Monday, September 4, 2017

KETIKA EMAK-EMAK GAK MAU KALAH SAMA A Be G

RemajaIslamHebat.Com - Masih tentang virus #Aylaview yang lagi mewabah  menyerang emak-emak. Aylaview challenge  ini menurut pengamatan saya dari beberapa time line yg berseliweran, seninya justru saat emak-emak mengalami Zonk,,  apalagi kalo riwayat zonk-nya mengenaskan abissss .

Tantangan ini lucu gurih-gurihnyong gituuuuu... (Berasa lagi markir mobil di parkiran maha sempit --berbagai cara dilakuin supaya berhasil ''memarkir'' si suami di parkiran Aylaview).

Fakta yang kemudian terjadi adalah kebanyakan suami-suami males ngeladeni istrinya, kadang lebih mempercayakan istrinya nanya sm paman google .
(Padahal punya suami yang smart itu wenakk lhooo pak, gak melulu ngandalin paman gugel ).

Fakta berikutnya,  ternyata suami kadang gak ''ngeh'' sama kode romantis dari istri,,

(duuuuhhh hayati lelah menggombalmu bang ).

Fakta selanjutnya, suami ngebalas chat istrinya SPJ banget (Singkat Padat dan Jelas) sementara chat istri udah seperti koran terbitan terbaru, hahaha (wahai bapak-bapak kasihanilah kami ).

Tapi gak bisa dipungkiri sih karena stok perbendaharaan kata untuk laki-laki dalam sehari tuh kuotanya cuman 7. 000, sementara kita? 20. 000 mak, hehehe. Kebayang kan perbedaannya???

So, jangan uring-uringan kalo suaminya ngirit bensin yahhh mak?  eh irit ngomong maksudnya. Pun juga bapak-bapak, jangan heran kalo istrinya sanggup ''berkicau'' sepanjang pagi,siang sampe malam (lagi ngabisin stok soalnya pak alias dari sononya emang gitu) Hehehe.

Baiklah selanjutnya masih ada lanjutan dr tantangan ini, yaaahh anggaplah episode ke-2.

Kalo yang di bawah ini ternyata bukan cuma hayati yang lelah pemirsa, tapi suami hayati juga ikut-ikutan lelah..  Pantas gagal fokus,,  hadeeeuuuhhh . Nyaris zonk tapi dipaksain akhirnya berhasil hahaha.

Sumber:

Fb: Nur Baya

Tulisan lain di fb Nur Baya :

***Kata orang,, Gagal Move on beda2 tipis dgn Bl* on ***

PRICE sebuah PRESTISE
================

Yaaahhh… harga memang tak selalu berbentuk setumpuk dolar. Pun demikian dengan nilai, tentunya tak selalu dalam wujud angka.

Sembari menatap langit kamar, aku mengawang2 lalu kulirik pojok kiri ruangan. Nampak jendela usang yang telah dimakan usia. Kuputuskan bangkit dari pembaringan. Pelan kusibak tirai jendela kamar penuh khidmat.

Kuhirup udara segar pagi ini untuk memberi nutrisi pada paru2, sangat dalam sambil kupejamkan mata, tak ketinggalan qalbuku berdecak kagum memuji keagungan Tuhan.

Tanah basah dan genangan- genangan air mengabarkan bahwa hujan telah usai. Kutatap  pohon rindang yang berdiri kokoh, sangat indah, rasa damai seakan menyusupi segala ruang dalam jiwaku.

Terlihat titik – titik air menggelantung manja berpamitan pada daun, dalam hitungan detik tetesan – tetesan air itu mencumbu bumi pertiwi.

Pagi sebelum beraktifitas aku mengisi lambung dengan sarapan seadanya. Sambil melumatkan makanan dalam mulut, kembali kubaca dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat – singkatnya list agendaku hari ini.

“Lumayan padat” batinku.
Rapat bulanan, mengajar, kunjungan ke dinas kesehatan, rumah sakit, bimbingan dan review laporan mahasiswa.

“Terbiasa dengan jadwal padat” gumamku pada diri sendiri. Aku termasuk dalam jajaran penganut disiplin tingkat Dewa. Jauh sebelum matahari menyapa jagad raya aku sudah membuat plan agar hari esok dari jatah hidup yg diberikan Allah tak keteteran bin mubazzir, karena bagiku waktu begitu berharga.

******

“11 Januari bertemu menjalani kisah cinta ini…” ringtone hand phoneku memaksa aku untuk menatap hand phone  yang tergeletak di atas meja kerja.

