Wednesday, November 8, 2017

Perlunya Ortu Mempunyai Gambaran tentang 'Anak Sholeh' dan Prosesnya Secara Detail

Oleh : Teguh Turwanto

Siapa yang tidak ingin anaknya menjadi anak yang sholeh? Semua insya Allah sepakat ingin anaknya menjadi anak yang sholeh.

Tapi pernahkah orangtua memikirkan seperti apa gambaran tentang anak sholeh secara detail?

Tidak sedikit orangtua punya persepsi yang berbeda tentang anak sholeh. Kenapa? Karena mungkin yang disampaikan ke mereka gambarannya masih terlalu umum.

Seperti ada orangtua yang punya persepsi yang keliru bahwa jadi anak sholeh itu yang penting rajin ibadah dan baik kepada orang lain, tidak apa-apa pacaran misalnya, bahkan dianjurkan karena yang penting tidak mengganggu konsentrasi belajar di sekolah dan tidak menyakiti orang lain.

Dan tidak sedikit pula orangtua yang punya persepsi benar tapi tidak Istiqomah dalam mengejar cita-cita agar anaknya sholeh, apalagi di zaman yang serba rusak dan penuh materialistis saat ini, tentu banyak godaan dan tantangannya. Kenapa? Bisa jadi karena ia belum mendetailkan gambaran anak sholeh itu seperti apa dan belum tergambar secara detail bagaimana prosesnya dan target jangka pendek dan panjang yang perlu ia raih.

Allah Ta’ala berfirman
ِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56)

Semua manusia termasuk anak diciptakan oleh Allah SWT agar beribadah kepada-Nya. Maka cita-cita orangtua terkait anaknya dan proses mendidiknya tidak boleh  keluar dari tujuan ini.

Pertanyaan kemudian apa yang dimaksud dengan ibadah? Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud  dengan ibadah adalah menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya.

Agar manusia terdorong untuk menjalankan semua perintah Allah SWT maka perlu iman yang kokoh. Dari iman inilah kemudian ia mentaati semua perintah Allah sesuai aturan main yang Allah SWT tetapkan berupa hukum-hukumnya baik itu wajib dan sunnah dan meninggalkan yang makruh apalagi haram.

Agar anak punya iman yang kokoh maka orangtua mesti punya gambaran apa saja yang perlu disampaikan ke anak sesuai dengan level usianya.

Begitu juga mendidik mereka agar terbiasa melaksanakan yang wajib dan sunnah. Pertanyaannya adalah bisakah orangtua mendidik anaknya agar anak mengerjakan semuanya sekaligus?

Anak kecil yang belum baligh, akal dan nalurinya masih pada tahap pertumbuhan, ia tidak akan mampu mengerjakannya semuanya sekaligus. Perlu tahapan-tahapan sesuai dengan level usianya.

Misalnya dalam mendidik sholat kepada anak, di usia tertentu ia masih dibiarkan sekedar sholat, kemudian diusia tertentu mulai diajarkan tatacaranya, setelah beberapa lama terbiasa yang wajib kemudian dibiasakan mengerjakan yang sunnah, begitu seterusnya.

Semuanya ini tentu perlu target yg jelas dan detail, begitu juga cara atau prosesnya secara detail

Ini masih sholat, belum yang lainnya seperti hafalan Qur'annya, target nya berapa juz, caranya mendampinginya bagaimana, dan lain-lain.

Belum lagi menutup aurat, disiplin mengatur waktunya, pola makannya, dan lain-lain. Jika semuanya dilakukan tanpa target & proses yang jelas maka hasilnya pun bisa jadi amburadul.

Usaha ini tidaklah mudah, orangtua mesti punya partner dalam mendidik anak agar meminimalisir bebannya. Maka carilah sekolah yang punya persepsi yang sama dan serius memperhatikan hal ini. Tanyakan kepada sekolah bagaimana gambaran detailnya. Sekolah bukanlah seperti mesin cuci yang siap menjamin pakaian jadi bersih. Perlu sinergi dan kerjasama.

Setelah detailnya didapatkan, maka orangtua dan sekolah bersama-sama mendidik anak sesuai dengan target yang sudah ditetapkan. Berbagai macam evaluasi terus dilakukan agar cita-cita punya anak sholeh bisa tercapai.

Ternyata menjadi orang tua itu tidaklah mudah, perlu banyak belajar dan butuh kesabaran.[]


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!