Thursday, September 7, 2017

MENGEJAR IMPONDERABILIA

Oleh : Muhammad Akbar Ali

BANYAK yang terpedaya semu industrialis. Menganggap kepunyaan hari ini kekal hingga nanti. Demikian itu berangkat ketamadunan berpikir yang  di biarkan tumpul sedemikian rupa.

Tergerus  lingkungan yang mengarus deras bebasnya.  Hingga kesadaran yang muncul tak mampu bangkit melawan kebodohan yang telah berjalan.

Fenomena ini terus berputar dengan teratur,  sistematis dan sangat apik.  Manusia di buatnya pasrah dan tak lagi terpedaya. 

Sedang di balik tembok bermain orang-orang yang sadar. Mereka mengontrol dengan ketat agar program yang di jalankan sesuai target awal. 

Menghimpun kekuatan besar untuk memperbudak manusia.  Mengadu domba,  mengisap darah,  mengeruk emas dengan bebas, dan target besar lainya.

Lalu kaum terpelajar bermain tenang pada subtansi ilmunya. Tidak melihat pada pintu gerbang depan yang sedang menunggu mesin kontrol untuk menggodoknya. 

Mengarahkan kemampuan atas kinerja saat di perguruan Tinggi, semata nafsu busuk big bos di balik layar.  Karena akan tenang saat pundi dolar pada hadapanya. 

Mencari jalan untuk keluar dari jeritan pendobrak Tatanan Dunia Baru,  hanya satu yakni dengan IMPONDERABILIA. Dan itu hanya terkonsep dalam DIN ISLAM.

Tulisan lain fb Muhammad Akbar Ali :

MEMUKUL MUNDUR PEPESAN KOSONG

Muhammad Akbar Ali*

Berjalan menapaki perjuangan adalah dinamika saat menemui cibiran negatif dari orang-orang yang tidak menyenangi.

Baik dilakukan terang-terangan namun tidak sedikit mereka bermain pada balik tembok. Biasanya orang-orang demikian kebanyakan mencela karena rasa iri atas orang yang di cela.

Sederhananya tidak memiliki karya sebagaimana yang dicela.  Maka bagi orang di hembuskan suara negatif demkian,  baiknya di balas dengan sikap cerdas. 

Yakni terus berkarya, memperbesar kesuksesan yang di raih. Memenuhi target-target impian yang belum tercapai.

Sebab itu jawaban bijaksana nan dewasa ketimbang membalas pepesan kosongnya.

Waktu berlalu, hingga bertahun-tahun konsistensi tersebut akan melumpuhkan pernyataan orang-orang yang tidak bergembira atas perjuangan.

Disaat itulah kemungkinan besar tersadarkan tanpa dinasehati. Bahkan besar peluang berbalik arah menuju arus perjuangan kita.

Terakhir,  Jika diri tidak berjuang menjadi Insan cerdas,  berarti sedang menuju ketemadunan berpikir. 

*Penulis adalah Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa,  Halu Oleo University.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!