Thursday, September 7, 2017

Warna Taat dan Persatuan

Oleh : Uni Kabsyah

IDUL adha senantiasa menggoda memori kita untuk mengingat hakikat ketaatan seorang hamba pada penciptanya. Keikhlasan dari seorang kekasih Allah yang didasari atas pembuktian ketauhidannya.

Kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as yang bermakna tak lupa untuk dijadikan bahan pengingat umat. Ketaatan atas perintah Allah tidak serta merta menjadikan tubuh kaku terdiam namun justru bersegera untuk merealisasikannya. Itulah hakikat ketaatan. Ketaatan tanpa tapi dan nanti, tanpa alasan dan menunda.

Taat akan tercipta diawali bagaimana kita menyadari bahwa kita hanyalah makhluk Allah, ciptaan Allah. Tidak ada yang perlu dibanggakan dari seorang makhluk, karena segala sesuatu bukan menjadi miliknya melainkan milik penciptanya. Hidupnya tidak abadi melainkan berada ditangan Rabbnya.

Hakikat makhluk tak lepas dari kata Hamba. Kita hanyalah insan yang berpredikat hamba, yang konsekuensinya adalah tunduk,patuh,taat kepada Sang Maha Pengatur yakni Allah SWT. Manusia memang diciptakan sebaik - baiknya namun bukan sebaik - baik pengatur. Hal ini menjadikan manusia ikut dengan aturan penciptanya, yang idealnya merealisasikan "Kami mendengar dan Kami Taat".

Momentum Idul adha tak lepas meninggalkan jejak hikmah yakni Persatuan. Tampak jelas persatuan kaum muslim yang memenuhi panggilan Allah untuk berhaji. Melaksanakan ibadah dengan aturan yang sama, menyatu tanpa memandang status, ras, latar belakang dan sebagainya. Semua itu menyiratkan persatuan kaum muslim bukan sekedar filsafat khayalan tetapi memang sebuah keniscayaan.

Namun, satu hal yang perlu dipahami bersama, bahwa taat dan persatuan di dalam islam tidak bersifat parsial tetapi menyeluruh nan sempurna.

Ketaatan bukan hanya persoalan yang sesuai dengan keinginan tetapi memang terhadap seperangkat aturan yang telah ditetapkan. Persatuan bukan membekas hingga ibadah haji tertunaikan, tetapi memang selayaknya terwujud dalam kehidupan sehari - hari.

Ketaatan dan persatuan kaum muslim yang menyeluruh dan sempurna hanya terwujud ketika syariah diterapkan secara sempurna dalam segala aspek kehidupan. Diterapkan dalam sebuah negara yang berasaskan aqidah islam yakni Khilafah. Persatuan kaum muslim yang dikatakan tidak terwujud karena keberagaman itu hanya akan filsafat khayalan ketika kaum muslim hidup dalam naungan khilafah. Itulah Warna Taat dan Persatuan yang terbentuk, membentuk spektrum indah dalam kehidupan.

Al Faqir
Uni Kabsyah

Tulisan lain Uni Kabsyah :

Seleksi

Oleh Uni Kabsyah

Masalah akan terus bergandengan erat dengan manusia. Berbagai problematika akan terus menghujani manusia, khususnya kaum muslim. Tidak terhenti, di berbagai sisi terus menerus bermunculan bagai jamur di musim hujan.

Ingatkah kita dengan sebuah firman Allah yakni
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?" (TQS Al-Ankabut:2-3)

Berharap masalah pergi dalam hidup hanya asa tanpa nyata. Selama kita hidup maka masalah itu menjadi ujian untuk menunjukkan seberapa besar ketaatan kita sebagai hamba. Keberhasilan kita melewati masalah dengan mencari solusi yang benar yakni berasal dari islam merupakan bukti keimanan kita dihadapan Allah SWT.

Tidak hanya masalah lokal seperti yang memanggil memori kita untuk mengingat kasus kekerasan seksual, narkoba serta fenomena banjir di kota Balikpapan. Masalah nasional pun ikut serta yang tak bisa dituliskan satu per satu. Mungkin cukup menulis kemiskinan, utang negara, korupsi, masalah generasi serta penegakan hukum di Negara ini.

Tragedi yang menimpa kaum muslim dalam lingkup internasional pun tak kunjung berakhir. Mulai dari palestina, suriah, afghanistan, yaman, irak, hingga kasus rohingya di wilayah arakan, Myanmar.
Hingga detik ini, saudara kita terus memanggil kita yang merupakan saudaranya untuk menolongnya.

Berbagai masalah yang muncul sebenarnya akan menyeleksi kaum muslim secara langsung maupun tidak langsung. Akan terlihat posisi individu muslim dalam menanggapi permasalahan yang ada.

Tidak menutup kemungkinan bahwa sistem sekuler berhasil membuat kaum muslim berada di dua kubu yang berbeda pandangan. Muncullah sekelompok muslim yang secara status muslim namun jauh sekali dari islam.

Hal ini terbukti ketika umat tumpah ruah dalam aksi terkait rohingya, ada saja muncul kaum muslim yang nyinyir dan meminta 'tidak perlu ribut'. Bahkan yang memperparah keadaan ketika pendapat "urus negara kita sendiri" meracuni pemikiran masyarakat. Dunia maya ramai dengan #saverohingya , masih saja yang jauh lebih hancur hatinya ketika dua sejoli artis indonesia melangsungkan pernikahan.

Seleksi ini sebuah keniscayaan. Akan membuka tabir posisi kita ketika  masalah menghampiri,cara kita memandang masalah, Serta cara kita menyelesaikan permasalahan tersebut. Apakah hukum syara' yang menjadi poros atau hawa nafsu dalam diri.

Ingatlah saudaraku bahwa, "Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya" (TQS Al Mudatstsir : 38). segala perbuatan kita dan di kubu mana kita berdiri entah yang memperjuangkan islam atau menghalangi, yang membela jiwa kaum muslim atau justru diam, catatan amal tidak akan bohong di hari akhir nanti.

Al Faqir
Uni Kabsyah

Sumber:

Fb: Uni Kabsyah


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!