Wednesday, November 15, 2017

Hukum Syara, Landasan Amal Seorang Muslim

Oleh : Annisa Afriliani Hana

Ada muslimah yang lepas hijab karena memiliki sudut pandang lain tentang hijab. Kata dia "jangan terpaku hanya pada sudut pandang yang kita anggap benar. Itulah yang menyebabkan kita tidak mampu melihat kebenaran lainnya." katanya.

Senada dengan pernyataan kaum liberal yang berteriak "gak usah sok merasa paling benar deh! Semua agama itu sama!" begitu kata mereka.

Saya jadi teringat 9 tahun silam, saat masih berada di bangku kuliah. Seorang teman berkata sinis, "jadi orang Islam jangan terlalu fanatik deh! Biasa aja lah!" sambil jari telunjuknya diacungkan tegak di depan hidung saya. Itu terjadi usai saya 'keukeuh' mengatakan bahwa penerapan syariat Islam dalam semua sendi kehidupan itu wajib adanya. Dia muslim, tapi perkataannya sungguh memprihatinkan. Saat itu juga langsung saya tunjuk balik hidungnya, " kamu jangan terlalu fanatik deh sama sekuler! Bangga ya jadi sekuler?!" langsung saya pergi meninggalkannya yang terpaku di dalam kelas.

Demi Allah, Al-Quran itu pedoman hidup bagi setiap muslim, jalan keselamatan. Dengan mengikuti petunjuknya lah kita dapat menggapai ketenangan jiwa yang hakiki.

Berbagai perintah yang termaktub di dalamnya sudah pasti benar adanya. Tak layak kita mendebatnya, apalagi menghujatnya. Di sinilah peran iman harus kita kedepankan, bukan mengandalkan perasaan yang sering berubah-ubah atau akal yang sangat terbatas.

Jangan melulu menanyakan manfaat saat mendapati sebuah perintah. Diwajibkan Allah berhijab, tak perlu lagi pertimbangkan manfaat dan mudhorotnya.

"Kulitmu pasti lebih putih kalau berhijab, kan tiap hari tertutup."

" Kamu kelihatan lebih cantik dengan hijab loh.."

"Ah, kalau berhijab nanti susah dapat kerjaan, terbatas!"

" kalau pakai hijab nanti ga bisa modis lagi donk..."

" Pakai hijab rambut suka bau dan ketombean...iih..."

Jangan karena ada manfaat kita melaksanakan suatu amal. Luruskan niat karena Allah semata. Jika berhijab karena ingin terlihat lebih cantik dan putih, sungguh sangat disayangkan. Sebab bukan itu tujuan berhijab. Hijab adalah pakaian takwa. Berhijab berarti bertakwa.

Begitupun, dengan sederet anggapan negatif bagi pengguna hijab, sungguh semua itu ujian atas ketaatan kita kepada Allah. Semakin kita meletakan Allah di atas segalanya, niscaya dunia akan mampu kita genggam. Sebab bukan pekerjaan, harta, kedudukan yang menjadi tujuan seorang muslim. Untuk apa harta melimpah, jika ridho Allah tak kita dapatkan.

Jangan salahkan hijab, jika rambut kita tak seindah model iklan shampoo. Salahkan diri sendiri yang mungkin abai terhadap perawatan rambut yang terbungkus hijab itu.

Perintah menutup aurat sudah sangat jelas dalam nash-nash syara. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu anhuma ketika beliau datang ke rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenakan busana yang agak tipis. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memalingkan mukanya sambil berkata :

Wahai Asma ! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan).[HR. Abu Dâwud, no. 4104 dan al-Baihaqi, no. 3218. Hadist ini di shahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah]

Dan lebih khusus lagi, Allah telah memerintahkan setiap muslimah yang sudah baligh untuk mengenakan jilbab (gamis) dan khimar (kerudung) sebagai pakaian penutup auratnya yang sempurna. Perintah tersebut ada di dalam Al-Quran surat Al-Ahzab:59 dan An-Nur:31.

Apalagi yang kita cari didunia ini selain dari RidhoNya. Lalu dengan cara apa kita meraih ridhoNya selain dengan takwa? Dengan demikian, jangan biarkan amal kita dituntun oleh perasaan dan akal semata, namun selayaknya kita beramal sebagaimana syara memerintahkannya. Wallahu'alam bi shawab

#CatatanAnnisa
#Muhasabah


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!