Friday, September 1, 2017

TETAP BAHAGIA MESKI LELAH MENDERA

RemajaIslamHebat.Com - Seringkali, saat menerima pesanan buku dari pembaca, antara saya dan pemesan terlibat obrolan seru di luar konteks buku.

Nah, salah satu pertanyaan yang sering diajukan adalah: Mbak, ada yang mbantuin nggak di rumah? (maksudnya ART)

Ketika saya jawab tidak ada, dan mereka tahu bahwa saya punya bayi dan dua anak yang lain, pertanyaan lanjutannya adalah: “Trus nulisnya kapan?” Atau “Kok bisa sih mbak?”

Dan saya yang pada dasarnya orang bingungan ini pun menjawab: “Eh iya ya, kok saya bisa ya?” Hahahaha...

Beneran lho, kalau ditanya kok bisa? Saya sendiri takjub. Kok bisa ya?

Padahal dulu ketika anak baru satu, saya merasa nggak bisa hidup tanpa embak nginep. Belagu banget kan? Rumah juga rumah petak. Anak cuman sebiji, tapi asisten nggak afdhol kalau cuma pulang hari.

Kini anak tiga, dengan bayi yang jam tidur tidak tentu, ditambah mulai aktif lagi menulis buku. Eee.. malah nggak ada yang membantu. Tapi kok saya justru jadi mampu?

Setelah saya renungi dan resapi, rupanya jawaban utama ada pada kata: menjalani semampunya.

Iyap. Semampunya. Kalau nggak mampu juga ya segera mencari pelarian. Hahahaha

Untuk kasus saya, pelariannya ya kemana lagi kalau bukan suami yang rela aja gitu dicurhati sampe tangan panas (curhatnya pake BBM, sist...) dan mendengarkan pidato saya yang berapi-api. Malah kadang kalau emosi lagi labil, dikasih tausiyah pun malah saya samber pake orasi. (Eh ini termasuk golongan istri durhaka nggak ya? Astaghfirullah...tobat ukhti...)

Kedua, kompak. Ini masih ada kaitannya dengan suami ya. untuk ibu-ibu yang sehari-hari berada di rumah seperti saya, mungkin pembagian tugasnya sudah jelas. Suami mencari nafkah, sedangkan istri menghabiskan nafkah #eh

Engga lah ya.. istri tugasnya tentu merawat anak dan mengurus rumah (ini salah sedikit dari banyak tugas istri yang tidak mungkin saya tulis dalam durasi semepet ini)

Jika kita tidak kompak untuk bersama-sama mengambil risiko hidup tanpa ART, yang ada ribut terus. Pekerjaan rumah akan tampak 10 kali lipat lebih menjemukan daripada seharusnya. Saya sudah membuktikan ini. ketika saya ngotot ingin lepas dari dekapan ART, namun suami masih belum rela, justru jadi saling menyalahkan.

Harus kompak, susah senang ditanggung berdua. Istri tidak perlu merasa sungkan meminta tolong kepada suami, demikian sebaliknya.

Ketiga, jika ada dana, tidak ada salahnya membeli peralatan rumahtangga yang memudahkan pekerjaan kita. Mesin cuci dua tabung bisa diganti dengan yang satu tabung, misalnya. Beneran deh ini sangat membantu sekali saat tangan sudah tidak ada tenaga untuk melintir cucian.

Keempat, jangan pernah menunda pekerjaan meski hanya sehari. Hal ini berlaku terutama pada pekerjaan paling bergengsi bagi para ibu: Menggenggam seterika. Bu, please.. jangan gadaikan kebahagiaanmu hanya dengan memandangi pakaian kering setumpuk yang kau sembunyikan di samping lemari itu. Lakukan setiap hari, niscaya diri akan terbiasa dan tumpukan pakaian mengerikan jauh dari pandangan mata.

Kelima, luangkan satu hari dalam sepekan (biasanya saat week end) untuk bersih-bersih. Misalnya: mencuci bak sampah, keramik kamar mandi, hiasan-hiasan dinding, dan sebagainya. Yang kaya begini cukup sekali seminggu saja, kakak.. jangan terlalu membebani diri. Jokowi nggak akan mampir ini..

Keenam, segera bersihkan kotoran di lantai. Ngepel lokal. Ada tumpahan susu, kuah sayur, dan sebagainya, segera bersihkan. Agar kita tidak perlu ngepel setiap hari. Kalau rumah terjaga kebersihannya, ngepel bisa kita lakukan seminggu sekali kok.

Ketujuh, beban hidup terberat kedua setelah menggenggam seterika adalah mengosek WC. Yang ini tidak perlu dijadwal, lakukan sambil mandi. Niscaya jadi lebih enteng hidup ini.

Kedelapan. Jangan sungkan untuk bangun lebih pagi. Biasanya jika saya terlalu lelah di malam harinya namun cucian gelas masih merajalela, saya biarkan saja untuk kemudian ditinggal tidur. Besoknya, meski bangun lebih pagi, badan lebih bugar untuk melakukan aktivitas kerumahtanggaan lagi.

Kesembilan, sediakan minyak hangat untuk memanjakan diri (baca:pijet) Saya punya minyak andalan, yang untuk selanjutnya kami sebut "Minyak kebanggaan keluarga. Minyak kita bersama"
Apa lagi namanya kalau bukan MINYAK GPU.

Ya Allah... beneeeer  yaa.. ini minyak angetnya sampai ke sumsum. Berasa dipijet beneran, sist..

Cuma ya itu, baunya ngga nahan.

Anak-anak saya sampai hafal bener lho kalau ibunya hobi spa GPU.  Sampai si bungsu pernah ngeluh “Bun, kenapa sih kalau masuk kamar bunda kok baunya ngga enak?” dan langsung disamber oleh kakaknya “Iyaa..itu namanya bau GPU deeek..”

Ish, anak saya aja ngeluh, gimana suami saya ya?

Ya jelas dia nggak ngeluh! Wong yang ngajari saya SPA GPU itu dia. Hahahaha.....

Bahkan pernah sebotol besar GPU itu kami habiskan hanya dalam waktu seminggu. Dan makenya bukan yang model dioles gitu. Tapi dituang.. DI-TU-ANG. Digrujuk kalo orang Jawa bilang.
*memang pasangan suami istri tradisional kok kami ini.

Kesepuluh, ukur kemampuan. Jika memang ibu merasa sangat berat tanpa bantuan aisten, dan kebahagiaan hidup jadi terampas, tetap saya sarankan untuk kembali memakai jasa asisten. Apalagi jika suami mengizinkan dan ada anggaran untuk membayar gaji asisten. Kita ibu-ibu ini banyak pikiran banyak urusan kan ya? jangan memaksakan diri untuk tua sebelum waktunya :D

Hah..panjang nian coretan saya ini. Wong jemuran masih melambai-lambai minta dibalik kok ya sempet sempetnya ngoceh beginian..

Karena menulis itu membahagiakan. Sama dengan ibu-ibu yang jago masak. Mau dikata badan rontok, tapi tangan tetep aja ngaduk mixer. Karena memasak bagi mereka membahagiakan. Nah, inilah poin kesepuluh: Lakukan dengan riang.

Hidup harus kita nikmati kan Bu? Mari nikmati semua kelelahan ini. Agar selelah-lelahnya diri, tetap bisa bahagia meski lelah mendera.

Salam Bahagia untuk Semua Ibu,

Penulis : Wulan Darmanto

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!