Friday, September 8, 2017

NESTAPA ROHINGYA (jilid 2)

RemajaIslamHebat.Com - Apa kabar deposito tabungan akhirat kita, apakah saldonya sudah cukup untuk dijadikan mahar demi meminang bidadara dan bidadari syurgaNya Allah?

Apa kabar ibadah kita, apakah yakin tambalannya sudah menutupi amalan-amalan lain yang telah kita koyak dengan menghambur-hamburkan energi memakan bangkai saudara sendiri?

Oh Allah maafkan hamba yang hina dina ini. Aku tersungkur malu dihadapmu, betapa kami abai atas nikmat yang telah engkau kucurkan kepada kami.

Derap rindu padaMu ingin segera bersua menjadi terkikis seketika. Sungguh aku tidak ada apa-apanya jika aku Engkau sandingkan dengan saudara seimanku nun jauh di sana ya Allah.

Suku Rohingya, demikian penggalan kata yang santer diwartakan. Suku yang engkau takdirkan untuk “reinkarnasi”. Reinkarnasi dari kebiadaban pada zaman Nabi dan Rosul terdalulu.

Bagi saya, mereka adalah representasi dari keteguhan Bilal bin Rabah dalam mempertahankan aqidah.

Potret mereka mengingatkanku akan kisah keluarga Ammar bin Yasir yang tak gentar dalam menggenggam keyakinan. Juga kisah-kisah manusia pilihan Allah yang sungguh membuat hati bergetar.

Dalam heningnya alam, aku berbisik lirih pada senyap. Pelan aku meluruhkan resah. Ada tangis yang menyeruak menyesakkan dada. Siapalah aku ini, apalah aku ini, sungguh aku merasa hanya jadi rumput yang berkawan semut di bawah pohon raksasa. Aku malu padamu saudaraku.

Pada sepi aku menepikan isak. Aku mengutas do’a  kepada penguasa jagad. Jadikanlah mereka seperti Nabi Ibrahim ya Allah, Ibrahim yang tak merasakan kobaran api Raja Namrud. Semoga suku Rohingnya juga tak merasakan sakit saat ia dicincang kanibal ya Allah.

Pada sunyi aku mengiba. Aku membumbungkan asa, semoga perempuan-perempuan Rohingya seperti Asiah istri Firaun. Asiah yang tak merasakan panasnya kuali raksasa yang berisi air yang mendidih.

Pada hati aku tertatih menggapai harap, kuusungkan pengharapan maha kasih agar anak-anak Rohingya menjadi penghias syurga yang menyejukkan mata.

Insya Allah ia akan menjadi bidadara dan bidadari syurga, jemari mungilnya sdh tak sabar ingin merengkuh dan mendekapmu. Lalu tangan mungilnya akan menggenggam tanganmu menyusuri lorong2 syurga.

Oh Allah maafkan jika hanya untaian do’a sendu yang sanggup kubalutkan pada luka saudaraku. Ada haru menelusup di relung kalbu. Ada tangis merembes malu menyeruak. Air mata yang menghardik diri. Ada hasrat ingin ke tempatmu, mendekapmu dalam pelukan saudaraku. Tapi nyali ini masih sucuil.

Sekali lagi aku malu padamu wahai suku Rohingya. Tapi demi dzat yang nyawaku dalam genggamanNya, aku lebih malu lagi pada Dia yang telah menitipkan kehidupan berupa nyawa dalam tubuhmu, lalu dengan angkuhnya orang-orang yang tuna toleransi meludahi keagungan penciptamu. Bukankah ini pelecehan tertinggi terhadap ciptaanNya? Allaaaaaahhh, dengarlah jeritan hatiku, pilu tersayat sembilu kepedihan. 

Pandanglah suku Rohingya, ada deru rindu kian menggebu, keyakinan mereka akan firmanMu yang penuh muatan kebenaran membuat mereka tak gentar pada lawan. Sungguh mereka amat percaya padaMu ya Allah.

Wahai suku Rohingya, ingin rasanya aku mencangkok dahan dan ranting hatimu untukku, untuk anakku, untuk keluargaku, untuk kerabatku, terutama untuk para pejabat dan pemimpin negeri ini.