“Mr.11 Januari memanggil…”, demikian yang tertera di layar ponselku. Sengaja aku mensave dengan nama kontak Mr.11 Januari.

Ada kisah dipenanggalan itu. Hamparan kisah yang telah menjadi sejarah. Sejurus aku tak menggubrisnya dan kembali  melihat list agendaku untuk menentukan skala prioritas hari ini.

“Aq ingin m’bahagiakan km, smga itu ckup u/ alasan knp aq ingin berjuang bersamamu” Massage dari 11 Januari. Lagi – lagi aku mengabaikannya.

“ kita ad/ sepasang do’a yg terbang ke langit tp entah kt smpai dsana ber2 atau masing2”
       
“ km msih yg terbaik & terindah bagiku dan aku berharap km akan terus mjd yg terbaik n terindah slmax.” 
Massage 11 Januari memberondong inboxku beruntun. Muak dan jengkel aku dibuatnya.

Ahh… Mr. 11 Januari membuyarkan konsentrasiku. Huufhh.. ada sesak dalam hatiku, kembali rekaman kisah itu bersamanya berkelana menikam perasaan.

Dalam kisahku dengannya kami nyaris mendayung perahu kehidupan bersama. Tapi demi prestise, keluarganya menginginkan pendamping seorang dokter.

Dengan penuh kesopanan lebih tepatnya menjaga perasaanku Mr. 11 Januari mengutarakan kehendak keluarganya kala itu, tapi ia berjanji akan tetap berusaha mempertahankan kisah kami.

Meskipun aku sadar sepenuhnya bahwa dalam pernikahan tidak hanya melibatkan 2 sejoli semata. Tapi sejatinya pernikahan antara 2 keluarga besar yang berbeda prinsip, adat, kebiasaan dan seluruh tetek bengek kehidupan.

Saat itu komunikasi kami masih berjalan seperti biasanya. Namun seiring rotasi bumi mengelilingi matahari terasa ada yang janggal, komunikasi yang tercipta terseok – seok seolah dipaksakan.

Klimaksnya setelah dia mengirimkan pesan singkat, terjawab sudah kejanggalan itu.

“Maafkan sy, untuk sementara sy tdk bs sperti kemarin dan hari2 yg lalu, sy tdk berdaya melawan kehendak keluarga sy, tunggu kabar sy dkmudian hr , sekali lg maafkan sy”.
 
Entah yang kurasakan saat itu bak kiamat sugra dalam hidupku, bagaimana mungkin dia yang dengan gantle mengajukan “proposal” lamaran kepada orang tuaku tentang persiapan hari bahagia. Dia  yang dengan penuh patriotisme berjanji memperjuangkan saya. Dia yang memberi pengharapan maha indah. Tapi dengan entengnya hanya pamit dan berlindung dibalik kata maaf seperti itu? via SMS pula.

Entah dimana sisi kejantanannya sebagai laki-laki? Nafasku memburu, dadaku sesak, wajahku panas bersemu merah menahan geram dan amarah, air mata tanpa kukomando menggenang lantas mengalir deras begitu saja. Rasa ingin ambruk seketika, serasa tak kuasa kaki ini menopang tubuhku.

Dalam sekejap dengan buas kuhirup udara sebanyak mungkin lalu kuhembuskan perlahan  dan mencoba mencari alasan, berharap diri ini mampu berdamai dengan keadaan.

Aku lantas mencari kontak Mr.11 Januari untuk menelponnya. Tak kuasa aku menahan emosi aku menangis terisak – isak.

“Ke.. kenapa kau tega sekali? Kenapa kau memberiku harapan yang begitu besar berusaha akan mempertahankan dan memperjuangkan saya? Kenapa? Kenapa tidak kau akhiri saja  pada saat itu juga? Kenapaaaa?” Aku setengah berteriak sekaligus menahan tangis.

Indra pendengaranku hanya menangkap kata maaf dari seberang sana, jelas tak sebanding dengan rentetan rasa ingin tahuku yang begitu membuncah. Aku butuh penjelasan sebagai pelipur lara,  namun hanya penggalan kata maaf yang begitu datar yang lagi-lagi terdengar.

Segera kuakhiri pembicaran itu. Aku melanjutkan tangis yang kurasa belum tuntas. Sejak saat itu putuslah komunikasiku dan semua yang bersangkut paut dengan 11 Januari. Tertatih jiwa ragaku menyembuhkan luka.

