Wednesday, September 6, 2017

Mendidik Anak, untuk Menegakkan Peradaban

RemajaIslamHebat.Com - Bismillah. Kemarin selepas bada subuh, saat buka gadget malah dikagetkan dengan kabar kisruhnya pasangan dalam RT. Setelah baca, sharing ke pak suami dan nyimak sambil tatap-tatapan bingung mencerna.

Hingga kemudian kisah ini hadir ke sebuah grup. Hampir pasti yang baca, jadi segera menyalahkan istri. Kenapa tidak bersyukur, kenapa matre, coba jangan gitu. Intinya menyalahkan. Sempat saya pun merasakan hal demikian seketika. Sembari berdoa, saya bisa terus bersabar saat kondisi terjepit soal ekonomi keluarga. Astaghfirullah.

Namun ada hal yang menarik, saat hampir banyak teman juga menyalahkan istri tersebut. Ada seorang teman senior mengingatkan, untuk tidak keburu prasangka atas berita yang baru kita baca. Melalui social media, framing berita apapun bisa dengan mudah dilakukan. Kata teman, kita gak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya kan dalam rumah tangga orang lain.

Iya juga sih. Mau bagaimana pun kita tidak pernah berada dalam kondisi keduanya. Kemudian lupa sehingga mudah justifikasi atas kehidupan orang lain seenak pikiran kita sendiri. Terima kasih saya, atas reminder teman kami tersebut. Astaghfirullah.

Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa”  (QS. Al-Hujuraat: 12).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

“jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta” (HR. Bukhari-Muslim).

Kalaupun ada hikmah yang akan kita ambil dari kejadian, tetap usahakan aja berada dalam posisi netral. Melihatnya harus dari 2 sisi. Bagaimanapun kejahatan pembunuhan terhadap siapapun tidak pernah dibenarkan. Apapun alasannya. Jangan sampai kita terframing berita yang nggak sama sekali kita ketahui kebenarannya.

Sadar saja, ketika kemudian berita itu saya baca ulang. Mencoba mencerna lebih jernih. Jadi malah berfikir, sudah sedemikian semakin berat dan tantangan dalam pengasuhan anak-anak yang kami emban, ya Allah.
Entah itu anak laki-laki maupun yang anak perempuan.

Bukan perkara mudah, mendidik anak di akhir zaman yang begini indah gemerlap kehidupan duniawi. Dimana-mana tiap orang yang tidak bahagia tersebut mencari jalan kenikmatan seolah berada di surga menurut versinya sendiri.

Ada yang melihat jalan mendapatkan kebahagiaan itu, dengan keindahan rumah, mobil, posisi jabatan, fasilitas jalan-jalan wisata gratis, popularitas dunia, bahkan banyaknya jumlah anak. Astaghfirullah.

Berikut ini firman Allah untuk mengingatkan kita : "dijadikannya indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik"
QS Ali Imran : 14.

Sungguh ya Allah, tidak mudah mengasuh dan mendidik anak-anak untuk bersabar dan bersyukur saat bagaimanapun kondisi menjalani kehidupannya nanti.
Disaat mungkin masa itu anak-anak kita tidak memperoleh keinginannya dengan segera. Disaat himpitan cobaan, godaan kamuflase berbalut hawa nafsu.

Apakah mereka akan masih istiqomah dalam kebaikan?
Apakah anak-anak kita itu akan mampu melewatinya?
Wallahi, sungguh kita aja orang dewasa belum tentu lulus dari ujian keimanan yang Allah berikan.

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. 64: 14- 15)

Bersabarlah dalam menilai banyak hal yang tidak atau sedikit sekali kita pahami, mengenai kehidupan orang lain. Sungguh, kami pun tertatih belajar dari hikmah ini. Tidak mudah untuk melihatnya dengan bijak dan tanpa penghakiman. Karena kita sendiripun belum tentu lolos di akhirat nanti dari apa-apa yang telah kita perbuat selama di dunia. Astaghfirullah.

Sembari merenung, kembali saya mengingatkan diri kami sendiri, dengan cara :

1. Perbaiki niat, dalam mendidik anak. Ikhlas.
Tiada lain, sejatinya niat yang bersih dan tulus yang menjadi awal memudahkan langkah kita berikutnya dalam mendidik anak-anak dalam proses yang panjang.

2. Kokohkan iman diri orangtua dan anak-anak.
Mana mungkin berharap kebaikan akan hadir dalam mendidik anak, jika dalam menjalani rukun iman kita sendiri sebagai orang tua belum juga baik dan benar. Memang benar iman tidak dapat diwariskan, namun dengan memperbaiki iman orangtua , anak-anak tentu akan dapat merasakan dampaknya saat pengasuhan.

3. Ikhtiarkan mendidik anak dengan ILMU.
Sudah banyak kisah  bertebaran, yang kita saksikan bahwa akibat pengasuhan yang bolong, dampaknya sangat panjang. Menimbulkan problem sistemik luar biasa.

Zaman sudah jauh berubah dengan saat kita dibesarkan dulu oleh orang tua. Mana mungkin kita masih bisa santai seolah-olah mendidik anak itu hanya cukup dengan bekal saat dulu kita dibesarkan. Senjata dan peluru yang perlu kita bawa saja sudah harus diganti, karena musuhnya sudah berganti rupa. Semakin canggih dan mampu memanipulasi.