Hati kalian sebening telaga kausar, sesejuk embun mencumbu pagi penuh kasih. Pandangan kalian sederhana melensa dunia, bidikanmu fokus menerobos akhirat.

*** 
Ah di negeriku ini, sebagian penduduknya begitu jumawa, merasa diri bangga tak tertandingi. Salah satunya justru datang dari lisan orang sekitarku, yah dia adalah kawanku.

Dengan pongahnya dia berujar “di negeri kita ini adalah penduduk muslim terbesar di dunia, ini dunia lho, seisi planet bumi yang bermilyar-milyar kepala, tapi kita toh baik-baik saja, tak seperti di Rohingya sana, tak senestapa Palestina sana, dan tak sejongos di Aleppo sana” ujarmu terkekeh.

Lalu dengan amarah yang tertahan aku menatapmu garang. Ingin kucecar kau dengan belati jawaban yang menikam. Ia, aku marah. Sungguh aku marah padamu. Bagaimana bisa kau yang mengaku islam tapi perilakumu tak ubahnya seperti jauh panggang dari api, agamamu islam tapi kau tak mengimani turunan-turunan ajarannya?

Dalam gemuruh batinku yang berloncatan ingin menyerudukmu, tiba-tiba kau menimpali, “lagian salah mereka sendiri sih, sapa suruh jadi minoritas, mungkin slogan Keluarga Berencana disana 1 anak cukup makanya komunitasnya gak nambah-nambah, kalopun nambah grafiknya pasti kayak siput, lelet. Yang ada malah banyakan nenek2 udzur  yang mati daripada yang lahiran. Coba kayak kita, kitakan mayoritas jadi mana berani agama lain atau negara lain semena-mena sama kita, boro-boro semena-mena mencolek aja keder, nyalinya bakal mengkerut kayak balon kempes tatkala melihat jumlah kita yang tak tertandingi” jelasmu penuh aroma kesombongan.

“Heh” sergahku tersulut api emosi.

“Naon? santai mbak Bray, slowwwwww…slowwwww… slowwwww” ucapmu blagu.

“Dengar baik-baik yah, sekiranya telingamu sebanyak jumlah jari kaki dan tanganmu, pasang semua baik-baik, on-kan semua. Otakmu yang masih perawan akan segera kugagahi, produksi pikiranmu ternyata menggambarkan siapa dirimu, ucapanmu seharusnya kau tumpahkan di tempat yang tepat, bukan di hadapanku. Kau kalah dengan sampah, yah kamu memang kalah. Sampah aja dibuang pada tempatnya masak omongan kamu tidak?. Tapi semoga dengan Allah mempertemukan kita dan membahas ini menjadi jembatan agar kau segera menjemput hidayah dan ngaca’ di cermin besar agar kau tak lagi tuna empati pada saudara kita sesama Muslim”. Berangku ganas.

“Lho, lho, lhoooo… beneran naik pitamkah kau? Hahaha” Selorohmu sambil terbahak.

“Dasar tak berhati peka, tapi saya tidak akan rela kau melukai hati saudara kita meskipun hanya sebatas sabetan pedang kata-kata, tidak akan. Tunggulah hari dimana kau akan membuka pikiran, melapangkan hatimu, dan melunakkan perangaimu selaku manusia. Apakah kau berjanji akan tetap mengenang, menyimpan dan mengabadikan penjelasan yang akan kuberikan padamu? Jika ya akan kuberikan kau sekte dari sudut pandang yang berbeda. Insya Allah akan kujabarkan sebisa yang aku sanggup. Kamu mau?” Tantangku.

“Hmmmmm, serumit itu? Ngapain juga kita yang disini beradu urat leher? Bukankah mereka noh disono yang berkonflik, terus kita yang jadi ketularan berkonflik juga? Jangan mengimpor kasus Rohingya kesini dong. Lagian kalo kamu mau ngomong, ngomong aja langsung tak usah berlagak ngancam gitu, gak ada horor-horornya sama sekali, tau gak sih? Kamu memang suka aneh, sok peduli, sok simpati, sok segalanya dehhhh” jawabmu panjang lebar petantang petenteng.

“Baiklah, malas aku berdebat denganmu. Hanya menguras energi. Jangan sampai stok kesabaranku terkikis habis oleh perangaimu”.

