Tuesday, September 5, 2017

Teori Kejahatan

Oleh : Doni Riw

PERADABAN modern kita yang beradab ini, telah merumuskan teori kejahatannya sendiri yang sangat beradab. Saking beradabnya, kita memujanya setinggi langit, bahkan lebih tinggi lagi, melampaui surga.

Kejahatan dalam pandangan modern kita tidak bergantung pada tindakannya itu sendiri melainkan pelakunya.

Pesawat-pesawat tempur Amerika, Rusia, Perancis, dan rekan-rekannya, yang menjatuhkan bom di perkampungan mujahidin Suriah bukanlah sebuah tindak kejahatan.

Pembunuhan ratusan-ribuan manusia dalam sekali pencetan tombol itu legal karena dilakukan oleh negeri demokratis.

Sedangkan tembakan AK47 yang dibidik oleh mujahidin dan mengenai kaki seorang tentar UN, adalah kejahatan besar. Dengannya, negeri-negeri di dunia absah menjatuhkan berton bom di kampung mereka.

Aksi militer dan pendudukan Israel pada pejuang Hamas dan penduduk Gaza bukanlah kejahatan.
Karena tindakan itu dilakukan oleh institusi negara demokratis berasaskan HAM.

Bahkan pimred media masa ternama negeri kita menjadi sangat prestisius ketika bisa berkunjung dan bersepakat dengan petinggi Israel.

Sedangkan roket hand made yg diluncurkan pejuang Hamas Palestina dan jatuh di halaman belakang suatu rumah Israel, adalah tindakan anti semit yang berbahaya. Harus diperangi.

Pembunuhan, pemerkosaan, pengusiran etnis Rohingya yang dipelopori oleh biksu Wirathu dan didukung militer dan penguasa Myanmar bukanlah sebuah tindak kejahatan. Tak perlu diekspose dan dibesar-besarkan.

Kalau sebagian etnis Rohingya melawan, itu baru bisa disebut teroris-pemberontak.
Karena mereka hanya rakyat kecil yang mempertahankan hidupnya.
Sedang para pembantai itu adalah institusi negara yang tidak memusuhi peradaban modern.

Membubarkan ormas dengan jalan pintas perppu tanpa prosedur pengadilan itu bukanlah tindak kejahatan. Itu adalah tindakan bijaksana, toleran, bhineka, menjaga perbedaan pendapat, karena dilakukan oleh pejabat negara demokratis yang dipilih oleh rakyat.

Berbeda dengan ormas yang menyerukan kezaliman penguasa ekonomi melalui tangan-tangan penguasa politik, itu adalah kejahatan, ujaran kebencian.
Meski aksi mereka selalu damai, cerdas, mengajak berpikir, anti kekerasan, tetap saja ormas ini adalah anti pancasila. Karena selalu mengkritisi demokrasi & kapitalisme yang keagungannya melampaui surga.

Pihak-pihak pengkritik demokrasi dan kapitalisme itulah para penjahat. Segala tindakannya adalah kejahatan.

Jika pun tindakan mereka itu tetap damai, anti kekerasan, meski aksinya melibatkan jutaan orang, mereka tetaplah jahat.
Maka nama baik mereka dihapuskan dengan isu sisa-sisa sampah yang ditinggalkan. Dihapuskan dengan isu bom panci yang entah dilakukan oleh siapa.

Jika jutaan di antara mereka beraksi menolak kepemimpinan seorang tokoh bermulut kotor, bercitra pembela rakyat, pembangun kota, pelindung konglomerat hitam, mereka tetaplah inkonstitusional. Penebar kebencian. Intoleran.

Karena aksi mereka tidak di salurkan melalui sistem demokrasi, legislatif, pemilu, dan pengadilan.

Karena para penguasa ekonomi dan penguasa politik tidak cukup kuasa merekayasa aksi jalanan, seperti kuasanya mereka merekayasa output putusan dalam sistem mapan demokrasi, legislatif, pemilu, dan pengadilan.

Dalam peradaban modern, menjaga nilai-nilai modernisme adalah sikap luhur.

Menjaga perbedaan pendapat adalah luhur, meski untuk itu harus membungkam salah satu pendapat ormas dengan jalan tidak fair.

Menjaga kebhinekaan adalah luhur, meski untuk itu harus membubarkan pengajian dari satu kelompok tertentu.

Menjaga perdamaian dunia adalah luhur meski untuk itu harus membantai sekelompok manusia dan memfitnah ajaran murni agama Islam sebagai ajaran radikal, teroris, penebar kebencian.

Agama Islam bolehlah hidup di dunia ini, tetapi ajarannya harus disesuaikan dengan ideologi modernisme, pluralisme, liberalisme, kapitalisme.

Kejahatan itu adalah menentang dan mengkritisi ambiguitas, kontradiksi, dan kebatilan ideologi modern.

Tulisan lain fb Doniriw:

KEMENANGAN DATANG SETELAH KETAATAN
(renungan Iedul Adha)

© Doni Riw

Setiap menyimak peristiwa Qurban oleh Nabi Ibrahim & Nabi Ismail, tak pernah hati ini tak tergetar.

