedah, dan ratusan nama ilmuwan muslim lainnya.
-
Peradaban islam yang menjadikan akidah islam sebagai pondasinya telah melahirkan peradaban adi daya yang bahkan Barat pun mengakui kehebatannya. William Drapper, penulis dari barat mengungkapkan kehebatan peradaban islam dengan menggambarkan ketika pada zaman pemerintahan islam di cordoba ( spanyol saat ini ) merupakan kota paling beradab di Eropa. Terdapat 113.000 buah rumah, 21 kota satelit, 70 perpustakaan dan toko-toko buku, masjid-masjid dan istana yang banyak. Cordova menjadi masyhur di seluruh dunia, dimana jalan yang panjangnya bermil-mil dan telah dikeraskan diterangi dengan lampu-lampu dari rumah-rumah di tepinya. Sementara kondisi di London 7 abad sesudah itu ( abad 15 M ) satu lampu umumpun tidak ada. Di paris berabad-abad sesudah zaman Cordova orang yang melangkahi ambang pintunya saat hujan, melangkah sampai mata kakinya ke dalam lumpur.  Ilmuwan barat yang bernama Emmanuel Deutch memberikan catatannya bahwa peradaban islam memberi kesempatan bagi barat untuk mencapai kebangkitan dalam ilmu pengetahuan Modern.
-
Kehebatan Islam yang dibangun dengan dasar Akidah Islam melahirkan manusia-manusia yang haus ilmu. Haus ilmu salah satu alatnya adalah ketekunan untuk membaca, maka sudah menjadi prioritas bagi peradaban islam untuk membangun pusat-pusat ilmu, salah satu pusat ilmu itu adalah perpustakaan. Pada masa Khilafah Abbasiyah, saat dua pertiga dunia berada dalam kekuasaan kekhilafahan islam. Saat itu dibangunlah Baitul Hikmah, yakni sebuah perguruan tinggi sekaligus pusat perpustakaan dengan jumlah koleksi buku yang fantastis. Darul Hikmah memiliki 2.000.000 jilid buku. Sementara di belahan bumi Islam lainnya perpustakaan Cordova mempunyai 600.000 jilid buku, dan perpustakaan Al hakim di Andalusia buku-buku disimpan di dalam 40 bilik buku, dengan setiap masing-masing biliknya berisi 18.000 jilid buku. Dan masih tersebar lainnya perpustakaan besar di pusat-pusat ilmu baik itu di Mesir, Damaskus, Baghdad, dan Madinah.
-

Pintu masuk untuk membangun Peradaban Indonesia masa depan : membaca
-
Paparan di atas menunjukkan bahwa setiap peradaban besar dunia mempunyai konsen yang amat mendalam untuk membangun dan mengembangkan dunia baca masyarakatnya. Dan jika berbicara dunia baca maka tidak lepas dari peran penting dari perpustakaan. Sehingga bisa kita katakan bahwa perpustakaan menjadi ujung tombak untuk membangun peradaban.
-
Sementara untuk melihat bagaimana dinamika peradaban dalam rangka untuk menuju Indonesia masa depan,  Indonesia merdeka, Indonesia berdaulat,  kita bisa napak tilas bagaimana minat baca para founding fathers. Karena mereka para founding fathers memahami betul bahwa sebuah peradaban dibangun atas suatu persepsi, ide, gagasan, maka beliau-beliau tentu saja membutuhkan beragam referensi untuk dalam rangka merumuskan Indonesia yang gemah ripah loh jinawe, toto titi tentrem kerto raharjo. Maka akan Kita dapati belia-beliau para founding fathers adalah para pembaca tekun, yang itu artinya mereka menjadikan perpustakkan baik perpustakan pribadi maupun  umum untuk mengunyah berbagai ide dan gagasan yang tetuang dalam beragam buku.
