Monday, September 4, 2017

Lara Afrika

RemajaIslamHebat.Com - Jilatan raksasa langit dalam gugusan tata surya kian menggila, ia enggan beringsut, tetap saja bersungut,  menatap bengis menampakkan teriknya yang memanggang dengan garang.

Sejauh mata menyapukan pandangan yang tampak  hanyalah belantara nestapa  bertebaran, mengundang nelangsa yang tak berujung, tak bertepi dan tak berkesudahan.

Menyaksikan tubuh ringkihmu ditopang belulang, lalu ragamu yang hanya dibalut kulit hitam, pun tak nampak sehelai benang yg menggelayut di tubuh kurusmu, sungguh demi melihat itu semua terlucuti rasa kemanusiaanku. Perih !!

Kelaparan yang menggurita di kolong langitmu bak sahabat karib yang enggan beranjak, barang sedetikpun. Dahaga yg memperkosa kerongkonganmu  menjadi pemandangan yang lazim,  kemiskinan beranak pinak menjalar demikian massif. Ahh Afrika nasibmu kini.

Pendar derita terpampang nyata di guratan wajahmu, meskipun sesekali kau belajar bagaimana mencipta senyum yang mampu mengimbangi raut pilumu.

Bungkam seribu bahasa menatapmu mengais pengganjal abdomen di sela serakan sampah, kupastikan bahwa nasi akik di tempatmu bermukim,   jaaaaauuuhhhh lebih berharga dibanding sekarung emas berlian yang hanya mengenyangkan matamu memandangnya.

Gamang tercipta saat kau masih mampu berbagi dgn adik beliamu tatkala mendapatkan rezeki berupa nasi kotak uluran manusia berhati malaikat. Sungguh kepekaan rasamu berbagi, seketika mengebiri prasangkaku tentang dikau yang hanya mementingkan diri sendiri.

Di belahan bumi pertiwi yang kupijak ini berkejaran lamunan tentangmu. Imajinasiku liar berfantasi, membayangkan bersua denganmu setelah umurmu tak lagi sebelia ini, lalu kau menghempaskan segala gundah gulanamu padaku.

Sore mulai merangkak malas,bergulir menjemput malam, saat kau dalam khayalku berkisah dalam kepiluan.

"Kenapa hidup saya seperti ini?  selalu ditimpa kesusahan,  diliputi derita yang bertubi-tubi, dari jaman moyang dahulu kala sampai giliranku saat ini, seandainya saya seperti di negeri kamu.  Apakah Tuhan jg menyayangiku seperti sayangnya padamu? Apakah tuhan jg menerima amalanku? Kenapa seolah-olah kutukan ini berantai tak berujung :(.." cecarmu panjang lebar membuka percakapan.

"Memangnya negeri saya kenapa?" ulikku pelan, mencoba meredam gelegar emosimu.

"di negerimu itu enak, bahkan kudengar-dengar Tuhan meminjamkan kapling surga di sana, entah atas pertimbangan apa sehingga Tuhan begitu berani menitipkan surga di negerimu, negeri yang setauku sebagian penghuninya begitu pongah dan serakah.

Dengan angkuhnya, kalian jg memamerkan pada dunia lewat gubahan lagumu bahwa tanah kalian adalah tanah surga yang bahkan hanya tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman.

Ahh apakah kalian tau? Lagu itu seperti tamparan bagi kami, lagu itu menelanjangi negeri kami, lagu itu serasa olokan disertai lidah menjulur menertawakan.Tak perlu kukisahkan betapa tandus dan gersangnya negeri kami. Maaf aku iri padamu. Iri dengan cara tuhan memperlakukan dan memberimu tanah dr surga''. Penjelasanmu kini diiringi rinai air mata, mendesak dari kelopak netramu, dalam satu kedipan, tumpah ruahlah air yang mengawang di pelupukmu itu.

Sejenak aku menelan ludah, entah bagaimana caraku merangkai kata, terlalu banyak yang berseliweran di batok kepalaku  dan berkali kutekan ''delete'' hanya karena bingung memulai dari mana.
Ingin kukatakan beberapa hal & semoga bermanfaat untukmu dan juga sbg pengingat untukku.
       
