Maaf Debora, Kami Pikun Massal

RemajaIslamHebat.Com - “Tolak Pasien, Cabut Izinnya.” Begitu judul garang di salah satu media beberapa hari ini. Ah, andai segarang itu kebijakan yang ada, kita yakin tidak ada lagi Debora-Debora yang bertumbangan. Ya, seperti kita tahu, bayi umur 4 bulan itu meninggal di ranjang unit gawat darurat sebuah rumah sakit swasta terbesar kedua di Indonesia.
.
Saat itu, tenaga medis sudah menangani semampunya. Sayang, kondisinya terus memburuk. Debora harus segera dimasukkan pediatric intensive care unit (PICU). Masalah muncul, karena untuk masuk PICU musti sedia uang muka Rp19 juta. Apesnya, orangtua Debora hanya mampu mengais sekitar Rp6 juta. Akhirnya, Debora keburu meninggal dunia.
.
Begitulah. Walau kondisi sudah sangat kritis, tenaga medis di rumah sakit masih juga mengedepankan birokrasi administratif. Bukan mendahulukan empati dan kemanusiaan, masih juga menomorsatukan uang. Apa susahnya memasukkan dulu ke PICU, biaya urus belakangan. Nyawa anak tak berdosa seharusnya ditolong dululah.

.
Ah, miris rasanya. Kenapa kejadian ini ada lagi, ada lagi? Ya, kalo kita  tatabu' (mengikuti) berita setiap hari, lamat-lamat tentu ingat. Bahwa Debora bukanlah korban pertama dan satu-satunya. Sebelumnya, telah banyak Debora-Debora berjatuhan. Bahkan ada yang lebih miris kasusnya.
.
Salah satunya dialami anak dari Hari Kustanti (41), yang meninggal pasca dioperasi caesar, Sabtu 10 Juni 2017 lalu. Tiga hari lamanya, Hari pontang-panting membawa istri dan anaknya keliling dari satu RS ke RS lain. Perjuangannya berhenti di rumah sakit ketujuh, setelah enam RS lain menolak dengan alasan ruang ICU penuh.
.
"Tiga hari saya berkeliling rumah sakit di Kota Bekasi berupaya menyelamatkan nyawa istri dan anak saya. Namun, usaha berakhir di RSUD Koja, Jakarta Utara," kata warga Perumahan Pejuang Pratama, Blok L20, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, Senin 12 Juni 2017 lalu.
.
Anda masih ingat? Tentu tidak. Kita semua sudah lupa. Masyarakat luas lupa. Pengambil kebijakan lupa. Padahal kejadian itu baru tiga bulan lalu. Bagaimana nasib enam rumah sakit yang menolak pasien itu? Dicabutkah izinnya? Tidak. Boleh jadi, hari ini masih tetap “main pingpong.”
.
Jadi, maaf Debora, kita ini memang pikun massal. Akut. Nyawamu melayang, baru kita ingat. Ketika kasusmu mencuat, segeralah kecaman pedas bin sadis tertuju ke segala penjuru. Tapi, itu hanya di headline-headline media. Hanya di beranda-beranda. Beberapa hari saja. Setelah itu, semua lupa.

.
Media lupa. Masyarakat lupa. Pengambil kebijakan lupa. Boro-boro mencabut izin rumah sakit, teguran tertulis yang sudah dilayangkan sebagai sanksi pun, entah akhirnya diindahkan atau tidak. Lupa sudah. Besok-besok, muncul lagi kasus serupa jadi pergunjingan di media massa. Dikecam lagi, dilupakan lagi. Begitulah siklusnya. Entah sampai kapan.
.
Mengapa kondisi ini terus terjadi? Kapitalisasi rumah sakit. Itulah akar masalahnya. Hari ini, rumah sakit swasta adalah perusahaan perseroan yang didirikan dengan laporan rugi laba. Kebanyakan dimiliki oleh para pemodal, bukan didirikan oleh para dokter dengan dorongan pengabdian.
.
Jadi, RS bukan sekadar lembaga nirlaba, tapi berhitung laba. Bayangkan, jika ada rumah sakit yang go public, hingga sahamnya dijual, apa misinya kalau bukan bagian dari industri kapitalis? Bisnis. Itulah kapitalisasi bidang kesehatan. Maka, selama rumah sakit terdoktrin sebagai perseroan, jangan harap kemanusiaan dikedepankan. 
.
Pasien tewas di meja operasi; mati di tengah jalan gara-gara dipingpong, menjemput ajal karena tak sanggup mengganjal uang muka, meninggal karena ditolak rumah sakit atau kamar penuh, adalah berita-berita yang luar biasa: biasa.
.
Sebagian rumah sakit, sesuai namanya, telah menjadi layanan publik yang membuat orang sakit kian sakit. Saya katakan sebagian, karena tentu tidak adil kalau kita menuduh semua rumah sakit sekejam itu. Banyak juga rumah sakit berjiwa sosial tinggi yang membantu pengobatan gratis para pasiennya. Tapi, jumlahnya masih di bawah kebutuhan masyarakat. Juga, bukan dimobilisasi oleh negara secara besar-besaran.
.
Seharusnya, rumah sakit itu dibangun untuk melayani seluruh kepentingan masyarakat. RS tidak boleh diskriminasi. Harus dibuat tanpa kelas. Tanpa klasterisasi. Tidak ada kelas 1, 2, 3 dan VIP. Semua orang sakit itu VIP, very important person. Semua genting dan penting untuk ditolong segera.
.
Lalu bagaimana soal biaya? Saya jadi ingat dengan stiker yang ditempel di pintu angkot: “naik gratis, turun bayar.” Kenapa rumah sakit tidak mengadopsinya: “masuk gratis, keluar bayar.” Malah kalau perlu, “masuk gratis, keluar gratis; negara yang bayar.”
.
Sekarang, rumah sakit begitu menakutkan bagi yang tak berkantong tebal. Bahkan ada joke yang menyebutkan, bahwa sudut paling menakutkan di rumah sakit saat ini, bukan lagi kamar jenazah, tapi ruang administrasi. Kasir.
.
Jadi, maafkan kepikunan kami Debora. Gara-gara paradigma RS yang kian kapitalis, nyawamu jadi tumbal. Semoga kematianmu tak sia-sia. Setidaknya engkau sebagai pengingat sementara, ketika hari ini kita yakin, rumah sakit-rumah sakit menggeliat memperbaiki layanannya. Agar tidak menjatuhkan nama baiknya. Tidak mengurangi pendapatannya.
.
Ketika pengambil kebijakan sigap mengaudit layanan-layanan kesehatan, menengok standarisasi walau sejenak. Kebijakan-kebijakan sementara yang kembali akan dilupakan. Tetap membuka peluang menyusulnya teman-teman Debora ke alam baka dengan tragedi serupa. Semata karena penguasa telah mengalami pikun massal. Pikun untuk mencabut akar masalahnya.(*)
.
Bogor, 18 September 2017.

Sumber:

Fb: Asri Supatmiati

Post a Comment

0 Comments