Monday, September 25, 2017

Man Jadda Wajada

RemajaIslamHebat.Com - Sejak setahun terakhir, tiap pulang sekolah anak saya Kaisar selalu saja menyanyikan sebuah lagu (nasyid) yang lirik dan melodinya benar-benar baru buat saya.

Lagu ini ia hafal karena setiap menunggu bel masuk, pihak sekolah sering memutarkan lagu-lagu islami. Salah satunya lagu ini.

Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan nasyid tersebut. Entah tidak tertarik karena cara anak saya membawakannya dengan lonjak-lonjak, atau karena saya belum paham betapa nasyid ini kaya makna.

Satu penggalan bait yang selalu ia ulang-ulang adalah “Jangan pernah tidur di kelas. Jangan pernah malas-malasan belajar. Perhatikanlah Ustadz-ustadz-mu. Yang t’lah ikhlas mengajarkan ilmunya.”

Sebagai ibu yang ingin anaknya tertib belajar, tentu terbantu sekali dengan lirik itu. Maka tiap kali ia bernyanyi, saya pun tak lupa menyelipkan pesan sponsor: “Tuh, kalau di dalam kelas perhatikanlah gurumu. Jangan bercanda, apalagi tidur.”

Nah, ndilalah, Titan si nomer 2 menyusul kakaknya di SD yang sama. Ee..Lhadalah, kok lagu ini kembali jadi lagu kebangsaan di rumah.

Saking penasaran, saya cari lagu itu di Youtube. Saya putar dan saya nikmati bersama anak-anak.

Sejak pertama diputar sampai selesai, beneran saya langsung jatuh cinta dengan lagu ini. Bukan cuma liriknya yang penuh pesan positif, juga melodi-nya yang menarik bahkan untuk ibu-ibu seperti saya.

Lagu ini membawa semangat untuk anak didik. Menyelipkan pesan, agar jangan menyia-nyiakan pengorbanan guru dalam mendidik anak muridnya.

Soal pengorbanan guru, ini jadi catatan tersendiri untuk saya. Ibu di era milenial

Dulu, guru mengajar dengan segala tantangan. Gaji yang kecil, medan yang tidak mudah (terutama guru di daerah terpencil) bahkan dulu sering kali guru diberi upah berupa hasil tani oleh wali murid. Bukan uang.

Maka jadi guru jangan berharap long last kalau tidak dibarengi dengan ilmu ikhlas. Dan paham benar bahwa ini adalah jalan menuai amal jariyah.

Padahal dari lisan dan didikan guru inilah jiwa murid terbentuk. Saya yang sudah setua ini bahkan masih bisa mengingat pesan apa yang dulu pernah disampaikan guru kelas, hingga guru ngaji saya.

Tapi entah mengapa, saya malah melihat era kini tidak kalah menantang dari era dulu.

Guru, mau tidak mau harus terkoneksi 24 jam dengan murid dan orangtuanya, melalui aplikasi yang disebut Grup WA

Bagus sih.. jadi guru mudah memberi info, orangtua juga mudah memberi pesan pada guru. Tapi setiap saya melihat padatnya lalulintas Grup WA yang saya ikuti, saya jadi mikir sebaliknya.

“Bu, X kakinya bengkak, izin nggak masuk ya.”
“Bu, Z tadi pagi sumeng, tolong diawasi ya bu takut pingsan.”
“Pak, botol minum Y warna pink tertukar dengan temannya, bisa bantu mencarikan?”

Hingga pesan yang seharusnya bisa di-japri saja, entah kenapa malah dikirim ke grup:
“Bu, tolong bilangin anak saya, ini saya sudah di depan gerbang sekolah.”

Mateng deh… ini guru kalo nggak manteng HP, mana bisa menyelesaikan semua order-order itu

Belum kalau malam-malam saat si guru harusnya punya waktu untuk keluarganya, mengajari anak-anaknya, masih juga diminta meladeni pertanyaan di grup: “Bu, besok ulangannya apa?”

Alhamdulillah-nya, guru-guru yang saya temui di grup WA, dengan telaten menjawabi tanya itu satu persatu. Menyelesaikan semua rikues dengan sabar dan tenang.

Coba kalau dijawab, “Menurut anak ibu, besok ulangan tidak?” bisa dibayangkan perasaan ibu-ibu kan

(ini bahas nasyid kenapa jadi ngerumpiin grup WA.)

Maka bolehlah saya mengatakan: nasyid ini sederhana namun Mumtaz. Sempurna!

Di akhir lagu, ada tiga bait kata mutiara yang menyemangati siapa pun yang mendengarnya. Bukan hanya anak saya, tapi juga saya yang ababil nggak berkesudahan

MAN JADDA WAJADA
(siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)

MAN SHOBARO ZAFIIRO
(siapa yang bersabar akan beruntung)

MAN SAARO ‘ALAA DARBI WA SHOLA
(siapa yang berjalan, maka akan sampai)

Maka jika kita bersungguh-sungguh, dalam hal apapun itu, kita akan mendapatkan apapun yang kita inginkan.

Namun sertailah usaha itu dengan kesabaran. Sabar dalam proses perjuangan menggapai cita-cita. Juga sabar saat cita-cita ternyata tertakdir tidak kesampaian.

Dan tetap teguhlah berjalan dalam kebaikan. Teguhlah, maka kita akan sampai pada tujuan.

***
Ini dia nasyid yang telah menyemangati saya dan anak-anak.

Untuk semua anak negeri yang sedang berjuang menggapai mimpi.
Juga untuk ibu-ibu yang menemani anak-anak mereka mewujudkan semua impian, semoga nanti kita bertemu pada titik bahagia di ujung sana.

Salam perjuangan!

Sumber:

Fb : Wulan Darmanto


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!