-
Sebutlah nama-nama sebagian  founding fathers semisal Ki bagus hadi Kusumo, KH.Wachid hasyim, Hatta, Soekarno, dan yang lainnya rata-rata adalah sosok para pembaca tekun. Seokarno misalnya saat masih dalam kondisi sakitpun menurut dokter yang mengobati menemukan di kamarnya berserakan perpustakaan pribadi  berbagai buku, surat kabar, dan majalah dari dalam dan luar negeri. Sementara sosok Hatta harus membawa 16 peti berisi buku yang diangkutnya dari sepulang kuliah di belanda. Bahkan KH.Wachid hasyim mendirikan Madrasah Nidzamiah dengan di dalamnya dibangun perpustakaan yang lebih kurang berjumlah 1000 judul dengan teks berbahasa Arab, inggris, maupun Belanda, sebuah jumlah yang sangat besar untuk ukuran waktu itu. Begitu juga dengan sosok Ki bagus Hadikusumo salah satu tokoh kunci awal-awal kemerdekaan negeri ini menjadi sosok pelahap buku yang begitu antusias, bahkan karena minat bacanya yang tinggi ini Ki Bagus sampai sakit mata. Luar biasa sekali bukan ?
-
Jadi sampai disini menjadi jelas bahwa perpustakaan menjadi  alat penting untuk membangun perdaban, sebagaimana sebuah ujung tombak sebagai alat untuk memenangkan pertempuran, maka perpustakaan menjadi ujung tombak ketika berhadapan dengan dunia masa kini yang penuh dengan tantangan.
-
Lalu bagaimana dengan minat baca di Indonesia kita hari ini ? Apakah kita hari ini mengikuti jejak leluhur kita para founding fathers yang gemar membaca itu ? Untuk mengetahui hal ini maka tentu kita perlu mengamati secara objektif terkait kondisi dunia literasi di negeri kita tercinta ini.  Menurut penelitian data yang diterbitkan oleh Badan Pusat statistic ( BPS ) dan The United nations Of Education Social And Cultural ( UNESCO ) tahun 2012 menunjukkan bahwa jumlah masyarakat Indonesia yang mempunyai minat baca adalah 1 : 1.000. Artinya dari 1000 penduduk Indonesia hanya 1 yang mempunyai minat baca, sementara sisanya 999 penduduk kurang memiliki minat terhadap aktivitas membaca. Melihat data yang begitu miris ini membuat kita harus lebih mengeluarkan tenaga ekstra untuk menumbuhkan minat baca di masyarakat.  Bagaimana Indonesia akan menjadi peradaban maju jika minat bacanya dalam kondisi memprihatinkan seperti ini ?
-

Membangun Jejaring masyarakat Baca
-
Lantas setelah ini apa yang harus kita lakukan ? Tidak ada kata lain kecuali kita harus lebih menumbuhkan minat baca di masyarakat yang itu imbasnya mau tidakmau harus menghidupkan perpustakaan. Dari yang awalnya perpustakaan hidup bak mayat berjalan dengan tumpukan bukunya yang berdebu, dan dibangun hanya untuk sekedar memenuhi keberadaannya, maka perpustakaan harus membangkitkan ruhnya sebagai ujung tombak peradaban. Caranya ?  Yakni dengan membangun jejaring ( komunitas ) masyarakat pembaca.