Betapa tidak? Peristiwa itu adalah contoh sempurna ketakwaan seorang hamba pada Rob nya.

Mengorbankan anak kesayangan, yang telah ditunggu kelahirannya bertahun-tahun, demi perintah Allah; disembelih.

Sebuah perintah yang "tak masuk akal".

Akal sendiri adalah berkah sekaligus ujian yang diberikan Allah pada manusia.

Dengan akal, manusia bisa mencerna petunjuk sebagai jalan menuju cahaya hidayah.

Dengan akal, pula manusia bisa angkuh menolak perintah Allah dengan pencarian dalih-dalih.

Kemenangan senantiasa akan dikaruniakan Allah pada hamba yang dengan akalnya dia ikhlas patuh pada perintah Nya.

Pada peristiwa penyembelihan Ismail, kemenangan itu diberikan di ujung. Ismail diganti oleh Allah dengan domba besar, setelah mereka telah terbukti ikhlas menjalankan perintah Allah.

Semoga kita bisa meneladani ketakwaan sempurna Nabi Ibrahim dan Ismail dalam menyambut perintah Allah.

Ketika Allah memerintahkan kita meninggalkan riba, semoga kita bisa meninggalkannya tanpa berdalih bahwa tanpanya kita tidak tidak mungkin memiliki rumah atau kendaraan.
Tanpa berdalih bahwa tanpanya negara tak bisa membangun infrastruktur.

Ketika Allah melarang kita untuk menyerahkan sumber daya alam pada kapitalis, semoga kita bisa melaksanakannya tanpa berdalih bahwa kita belum memiliki ilmu dan teknologinya.

Ketika Allah memerintahkan agar seluruh hidup kita diatur dengan syari'at Nya, semoga kita bisa ikhlas dan patuh tanpa dalih bahwa negeri kita bhineka.

Tanpa berdalih bahwa syari'at Allah akan memecah belah.
Tanpa berdalih bahwa negara kita bukan negara agama.

Tanpa berdalih bahwa demokrasi lebih cocok bagi kita.
Tanpa berdalih bahwa suara rakyat itu suara tuhan.

Segala Rizky, Kemakmuran, Keberkahan, Anugerah, adalah karunia dari  Sang Pencipta & Penguasa Semesta;
Allah ta'ala.

Seperti yang Allah contohkan melalui Nabi Ibrahim & Ismail, kemenangan akan diberikan setelah ketaan. Bukan setelah berdalih.

Yogyakarta, 10 Dzulhijjah 1438 H

Tulisan lain:

ADU KEREN DI KASUS ROHINGYA

© Doni Riw

Tragedi Rohingya, sebuah peristiwa yang teramat dahsyat untuk dianggap angin lalu. Karenanya, semua berteriak tentangnya.

Di balik pilu, riuh wacana berhamburan seperti tetes hujan bulan desember. Ia seolah menjadi laga pertarungan kekerenan ide antar pecandu popularitas.

Media sosial adalah arena yang tepat untuk 'popularity fetish'. Di facebook kredo itu adalah; "aku update status maka aku ada".

Karenanya, pose makan di kafe mahal diunggah. Foto di balik stir mobil diunggah. Status sholat tahajud yg ditulis pukul 03:00 wib diunggah. Tak luput pula komentar tentang Rohingya diunggah.

Formula mujarab para pecandu popularitas di time line media sosial adalah sebagai berikut; 1) Amati Trending Topik. 2) Amati Minstream Opini. 3) Tulis Opini Anti Mainstream.

Dalam kasus Rohingya; 1) Trending Topik adalah Rohingya. 2) Mainstream Opini adalah Genosida Atas Nama Agama. 3) Anti Mainstream adalah "Jangan Bawa Agama", ini maslah kemanusiaan.

Biksu Wirathu, tokoh sentral genosida Rohinya, pun jelas berujar; "Anda bisa berikan kebaikan dan rasa kasih, tetapi anda tak bisa tidur di samping anjing gila". Sedangkan yang dimaksud anjing gila adalah Muslim Rohingya (New York Time, 21 Juni 2013)

Bagi pecandu popularitas, Ideologi pilihan adalah soal trendy vs kampungan. Trendy itu adalah modernisme, pemujaan terhadap kebebasan akal. Kampungan itu kuno. Kuno itu fundamentalisme Islam atau radikalisme Islam, yang mengkaitkan tragedi Muslimin dengan isu Agama

Sungguh Allah menilai seluruh amal kita, amal fisik maupun amal hati. Ide atau ideologi yang kita pilih termasuk apa yang akan dihisab. Apa lagi ketika dia dijasadkan dalam bentuk lisan-tulisan dan tindakan nyata lain.

Maka, jangan main-main dengan ide!

Popularitas hanyalah suatu kenikmatan sesaat. Kebenaran kelewat berharga jika ditukar hanya untuk popularitas.

Sumber:

Fb: Doniriw


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!