Tuesday, September 5, 2017

Standar Ganda Kemanusiaan

Oleh : Hilmi Firdausi

BUKAN cerita baru, bahwa di belahan dunia manapun, minoritas muslim akan selalu menjadi korban jika terjadi sebuah tragedi kemanusiaan.

Tak perlu saya sebutkan satu persatu bagaimana kekejian dialami saudara-saudara muslim kita menghadapi tirani mayoritas non muslim yang entah kenapa begitu membenci ummat Islam.

Yang sedang hangat-hangatnya tentu saja kebiadaban rezim penguasa Myanmar yang didukung oleh peraih nobel perdamaian Aung San Suu Kyi dan Biksu Wirathu.

Menurut panitia Nobel, Aung San Suu Kyi menerima nobel perdamaian karena perjuangan anti kekerasan untuk demokrasi dan HAM. Suatu lelucon yang luar biasa tidak lucu melihat sepak terjang Suu Kyi yang malah "mendukung" genosida muslim Myanmar.

Lalu siapa tidak mengenal Biksu Wirathu, Biksu yang sangat benci terhadap Muslim Rohingya hingga kemudian melancarkan kampanye provokatif yang menyulut pembantaian, padahal dalam teorinya, agama Budha mengajarkan kedamaian dan kasih sayang? Pria pencetus gerakan anti-Islam 969 itu berdalih, muslim Rohingnya adalah anjing gila.

Hal itu tidak disebutkan Wirathu secara sembunyi-sembunyi tetapi langsung dikatakannya dalam khutbah yang diliput media internasional, menggambarkan betapa secara terang-terangan ia memproklamirkan diri sebagai musuh Islam.

“Anda bisa berikan kebaikan dan rasa kasih, tetapi Anda tidak bisa tidur di samping anjing gila,” kata Wirathu seperti dikutip The New York Times, 21 Juni 2013. Yang dimaksud "anjing gila" oleh Wirathu adalah Muslim Rohingya sebagaimana tema khutbahnya.

Telah empat tahun pidato anti-Islam itu didengungkan Wirathu dan hingga kini ia tidak berubah. Masih memusuhi Muslim Rohingya, bahkan memprovokasi kaum Budha untuk memboikot dan membantai mereka.

Untuk menggambarkan kekejaman Rezim penguasa di Myanmar, saya kutip tulisan M. Rosyidi Aziz (dengan perubahan seperlunya), walau sebenarnya foto dan video kebiadaban mereka sudah tersebar luas di media sosial :

"Sekejam-kejamnya Rodovan Karadzic dan Slobodan Milosevic, jagal Kristen Serbia di camp Sebrenica, yang dia bantai habis hanyalah para lelaki Muslim Bosnia.

Sebengis-bengisnya Ariel Sharon, jagal Yahudi Israel di camp Sabra Shatila, alat yang dia pakai adalah senjata api otomatis untuk membantai habis pengungsi Palestina.

Tapi lihatlah kurang kejam dan bengis apalagi kaum  Buddha Myanmar terhadap Muslim Rohingya ?

- Menyembelih wanita dan menampung darahnya diember setelah terlebih dahulu menelanjanginya. .

- Membelah perut wanita hamil dan mengeluarkan 2 bayinya. Lalu mencincangnya hidup-hidup.

- Merobek kemaluan wanita hingga ke perutnya, lalu mengeluarkan isi perutnya seperti hewan sembelihan.

- Menggorok bayi bayi tak berdosa dengan leher menganga lebar.

- Membakar hidup-hidup dan memanggang bayi dan anak-anak kecil.

- Menyetrum bayi dan anak-anak kecil, memukulnya lalu menyiksanya seperti mainan.

- Mencincang wanita wanita tua renta dan merobek-robek isi perutnya hingga terburai.

- Memenggal kepala para wanita dan nenek-nenek tua renta. Lalu memamerkannya.

- Membakar para wanita, anak-anak hingga nenek tua renta dalam kondisi masih hidup.

- Mumutilasi hidup-hidup bagian tubuh para wanita dan nenek nenek tua renta. Dan masih banyak lagi.

Dan muaknya lagi, semua kebiadaban itu direkam dan dipertontonkan kepada dunia, bahkan disaksikan langsung oleh wanita dan anak-anak kaum Buddha Myanmar. Seolah mereka ingin mengatakan, bahwa Muslim Rohingya adalah manusia manusia hina yang tiada harganya sehingga layak dicincang bagai binatang.

