Friday, September 8, 2017

RAISA, ROHINGYA dan HATI KITA

RemajaIslamHebat.Com - Patah hati. Begitu respon banyak lelaki di Indonesia saat sang Diva muda nan cantik Raisa, dinikahi tunangannya, Hamish Daud. Selasa 5 Maret kemarin menjadikan twitter semarak dengan hashtag #HariPatahHatiNasional Jilid 2.

Berbeda dengan cowok-cowok alay tadi, sebagian kaum muslimin ikut meramaikan twitter dengan hashtag #Rohingya, untuk menunjukkan patah hati mereka akibat pembantaian terhadap saudara se-aqidahnya sekaligus kekecewaannya pada pemimpin negeri muslim terbesar ini dalam merespon konflik Rohingya.

Hati yang berbeda dan rasa yang berbeda. Yang satu hatinya menangis untuk Raisa, yang satu lagi untuk Rohingya. Rohingya yang bersimbah darah tak membuat hati patah meletek, namun artis idola menikah malah kecewa. Paadahal nikah itu ibadah kan? Dari pada Mbak Raisa dan akang Hamish pacaran terus? Kasihan jadi menumpuk dosa.

Sahabat muslimah,, Mungkin benar kata orang, bahwa dunia sudah terbalik. Poligami yang dibolehkan syariat dikecam habis-habisan, namun perzinahan dianggap bentuk kasih sayang. Mendapat medali emas di Asean Games menjadi target mati-matian, namun gunung emas kita dikeruk habis-habisa oleh Freeport, respon kita hanya diam.

Muslim dianggap intoleran & teroris, padahal sejak negeri ini diIslamkan wali songo, belum pernah dalam sejarahnya mereka memaksa non muslim untuk sarungan di hari raya, atau menghancurkan Borobudur tempat ibadahnya kaum Budha. Sedangkan mereka yang memaksa ummat Islam memakai topi santa di hari natal, atau para biksu Rohingya yang membunuhi ummat Islam tak pernah dicap intoleran atau teroris oleh media. Termasuk Amerika yang mengerahkan puluhan hingga ratusan ribu tentaranya untuk membunuhi muslim di Irak, Afghanistan dan Suriah  tak pernah dicap teroris atau melanggar HAM, namun justru dianggap pahlawan.

Ah, dunia ini terbalik karena pemahaman kita ummat Islam juga terbalik. Menilai baik dan buruk dengan salah kaprah. Menilai kemuliaan dan kehinaan juga tak tepat. Pemahaman yang ‘terbalik’ juga menjadikan persaan mereka terbalik. Yang harsunya dicintai malah dibenci. Yang seharusnya ridho malah murka.

Padahal sebagai muslim, mana yang baik dan mana yang buruk telah jelas. Standard menilai baik-buruk juga jelas. Allah Rasulullah SAW telah bersabda, ““Sesungguhnya perkara yang halal itu sudah jelas, dan perkara yang haram juga sudah jelas…(Muttafaqun ‘alaih).

Standard benar-salah juga jelas sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah: 147, “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”

Maka apapun yang datang dari Allah (wahyu) baik berupa qur’an dan ijtihad ulama yang berdasarkan keduanya amaka itu benar. Sedangkan nilai-nilai atau hukum yang datang dari hawa nafsu atau keceradasan akal manusia semata, maka itu salah.

Tak berhenti disitu, saking sempurnanya ajaran Islam, bahkan urusan hati juga ada standardnya. Kapan wajib suka, kapan wajib benci. Saat apa kita harus ridho dan saat apa kita harus marah. Dari Abu Muhammad, Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang telah aku sampaikan”. (Hadits hasan shahih dalam kitab Al Hujjah)

Dalam kitab Sullam at—Taufiq, saat membahas ma’shiat hati YSaikh Abdullah Ba ‘Alawiy menjelaskan bahwa membenci maksiat, dan membenci syetan adalah bentuk kewajiban hati. Artinya, jika kita suka pada maksiat, berarti kita telah berdosa. 

Sahabat muslimah,, Kejelasan dalam menilai dan menghukumi sesuatu ini akan memudahkan kita. Sebagaimana kejelasan dalam hal kecenderungan hati, dalam merasa juga akan memudahkan kita menata hati.

Karena sejatinya akal kita sebagai manusia ini lemah dan terbatas, tempatnya salah dan lupa. Begitu pula hati manusia sifatnya mudah berbolak-balik, sering dibisiki syetan dan terkadang masih diliputi hawa nafsu.

Maka kita wajib bersyukur kepada Allah azza wa jalla, yang dengan baiknya telah mengajarkan pada kita nilai setiap perbuata. Serta mengkhabarkan pada kita bagaimana kita harus menilai dan merasa. Dan pastinya standard Allah adalah standard yang benar karena bersumber dari yang Maha Benar, yang maha tahu dan maha sempurna.

Sumber:

Fp: Info Muslimah Jember


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!