Monday, September 4, 2017

NOKTAH PERNIKAHAN, WASPADALAH!

RemajaIslamHebat.Com - Terima kasih kisahmu kawan, saya menggubahnya dalam bentuk tulisan yahh, semoga yang membaca bisa memetik setangkai hikmah kebaikan untuk kemudian meneladanimu agar bisa meminimalisir  komplotan PELAKOR yang berseliweran.

****

Mengenalnya baru berbilang hari tapi akrabnya sudah serasa akrab dari zaman pra sejarah.

Entah kenapa guyonan yang mungkin bagi sebahagian orang terasa garing gak ada lucunya sm sekali terasa begitu gurih ketika jemari lentikku yang mengetik merangkai kata lalu ku send ke WAnya, pun demikian dengan balasan yg kuterima. Kami ber ha ha hi hi ria, dan itu semua spontanitas terjadi, terbit begitu saja, naturallll.

Kehadirannya serasa melengkapi warna pelangi yg jika sebelumnya warna kuning nampak bias, maka dgn hadirnya sosok yg biasa kutemani berselancar di dunia maya,  warna kuning terpampang nyata tanpa fatamorgana kata Syahrini.

Aku merasa menemukan oase di tengah gurun yang gersang, tandus dan kering kerontang.

Taaapiiiii....

Alangkah lebih bijak jika kita  memaafkan kelancangan hati masing-masing. Rasa ini bukanlah aksesoris penghias semata, lambat laun akan menjadi perhiasan yang melekat di sanubari terdalam.

Tak dapat kupercaya, aku yang sedari awal untuk sekedar tau namanyapun ogah-ogahan bisa seakrab ini.

''Pak Hot Spot'', demikian panggilanku kala itu. Panggilan itupun hanya terinspirasi dari penambatan jaringan yang gagal karena saya juga tak memiliki kuota internet .

Aku tetiba disergap rasa bersalah,  rasa bersalah itu sedemikian erat mengganggu. Sungguh aku hanya menduga-duga jika aku ini seumuran dengan dia, paling banter yaaaahh selisih 1 tahunan,  makanya aku memperlakukan dia selayaknya kami teman sebaya yg seumuran.

Allah ya kariiiimmmm, dugaanku ternyata meleset 1 juta%. Maafkan diriku yg blak-blakan. Astagfirullah Al adziiimmm, rupanya selisih umur kita memang cuma 1 tahun tapi setelah angka 1 ada angka 0 turut menyertai,, tak ayal 10 tahunan rentang kelahiran kita. (Apaaaa aku yg boros di muka, ato dia yg awet muda yaahhh?? Wallahu A'lam).

Kita tidak sebaya tapi segaya, seperti itu pelipur laramu tatkala saya didera perasaan bersalah memperlakukanmu layaknya orang yang seumuran.

Hari-hari berlalu diwarnai dgn kebaikan-kebaikan indah, kebaikan-kebaikan yang menyentuh hati, keikhlasan dan ketulusan budi, kami semua serasa keluarga, yaaahh sekali lagi rasa kekeluargaan yang kental itu mmg terasa adanya.

Namuuuunn, kadang aku berkontemplasi, lirih berbisik pada nurani, "Apakah rasa ini kemudian akan berbalik menikam hati masing-masing? Apakah dengan menyulam perasaan seperti ini akan lahir sulaman yang tak melukai? Apakah rasa yang terpatri  tak akan menjadi parasit? dan apakah rasa yg bersemayam kelak tak akan menjadi sekam???

Sungguh, memanage rasa tak semudah memanage bawahan di kantor. Rasa yang menyusup begitu saja tanpa permisi bak perjalanan diagnosa penyakit. Semula yang terdeteksi stadium 1, lalu menjalar dan merasuki jaringan serta organ-organ tubuh yang lain. Tanpa terasa tau-taunya sudah stadium 4.

Yaaahh, sebagai hamba yang mengimani ketentuan-ketentuan Allah, saya percaya sepenuhnya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini, pun pertemuan dgnnya.

(Dlm Al Quran Allah berfirman pasir di pinggir laut sj tdk bakalan bergeser semillipun tanpa izinNya, tak ada biji yg jatuh dalam kegelapan sekalipun yang luput dari pemantauan Allah, bahkan daun tak akan meninggalkan dahannya tanpa seizin dan sepengetahuan Allah ---- kalo kata Tere Liye daun yg jatuh tdk pernah membenci angin ----

Aku tak menghendaki rasa ini bermetamorfosis~~ dari kepompong kagum~~berubah jadi ulat suka~~ lalu kemudian menjelma menjadi kupu-kupu Cinta~~.

