Tuesday, September 12, 2017

Stop Nyinyir Atas Perjuangan Kaum Ibu

Oleh : Raidah Athirah

HARI Pencegahan Bunuh Diri memang bukan hari yang istimewa apalagi topik ini bukan hal yang asyik untuk didiskusikan.

Ada banyak kisah dan cerita dibalik hidup seseorang untuk bisa dijadikan pelajaran ,hikmah dan langkah untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Bulan ini....September bagi saya adalah bulan perjuangan dan hari-hari berat yang hampir membawa saya ke titik rendah yang mendekati suicide ( bunuh diri).

Siapa saja boleh berkomentar ,boleh mencemooh atau membully sekalipun tapi saya punya cerita yang ingin saya bagikan kepada ibu-ibu muda diluar sana.

Saya berharap dengan cerita perjalanan ini,Anda semua ( Para Ibu ) yang berada dalam titik ini bisa meyakini bahwa Allah,Tuhan Yang Maha Rahman dan Rahim selalu menyediakan jalan terang untuk rasa gelap yang menyelimuti hari-hari yang sedang dilewati.

Anda tidak sendiri.Rasa tertekan,kelelahan,putus asa,tangisan diam-diam ,kehilangan rasa percaya diri dan emosi yang meluap-luap ,semua adalah perasaan manusiawi yang menunjukkan fitrah Anda sebagai manusia.

Inilah alasan terbesar bagi saya untuk tidak pernah terlibat dalam Momies War ( Perang Sesama Emak-Emak) .Saya percaya setiap Ibu punya medan juang masing-masing.Siapa saja baik yang melahirkan normal atau sesar,yang berjuang untuk ASI dan yang memberikan Sufor bahkan untuk Ibu bekerja dan tidak bekerja.Bagi saya semua adalah pejuang.

Hal yang paling membuat saya sedih dan menangis adalah berita tentang Ibu yang bunuh diri.Saya pikir bunuh diri telah banyak terjadi di sekitar kita walaupun tidak ada angka statistik pasti untuk mengukurnya.

Yang memprihatinkan adalah media bedebah yang sering mengeksploitasi berita ini siang- malam tak henti-henti tanpa berusaha menyampaikan informasi solusi dan pencegahan.

Parahnya lagi sebagian masyarakat yang sok tahu,sok paling paham atau bahkan yang sudah meninggal pun masih dijustifikasi.

" Bego amat jadi Ibu ! "

" Gituh aja cengeng "

" Dasar nggak beriman "

" Makanya ngapain punya anak ? Hidup masih manja,khan ya jadi deh  bunuh diri "

Saya  pernah punya perasaan  bunuh diri, saya  pernah mengukur nyali untuk melakukannya bahkan ketika pikiran itu muncul dan pergi. Anda boleh silahkan saja menghakimi bilang bahwa saya memang kurang iman , cengeng dan sebagainya.

Tapi Anda perlu tahu setiap orang punya perjalanan hidup yang berbeda dan tidak setiap orang miliki ketahan jiwa yang sama itulah mengapa ada istilah saling menasihati ,saling mendukung dan saling berbagi keluh kesah.

Setiap wanita yang kini menjalani peran sebagai Ibu perlu didukung,didengar bahkan dipeluk oleh Anda ,orang -orang terdekat yang memiliki peran untuk kewarasan pikiran dan jiwa mereka yang sangat lelah.

***

Jangan pernah ambil bagian menjadi penyebab orang lain mengakhiri hidup.

Saya mengasihi setiap Ibu diluar sana yang berjuang tak mengenal putus asa.For me... they are real Heroes ,even the words couldn't describe their love and heart for us.

Saya termasuk survivors dengan izin Allah menemukan jalan dan pertolongan.

Tidak lama setelah tiba di Polandia, QadarAllah saya hamil dengan riwayat kehamilan yang cukup berat.Tiga kali saya mengalami hospitalisasi.Rawat jalan sampai melahirkan.Geger budaya luar biasa.

Tiba waktu melahirkan semakin bertambah tekanan terhadap saya.Gigih ingin melahirkan normal karena masih ada dalam mindset ( gaya berpikir ) kalau belum melahirkan normal saya belum berikhtiar sungguh-sungguh.Pikiran ini saya sesali sampai saat ini.

Suara-suara sumbang kiri-kanan dari keluarga bukan meringankan malah menjadi-jadi.Saya masih mentolerir saat masa kehamilan.

Puncaknya setelah melahirkan dengan jalan sesar di bulan ini.Cemoohan karena saya tidak pintar menyusui.Namanya Ibu baru itu wajar kalau nggak langsung lihai dan cekatan.Sayangnya,bukan dapat dukungan saya disebut manja dan bodoh.

Geger budaya luar biasa karena saya sama sekali belum bisa berkomunikasi dengan bahasa sini ( Polandia). Akibatnya,apa-apa saya selalu tergantung ke suami.

Tekanan kepada saya untuk tidak boleh menyusui tidak henti-henti.Pandangan bahwa Ibu melahirkan sesar tidak bisa menyusui sudah seperti perang dalam pikiran karena komentar keluarga .

Namanya Ibu baru, bayi muntah terus-menerus,menangis keras,tidak mau menyusui atau Sufor sekalipun belum ditambah kurang tidur di malam hari sudah bisa jadi alasan saya kehilangan kewarasan.

