Monday, September 4, 2017

NULIS ITU NYEBELIN

RemajaIslamHebat.Com - Kenapa kita mesti menulis????
(Pertanyaan dari Coach Tendi Murti  sekaligus jadi Pe eR perdana saat saya  mengikuti  komunitas menulis ). Yaaa jawaban saya seperti yang tertuang dan tertera  pada sub title tulisan ini. Yuppp, karena menulis itu nyebelin!!!

Nyebelin kalo tulisannya kayak jemuran, digantung mulu >> kapan kelarnya??? Nyebelin kalo kayak setrika uap >> ide nulisnya menguap melulu entah kemana rimbanya. Nyebelin kalo kayak pengen bersin tapi tercancel >> berasa kayaaaakk keselek sprite yang mendaki ke gunung nose . Nyebelin kalo kayak nahan kantuk pas lagi kuliah dan posisi duduknya paling depan >>>> berasa gimanaaaa gituhh.

Intinya nulis itu nyebelin kalo gak bisa sampai di garis finish dan tak kunjung disapa anding cerita.

Padahal eh padahallllll……….

Tak ada yang lebih khidmat tatkala moncong pena mencumbu kertas, jemari menari Tango di atas keyboard laptop, dan emak jari alias jempol ngegym di atas  tuts handphone melumurkan diksi berpigura aksara.

Bercengkrama dengan tulisan membuat saya merasa bakalan hidup 1001 tahun lagi. Bermesraan dengan tulisan membuat penulis kadang lupa daratan (karena nulisnya memang di atas pesawat ). Hanya penulis yang mampu merasakan betapa dahsyatnya efek yang tercipta pasca menulis.

Perlu diunderline bahwasanya saat kita menulis,  unsur-unsur  kecerdasan antri untuk ikut terlibat. Multiple intelegent masing-masing memberi andil dengan porsi yang pas.

Seperti yang dikemukakan oleh pakar psikologi Harvard, Howard Gardner bahwa ada 8 jenis kecerdasan yaitu kecerdasan linguistik, logika, visual spasial, kinestetik, interpersonal, intrapersonal dan kecerdasan naturalis.

Apalagi saat kita merambah ke ranah IQ, EQ, SQ, AQ dan ESQ. Saat menulis, komponen ini saling berkaitan dalam proses meracik tulisan agar balance dan selaras dengan ritme kehidupan.

Demikian juga dengan indra, semua kudu dikerahin. Kecuali mungkin Indra Bekti dan Indra Herlambang gak usah, hehehe. Saat kita menulis semua indera turut memberi kontribusi. Mata dengan apa yang dinetranya, telinga dengan apa yang ditangkap corongnya, hidung dengan apa yang diciumnya, kulit dengan apa yang dirasakan serta terakhir lidah “mengecap” apakah tulisan kita banyak typo yang  rada2 pahit, asem, manis ato tulisan kita sudah endesssss surendessss?? ;) ;)

But, don’t worry….strowberry…bimolii….

Untuk tahap pemula seperti saya ini, kalopun tak sehebat Asma Nadia, tak setenar kang Abik, seterkenal Tere Liye, dan tak sebeken Dewa Eka Prayoga, tak semahir coach Tendi Murti, dan juga tidak sekocak bang Arham Rasyid, serta tidak sefamiliar Andrea Hirata plus tidak sepiawai para pesohor penulis lain,  tapi izinkanlah saya mengatakan bahwa menulis bagi saya adalah memberi suplemen pada jiwa yang gersang serta menginjeksi raga yang terinfeksi virus malas.

So,,, despacito sajalahhh. Pelan – pelan !!!! karena deretan penulis yang saya absen diatas sudah kenyang dengan kegagalan dan penolakan demi penolakan saat naskah beliau-beliau ingin dipublish. (Dikutip dari statement Tere Liye saat saya megikuti seminar literasi yang dinakhodai oleh beliau). Ulat saja bermetamorfosis untuk menjadi kupu-kupu yang anggun. Begitupun dengan penulis, mari berproses dan menikmati suguhan peristiwa agar kelak kita bisa memanen hasil dari kerja keras kita.