-
Siapa yang dimaksud dengan jejaring komunitas masyarakat pembaca disini ? Ia adalah siapa saja yang suka, hoby, dalam dunia literasi. Literasi dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis. Maka siapa saja yang mempunyai minat mendalam dalam dunia baca dan menulis perlu membangun wadah jejaring komunitas untuk merumuskan ide-ide kreatif agar masyarakat mau datang ke perpustakaan. Bukan sekedar datang ke perpustakaan namun lebih dari itu mau menelaah, membaca , menikmati berbagai macam sajian tulisan yang berjajar di meja prasmanan bernama rak buku. Bahkan bisa beranjak lebih dari itu semua yakni menceritakan kepada teman-teman lainnya yang belum sempat mampir ke perpustakaan bahwa betapa nikmatnya melahap berbagai Buku yang ada di perpustakaan. Kenikmatan membaca buku ini bisa dituangkan dalam kegiatan telaah buku, bedah buku, atau  bentuk beragam tulisan dan disebarkan via social media, bisa dalam bentuk resensi buku, artikel, feature dan apa saja tulisan yang bisa merangsang orang yang awalnya tidak begitu peduli dengan aktivitas membaca, maupun orang yang awalnya agak ragu melangkahkan kakinya memasuki perpustakaan, kemudian mereka tertarik untuk mendatangi perpustakaan. Dan pada akhirnya perpustakaan akan menjadi pusat belajar dan kegiatan masyarakat.
-
Apakah optimisme cita-cita menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar dan kegiatan masyarakat bisa terwujud ? Pasti bisa, Dengan syarat memberikan ruang kesempatan pada kaum muda untuk lebih banyak mengambil peran aktif dalam proses ini. Mengapa pemuda ? karena pada masa muda  inilah semangat, idealitas, dan independensi menyala berkobar-kobar. Soekarno pernah mengatakan “ beri aku 10 pemuda maka akan aku guncang dunia “. Dan kalau kita lihat dalam lintasan sejarah maka kaum muda ini memegang peranan penting dalam berbagai agenda perubahan. Sehingga penting bagi kita untuk memberikan ruang seluas-luasnya kepada para pemuda untuk berperan aktif dalam dunia literasi, dan tentu saja kaum muda ini perlu mendapatkan bimbingan dari kaum berumur yang lebih senior. Siapa saja kaum muda ini ? Sekedar untuk memudahkan pengklasifikasian kaum muda dalam tingkat pendidikan meliputi pelajar seumuran Sekolah menengah pertama ( SMP ), SMA, dan mahasiswa, termasuk di dalamnya para santri-santriwati di Pondok pesantren.
-
Sebagai langkah tekhnis awal kita untuk menemukan jejaring masyarakat pembaca ini kita bisa melihat data base daftar pengunjung perpustakaan, data base daftar anggota perpustakaan, yang dengan data base ini sedikit banyak kita sudah menemukan masyarakat pembaca. Tinggal kita menghubungi mereka,menemui, dan mengumpulkan mereka untuk menemukan mereka yang secara khusus berminat mengembangkan dunia literasi. Karena dari merekalah ujung tombak pergerakan awal dimasing-masing daerah untuk membangun jejaring masyarakat baca. Sementara pihak perpustakaan tinggal melakukan supervise, monitoring, dan evaluasi.
-
Dengan berkembangnya dunia literasi di kalangan kaum muda, maka imbasnya akan otomatis menjadikan perpustakaan sebagai sentra pusat bahan beragam ide,gagasan, serta kegiatan kreatif yang lainnya. Dengan begitu jejaring komunitas masyarakat baca yang bergerak secara sukarela non profit akan mencetak, membina, dan mengkader masyarakat pembaca dimasa yang berikutnya. Tinggal perpustakaan sebagai sebuah badan struktur kepengurusannya mendinamiskan dan menstimulasi agar jejaring komunitas masyarakat pembaca ini menjadi lebih kreatif.  Kegiatan bedah dan telaah buku menjadi menu pekanan Perpustakaan dengan mengkoordinasikan masyarakat pembaca ini dengan mengundang masyarakat umum, perpustakaan sebagai badan structural mensuport dan mengembangkan berbagai komunitas yang ada di masyarakat untuk mengembangkan kegiatannya di perpustakaan. Sehingga perpustakkan akan menjadi ramai sebagai  pasar ide dengan beragam gagasan dan  kegiatan dalam rangka membangun peradaban Indonesia masa depan menjadi lebih baik.
