Wednesday, September 6, 2017

Quo Vadis Narasi Dakwah

RemajaIslamHebat.Com - Saya nggak ingin curhat soal foto ini, foto dari sebuah desa yang kini sawahnya dalam lingkup yang cukup luas sudah menjadi jalan tol. Padahal dulu kelompok tani desa ini memenangkan lomba ketahanan pangan tingkat nasional yang membawa ketua kelompok taninya diundang ke istana oleh SBY. Ironis memang, di saat harga beras kini yang makin politis, sebagai penyangga digit inflasi, ketiadaan regenerasi petani muda,  lahan-lahan subur pertanian malah dilindas oleh pemanjaan negara pada pemakai kendaraan pribadi.

DImanakah sebenarnya posisi umat Islam itu berada ? Mohon maaf kalau salah tolong dikoreksi. Sekilas dalam bacaan saya, umat Islam kini ada yang masih menekuni dunia pertanian, termasuk di dalamnya peternakan dan perikanan, buruh industri dan juga di sektor informal seperti pedagang asongan, bakul pasar dan pedagang kaki lima. Lalu nyambungkah narasi dakwah kita dengan fenomena keumatan itu ?

Tidak di medsos, tidak di dunia nyata di majelis-majelis taklim, tema yang rama dibicarakan adalah moderatisme vs radikalisme, asy'ari vs wahabi, Satgas MTA dan Banser yang saling berhadapan, pawai tauhid, demo laskar dan lain sebagainya. Siapakah yang mendampingi para buruh saat mereka menuntut upah yang layak ? Teman-teman aktifis yang bendera organisasinya berwarna merah. Dan kemudian di ta'lim dan pengajian akan santer didiskusikan, gerakan buruh sudah disusupi ideologi kiri.

Beruntung saya sempat ngangsu kawruh ke bu Nunuk Murniyati, dosen senior, warga gereja Katolik yang taat yang sempat meneliti gerakan pertanian organik di Amerika Latin. Umat Islam sebenarnya dulu punya (alm) mbah Suko, tapi karena mungkin beliau terlalu "abangan" maka tidak pernah disapa oleh Organisasi Islam. Yang ikut menemani mbah Suko, selain bu Nunuk adalah Romo Vincentius Kirjito. Lalu, komat-kamit yang saya dengar adalah ada Kristenisasi di kalangan petani.

Kemudian saya mencoba mendekat ke para aktifis itu. Aktifis yang karena kepercayaan para pendana memunculkan ma'had dan pondok tahfidz yang tumbuh bak cendawan di musim hujan. Ketika saya mencoba ngobrol dengan para asatidznya, ada semacam pola yang saya temui, yakni kurikulum yang lebih mirip copy paste. Kalau pendirinya alumni Mesir maka ia akan susun kurikulum Ma'had sebagaimana al Azhar berkurikulum. Kalau mudhirnya alumni Saudi, dipastika ia akan berkurikulum salafy.

Padahal, problem dakwah di tiap wilayah berbeda. Jangankan antara Mesir dan Saudi dengan Indonesia, antara Jakarta, Boyolali dan Madiunpun problem dakwahnya sudah berlainan. Dan sekali lagi mohon maaf, beberapa kali saya diminta ngisi diskusi di acara pelepasan santri, yang saya tangkap adalah wajah-wajah yang bingung dan gagap terhadap realitas. Fasih kalau diskusi kitab tapi tertatih ketika mengenali problem riel umat. Hasilnya ketika di masyarakat adalah, umat butuhnya apa, ustadznya ngomongnya kemana .... Joko Sembung naik ojeg, kagak nyambung jeg ...

Sumber:

Fb: Arif Wibowo


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!