Saturday, October 14, 2017

Antara Utang, Wasiat dan Warisan

Oleh: Ismariah, S.Hut

Gajah mati meninggalkan? Gading. Manusia mati meninggalkan? Warisan. Semua orang tua pasti tidak ingin saat meninggal dunia, membuat anak-anak atau kerabatnya diributkan dengan harta warisan. Bahkan ada anak yang akhirnya memutus tali silaturahim dengan saudaranya hanya karena berebut harta warisan. Karena kekhawatiran tersebut maka banyak orang tua yang memilih jalan aman, yaitu membagi seluruh harta semasa hidup dan memilih untuk tidak meninggalkan harta warisan kecuali sedikit untuk keperluan pemakamannya. Atau, jika pun ada harta yang ditinggalkan, sudah diwasiatkan untuk siapa saja.

Satu hal yang perlu diluruskan bahwa pemberian orang tua saat masih hidup tidaklah disebut sebagai warisan, tapi hibah. Karena warisan adalah harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia, dan harta itu adalah miliknya sendiri. Sementara wasiat, memiliki batasan terkait tentang jumlah harta yang diwasiatkan.

Allah berfirman dalam Surah An Nisaa’ : (4) 12 yang artinya: “...Setelah dipenuhi wasiat yang dibuatnya, atau (dan telah dilunasi utangnya)...”.

Imam syafi’i berkata: Utang itu didahulukan dari wasiat dan warisan.Telah diriwayatkan dalam sebuah hadits Rasulullah tentang mendahulukan utang sebelum wasiat. Dari Ali bin Abu Thalib diriwayatkan bahwa Nabi membayar utang sebelum melaksanakan wasiat. 
Setelah utang lunas, maka selanjutnya adalah melaksanakan wasiat maka hukumnya wajib, namun ada batasan dalam hal wasiat, yakni 1/3 dari jumlah harta si mayit.

Rasulullah SAW bersabda “ sepertiga, sepertiga itu adalah banyak dan besar. Jika kamu membiarkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada meninggalkan mereka (menjadi) keluarga yang meminta-minta kepada orang”. Imam syafi’i berpendapata “ Saya tidak menyukai wasiat yang sampai pada sepertiga bagian, kecuali ia meninggalkan ahli warisnya dalam keadaan kaya.

Sehingga ada beberapa hal yang perlu kita pahami, bahwa:
Dianjurkan untuk kita meninggalkan ahli waris dengan kondisi mereka kaya, baik kondisinya sudah kaya atau menjadi kaya dengan harta warisan.
Batas jumlah harta yang boleh diwasitakan pembagiannya untuk orang tertentu adalah maksimal 1/3.
Jika si mayit meninggalkan utang, maka dahulukan membayar utangnya kemudian wasiat sesuai hukum syara’ dan kemudian membagi sisanya sebagai harta waris.
[@mps_id]


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!