Monday, September 11, 2017

Pesan Emosi Terpenuhi, Berpikir Lebih Fleksibel, Pemecahan Masalah Lebih Kreatif

RemajaIslamHebat.Com - Bagaimana ceritanya kalau kita berhasil mengelola emosi maka penyelesaian masalah bisa menjadi lebih efektif?

Saya buat analogi ya.
- Seseorang sedang bekerja lembur malam hari menuntaskan tugas-tugas yang belum selesai siang tadi.

- Semakin malam, ia merasakan matanya 'berat', badannya lelah, punggungnya pegal. Ini semua adalah sensasi pada tubuhnya yang sebetulnya merupakan sinyal/isyarat dan pesan dari tubuh bahwa ada sesuatu yang dibutuhkan oleh tubuh.

- Ada beberapa kemungkinan yang terjadi pada orang tersebut
(1) Ia peka terhadap sensasi tubuhnya, dan menangkap pesan tubuhnya lalu membuat kesimpulan. "Oh, tubuh saya lelah dan mengantuk, tubuh saya perlu istirahat". Lalu ia memutuskan untuk menerima dan memenuhi pesan tersebut. "Baiklah, saya akan beristirahat." Maka terpenuhilah pesan sensasi tubuh itu, dan badannya menjadi lebih segar.

(2) Ia peka terhadap sensasi tubuhnya, tapi abai terhadap pesannya karena berbagai alasan,
- "Ah, nggak bisa, saya harus selesaikan tugas saya, istirahat nanti saja." atau
- "Ah, lemah banget sih. Pokoknya saya harus kuat, saya harus terus bekerja. Masak kalah sama capek."

(3) Ia peka terhadap sensasi tubuhnya, tapi salah menangkap pesan dan/atau salah memenuhi pesan atau bahkan tidak tahu pesan yang disampaikan tubuhnya.
- "Saya minum obat penambah tenaga deh kalau begitu"
- "Saya harus ngapain ya?"

(4) Ia tidak peka terhadap sensasi tubuhnya, sehingga otomatis dia tidak tahu apa pesan yang ia terima. Ia tidak peduli terhadap tubuhnya sendiri, dan terus-menerus memforsir tubuhnya bahkan hingga jatuh sakit.

Idealnya memang yang poin (1), kita peka, menerima dan memenuhi pesan tubuh dengan tepat. Maka selanjutnya bisa kita harapkan, tubuh kita menjadi lebih sehat karena haknya terpenuhi. Dan lebih jauh kita bisa melakukan aktivitas kita (berkait fisik) yang lebih baik.

Dalam banyak kasus, kondisi seperti poin (2) dan (3) adalah yang paling sering terjadi. Kondisi (4) relatif jarang.

Nah, mengapa saya mengambil analogi LELAH dan MENGANTUK untuk menjelaskan mengenai emosi? Karena emosi juga berkait dengan sensasi tubuh dan juga karena munculnya emosi membawa pesan yang ingin dipenuhi.

Contoh:
Ketika ada binatang buas di depan kita, tubuh kita pun mengalami sensasi tidak nyaman, aliran darah terasa terhenti, badan terasa dingin, ada energi yang rasanya mendesak ke kaki, otot-otot pun menegang, dst. Semua sensasi tubuh tersebut adalah isyarat bagi diri kita.

Kemungkinan apa yang bisa terjadi pada (sama seperti analogi "lelah dan mengantuk" di atas.
(1) Ia PEKA terhadap sensasi tubuhnya, dan menangkap pesan tubuhnya dan MENERIMA lalu membuat kesimpulan. "Oh, saya merasa TAKUT". Saya harus melindungi diri saya dari harimau ini. Ia pun mengukur kemampuan dirinya, memutuskan untuk menerima dan memenuhi pesan tersebut. "Saya harus LARI, karena saya TAKUT. Kalau saya diam saja, maka saya bisa mati atau terluka karena diserang. Maka terpenuhilah pesan sensasi tubuh itu, dan ia pun selamat.

(2) Ia PEKA terhadap sensasi tubuhnya, tapi ABAI terhadap pesannya karena berbagai alasan,
- "Ah, lemah banget sih. Pokoknya saya harus kuat, saya harus hadapi harimau ini."

(3) Ia PEKA terhadap sensasi tubuhnya, tapi SALAH atau TIDAK TAHU pesannya. Dia tahu dirinya takut, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Berteriak-teriak, mengeluh, meratap, tapi tak jua mengambil keputusan untuk menyelamatkan diri. "Saya harus berbuat apa?"

(4) Ia TIDAK PEKA terhadap sensasi tubuhnya, sehingga otomatis dia TIDAK TAHU apa pesan yang ia terima. Ia tidak peduli adanya ancaman di hadapannya, sehingga ia diam saja dan merasa aman dan nyaman.

- HARIMAU itu bisa kita ganti dengan objek apapun, entah itu lingkungan yang dipandang buruk, situasi baru, benda atau objek tertentu, dll.

- Sensasi tubuh pun juga beragam, jantung yang berdebar kencang, kepala migrain, kulit gatal-gatal, sesak nafas, lutut sakit, mata sakit, sariawan, maag, lemas, dll.

- Emosi pun bisa macam-macam, takut, marah, sedih, cemas, kecewa, frustrasi, depresi, galau, dll

- Pesan emosi pada umumnya adalah melindungi diri. tapi bisa juga berupa keinginan memperoleh perhatian, kasih sayang, perlindungan, dll.

- Ekspresi emosi akan bergantung pada kebiasaan ybs. Menangis, berteriak, mengamuk, bicara, bergerak, diam saja, dll. adalah beberapa bentuk ekspresi emosi.
Bila ia dilatih untuk mengekspresikan emosi secara adaptif, maka peluang dia untuk dipahami orang lain, akan lebih besar.

- Pemenuhan pesan emosi. Orang bisa memenuhi pesan emosinya sendiri. "Oh saya sedang merasa takut, saya harus lari". Tapi orang juga bisa meminta orang lain untuk memenuhi pesan emosinya sendiri. Biasanya ini terjadi pada anak-anak. "Aku takut, aku pingin dilindung". Maka orang dewasa yang peka di sekitarnya lah yang bertugas untuk memenuhi pesan emosi tersebut. Bagaimana pun anak perlu belajar sedikit demi sedikit mengembangkan kemandirian emosinya, karena pada satu saat ia akan lepas dari orangtuanya.

Nah, jadi bagaimana hubungannya antara kemampuan pengelolaan emosi dengan masalah lebih cepat selesai?
Karena semakin cepat pesan emosi dipenuhi, maka semakin cepat ia akan menjadi stabil. Kondisi stabil adalah kondisi paling ideal untuk otak bisa berpikir lebih jernih dan kreatif. Sehingga penyelesaian masalah pun bisa menemukan cara yang paling efektif.

Insya Allah.

Penulis : Yeti Widiati

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10211408515621027&id=1006200794


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!