''Cobalah  beristigfar terlebih dahulu dan tersenyumlah kawan :) '' hiburku, sambil memikirkan rentetan kalimat yg siap meluncur dari lisanku. ''Kau ingin tahu akar permasalahan dan musababnya menurut sudut pandangku?'' tatapku mencoba membangun binar serius.

Kau hanya mengangguk tanpa bersuara.

''Baiklah'' lanjutku sambil membaca basmalah dalam hati.

''Tidak lain karena kau diliputi sangsi, ragu pada ketentuan-Nya, bukankah telah Tuhan katakan bahwa Dia takkan menguji hamba-Nya diluar kapasitas kemampuannya menanggung beban?

Bukankah Allah telah katakan bahwa Dia akan mengabulkan doa setiap hamba-Nya? Lalu apa yang membuatmu ragu akan ketetapan Allah kawan?''
Aku memberi jeda, memberinya ruang u/ berfikir.

'' Kamu belum pernah merasakan apa yg aku rasakan siihh'' sergahnya.

''Yaaa, mungkin anggapanmu benar, mudah saja melontarkan ini, karena Allah belum mentakdirkanku  mengalami apa yg kau alami.

Tapi, besar harapanku agar kau sedikit saja mencerna, bagaimana jika sekiranya kemudahan yg negeri saya peroleh saat ini adalah ujian bagi kami warganya kelak dikemudian hari?

Kapling surga yg tadi menurutmu Allah ''kurang adil'' yah menyematkannya di negeriku? Ketahuilah bahwa itu adalah sepenuhnya hak prerogatif Allah, tanpa ada garansi sedikitpun bahwa kelak tanah surga itu tidak akan berubah menjadi kapling neraka.

Berbeda dgn tanah suci Arab Saudi sana bahwa Allah yg turun tangan langsung, menjaga dan menjamin kemakmuran negaranya sampai bumi ini berhenti berotasi.

Lalu bagaimna jika seandainya kesulitan yang dialami di negerimu adalah anugerah besar di masa depan?  Kelak akan bermetamorfosis menjadi taman-taman syurga?

Tidak ada yang impossible dan rumit bagi Allah, manakala Ia berkehendak dalam sepersekian detik segalanya bisa berubah kawan''.

Tiba-tiba nampak semburat optimisme dalam pigura wajah manisnya.

''Aku lanjut lg, boleh''? Tawarku setelah tak sepatah katapun keluar dr oralnya.

Iya hanya mengangguk takdzim sambil tersenyum tipis.

''Maaf, kau keliru dalam membandingkan, cobalah kau bandingkan dari perspektif dan sudut pandang yg menyejukkan hati dan pikiran saja :).

Kawan, jangan bandingkan hidupmu dengan orang lain,  bandingkan sajalah ibadahmu, karena tiket untuk selamat di dunia ini hanya akumulasi dr ibadah-ibadah yang senantiasa kita persembahkan untukNya:). 

Jika sekiranya hitung-hitungan dari segi harta dan materi yang menjadi kalkulasi, maka tamatlah riwayat orang yang papa di seantero jagad ini, termasuk saya.''

Sejenak aku menghela nafas panjang, mencoba mentakwilkan riak wajahnya yg perlahan mulai sumringah.

''Tapi tetap saja kamu lebih beruntung dr saya kannnn?'' kini kalimatnya sedikit menggoda.

''Hehehe'' aku mengulas senyum sambil menepuk bahunya sembari megerlingkan mata.

''Oia'' sergahku tak sabaran melanjutkan kalimat yang belum usai.

''Kenapa?'' tanyanya antusias.

''Mungkin kau tak pernah awas tentang kagumku, tentang aku yg juga iri padamu , tentang saya yang bertanya dalam rimba keangkuhan.. apa yang kemudian menjadi pertanyakanku kawan?

Percayalah,,  kadang aku bertanya kenapa tak di uji sepertimu? Tak melarat dan tak gundah gulana sedemikian hebatnya seperti dirimu?
Tapi kembali sadarku menohok, betapa sombongnya saya bertanya seperti itu?