Setelah aku mulai bisa mengontrol emosi kusampaikan niatku pada orang tua untuk membatalkan rencana pernikahan kami dengan dalih ingin melanjutkan studi.

Berselang minggu dan bulan, lukaku sudah pulih 100%. Aku kembali menjalani hari – hari layaknya orang normal pada umumnya. Kurang lebih 2 trimester kami off tidak berkomunikasi sama sekali. Bahkan dalam waktu 2 trimester itu aku justru merasa lebih hidup.

“ 11 Januari bertemu menjalani kisah cinta ini… ”, kembali ponselku berdering dengan nama kontak yang sama.

“Angkat saja kali aja ada hal penting ”, peritah batinku pada diri sendiri.
 
“ Assalamu Alaikum ”

“ Wa Alaikum salam, Apa kabar Pino?” Sapanya mencoba menawarkan keakraban dengan dipanggilnya aku Pino, panggilan khusus dari dia padahal nama asliku Dewi Aisyah Putri Maharani.

“ Baik” Jawabku singkat.

“ Masih ingat saya kan, saya Kio” suara di seberang sana.

Kami memang memiliki panggilan khusus sebagai “password” tapi anak muda jaman sekarang menyebutnya panggilan sayang. Pino – Kio demikian nama kami berdua.

“ Ia masih ingat, ada apa?” Aku to the point tanpa basa basi.

“ Pino sibuk yah”? selidiknya.

“ Maaf panggil Dewi saja” selaku bernada sejutek mungkin.

“ Maaf Wi…kapan ada waktu, aku ingin kita ketemu, ada kado kabar bahagia yang sudah kubungkus dengan indah, mau kan kamu menerimanya?”

“ Hahaha…” aku mulai tertawa, tawa mencibir berbalut jengkel. Mau ngapain lagi nih orang , tak tahu malu pikirku.

“ Halo??” dia memastikan kalau kami masih terhubung.

“Iya halo, dalam rangka apa pengen ketemu? Bukannya udah dapat dokter, ooooo atau mau ngasih undangan?? selamat yah turut senang “ Aku berceloteh panjang lebar.

“ Dewi, maafkan saya” suaranya tiba – tiba terdengar lirih.

“ Oooo.. gak ada yang salah koq, ga pa pa… jodoh memang selalu punya misteri yang susah ditebak, saya ikhlas dan sekarang saya baik – baik saja, tidak usah risau”.

“ Sa.. sa.. saya ingin kita ketemu Wi, ada hal penting yang ingin kuutarakan” pintanya memelas.

“ Saya sibuk sekali, maaf yah via telepon aja gpp kok, kebetulan sekarang lagi nunggu jadwal rapat aja”.

Aku sudah mulai berdamai dengan keadaan, aku sudah ramah seperti pada zaman dahulu kala sebelum ada insiden itu, tapi yang aneh kok dia yang di seberang telepon sana seperti busung lapar yang baru belajar merangkai kata.

“ Saya ingin membayar dan menebus khilaf yang pernah saya buat Wi, saya masih sayang tolong maafkan saya.”

Sejenak jantungku berdesir, ada hawa dingin yang entah datangnya dari arah mana diam-diam menyusup dihatiku begitu saja, detakan jantungku dipastikan tidak stabil.

“ Ma’ maksudnya?? “ seketika aku mengernyitkan dahi.

“ Calon yang diinginkan keluarga saya tipikalnya tidak seperti kamu Wi, saya tidak bisa membohongi diri saya, bagaimanapun kerasnya upaya saya membangun rasa tapi saya tidak bisa. Letih rasanya berperang dengan diri sendiri setiap saat. Mengingkari nurani itu menyakitkan Wi”, ungkapnya panjang lebar.

Hening sejenak, hanya desau angin samar – samar kudengar. Hembusan nafas panjangku menyeberang melintasi seluruh ruangan kantor. Aku terpaku, terpasung, terdiam, kelu.

“ Saya sudah meyakinkan keluarga saya Wi, dan mereka menyetujui kita bersatu”.

“ Mmmm….” Saya berfikir sambil menelan ludah dan tentunya menyiapkan kata pamungkas untuk menjawab tawarannya.

“Adakah bayi yang dilahirkan  dari rahim ibunya bisa dimasukkan kembali?” Aku bertanya.

“ Kenapa bertanya seperti itu Wi? Kali ini saya serius,  keluarga besar saya sudah menyetujui “ suara di seberang sana sepertinya bergetar.