Aku bangkit berdiri, berlalu dari hadapanmu. Derap langkahku makin jauh meninggalkanmu, yaahh meninggalkanmu yang masih nelangsa binti bengong dengan laku-ku.

Yah kau memang teman diskusiku selama ini, sejatinya kita adalah karib tapi entah hari ini pandangan kita sungguh berbeda. Tak ada sepakat lebih-lebih mufakat. Aku merasa kini kau disusupi liberalisme yang begitu massif digencarkan di Negara kita. Jangan-jangan kau titisan Ade Armando??? Ah sudahlah tapi perdebatan ini belum finish. Akan kubantah dengan bantahan yang elegan. Akan kubabat pahammu yang keliru. Akan kutebas isme-mu yang sesat. Akan kutelanjangi kau dengan ilmu, bukan dengan berperang omong kosong yang buntu lagi dangkal.

Ya Allah, berilah pencerahan padaku untuk menyematkan paham yang benar pada kawanku. Jangan Kau biarkan ia semakin jauh salah arah. Bantu aku dengan kuasaMu, perintahkan malaikatMu agar mengantarkan ilmu padaku Wahai Rabb. Demikian pintaku bermunajat pada Allah.

Ya Allah, inikah ujian cinta yang engkau berikan pada suku Rohingya? Sungguh aku percaya, ada ketulusan pada sukma mereka dalam menghamba padaMu.

Cinta mereka padamu tak bisa lagi kudeskripsikan model cinta seperti apa. Yang kutau, mereka menggenggam janji untuk selalu menaatimu dalam kondisi apapun.

Mereka tak peduli dengan payah yang tak kunjung berakhir. Mereka memikul beban lara yang tak ada penawarnya di dunia.

Satu-satunya penawar yang mereka yakini adalah kenikmatan bersua menatap wujudMu di negeri akhirat kelak. Sungguh keteguhan yang tak biasa.

***
Ada degupan jantung yang tak biasa hari itu, ada hawa penasaran berhembus seketika. Ada-ada saja kelakuan si pembela Rohingya ini, batinnya.

Ngapain juga pake surat-suratan segala seperti ini? Macam orang kolot tempo doloe saja. Sekarang sudah zaman digital mbak Bray, BBM keq, WhatsApp nek ato apaaaaa gitu.

Ini??? Sudah pake surat, tulis tangan pula, ya mbok diketik atuh lalu diprint manja, hehehe.

Tapi sudahlah atas nama pertemanan akan kuajak mataku menyimak aksara yang kau kirimkan, kalo perlu kueja satu persatu sekalian.

Bandung, 07 September 2017.

Teruntuk saudariku seiman, Cahyati Kumala Sari.

Semoga Allah masih mendekapmu dengan cahaya keimanan. Aku sengaja bersurat seperti ini agar kau bisa lebih meresapi pesan yang ingin kuutarakan padamu.

Jika suatu waktu kau ingin kembali membacanya maka simpanlah ini dengan baik. Anggaplah ini wasiatku kepadamu agar kau mengindahkannya sebagaimana orang lain yang tak mengabaikan amanah.

Saudariku yang dikasihi Allah….

Pena ini menggoreskan pesan pada kertas untukmu disepertiga malam tatkala usai aku menunaikan qiyamul lail.

Hatiku seikhlas pena ini memberikan tintanya pada kertas. Sekedar untuk kau ketahui, rapalan do’aku kali ini hanya satu, “Ya Allah berilah saya ilham untuk memahamkan paham yang tidak keliru pada kawanku, temani aku dalam menuliskan pesan kebenaran padaNya. Aku yakin sepenuh-penuhnya keyakinan bahwa meskipun wujudMu tak nampak saat penaku melahirkan kata-kata, tapi aku sungguh percaya, Kau ada di sisiku menemaniku Ya Allah”.

Do’a ini bertubi-tubi kulayangkan pada Allah, saking dalamnya inginku itu, mataku menghangat banjir air mata haru. Sungguh saat engkau berada dititik penghambaan yang me-nol-kan dirimu maka kau akan dapati dirimu bukan siapa-siapa.

