Friday, September 8, 2017

Pembataian Rohingya: Berlatar Agama dan Ideologi

Oleh : Annisa Afriliani Hana

TRAGEDI Rohingya membuat setiap muslim terluka. Bagaimana tidak, tersebar viral foto-foto saudara muslim kita etnis Rohingya yang begitu nelangsa. Korban kekejian kaum Buddist.

Berbagai Kecaman mengalir laksana air bah. Tak terbendung. Tuntutan untuk memutus hubungan diplomatik dengan rezim bengis Myanmar pun ramai-ramai disuarakan. Tak ketinggalan, seruan untuk mengirimkan tentara ke Myanmar juga lantang terdengar. Memang begitulah semestinya, karena yang dibutuhkan Rohingya bukan sekadar bantuan kemanusiaan, diplomasi basa-basi, doa, apalagi sekadar air mata.

Rohingya butuh kepedulian pemimpin-pemimpin negeri muslim untuk mengakhiri pembataian atas mereka selama-lamanya. Di sinilah ukhuwah Islamiyah diuji. Apakah lebih mengedepankan sekat nasionalisme daripada menolong suadara seakidah? Bukankah sesama muslim itu satu tubuh? Ketika satu bagian terasa sakit, maka yang lagi ikut pula maraskaan sakitnya.

sayang seribu sayang, latar agama dan iideologi dibalik tragedi Rohingya sengaja ditutupi. Kemudian diserulah dengan lantang oleh media bahwa ini konflik kemanusiaan. Ah, hoax itu!

Muslim kudu cerdas, gak boleh gampang terseret opini yang sengaja digiring media. Agar tak salah bersikap, agar tak salah menilai.

Dulu, ada negara namanya Arakan, penduduknya muslim yang berjumlah sekitar 3 juta jiwa. Sedangkan negara yang bersebelahan dengan Arakan, namanya Burma. Kemudian kedua negara ini akhirnya bersatu di bawah nama Myanmar. Kaum Buddha menjadi mayoritas karena jumlahnya mencapai 50juta jiwa, dibanding etnis Rohingya (muslim) yang hanya  3 juta jiwa.

Populasi Rohingya terkonsentrasi di dua kota utara Negara Bagian Rakhine sebelumnya disebut Arakan. Etnis Rohingya adalah masyarakat muslim yang hidup tanpa kewarganegraan di Myanmar.

Pembantaian etnis Rohingya secara keji dan membabi buta bukan sekadar masalah kemanusiaan, tetapi genodisa pembersihan etnis yang terencana sejak lama. Ada kepentingan koorporasi kapitalis asing dan aseng di tanah tempat etnis Rohingya menetap.

Sentimen agama juga ada di balik tragedi ini.   Penyerangan bus yang berisi penumpang muslim oleh sekelompok Buddha hingga memakan korban tewas 10 orang muslim dipicu oleh adanya selebaran fitnah dari sekelompok orang.

fitnah tersebut disebarkan oleh orang-orang Budha Rakhine terhadap minoritas Muslim Rohingnya. Dimana dikatakan bahwa tiga pemuda Muslim telah membunuh dan memperkosa seorang wanita berusia 26 tahun. Tentu saja semua itu bohong. Dimana sebenarnya perempuan itu diperkosa dan dibunuh oleh pacarnya bersama beberapa gang pemuda Budha Rakhine.

Menurut Versi lainnya, aksi penyerangan terhadap etnis Rohingya merupakan tindakan balasan atas penyerangan yang dilakukan oleh ARSA ke pos-pos Militer burma. Kalau memang benar itu serangan balasan mengapa begitu membabi buta? Wanita, anak-anak dan bayi pun menjadi korbannya. Bahkan rumah-rumah dibakar secara sadis. Tak masuk akal!

Dunia bungkam, pemimpin negeri-negeri muslim pun tak mampu berbuat banyak selain mengecam.Lebih menyedihkan lagi ketika pejuang demokrasi Myanmar sekaligus peraih Hadiah Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi memilih diam menghadapi kebijakan Presiden Thein Sein dalam menyelesaikan kasus etnis Rohingya.

Nasib Rohingya terkatung-katung sejak lama. Sudahlah tak memiliki kewarganegaraan, ruang hidup mereka dibatasi, ditambah saat ini populasi mereka berusaha dibumihanguskan. Ah, sungguh kami rindu Khilafah. Institusi politik Islam yang akan membebaskan segala kedzaliman terhadap kaum muslimin. Khilafah....Khilafah...Khilafah....solusi atas Rohingya dan dunia secara keseluruhan. Allahu Akbar!!!!✊✊✊✊

Sumber:

Fb: Annisa Afriliani Hana


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!