Friday, September 8, 2017

Tere Liye dan Literasi Setengah Hati

RemajaIslamHebat.Com - Kabar mengejutkan itu dari Tere Liye. Tak bakal menerbitkan bukunya di Gramedia dan Republika. Sebagai penulis, saya ikut geregetan. Miris. Apalagi waktu anak saya yang notabene penggemar Tere Liye bertanya.  
“Mi, katanya Tere Liye nggak nerbitin buku lagi?” kata Tsabita (15).
“Iya,” kata saya.
“Kenapa?”
“Dicekik pajak,”
“Emang kalau nulis buku kena pajak, ya?”
“Iya,”
“Terus di Gramedia habis dong bukunya?”
“Sampai Desember nanti bakal habis, kecuali segera diburu para penggemarnya; kakak mau ngeborong? Emang punya uang?” Nyengir.
“Terus nggak nerbitin buku lagi? Komet gimana dong?”
“Masih nulis, nanti di medsos,” kata saya.
.
Begitulah. Protes atas tingginya pajak bagi profesi penulis, Tere Liye memutuskan tidak menerbitkan lagi karyanya melalui dua penerbit besar itu. Dia bilang, pemerintah selama ini tidak adil terhadap profesi penulis buku, karena dikenakan pajak lebih tinggi dari profesi-profesi lainnya. Tere Liye memberikan ilustrasi perhitungan pajak sejumlah profesi yang ada, seperti dokter, arsitek, artis, hingga pengusaha. Lantas, dia membandingkannya dengan pajak yang harus dikeluarkan oleh profesi penulis.
.
"Karena penghasilan penulis buku disebut royalti, maka apa daya, menurut staf pajak, penghasilan itu semua dianggap super netto. Tidak boleh dikurangkan dengan rasio NPPN, pun tidak ada tarif khususnya. Jadilah pajak penulis buku: 1 miliar dikalikan layer tadi langsung. Rp50 juta pertama tarifnya 5 persen, Rp50-250 juta berikutnya tarifnya 15 persen, lantas Rp250-500 juta berikutnya tarifnya 25 persen. Dan Rp500-1 miliar berikutnya 30 persen. Maka total pajaknya adalah Rp245 juta," demikian secuplik curhatan Tere Liye (kompas.com, 7/9/17).
.
Atas protes itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani buru-buru memerintahkan Dirjen Pajak untuk memanggil Tere Liye. Katanya, mungkin masalah pelayanannya saja yang kurang baik. Ah, kita tunggu saja hasilnya. Semoga protes ini membuahkan hasil. Yang jelas, inilah potret paradoks kebijakan setengah hati pemerintah terhadap dunia literasi.
.
Ya, tahun ini pemerintah menggalakkan gerakan literasi. Menyemangati anak-anak bangsa, khususnya pelajar agar menyukai membaca dan menulis. Semua tahu, membaca dan menulis itu manfaatnya luar biasa. Tetapi di sisi lain, dunia perbukuan yang menjadi tulang punggung gerakan literasi kurang mendapat perhatian.
.
Termasuk, soal nasib penulis. Sungguh, penulis itu sejatinya jarang mengeluh secara terbuka soal keuangannya. Karena, banyak penulis yang masih menjadikannya sebagai hobi semata. Namanya hobi, karena kecintaan, tetap dilakukan meski tidak membuahkan uang. Kepuasan batin, itu tidak bisa diukur dengan bayaran.
.
Saya pun masih menulis sebagai sambilan. Tetapi, bagaimana yang dengan rela melepaskan segala pekerjaan demi menjadi fulltime writer? Pendapatannya hanya dari menulis. Sebab, menulis itu membutuhkan banyak waktu. Jangan dikira menghasilkan novel itu sebulan-dua bulan jadi. Waktu risetnya, itu butuh lama sekali. Mungkin berbulan-bulan hingga buku itu terbit. Yang berkualitas tentunya, entah kalau yang sekadar mengikuti selera pasar.
.
Selama proses itu, penulis butuh makan. Support dana. Untuk anak-istri atau keluarganya. Sementara bayaran dari royalti, biasanya baru cair enam bulan sekali. Kalau mau jujur, cashflow penulis itu...alhamdulillah saja deh. Kecuali penulis best seller yang penghasilannya sudah puluhan juta atau miliaran, ya.
.
Jadi, kalau royalti masih dipotong pajak pula, bagi penulis-penulis yang baru tumbuh, cukup memprihatinkan. Padahal, di Indonesia ini, royalti bagi penulis saja masih minim (ini di luar pembicaraan tentang pandangan Islam terhadap royalti).
.
Wajar jika profesi penulis tidak dilirik generasi muda. Nggak ada yang bercita-cita jadi penulis. Menulis itu masih dipandang sebagai hobi semata. Bukan masa depan yang menjanjikan. Wajar pula bila di Indonesia ini, volume penerbitan buku kalah jauh dibanding negara-negara lain. Karena, pertumbuhan jumlah penulisnya juga kecil.
.