-
Barangkali ada yang berpikir bahwa berbagai kegiatan membangun peradaban ini membutuhkan banyak pendanaan ? Sehingga persoalan pendanaan ini bisa menjadi kendala dalam pelaksanaan membangun jejaring masyarakat pembaca ini.  Memang saat ini kita hidup dalam era Kapitalisme yang seolah semuanya diukur dengan ungkapan “ wani piro “, serba uang dan materialistic,  pikiran soal pendanaan ini bisa menjadi bumerang tersendiri. Justru kegiatan literasi membangun peradaban ini harus melepaskan diridari belenggu Kapitalisme, dan sedapat mungkin gerakan jejaring komunitas masyarakat pembaca ini adalah untuk meruntuhkan ide kapitalisme yang sudah memenjarakan negeri ini dalam keterpurukan dalam seluruh aspek kehidupan.
-
Kegiatan literasi, adalah kegiatan yang berada dalam ranah mengolah beragam ide dan gagasan, yang bisa dikatakan tidak memerlukan pendanaan. Masyarakat pembaca inilah yang dengan kemampuan literasinya masing-masing mendidik secara sukarela non profit dalam mensosialisasikan, mencetak, dan menyiapkan generasi berikutnya untuk berperan aktif dalam dunia literasi. Karena sekali lagi kegiatan komunitas masyarakat pembaca ini adalah mengajak masyarakat lainnya untuk melek baca,dan hadir di perpustakaan dengan segala bentuk kegiatannya. Seandainya mau dianggarkan pendanaan maka anggaran itu dicukupkan untuk air putih sekedar pelepas dahaga disela-sela kegiatan. Karena sekali lagi membangun peradaban adalah membangun pemikiran.
-
Memanfaatkan sosial media
-
Kondisi hari ini dunia seolah semakin sempit. Saat informasi bisa dengan mudah kita dapatkan hanya dengan membuka ponsel yang ada dalam genggaman kita, informasi apapun bisa kita dapatkan. Dengan berbagai fasilitas internet maupun sosial media dunia kita hari ini dimanjakan dengan beragam informasi yang sifatnya instan. Anomali yang terjadi adalah sosial media yang berkembang pesat ini tidak diimbangi dengan kemampuan literasi ( baca-tulis ) yang memadai. Yang terjadi adalah masyarakat kita hari ini dibanjiri dengan Hoax, berbagai informasi sampah yang validitasnya diragukan.
-
Indonesia termasuk salah satu Negara pengguna sosial media dengan mobilitas yang cukup tinggi. Diperoleh data bahwa lebih kurang dari jumlah total populasi penduduk Indonesia 255 milyar ( November tahun 2015 ). Dari angka total penduduk ini didapati diantaranya 88,1 milyar aktif terkoneksi sebagai pengguna internet, 79 milyar aktif sebagai pengguna sosial media . Sementara rata-rata waktu yang digunakan tiap pengguna sosial media dalam setiap harinya adalah paling tinggi dimiliki Facebook dengan rerata 405 menit per pengguna. Sementara platform penggunaan media sosial paling tinggi diraih oleh facebook, kemudian disusul berturut-turut Whatsaap, Twitter, facebook massanger, Google+, Linkedin, Instagram, Skype, pinterest, dan line. Dari sisi usia user pengguna Facebook ( November 2015 )  paling tinggi kelompok usia 20-29 tahun (35 juta account ), disusul berturut-turut kelompok usia 13-19 tahun (26 juta account ) , 30-39 tahun ( 12 juta account ), 40-49 tahun ( 3 juta account ) , 50-59 tahun ( 1 juta account ), dan terakhir 60 tahun keatas ( 1 juta account ).