Akankah kita jadi orang tua masih terus menggunakan cara-cara lama? Yang masih cocok tentu bisa kita gunakan, yang salah harus diperbaiki. Yang sudah tidak sesuai dengan zaman perlu kita updated, tentu lagi-lagi harus dengan ilmu. Karena bekal ilmu lah yang membuat kita lebih optimis dan semangat dalam mendidik anak-anak.

4. Mendidik butuh bersabar dengan waktu.
Hampir semua guru parenting yang pernah kami ikuti, menitipkan pesan. Bersabarlah kalian, orang tua. Tidak tergesa-gesa mendidik anak dengan ingin cepat-cepat melihat anak sukses sesegera mungkin, seketika berakhlak baik, memiliki penguasaan yang banyak perihal pengetahuan agama dan mumpuni perihal teknologi terkini. Hingga segala hal kebaikan menurut KITA itu ingin dilakukan sedini mungkin. Secepat mungkin. Kalau perlu dari  bayi juga udah bisa.

Kita lupa, bahwa Allah telah memberikan pelajaran untuk orang tua dari proses lahirnya kedunia hingga bisa berjalannya anak manusia saja paling lama. Jika dibandingkan dengan hewan. Anak manusia perlu terjatuh, bangkit dan mencoba lagi hingga akhirnya ia kemudian mampu berjalan tegak. Disinilah manusia dikarunia Allah kemampuan belajar. Kemampuan berfikir, serta mengenali masalah. Berproses. Tidak seintans mie instant yang tetap perlu dimasak untuk kemudian dinikmati. Begitu yang abah Ihsan Baihaqi Bukhari pernah menyampaikan ke kami saat didalam kelas pelatihannya.

5. Percaya diri dan Optimis dalam pengasuhan.
Pakar parenting boleh memberikan ilmu pengasuhan, menyampaikan segala gambaran proses mendidik anak yang baik dan benar. Namun jika kemudian bekal percaya diri, dan optimisnya orang tua nihil, maka rasanya hampir2 segala materi itu menjadi terbengkalai pelaksanaanya.

Kita menjadi sering dihantui rasa bersalah dan penyesalan, tiap kali kemungkinan kesalahan yang telah dilakukan. Hingga kemudian merasa  percuma untuk mau lagi mencoba belajar. Padahal bisa jadi, sudah ada nol sekian persen kebaikan atas perubahan yang telah kita lakukan terhadap anak-anak. Hanya saja sering tidak sadar, karena seringkali kita sibuk membandingkan dan kebanyakan nengok kehidupan orang lain atas prestasinya tsb.

Mengasuh dengan optimis, menjadi bekal yang baik. Agar kita mampu menggunakan naluri ke ayahan, naluri keibuan dalam menghadapi anak-anak yang UNIK. Sehingga ilmu yang telah diperoleh dan dimiliki dapat dijadikan modal pendamping untuk mengenali anak-anak dalam keseharian.

6. Senantiasa berharap pada pertolongan Allah.
Sekian ikhtiar sudah dicoba, kesana kemari kita telah mengambil ilmu, tapi kok rasa mentok ya mendidik anak? bisa jadi kita lupa, bahwa segala yang mengatur kehidupan semesta ini Allah Taala.

Bagaimana mungkin, kita bisa terlalu percaya diri bahkan lupa kalau ikhtiar kita tidak akan pernah berarti apa-apa tanpa pertolongan Allah saja. Tanpa kehendak dariNya. Jadi dengan mengingat terus untuk meminta pertolongan Allah dalam doa-doa yang orang tua panjatkan, insya Allah menjadi jalan diberikannya kekuatan dan kemudahan dalam mendidik anak-anak.

7. Mendidik anak saat ini, berarti mendidik cucu kita. Mendidik peradaban masa depan.
Kalimat itu yang masih terngiang di telinga saya, saat mendengarkan pemaparan dari Ibu Elly Risman dalam sebuah seminar.
Mana mungkin kita bisa menjadi santai, malas, enggan mendidik anak kalau kita paham dampak pengasuhan orang tua bukan hanya sampai ke anak kita. Tetapi sampai kepada keturunan-keturunan kita berikutnya.

Begitulah apa yang kita tanam hari ini, akan kita tuai/peroleh hasilnya di masa depan. Jadi berhati-hatilah akan perlakuan kita orang tua dimasa sekarang. Karena itu yang akan membekas dalam benak anak. Anak-anak belajar kehidupan dari melihat, dan mencontoh. Siapa yang paling sering anak lihat sebelum sering keluar rumah saat dewasa? tentu kita orang tuanya. Disanalah anak belajar segala hal, yang dikenangnya, apa yang akan dilakukannya suatu hari nanti.

Berikut firman Allah : Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kerugian kejahatan itu untuk dirimu sendiri..”(QS.17:7)

Demikian sharingnya, sungguh menulis catatan ini kembali utamanya bertujuan untuk menebalkan insight pemahaman kami sendiri dalam mengasuh dan mendidik anak-anak dirumah bersama keluarga. Agar kami senantiasa diingatkan untuk melakukan apa yang telah disampaikan. Jika berkenan dibaca, silahkan.

Semoga Allah senantiasa merahmati kita dan keluarga dalam kebaikan, hingga terus mampu melakukan kebenaran sesuai DienNya. Aamiin yaa Rabb.

Penulis : Nurliani
menulis untuk mengaca diri


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!