Bertambah-tambah lah stress hinggap di kepala mendengar ocehan dari sana-sini.Beda negara ,beda cara pengasuhan.

Di Indonesia bayi di jemur di bawah sinar matahari sudah merupakan pemandangan biasa.Disini lain cerita,bayi yang lahir di musim dingin justru dibiasakan di jemur di luar dalam keadaan bersalju.Kalau cuma ngeliat orang lain nggak masalah,yang jadi masalah kalau kita sendiri yang mengalami.

Baru saja keluar rumah sakit setelah seminggu menginap karena pendarahan,sampai di rumah saya disuruh keluar jemurin bayi mungil ini di udara dingin.Dalam keadaan tulang punggung masih nyeri dan jalan masih bongkok saya jalani saja.

Lama kelamaan karena saya tidak bersuara alias diam saja dan manggut-manggut ,tidak ada yang aware saya ini mengalami bukan saja Baby Blues tapi sudah masuk Postpartum Depression .Insomnia akut akhirnya lama-lama punya riwayat anemia parah.

Curhat ke keluarga bukan dapat dukungan malah tambah dinyinyirin . Tambah-tambahlah rasa putus asa muncul.Air mata  dari yang kayak banjir sampai udah nggak mau keluar sudah nggak bisa digambarkan.

Puncaknya saat jatuh sakit  .Tidak ada siapa-siapa yang bisa dimintai tolong.Dicurhatin pun saya malu karena trauma setelah curhat ke keluarga yang berakhir dibully.

Suami kerja yang pasti dua minggu sampai tiga bulan baru balik lagi ke Polandia, jadilah saya berjuang sendiri....

Tekanan demi tekanan membuat kewarasan saya tambah parah.Saya akhirnya dibawah ke Psikiater dan diberikan obat anti-depresi .

Saya berhenti menyusui dan rela putri saya diberikan Sufor .Tapi bukan  membantu putri saya muntah terus dan akhirnya saya paksa diri saya menyusui.

Saya juga mengalami isolasi sosial karena keterbatasan dalam komunikasi.Hampir sebagian besar masyarakat disini tidak dapat berbicara dalam bahasa Inggris dan saya tidak memiliki kesempatan untuk belajar bahasa Polandia.

Kalau dalam istilah bahasa Sunda

" Karunya pisan euy"

Curhat sepertinya bukan pilihan karena trauma dinyinyirin.Saya benar-benar depresi .Pikiran bunuh diri itu sudah kayak bisikan syaitan yang melilit pikiran dan akal sehat saya.

Belum lagi sebagian keluarga di tanah air yang kadang tidak mau tahu.Dalam pikiran mereka itu  hidup di luar negeri berarti bahagia,jalan-jalan dan punya banyak uang.

Oh Ya Rabb....Buka hati dan pikiran manusia macam ini !

****

PertolonganNya

Lantas bagaimana saya mendapat pertolongan ?

Berdoa.Ya saya berdoa terus-menerus .Dimana saja,kapan saja.Saya berdoa Allah bantu saya bangkit dan sembuh dari pikiran-pikiran macam ini.

Kalau dalam istilah Islam saya melakukan Ruqyah mandiri.Dalam istilah modern saya mengambil metode " Self-healing "  dengan jalan Writing Therapy

Saya membuka diri untuk memeriksakan diri ke Psikiater.Lebih tepatnya kami berdua ( saya dan suami) . Ikhtiar ini akhirnya menemukan jalan terang .Saya disarankan apabila sama sekali tidak bisa bicara,diminta menulis  .Menulis apa saja.Menulis semua kemarahan saya.Bahkan harapan saya sekalipun.

Semua yang saya rasa dan tidak bisa saya ungkapkan ,saya tulis.Kekecewaan saya selama ini kepada suami dan keluarga ,Pani pskiater itu juga  meminta menuliskan dalam bahasa apapun yang saya bisa.

Semua tulisan itu saya taruh di kotak.Ada yang saya berikan ke suami yang saya tulis dalam bahasa Inggris.Ada yang hanya saya simpan .

Alhamdulillah perlahan pikiran bunuh diri itu surut dan menghilang seiiring kepindahan kami ke Norwegia.

***

Saya ingin Anda percaya bahwa komentar nyinyir kepada Ibu-ibu yang baru saja melangkah adalah tindakan paling miskin empati .Kalimat nyinyir ini bisa mendorong kepada perasaan putus asa atau yang paling parah bunuh diri.

Saya ingin Anda melatih sensitivitas dalam berkomentar atau sekedar menjadi pendengar .Kita tak harus jadi ahli seperti pskiater untuk membantu,mendukung dan menyembuhkan para Ibu diluar sana.

Kita punya pilihan untuk menjadi jalan orang lain menjadi lebih baik dengan bijak berkomentar dan mau sekedar mendengarkan kisah lelah mereka yang diabaikan.

Siapa tahu ada banyak kaum Ibu diluar sana yang bisa diselamatkan dari tindakan bunuh diri ini.Mari saling mendukung dan stop saling nyinyir !

Saya sangat percaya bahwa setiap Ibu itu hebat ,tak Ada istilah Ibu biasa dan Ibu luar biasa.Komentar nyinyir kita yang terus menjustifikasi menunjukkan kita lah yang perlu belajar Adab /Attitude lebih banyak.[]

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1426998774074479&id=100002931105023


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!