Saudariku yang disayangi Allah

Izinkan saya kembali mengutip ucapanmu hari itu. “Di negeri kita ini adalah penduduk muslim terbesar di dunia, ini dunia lho, seisi planet bumi yang bermilyar-milyar kepala, tapi kita toh baik-baik saja, tak seperti di Rohingya sana, tak senestapa Palestina sana, dan tak sejongos di Aleppo sana”

Kau juga berujar seperti ini bukan?

“Lagian salah mereka sendiri sih, sapa suruh jadi minoritas, coba kayak kita, kitakan mayoritas jadi mana bernani agama lain atau Negara lain semena-mena sama kita, boro-boro semena-mena mencolek aja keder, nyalinya bakal mengkerut kayak balon kempes tatkala melihat jumlah kita yang tak tertandingi” jelasmu panjang kali lebar penuh aroma kesombongan bahkan kala itu tak lupa kau menyinggung soal keluarga berencanasegala, nyinyir sekali pada kebijakan Negara lain.

Baiklah, mari kita mencoba mencari titik temu. Semoga nalarmu bisa mencerna ucapanku.

Bismillahi rrahmani rrahim.

Saudariku, janganlah kamu tertipu, tersipu manja akan lakon-lakon yang terpampang di panggung negeri kita saat ini. Sungguh engkau tak menyadari bahwa kaum-kaum kafir tengah berjingkrak melihat betapa banyaknya hal-hal mangkrak di negeri kita.

Sayangnya hal-hal yang mangkrak itu adalah hal yang sangat substansial dan amat prinsipil. Ketahuilah, jika hanya proyek yang mangkrak,sisa kucurkan dana, datangkan arsitek handal, siapkan sarpras, maka semua beres. Tapi yang mangkrak ini adalah generasi kita, penerus dan pelanjut estafet kehidupan kita.

Tak perlulah mereka bersusah payah menggelontorkan dana yang bejibun untuk membeli alutsista (Alat Utama Sistem Pertahanan) maha canggih untuk menggempur kita. Bahkan mereka-mereka telah melakukan hal yang lebih gila.

Tengoklah remaja-remaji kita saat ini, potret mereka kah yang akan mengemban amanah menakhodai kapal bernama Indonesia?

Sudikah engkau menjadi penumpangnya?

Yakinkah engkau akan sampai pada tempat yang ingin kamu tuju sebelum pada akhirnya kapal bernama Indonesia itu karam???

Juga tak usah jauh-jauh kau mencari pembenaran. Cukup apa yang ada di rumahmu, tengoklah produk-produk yang kau gunakan.

Kita coba runutkan yah, saat kau bangun di pagi hari menggosok gigi, apakah kau tahu merk pasta gigi yang kau gunakan? itu korporasi asing yang punya, pun juga dengan sabun yang kau gunakan saat mandi, shampoo yang kau gunakan untuk keramas, itu semua orang Asing yang menancapkan pondasi perusahaan raksasanya di tanah kita.

Lalu setelah mandi dan berganti pakaian, tak menutup kemungkinan setelan necismu adalah made in luar negeri sono.

Jangan tanya ponselmu, ACmu, TVmu, mesin cucimu, kulkasmu, mobilmu dan seluruh perangkat yang memudahkanmu, bukankah itu semua yang memonopoli adalah Jepang dan  China?

Lalu mari kita beranjak ke makanan dan minumanmu. Susu UHT, coca-cola, fanta, sprite, pepsi, KFC, M’donald dan Pizza Hut. Bukankah Selandia Baru, Belanda dan Amerika yang menggawangi itu semua?

Kemudian tengoklah channel TV nasionalmu, siapa pemilik RCTI, MNC, Global, dan  iNews? Mereka-mereka ini adalah sekutu yang seperti kutu beranak-pinak.
Jangan kau lupakan beras yang kau konsumsi, bukankah itu diimpor dari Thailand dan Vietnam?

Ahh, itu baru kegelisahanku yang tak seberapa saudariku. Apa jadinya jika kita hanya digeluti lumbung padi, tapi yang tersisa hanya lumbungnya?

Tanahkita adalah tanah air yang kaya, tapi lihatlah sumber daya alamnya digerogoti orang luar. Negara kita dijadikan kandang sapi besar, tapi yang tersisa hanya kandangnya karena sapi-sapi dan hasil sapinya dikelola oleh Selandia Baru.

