Thursday, November 16, 2017

Membungkam dengan Pena

Oleh: Ana Harisatul Islam

KITA mengenal berabad-abad peradaban Barat terbungkam oleh Islam. Banyak dari mereka berkarya, tak lepas dari bantuan peninggalan peradaban Islam. Bahkan beberapa ilmuwan Barat mengakui yang demikian.

Bagaimana tidak, ribuan karya para ilmuwan muslim yang tercetak dari peradaban gemilang terpatri rapi dalam goresan pena. Hingga kini tetap dapat diindera karya tulis mereka.

Namun, Barat tetaplah Barat. Sebuah peradaban yang tak ingin terbungkam eksistensinya. Ideologi yang menjasad dalam diri, takkan pernah rela untuk diam sebelum diemban orang-orang di sekelilingnya.

Berbagai upaya telah Barat lakukan demi membungkam suara Islam. Baik dengan cara lisan maupun tulisan.

Mengapa melalui tulisan juga? Ya, seorang Napoleon, konon lebih takut terhadap tajamnya ujung pena di tangan para penulis, ketimbang tajamnya ujung bayonet di tangan prajurit musuh. Karena, goresan pena oleh seorang penulis, mampu mewujudkan kesadaran, mengiris-ngiris kefasadan, memotong-motong kejahiliahan, menghancurkan kezaliman bahkan mampu mewujudkan perubahan.

Contoh kecil tajamnya sebuah pena, kita masih mengingat, berawal dari tulisan di media sosial, tercetuslah revolusi di Mesir yang mampu menjungkalkan pemimpin diktator setelah berkuasa selama 30 tahun. Bahkan pihak pemerintah saat itu sangat berkerja keras untuk membendung tulisan-tulisan yang kian hari kian menggerakkan jutaan pasang mata yang membacanya.

Baratpun agaknya juga memahami bahwa kekuatan sebuah tulisan mampu membungkam bangkitnya kembali peradaban Islam. Kita dapat melihat setiap menit, jutaan tulisan dan ide-ide kufur menyebar di dunia maya atau bahkan di dunia nyata, yang siap dilahap oleh jutaan pasang mata. Baik tulisan yang mengandung unsur hoax atau tulisan yang disengaja untuk menyudutkan Islam. Dengan arti “Islam harus menjadi pihak yang bersalah”. Miris bukan? Muslim mana yang tidak tergerak untuk  membungkamnya, ketika menyaksikan Islam terus menjadi pesakitan?

Tidak semua harus menjadi Al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Taimiyah atau Imam Syafi'i baru untuk meninggikan kemuliaan Islam saat ini. Namun haruslah kita memiliki tekad yang kuat, bahwa melalui goresan pena yang didasari dengan kecintaan terhadap Islam, akan mampu melukiskan kemuliaan dan keagungan Islam melawan kazaliman. Melahirkan tulisan yang menyentuh hati, sekaligus menorehkan kesadaran.

Karena, menulis adalah seni menyampaikan kebenaran. Bungkamlah jutaan ide kufur serta opini buruk mereka tentang Islam. Goreskan pena yang berisi pesan-pesan Alquran demi menabur kembali benih-benih peradaban Islam.

#revowriter
#ideowriter
#belajarnulis


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!