Jika dengan wanita, orang tua dan nenek renta, anak-anak balita hingga bayi tak berdosa saja mereka sebegitu tega berbuat kejam, sadis dan bengis, maka bisa dipastikan perlakuan yang jauh lebih keji mereka pasti telah lakukan kepada para lelaki dewasa. Ya Allah ya Rabb, sungguh kebiadaban yang taktergambarkan lagi dengan kata-kata. (Maaf, kami tak tega menayangkan gambar dan videonya, sungguh tak tega)

Kurang kejam dan bengis apalagi kalian kaum Buddha Myanmar ?!"

Lalu...dimana DUNIA ? Dimana PBB ? Dimana kecaman-kecaman dan kutukan-kutukan yang dulu serentak kalian keluarkan jika ada peristiwa terorisme dan non muslim yang menjadi korbannya walau hanya 1-2 orang ? Dimana aksi badan-badan kemanusiaan PBB ? Dimana pasukan penjaga perdamaian PBB ? Dimana wahai engkau negara adidaya yang katanya begitu peduli dengan Hak Asasi Manusia. Dimana ?!

Untuk pemerintah Indonesia, postingan saya  kemarin tentang tuntutan pemutusan hub diplomatik dengan Myanmar ( https://www.facebook.com/hilmi.firdausi/posts/10214069670806518), penarikan Dubes kita disana dan pengusiran Dubes Myanmar dari Indonesia mendapat respon yang luar biasa dari Netizen. Mohon ini dipertimbangkan Bapak Presisden yang terhormat.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah mengeluarkan keanggotaan Myanmar dari ASEAN dengan cara melobi negara-negara pendiri ASEAN  agar menyepakati hal ini. Apapun hasilnya, minimal publik tau dimana posisi pemerintah Indonesia.

Untuk Pak Jokowi, setau saya anda paling cepat bereaksi jika ada tragedi terorisme, namun hingga saat ini saya belum mendengar statement apapun dari anda (CMIIW), segera lakukan pak ! Ini masalah sangat genting, bukan aksi kekerasan biasa, tapi aksi genosida, dan bapak sebagai Presiden negara terbesar di Asia Tenggara seharusnya ambil peranan penting.

Jika boleh berandai-andai, saya membayangkan Bapak Jokowi seperti Pak Harto pada saat mengunjungi wilayah konflik Bosnia-Herzegovina dimana terjadi genosida muslim besar-besaran di balkan saat itu.

Di antara kebaikan dan kekurangbaikan Jenderal Haji Muhammad Suharto yang pasti ada, sungguh beliau adalah satu-satunya Presiden RI yang pernah masuk ke wilayah perang, khususnya ke wilayah pembantaian Muslim. Dan ini dilakukan beliau saat masih menjabat sebagai Presiden.

Saat itu beliau langsung ke wilayah garis depan di Bosnia, untuk meninjau lokasi pembantaian Muslimiin Bosnia oleh Serbia, bahkan tanpa memakai jaket anti peluru.

Beliau terus ke sana, walaupun PBB menyarankan agar jangan, dan PBB tak mau menggaransi keselamatan beliau dan tim beliau. Apalagi beberapa hari sebelum kedatangan beliau, pesawat terbang PBB ditembak jatuh oleh Serbia.
Dan alhamdulillaah beliau dan tim beliau, selamat.

Seusainya, beliau kembali ke Indonesia dengan janji terus akan membantu Muslimiin Bosnia.

Dan janji ini ditepati beliau, dengan mengirimkan pasukan Garuda Indonesia penjaga perdamaian (bergabung bersama pasukan PBB), mengirimkan aneka bantuan lain, dan akhirnya membangunkan satu masjid megah dengan uang rakyat Republik Indonesia, di sebuah tanah lapang di Sarajevo, yang masih tegak dan digunakan hingga kini. (Sumber PAGI FB)

Terakhir, saya menghimbau kepada seluruh JKH dan sahabat semua, jangan lupa selipkan doa ba'da sholat untuk saudara-saudara kita di Rohingya. Untuk seluruh Imam Masjid di Nusantara, mari bacakan qunut nazilah di raka'at akhir sholat berjamaah kita. Semoga Allah SWT mendengar rintahan dan doa orang-orang beriman.

Untuk orang-orang yang suka nyinyir, yang mengatakan genosida muslim Rohingya ini dipolitisir, STOP ! Anda tidak perlu menjadi seorang muslim untuk ikut berempati, anda cukup menjadi seorang manusia !

Sumber :

FB : Hilmi Firdausi


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!