Bandingkan dengan negara lain. Inggris misalnya. Rasio penerbitan buku mencapai 2.875 judul per satu juta penduduk pada 2014. Terbanyak di dunia. Disusul Taiwan dan Slovenia dengan 1.831 judul per satu juta penduduk. Amerika Serikat 959 judul per satu juta penduduk. Sementara Indonesia, baru 72 judul buku untuk satu juta orang penduduk. Sangat kecil, tentu.
.
Jadi, kalau mengharapkan negara ini maju dari literasi, masih jauuuuh. Sebenarnya, sudah bagus pemerintah menggerakkan literasi. Kelak dari membaca, akan lahir penulis-penulis. Tetapi, kalau belum apa-apa sudah mencekik para penulis dan membuat mereka 'ngambek', peradaban literasi macam apa yang diharapkan?
.
Lagi-lagi seperti komiditi lain, apakah bangsa ini juga akan selamanya mengandalkan buku-buku impor? Mematikan para penulis lokal? Sekarang saja, di tengah persaingan buku yang riuh rendah, buku-buku impor asing; dengan penulis asing; menjajakan budaya asing; telah merajai toko-toko buku besar. Maklum, karya luar memang kita akui banyak yang jauh lebih berkualitas. 
.
Kondisi itu sudah berlangsung puluhan tahun. Tanya para generasi X atau Y, dulu bacaannya apa? Conan, Empat Sekawan, Sherlock Holmes, dll. Itu produk penulis asing. Sekarang? Novel-novel Korea, komik Jepang, masih setia jadi rujukan anak-anak generasi Z. Tidak banyak berubah. Karya lokal, masih bisa dihitung dengan jari yang bisa menyaingi kualitas impor.
.
Tetapi, bila kita menggunakan kaca mata Islam, bagaimana dengan konten buku-buku impor tersebut? Apakah cukup aman untuk konsumsi anak-anak negeri? Kalau yang diharapkan sekadar membaca dan menulis, tanpa peduli apa yang dibaca dan ditulis, apakah akan melahirkan generasi literat yang baik? Tidak. Justru ini membahayakan.
.
Pernah saya mendapat keluhan dari seorang guru dalam suatu sharing tentang literasi. Awalnya, dia memotivasi anak didiknya untuk gemar membaca dan menulis. Berhasil. Bahkan sampai terbentuk komunitas. Anak-anak didiknya pun akhirnya tumbuh bersama buku. Tentu, beliau tidak sempat mengawasi semua bacaan anak-anak binaannya.
.
Semakin tambah usia, anak didiknya malah menyukai bacaan yang nyerempet-nyerempet porno. Menulis pun ke arah sana. Ia sudah tak sanggup mengendalikannya lagi. Kenapa? Karena sumber bacaan di luar sana sungguhlah liar. Novel, komik, bahkan komik anak-anak, tidak steril dari konten-konten yang bertentangan dengan Islam.
.
Masih beruntung bangsa ini punya Tere Liye, yang karyanya mengedukasi pembaca minus kepornoan (saya tahu, karena saya membaca karyanya). Tapi kita tidak pernah tahu, lautan kata-kata di jutaan buku yang tersebar di luaran sana, seberapa amannya buat anak-anak kita? Mengingat peradaban yang eksis saat ini bukan peradaban Islam, melainkan peradaban sekuler, buku-buku yang bertebaran juga tidak bisa dijamin bersih dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Apalagi, tidak semua penerbit juga peduli dengan konten, hanya peduli dengan keuntungan.
.
Fenomena Afi Nihaya Faradisa, misalnya (saya malas sebenarnya menyebut nama ini hehe). Dia adalah potret anak muda yang gila baca, tapi akhirnya tersesatkan (menurut kaca mata Islam, sebagai Muslim, tentunya. Karena kalau dengan kaca mata sekuler, dia didapuk sebagai anak muda yang sangat hebat karena sumber bacaannya yang luar biasa berbobot, --bobot liberalnya.)
.
Jadi, gemar baca saja tidak cukup, tapi apa yang dibaca, itu lebih penting. Anak-anak yang dibiarkan dalam gerakan literasi, tapi tidak diarahkan bacaan apa yang diaksesnya, sungguh membahayakan. Bacaan, baik novel, buku nonfiksi, komik bahkan puisi, mencerminkan budaya apa yang dibawanya. Secara smooth, masuk, meresap dalam relung pemikiaran anak-anak kita. Menancapkan pemahaman dan pemikiran yang tidak selamanya benar. Apakah seperti ini gerakan literasi yang diinginkan?
.
Maka, jika nasib penulis masih dianaktirikan, jika konten bacaan tidak dikendalikan, gerakan literasi justru akan jadi bumerang. Jika anak-anak membaca buku-buku yang baik, dia akan tumbuh menjadi anak-anak lebih berkualitas. Masalahnya, bagaimana akan muncul buku-buku yang baik, jika penulis-penulis yang baik, tersingkirkan dari arena karena kekejaman kebijakan? Sudah tentu, gerakan literasi bakal layu sebelum berkembang.(*)
.
Salam Literasi!
Bogor, 9 September 2017

Sumber:

Fb: Asri Supatmiati


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!