Tapiiiii....

Sampai kapan kami menjajah perasaan masing-masing? Berperang dengan nurani sungguh tak menyenangkan. Konflik batin mencari kebenaran adalah hal  WAJIB yang akan saya lakoni.

Aku tak tahu apakah kami ini adalah Si sulung yabg mengharapkan figur seorang kakak, dan si bungsu yang merindukan sosok adik ???

Bagaimana mungkin kami mencederai mitsakan galiza?? Perjanjian kokoh yang mengguncang Arsy Allah saat ijab qabul pernikahan. Tapi mari kita belajar mencerna fakta sederhana agar tidak bermuara pada kesesatan logika yg mengakibatkan dirimu dan diriku menjadi irasional.

Insya Allah kita adalah orang yang sama-sama memiliki kapasitas keilmuan yang lumayan, kita adalah orang-orang terpelajar, berpendidikan & insya Allah terdidik dgn baik, bahkan sepertinya profesi kita 21 22 (sama-sama pendidik) tapi kenapa tingkah kita kadang begitu sulit dinalar o/ logika??

Kucintai suamiku dengan sepenuh Cinta, pun demikian dgn dirimu di seberang sana tentu memiliki perasaan yang sama terhadap istri. Tapi percayalah tak ada istri yg ridha suaminya memanggil dgn panggilan sayang terhadap perempuan lain. Sekali lg saya tegaskan, tak ada perempuan yang rela, termasuk diriku. Alibi apapun yang digunakan sebagai pembenaran tetap saja di mata kami (para istri) tidak akan menerima.

Fluktuasi perasaan terhadap pasangan lazim terjadi, tapi bukan berarti itu dijadikan dalih untuk "berpaling". Sungguh aku berlindung pada Allah semoga ini bukan nafsu lawwamah yang tdk terkendali.

Saya sadar seeeee sadar-sadarnya bahwa bukan titik yang menyebabkan tinta, tapi tintalah yang menyebabkan titik. Bukan cantik yang menyebabkan Cinta tapi Cintalah yang menyebabkan cantik.

Artinyaaaaa....

Rentang komunikasi yang intens kita lakoni, rentan sekali membuahkan rasa yg terlarang, rasa yang awalnya mungkin bias-bias Kasih alias biasa-biasa saja berpotensi besar untuk berubah haluan. Meskipun sampai detik ini panggilan sayang itu sama sekali tidak menggugah hatiku. Aku hanya menikmatinya sebagai gurauan.
Tapi sampai kapan bertahan? Batu saja jika ditetesi air setiap saat bisa berubah, apalagi hati????

Saling mencari, saling membutuhkan dan saling ketergantungan lambat laun akan menjadi candu. Persis dengan candaan kita yang penuh gelak tawa, ajang seru-seruan yang membuat saya ketawa ketiwi, tralala.. trilili.. (kita sudah terkena virus candu canda yg mengaktifkan produksi hormon endorfin, makanya lahirlah efek ketagihan).

Aku tidak tahu kenapa kemistri kita begitu dapetttt?? Mungkin karena sama-sama terpola & terbentuk dari penderitaan, sakit hati & kemandirian.

Ya Allah jika sekiranya Engkau teggelamkan kami dalam lautan rutinitas itu lebih baik bagiMu maka tenggelamkanlah, agar kami tak ada waktu menjamah no kontak WA bersapa ria, say hello tanyakan kabar, ngobrol ngarol ngidul, dll, dsb, etc..

Kupeluk rasa ini, perasaan ukhuwah sebagai sesama muslim.
Kurengkuh penuh damai sambil bermunajat merapalkan do'a,,, semoga rasa ini bukan rasa terlarang, semoga rasa ini hanya rasa persaudaraan yang tulus sebagai adik & kakak.

Sebelum semakin jauh saling "menyakiti" perlu disadari bahwasanya ada fase dimana dia yang akhirnya pergi baik-baik, tidak benar-benar membuatmu baik-baik saja.