“ Maaf, tidak ada laki – laki yang saya beri kesempatan ke-2 untuk kembali mengisi hati saya, saya tidak bisa.” Tegasku dengan nafas setengah memburu.

“ Ma’ maafkan sa.. saya Wi, tapi saya berjanji akan  membahagiakan kamu”. Kali ini dia sesenggukan. Menangis dia rupanya.

“ Kamu sudah terlambat”. Aku menyela.

“ Semua bisa kita perbaiki dari awal Wi, kita mulai sama – sama”. Dia terdengar berusaha menahan isak tangis.

“ Bukan persoalan merekonstruksi perasaan, bukan juga persoalan star memulai dari awal, bukan itu. Banyak hal yang bisa saja terjadi dalam jangka waktu 6 bulan Rio, sempat aku masih menyisakan harap pada sosok yang bernama Rio Aditia Permana, yaahh kamu. Tapi kamu yang dengan begitu anggun melontarkan permohonan maafmu kala itu, memiliih jalan yang dilalui keluargamu. Pupus harapanku, musnah sudah asaku untuk hidup bersamamu, dan sampai detik ini asa itu tetap lenyap didera sakit hati.”

“ Wi, tolong beri saya kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki kesalahan, please!”

“ Maaf sepertinya kesempatan ke-2 itu tidak akan pernah ada, takdirku mengizinkan orang lain untuk hadir dalam kehidupanku, saya sudah dilamar Rio  , dan orang tuaku menerima lamaran itu”. Kini aku menjelaskan dengan penuh keberanian. Hanya isak tangis yang kudengar di ujung telepon.

“ Sekarang giliran kamu yang harus belajar menata hati, seperti saat itu saya menata hatiku yang terluka Rio, Assalamu Alaikum”. Kututup percakapanku, masih dengan gemuruh yang bergejolak di hati.

Kelebat 11 Januari sudah raib. Kini aku kembali berjibaku dengan rutinitasku. Kulalui hari dengan sebaik mungkin sembari menunggu hari spesial itu tiba. Insya Allah Aqad yang mengguncangkan Arsy singgasana pencipta semesta akan dihelat bulan depan, aku tersipu menunduk membayangkan hari sakral itu.

…………2 tahun kemudian………….

Aku bertemu kawan lama waktu kami masih kuliah dulu dalam suatu event pameran. Kami satu asrama, kami sama-sama anak rantau.

“Dengar- dengar sudah nikah Wi, anak kamu sudah berapa?” Tanyanya hangat sambil cipika cipiki.

“Alhamdulillah baru satu, kalo kamu?” saya balas bertanya.

“ Belum dikasih kepercayaan sama Allah” Jawabnya tersenyum.

Kami kemudian berceritera tentang keluarga kami masing – masing. Kukabarkan padanya kalo anak saya diasuh oleh neneknya sedangkan suami saya tugas di luar kota. Jadilah saya seperti gadis yang bisa kemana-mana. Aku tertawa gurih.

“Kalo gitu maen ke rumah aku yuk? Kebetulan suami saya pulangnya selalu malam” Ajaknya penuh antusias.

“Emangnya kamu sudah tinggal di Makassar?” Tanyaku heran.

“Iya sejak 5 bulan yang lalu kami hijrah ke Makassar,  kebetulan suami saya dipindah tugaskan” jawabnya.

“Ooooooo…..” spontan bibir saya membentuk huruf O.

“Oke boleh-boleh”. Aku mangguk – mangguk menyetujui.

Tibalah saya di rumah temanku Yuli. Rumah yang bersahaja, dia mengajak saya langsung masuk ke kamarnya. Kamarnya disetting ala-ala hotel gitu. Semua sudah tersedia, mulai dari kamar mandi, mini bar, TV, kursi, AC dll sudah tersedia di dalam kamarnya.

“ Kamar yang cukup luas” gumamku. Kusapukan pandanganku ke seluruh penjuru kamar sembari Yuli menyuguhkan soft drink dari mini barnya.

“Gak usah sungkan, kamu istrahat aja dulu, saya mau mandi trus nyiapin makanan, kamu makan malam di sini yah?” tanpa menunggu persetujuanku dia langsung keluar kamar sambil tersenyum.

Kuraih remot kotak kaca ajaib, mencari-cari channel yang layak ditonton sambil kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, pukul 15.30. Tapi entah kenapa ujung – ujungnya kotak kaca ajaib itu yang menonton saya, tanpa sengaja aku ketiduran, tertidur dengan pulasnya. Dalam keadaan terjaga aku merasakan ada selimut yang menghangatkan badan saya.

