Friday, September 8, 2017

Syukur

Oleh : Dhika Widayat

DALAM hidup manusia selalu mendapatkan banyak hal yang indah dalam setiap detik. Banyaknya karunia dan nikmat sudah tidak lagi terhitung. Bahkan sedikit dari banyaknya nikmat Allah itu tidak bisa diwakilkan jumlahnya dengan benda apapun. Seandainya pula kita bisa menghitung jumlah debu yang ada di dunia ini, jumlah itu juga tidak layak mewakili sedikit nikmat Allah yang sudah Allah berikan kepada kita.

Nikmat-nikmat Allah yang banyak itu tidak diberikan kepada kita dengan cuma-cuma a.k.a gretongan alias gratis. Padahal nih, misalkan seluruh harta benda di bumi ini dikumpulkan, jumlah itupun tidak akan bisa membeli setetes saja air yang Allah turunkan dari langit. Begitu Allah memberikan nikmatnya kepada kita.
Walaupun kadang-kadang kita masih sering maksiat. Kita juga masih sering lalai dari kewajiban-kewajiban kita kepada Allah. Masih juga suka ngeyelan sama Allah. Tapi, kasih dan sayang Allah tidak pernah luntur untuk kita dan nikmat Allah kepada kita tidak pernah berkurang sedikitpun dalam hidup. Begitulah Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

So, kurang ajar banget sebagai hamba Allah kalau kita masih saja enggan untuk bersyukur dan cenderung kufur terhadap nikmat-nikmat Allah. Berulang kali lalai, sering kali ngeyel dan membangkang kepada perintah Allah. Padahal Allah sudah banyak nyindir kita juga dengan firman-Nya di Surat Ar-Rahman, “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?”.

Syukur itu buat aku seperti iman yang tidak cukup hanya dengan pengakuan hati dan lisan tanpa bukti dengan perbuatan. Bersyukur itu tidak sekedar dengan hati dan ucapan tahmid di lisan, tetapi juga harus ada amal dalam perbuatan. Bukti itu adalah dengan taat dengan segala perintah-Nya. Bersyukur itu memanfaatkan nikmat yang sudah Allah berikan untuk senantiasa taat kepada-Nya bukan malah untuk bermaksiat.

Wajar saja Rasul pernah bersabda “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhori). Karena memang manusia kebanyakan ingat sama Allah kalau sedang susah dan sakit. Banyak alasan tidak ibadah dengan bilang sibuk dan tidak sempat. Begitu sehat dan luang waktunya, lupa deh untuk taat. Lebih senang berleha-leha atau sekedar melakukan hal yang sia-sia. Mulai malas diajak ngaji dan lebih senang nongkrong tidak jelas dengan teman-teman ngobrol ngalor ngidul. Kan kurang ajar.

Maka kawan-kawan, semoga kita adalah hamba Allah yang pandai bersyukur. Bersyukur dengan senantiasa menggunakan nikmat Allah itu untuk ketaatan kepada Allah. Karena dengan bersyukur Allah akan tambahkan nikmatnya untuk kita dan hidup kita akan semakin berkah. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (TQS. Ibrahim: 7). []

Sumber:

Fp: Dhika Hidayat

Tulisan di FP Dhika Hidayat:

BAPAK KEJAHILIYAHAN
.
'Amr Ibnu Hisyam namanya, orang terpandang di Mekah. Pemimpin kaumnya yang cerdik pandai dalam urusan kepemimpinan.
.
Sosoknya sangat pandai dalam mempengaruhi orang lain dan memiliki keahliannya dalam masalah hukum dan kepemimpinan. Inilah yang menyebabkan orang-orang Mekah kala itu menyebutnya dengan sebutan Abu Hakam.
.
Namun tahukah kenapa kaum Muslim menyebutnya dengan nama Abu Jahl? Tentunya bukan karena dia punya anak bernama Jahl (bodoh), sungguh orang tua yang konyol. Lantas kenapa? Tepat , karena penolakannya yang sangat besar terhadap syariah yang dibawa oleh Muhammad saw
.
Sehingga jahiliyah tidak harus gaptek, bodoh dalam Ilmu pengetahuan, atau jauh dari orang pandai. Layaknya Abu Jahl yang bukan orang bodoh.
.
Bisa jadi kini adalah masa Jahiliyah, yang seperti Philip K. Hitti sebutkan dalam History of The Arabic bahwa Jahiliyah bukan bodoh dalam ilmu pengetahuan, tapi zaman dimana tidak adanya kitab suci (Al-Quran) sebagai pedoman kehidupan.
.
Ataukah kita adalah Abu Jahl era kini? Yang menolak syariah untuk dijalankan sebagai "the real" pedoman hidup? Semoga tidak.
.
[dhikawidayat]


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!