Bagaimanapun perpisahan bukanlah hal yang menyenangkan, walau kadang kita menutupinya dengan senyum (Senyum untuk menguatkan diri sendiri).

Dan mari kita belajar & berusaha meyakinkan diri, menabahkan hati untuk "memuseumkan" kenangan yang pernah hadir menyapa.

Tak usah risau menanggung beban rindu sendirian
tapi percayalah bahwa setelah badai melambaikan salam perpisahan akan ada hari-hari yang cerah.

Kita hanya butuh meyakini bahwa cinta sejati tidak pernah mengingkari pada siapa dia pertama kali melabuhkan ijab qabul dihadapan penghulu.

Tahukahhhh???

Bahwa hati yang saling menggapai dalam jauhnya jarak, hati yang saling berangkulan dalam ketiadaan, denting kerinduan dlm senyapnya melodi, kidung sendu mendayu merayu, tatapan tanpa kata tapi hati mampu mentranslate dengan sempurna esensi dari tatapan itu,  sungguh jauh lebih membinasakan daripada perselingkuhan fisik yang terpampang secara kasat mata.

Mari mengupgrade kedewasaan dengan mengafirmasikan bahwa kedewasaan adalah ketika seseorang menyakiti kita, kita lebih memilih untuk memahami situasi daripada mencoba membalasnya dengan perlakuan yang sama.

Sejatinya dalam hidup ini kita selalu berada pada ranah "trial n error" untuk kemudian bisa menjadi role model yang layak untuk diteladani. Pun demikian dengan upaya saling menjaga hati, tidak akan lepas dari cengkraman trial n error yang membelenggu. Tapi semakin kita mencobanya berulang-ulang insya Allah kita bisa, lalu terbiasa, lalu kemudian menjadi kebiasaan. Terbiasa tanpa kamu Yaaaa kamuuu.. :)

Kebanyakan dr kita betah sekali bersemayam di samudera kemungkinan, mengira-ngira penuh praduga, hobi berprasangka, full telisik ala-ala detektif.

Sehingga tanpa disadari pikiran dan jiwa yang justru mengalami "persetubuhan". Rancu teracuni gelak emosi, tertikam belati perasaan sendiri, lalu perasaan itu bersarang kian lekatnya tak kunjung enyah.

Sejauh ini saya menarik hipotesa bahwa akan ada indikasi rasa yang terlarang jika tak ada kendali yang menjadi rem.

Anggaplah kita menyebar angket tentang apa yang kita alami sekarang, yakin dan percaya 90% responden akan menjudge bahwa ini sudah masuk pada domain perselingkuhan. Tanpa mengolah data yg ada sekalipun akan nampak korelasi yang jelas antara hipotesa awal dengan kondisi yang kita alami saat ini.

Bukankah terasa istimewa saat kau begitu peduli menanyakan kesehatan kami, anak-anak kami, keluarga kami dan berbagai macam perhatian yang nyaris membuat kami kaum hawa jadi meleleh??

Bukankah terasa spesial saat kami tau bahwa ada kapling khusus di rongga hatimu meskipun hanya berukuran sekian cm??  Yang tanpa kami bertanya kau begitu ''disiplin laporan'' mengabarkan keadaanmu, kegiatanmu dan rutinitasmu.

Padahal jelas-jelas kita tahu firman Allah yg penuh dengan muatan kebenaran ''jangan mendekati zina'' yaaahhh mata berzina dengan penglihatanx, telinga berzina dengan apa yang didengarx, mulut berzina dengan apa yang diutarakannya, tangan berzina dengan apa yang digapai (termasuk chatting ria dengan non mahram yg sm sekali tak ada unsur kepentingan) kaki berzina dengan ayunan langkahnya, pikiran berzina dgn apa yg dipikirkannya, lalu kemudian kemaluanlah yang membenarkannya. Naudzu billah.

Mengakhiri tulisan ini, tolong makhluk-makhluk yang bertitel suami diluaran sana hargai dan muliakan kami sebagai org yg dimandatkan Allah menyempurnakan separuh dien-mu.

Pun demikian dengan mahkluk yang bertitel istri.. taati suamimu yg telah didaulat o/ Allah menjadi orang yang darinya kita bisa menggapai surga di istana bunda Khadijah yang telah Allah janjikan.

**Nurb@y@

Penulis : Nur Baya

Editor : Hardi Jofandu

Sumber:

Fb: Nur Baya


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!