Bukankah Allah telah menetapkan kadarnya masing-masing? Lalu dengan modal apa aku berani berharap demikian, agar aku bisa kuat sepertimu? Atau agar aku bisa setangguh dirimu? Ahhh, naifnya diri ini.

Kebanyakan dari kita melensa hidup dari sudut duniawi, menakar dari segi ekspektasi penghuni bumi tentang apa yang telah menjadi kehendak Allah swt.

Kenapa?
Karena kita hanya melihat dari tataran kulit luarnya saja. Kita benar-benar tidak pernah tau yang sesungguhnya, hanya berperang dengan prasangka, bertempur  dgn pikiran, membandingkan kehidupan orang lain sembari menepikan kehidupan sendiri. Bukankah ini mubazzir waktu kawan?'' lanjutku panjang lebar.

Kuhunjamkankan tatapanku, melesak sampai ke mata batinmu. Kita bertatapan beberapa detik diselimuti hati yang sama-sama bergemuruh. Kau lalu bangkit mendekapku erat, merangkulku penuh kasih. Air mata bertebaran dalam hangatnya pelukan.

''Percayalah tak ada yang keliru dalam penetapanNya. Jangan rusak bahagiamu dengan membandingkan bahagianya orang lain, siapapun dia''.  Bisikku lirih di tepi corong telinganya.

Tangannya masih melingkar di bahuku, sambil sesenggukan menahan tangis. Betapa ia menikmati adegan indah ini.

''Bersyukurlah.
Tidak ada manusia yang cukup mulia untuk tidak di uji. Nabi-Nabi saja ditempa sedemikian hebatnya apalagi kita yang hanya manusia biasa berlumur dosa bergelimang maksiat?

Tetaplah sabar.
Cobalah kita menoleh, mari menengok masa lalu. Apakah kita sadar bahwa semua yg dikeluhkan, yg membuat kita stress, khawatir, takut dan nyaris putus asa telah ada yg berhasil kita lewati? Bahkan sebagian kita sudah lupa kan?'' lanjutku menguatkan keyakinannya pd ketetapan sang Pencipta.

Kini ia mengusap luruh kesedihan yang selama ini menggelayutinya. Sejenak ia tertunduk, mencoba menalar apa yang sedari tadi kuucapkan padanya.

''Ingin ku sampaikan pada mu tentang sabda Rasulullah : "Sungguh Allah akan menguji kamu dengan berbagai cobaan, sebagaimna kamu menguji (membakar) emas dgn api. Ada orang yang keluar (dri ujian tersebut) seperti emas murni, orang itulah yang dilindungi Allah dri kejelekan, ada juga yang keluar seperti emas yang tdk murni, org itu masih dipenuhi keraguan. Dan terakhir, ada orang yang keluar seperti emas hitam, orang itulah yang terkena fitnah (siksa)." (H.R Al-Hakim dan Ath-Thabrani).

Dan juga firman Allah swt.:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Kalau dengan itu semua masih terasa kurang olehmu, jamah lalu lihatlah firman2 Allah yg penuh muatan kebenaran.  Semuanya tertuang dan termaktub dgn jelas pada Q.s Al-Baqarah (2) : 155, Q.s Al-Baqarah (2): 286, Al-Baqarah (2): 45, Q.S Al-Insyirah:5-6.

Tetaplah cantik dan anggun (hati) dalam musibah dan cobaan kawan''.

Tanpa kuduga lagi-lagi kau menghambur dalam pelukanku. Kini kau mendekapku lebih erat sembari terbata megucapkan terima kasih berkali-kali. Tangismu pecah tanpa beban.

''Eh ngomong-ngomong maafkan lagu tanah surga yang kau anggap meledek negaramu yaaahhh? Mana ada batu bisa jadi tanaman? Klo batu ditanam yaaaa gak bakalan tumbuh-tumbuh sampai kiamat '' godaku mencoba mencairkan suasana, padahal sejatinya hatiku juga basah kuyup dan bergetar melihatnya berurai air mata.

Demi mendengar kalimat terakhirku, dia tersenyum sambil mencubit mesra lenganku. Kamipun melenggang bahagia berasa Allah dan semesta memberi penghargaan yang tak bisa kami wartakan.

Penulis : Nurbaya

Sumber:

Fb: Nur Baya


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!