-
Apa yang bisa kita dapatkan dari data di atas ? Dari data di atas kita dapatkan gambaran secara umum bahwa sosial media menjadi gaya hidup masyarakat kita hari ini. Setiap hari masyarakat dengan beragam usianya terkoneksi dengan internet dan sosial media. Oleh karenanya media sosial ini bisa kita gunakan sebagai salah satu sarana untuk mempromokan, mensosialisasikan, dan menyebarkan beragam konten terkait dengan menarik minat baca, termasuk mengajak masyarakat untuk menghidupkan meramaikan perpustakaan. Mengemas berbagai content isi ajakan membaca dan mengunjungi perpustakaan dengan tampilan yang menarik sehingga menggerakkan masyarakat untuk menumbuhkan minat baca dan mengunjungi perpustakaan. Dengan internet dan sosial media memungkinkan jangkauan informasi berkaitan dengan kegiatan dunia baca dan perpustakaan lebih cepat, dan lebih luas diakses oleh masyarakat luas. Jadi tidak ada pilihan bagi kita kecuali kita ikut aktif menggunakan internet dan sosial media sebagai sarana mengkampanyekan pentingnya kemampuan literasi.
-
Pustakawan adalah juru Kunci peradaban
-
Sampai disini menjadi penting peran seorang pustakwan. Ia selain sebagai orang yang paling paham dan paling  tahu tata letak posisi buku disebuah rak buku, lebih dari itu ia adalah guru bagi masyarakat, menjadi pemimpin dalam mendorong masyarakat dalam menumbuhkan minat baca di masyarakat, dan ini adalah sebuah aktivitas kunci dalam menuju transformasi peradaban. Akhirnya kerja sama antara pustakawan dengan jejaring komunitas masyarakat  pembaca akan menjadikan perpustakaan semakin dinamis dan semakin menggoda bagi khalayak untuk menerjunkan dirinya dalam dunia literasi, dengan begitu menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar dan kegiatan masyarakat.
-

Daftar Pustaka
-
Budi Jatmiko, Siswanto,dkk,t.t. Bung Karno: Bapakku, Sahabatku, Pemimpinku. Jakarta: Grasindo.
.
Dewanto, Nugroho. 2016. Wahid Hasyim Untuk Republik Dari Tebu Ireng.  Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia ( KPG ).
.
Hafidz, Guslaeni. 2016. Smart With Islam Materi dasar Membina Remaja Dengan Islam. Bogor: I-Mud Publisher.
.
Husaini, Adian.2005. Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular Liberal. Jakarta: Gema Insani Press.
.
Nakosten, mehdi.1995. Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam. Surabaya: Risalah Gusti.
.
Thobroni. 2010. Cendekiawan Muslim dan penemuan-penemuan paling brilian dari dunia islam. Yogyakarta: Penerbit Titan.
.
Rahadian, Gilang. 2015. Hatta: Jejak Yang Melampaui Zaman. Jakarta: Kepustakaan Popular gramedia.
.
Sri Endang Susetiawati. ( 2011,09 April ). Buku Dan Sejarah Perpustakaan Nasional. Diperoleh 09 September 2017, dari http://www.kompasiana.com/srie/buku-dan-sejarah-perpustakaan-nasional_5500a8c6a333115c73511713
.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan ( KBBI Daring ) Versi Online,dari  https://kbbi.web.id/pustaka
.
Syahruddin El Fikri. Minat Baca Rendah. Diperoleh 09 September 2017, dari http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/16/07/22/oapl025-minat-baca-yang-rendah
.
Thoriq. ( 2008,21 Juli ). Manuskrip Islam Dalam Genggaman Barat 2. Diperoleh 09 September 2017, dari https://www.hidayatullah.com/feature/kisah-perjalanan/read/2008/07/21/41531/manuskrip-islam-dalam-genggaman-barat-2.html
.

Penulis : Pristian Surono Putro,AMK ( Perawat RSUD Setjonegoro, Wonosobo. Founder KomunitAs SUka BAca/ KASUBA Wonosobo ( dalam rintisan ), Anggota Perpustakaan Daerah Kabupaten Wonosobo  )


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!