“ Baik sekali Yuli menyelimuti badanku” aku membatin. Mataku tetap terpejam. Aku mencoba berbalik mengganti posisi tidurku miring ke kanan, setelah saya merasa posisi saya sudah nyaman tiba-tiba saya merasa ada hal yang aneh. Tubuh saya sepertinya bersentuhan dengan tubuh yang lain. Tanpa berpikir panjang saya membuka mata, serasa jantung saya mau copot, mata saya melotot, seketika saya berteriak.

“Akhgggggggggg……,,,, Yuliiiiiiiiiiii….. tolonggggggggggggggg” aku melolong panjang.

Tiba – tiba yang tidur di dekat aku sontak juga terbangun.

“Ada apa Wi?” Yuli setengah berlari menuju kamar.

“Kenapa kamu g’ bilang-bilang klo suami kamu sudah datang? Katanya pulang malam, kenapa pulangnya sore? Kenapa gak bangunin saya?!!” Aku bersungut.

“Maaf, Wi.. saya gak tau kalo dia sudah pulang”.

“Hahhh??? Kok bisa gitu?, bukannya kamu harus bukain pagar? Bukain pintu? Jawab salamnya atau apa gituhhh” Aku masih tidak terima.

“Kami sama – sama pegang kunci, kunci kami buat duplikatnya agar memudahkan, saya minta izin pulang lebih awal dari kantor karena merasa kurang sehat, makanya saya langsung masuk kamar istrahat, saya pikir Yuli yang sedang tidur, maafkan saya”, kini suaminya yang mencoba menetralisir keadaan.

Aku masih dongkol sekaligus grogi plus linglung, serasa pengen limbung aja sekalian.

“ Okehh, lupakan saja kejadian ini.. anggap tidak terjadi apa-apa “ Yuli mencoba mencairkan suasana.
“Kenalkan ini suami saya” imbuhnya.

Saya berjabat tangan seadanya karena masih menyimpan dongkol. Dia tersenyum ramah sambil mengangguk. Saya tetap tak bergeming.

Jamuan makan malam yang sebenarnya lebih dari kata sederhana. Menu beragam dan asli amat sangat mengundang selera. Tapi aku masih tak habis pikir atas kejadian tadi sore.

Dunia memang tak selebar daun anggur, bagaimana mungkin saya tidak syok, betapa saya tidak histeris???? Orang yang tidur di sampingku tidak lain dan tidak bukan si Mr. 11 Januari, sungguh menyebalkan.

Seketika aliran darahku serasa berhenti, jantungku seolah berhenti memompa darah.

Ahhhh mungkin saya terlalu sibuk atau bentangan pulau luas yang memisahkan, sampai-sampai  aku tak tahu menahu soal suami temanku sendiri. Kupikir Mr. Januari telah mempermaisurikan seorang dokter.

Pulau Kalimantan dan pulau Sulawesi mengaburkan jejak kawan lamaku itu, setelah semua kontak dalam hand phoneku raib di tangan anakku, tak 1pun kontak yang tersisa, semua terhapus.

Aku tak sanggup lagi mewartakan bagaimana perasaanku di meja makan ini. Degupan jantungku kian terdengar jelas di telinga. Untuk pertama kalinya dalam hidup aku mengalami perasaan kikuk tingkat internasional.
Baper se baper-bapernya.

Bagaimana tidak, di ruang keluarga sampai ruangan makannya masih tersisa peninggalan – peninggalan zaman sejarah hubungan kami.
Animasi lukisan Pinokio, gantungan kunci Pinokio sampai miniatur patung – patung Pinokio menjadi penghias dinding dan sudut ruangan.

Sungguh cinta amat sulit didefenisikan secara utuh, cinta selalu multitafsir. Sekilas tercipta rasa iba dan kasihan pada temanku.

Ternyata suamimu belum bisa move on Yuli. Itulah harga sebuah prestise,  kadang digadaikan dengan mengorbankan hal yang begitu prinsipil dalam hidup kita. Di luaran sana bertaburan orang – orang yang ingin dianggap waw dengan menghalalkan berbagai cara.

Yuli kawan lamaku, maafkan saya yang menjadi bayang – bayang dalam kehidupan rumah tanggamu tanpa sepengetahuanmu.

UntukMr.11 Januari, ''aktingmu'' sungguh hebat!!!


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!