Belum lagi harta karun kita di Freeport sana, siapa yang punya siapa mengelola. Siapa yang punya siapa yang kaya.

Yang punya Indonesia mbak Bray, yang kelola Amerika, yang kaya juga Amerika.

Kita?cukup jadi penonton sembari oknum pejabat kita dilempari receh berjumlah milyaran, supaya mingkem dan memberi regulasi yang menggerus warga pribumi di Papua sana.

Itulah yang menjadi sekelumit alasan sehingga kita tidak dibom bardir Negara lain. Tak perlu senjata dan bom untuk menjajah Indonesia. Cukup jajah saja dengan manja dan manis. Tak perlu bersusah-susah memperlakukannya dengan bengis.

Apakah kamu juga tau saudariku, kalo memang kita adalah penduduk muslim terbesar di dunia tapi itu hanya sebatas di tanda pengenal kita. Agama kita memang islam tapi perilaku kita sungguh TIDAK islam-i. Catat baik-baik, itu poinnya. Kita islam tapi tdk islami.

Cobalah kau tengok di luar negeri sana, mana ada yang seperti di Indonesia ngaku islam tapi sebagian perempuan- perempuannya dengan bangga mengkomersilkan payudara dan bodynya yang bohai?

Mana ada islam tapi membenci habis-habisan pewaris para nabi (ulama)?

Mana ada yang biar cuma garam diimpor? padahal jelas-jelas laut kita membentang dari Sabang-Merauke lho.

Kenapa garam masuk juga ranah yang saya titik beratkan? karena garam diimpor dari China, tenaga kerja kita banyakan dari China, lama-lama China yang akan mengepung kita. Lihatlah iklan Meikarta. Ia menjadikan anak kecil sebagai icon iklan tersebut dengan propaganda “Aku ingin pindah ke Meikarta”!! Meikarta itu corporasi China saudariku.

Mengakhiri suratku, aku ingin kembali menghadirkan nestapa Rohingya.

Bukalah mata batinmu untuk melensa pendar derita saudara-saudara kita di sana.

Percayalah dengan memberi kebahagiaan pada orang lain maka kita akan mendapati kebahagiaan yang akan berlapis-lapis.

Kau tak percaya? Cobalah mendoakan mereka  dengan tulus sembari memutar roll film kebiadaban dan keberingasan yang ia peroleh. Maka rinai air matamu akan menelusup ke rongga hatimu.

Kelak jasad kita akan sama-sama dimamah bumi. Tapi jika saudara-saudara kita di Rohingya sana diberi tropi dari Allah sebagai mujahid maka kelarlah kita.

Ketahuilah salah satu jasad yang tak akan dijadikan santapan tanah selain para penghafal AlQuran , salah satunya adalah para Mujahid. Para Mujahid jasadnya tetap utuh, lha kita? hancur lebur dimamah tanah.

Kelak saat hayat kita sama-sama berkalang tanah. Ia justru akan menikmati lelap panjangnya dibuai mimpi-mimpi indah tentang syurga.

Sedangkan kita? masih sibuk bernegosiasi dengan malaikat Mungkar dan Nakir. Celakanya? 2 malaikat ini tak seperti oknum pejabat kita saudari. Malaikat tak sudi disumpal dengan dollar.

Jadi sekali lagi mari terbitkan empatimu pada saudara-saudara kita di Rohingya sana, meskipun itu hanya sekedar tetesan-tetesan do’a tulus ikhlas dari sanubari terdalam kita.

Tapi jika sekiranya engkau bisa meringankan beban mereka dengan memberi sokongan dana dan materi tentu itu akan menjadikanmu lebih mulia di hadapanNya.

Nb:
#SaveRohingya!!
Orang bijak berkata tak perlu menjadi islam untuk menerbitkan empati pada mereka, cukup jadi manusia!!!
°°°°°°°°°°°°°
Terima kasih banyak telah membaca surat panjangku kawan. Simpanlah surat ini, semoga menjadi perisai dikala futur  (iman lemah) datang menggemppur.

Dari kawanmu
**Nurb@y@ Tanpa Siti.

Penulis : Nur Baya

Sumber:

Fb: Nur Baya


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!