Wednesday, September 6, 2017

Siapa Yang Lebih Hebat

RemajaIslamHebat.Com - Kalau dunia suka mengukur keberhasilan dari sesuatu yang sebatas terlihat dan terdengar, lalu siapa yang akan mensyukuri pejuang-pejuang di balik layar.

Di balik peringkat-peringkat pertama dan embel-embel "best" atau "cumlaude" yang dipuja banyak pemirsa, ada pejuang di deret selanjutnya yang juga mengenyam porsi juang tanpa jeda.
Hanya kadang Tuhan meletakkan mereka di kursi kesekian, untuk melindungi mereka dari jumawa dan euforia berlebihan.

Di balik selebrasi seorang balita yang berhasil disapih sesuai tenggat waktu persusuan, ada balita lain yang membutuhkan dekap nyaman Ibunda jauh lebih panjang.
Bukan berarti mereka kolokan atau Si Ibu tidak tegaan, tapi sungguh kebutuhan emosi tidak ada yang mampu mengukur lebih baik daripada si balita yang menjalani.

Di balik kisah tentang kawan lama yang berlejitan mereguk atribut kehidupan dengan pekerjaan dan gelar asing di universitas terdepan, ada yang tengah belajar mengeja syukur dengan lebih kencang dan memautkan hati hanya pada apa yang telah terberikan.
Bukan berarti mereka anti kemajuan, tapi sungguh mencukupkan hidup adalah ilmu kanuragan yang lebih menentramkan.

Di balik hebohnya mahar Raisa yang kisaran seharga satu mobil Innova, ada seorang Hamish yang sedang menahan memubadzirkan rasa mewah padahal mungkin ia mampu menghadirkan mahar lebih dari sekedar Bentley Eropa.

Oh okay, ini ngga nyambung.

=====

Yang terlihat dan terdengar, meskipun prestatif dan menakjubkan kadang adalah sebuah pembelajaran.

Tentang melihat pemain di belakang layar yang jarang diapresiasi, yang jarang menerima puji dan terlupa untuk disyukuri, yang menahan menggebunya hati untuk terus menerus berada dalam ring panas kompetisi.

Bukan karena mereka tidak mampu
Bukan karena mereka kurang daya juang
Bukan karena mereka letoy bermalas-malasan
Bukan karena mereka kurang hebat daripada yang terlihat dan terdengar telah menang.

Seperti melembutkan hati anak-anak kita yang telah berusaha, namun cukup terdampar di posisi ketiga dan seterusnya.
Kita paham betapa "nggethu" kerja keras mereka, namun ada sikap legowo dan syukur yang tetap harus kita tanamkan setiap menerima hasil.

Seperti lagu klise yang dinyanyikan pada ibu rumah tangga, banyak yang bisa menggaungkan kalimat supportif namun tetap memposisikan mereka pada kaum non produktif.
Padahal produksi tidak selalu berupa materi. Bahkan jika anti-materi pun mampu menghasilkan satu kekuatan, maka ibu rumah tangga yang betul-betul berbakti pada pengasuhan jiwa keluarga sesungguhnya sedang merenovasi peradaban.

Seperti menengok pada almarhumah cantik yang menolak berkendara dengan Grand Vitara, banyak hikmah dan pelajaran (alih-alih hujatan pada orang yang telah meninggal) yang bisa kita selami untuk tidak mengukur kehebatan dari apa yang melekat pada badan.
Bahwa rasa syukur sejatinya mahal, dan hanya mampu mampir pada mereka yang setia dengan dzikir meskipun dari segi harta terlihat fakir.

=====

Ada masanya, ketika kita perlu berusaha menjadi nomor satu. Ada masanya, ketika kita hanya perlu mengambil pelajaran dari gerombolan yang berseteru. Karena definisi hebat sejatinya meresap menjadi manfaat daripada sekedar pujian sesaat.

Lihat objeknya, apakah value non-materinya akan membuat kita lebih bijaksana dan menggenapi fungsi kebermanfaatan kita sebagai manusia atau hanya menjadi pembenaran kita mengejar gelimang puja-puji duniawi tanpa titik puas diri.

Lihat objeknya, apakah dengan memilihnya akan lebih banyak mendekatkan kita dengan keluarga sebagaimana cita-cita original berumah tangga atau hanya mendamparkan kita pada pelukan substantif yang dibungkus variasi komunikasi jarak jauh yang dibumbui khawatir tanpa akhir.

Lihat objeknya, apakah dengan memilihnya akan lebih menyamankan interaksi kita dengan Tuhan dan pengembaliannya pada alam atau hanya menjadi booster untuk bergabung dalam geng social climber.

Jangan takut menjadi peserta, jangan takut turun panggung menjadi pemirsa. Tuhan mengirim kita dengan gembolan misi yang berbeda.

Syukuri anak-anak kita dengan segala ke-belum mampuan mereka, syukuri kedua orang tua kita untuk jejak pembelajaran kehidupan yang mereka turunkan, syukuri pasangan kita untuk sesederhana apapun yang mereka hadirkan.

Hebat tidak dilihat dari klasemen, atau dari hasil, atau dari apapun yang bisa diposting di sosial media untuk menjadi yang terlihat atau terdengar.

Yang tidak terlihat dan tidak terdengar, bukan berarti tidak hebat, Jendral.

Karena Jendral pun melambungkan gemintang pangkatnya, sebab para tamtama yang berani mati di garis terdepan perangnya. Maka Tuhan membuka garis syurga bukan dari lencana dan gemintang manusia yang nampak hebat di dunia, melainkan dari seberapa takwa dan berbakti mereka pada pintu ikhlas dan perjuangan.

Kita tidak sedang mencari legitimasi penilaian dari manusia, bukan?

Penulis : Nafila Rahmawati

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!