Menulis  bagi saya adalah berbicara pada domain kepuasan batin. Merangkai aksara dalam dekapan senyap adalah “me time” yang sesungguhnya. Napak tilas beberapa jilid diary saya yang mengalahkan demo yg berjilid-jilid membuat saya menyadari bahwa penulis itu 11 12 dengan para designer, engineer, photographer dan chef.

Bagi yang sudah terbiasa menulis dan passionnya memang menulis, maka apapun yang dilihat, kapanpun suasananya dan dimanapun tempatnya semua nampak seperti deretan huruf, jajaran kalimat, barisan prosa dan susunan paragraph yang menari2. Penulis yang tawadhu, hatinya akan bedzikir sembari otaknya berfikir.

Designer sejati, apapun bisa didesign. Bahkan yang kadang di luar nalar manusia kebanyakan, bagi sang designer bisa disulap menjadi suatu karya yg amazing.

Bagi engineer, apapun bisa diperbaiki, dimodifikasi dan membuat maha karya yg membuat mata kita membelalak plus mulut kayak duyung mangap.

Fotografer, landscape dan potret apapun bisa jd suguhan yang maha indah.

Bagi chef, semua bahan pangan  bisa dipadu padankan menjadi komposisi yang proporsional sehingga tercipta masakan yang ciamik binti maknyuuusss. Pun demikian dengan penulis, tulisan yang diramu sebaiknya tak hanya mengenyangkan mata dan otak, tapi juga hati. Jadi, tak usah sangsi untuk menulis yah? Mari menabur nektar kebermanfaatan dengan menulis.

Btw tau gak……

Orang yang doyan menulis dengan penuh keikhlasan insya Allah akan dikaruniai kebajikan, kebijakan dan kepribadian yang kharismatik. Ini terbentuk dan terpola dari buku-buku yang ia lahap.

Impossible seorang penulis tidak suka membaca. Hasil baca inilah yang terakumulasi sehingga membuat ia lebih matang, lebih dewasa, analisisnya tajam setajam kapak, mind mappingnya terarah,intuisinya kuat dan firasatnya jarang meleset. Ia adalah predator buku ulung, memangsa genre tulisan apapun, sehingga wawasannya meroket dan membumbung menembus awan kebodohan.

Ajaibnya, semakin ia membaca justru malah merasa semakin tidak tahu apa-apa saking begitu bejibunnya ilmu-ilmu baru yang disadap oleh brainnya.

Inspirasi menulis bisa menetas kapan dan dimana saja, jadi tak perlu risau bakal kehabisan stok . Semua bisa dieksplor seperti Dora the explorer hehehe.

Akrab dengan terminologi ini kan,, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan hutang , tapi semoga tidak yahh.

Marilah kita mengupayakan untuk menjadi almarhum/almarhumah yang  khusnul khotimah dengan meninggalkan warisan berupa karya agar dikenang anak cucu kita dikemudian hari. Sapi diikat dengan tali, manusia diikat dengan ucapannya, maka ikatlah ilmu dengan tulisan agar tulisan kita dikenang orang lain selagi kita mendekam di alam barzah.

Well….

Jadi penulis itu enak lho karena orang akan berpikir banyak kali untuk menyakiti, apa pasal??? Karena ketika kau menambatkan luka dan lara pada penulis, maka kau akan jadi artefak  abadi dalam karyanya.

Makan nasi pake sambal terasi
Dimakan hangat di siang hari
Jadilah si penggila literasi
Agar hidupmu hangat dikemudian hari.

**Nurb@y@
Salam literasi.

Sumber:

Fb: Nurbaya

Editor kata: Hardi Jofandu


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!